Oleh: hurahura | 6 Juni 2014

Candi Prambanan dan Lingkungan Hidup

Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni selalu dihubungkan dengan Candi Prambanan. Hal ini karena lambang Hari Lingkungan Hidup adalah pohon kalpataru. Memang pohon tersebut tidak sungguh-sungguh ada, melainkan hanya mitos dari masa berabad-abad lampau. Kalpataru adalah pohon hayat atau pohon kehidupan milik para dewa. Penggambaran pohon kalpataru terdapat pada beberapa candi, namun yang paling fenomenal terdapat pada Candi Prambanan.

Pada panil relief Candi Prambanan itu terdapat pahatan dua pohon kalpataru mengapit seekor singa yang sedang duduk. Pahatan ini sering dipuji para pemerhati sejarah kesenian. Seni hias dan seni ukir di Prambanan memang sangat artistik. Maka kemudian muncul istilah “Motif Prambanan”, untuk mengukur perbandingan dengan motif sejenis pada candi-candi di Jawa dan luar Jawa. Hal ini tentu menunjukkan bahwa Prambanan merupakan acuan bagi candi-candi lain.

Pahatan “Motif Prambanan” terletak di antara bingkai bawah dan bingkai atas pada langkan bagian luar kaki candi. “Motif Prambanan” sangat istimewa karena tidak ada duanya pada candi-candi lain di Indonesia.


Hindu

Candi Prambanan didirikan pada masa Kerajaan Mataram (Hindu) abad ke-9 M. Tahun pendiriannya dihubungkan dengan Prasasti Siwagerha yang bertarikh 856 M. Prasasti itu menyebutkan sebuah “bangunan suci untuk Dewa Siwa” yang ditafsirkan sebagai Candi Prambanan.

Sebagai bangunan sakral agama Hindu, Candi Prambanan pastinya dikerjakan oleh seniman yang begitu teliti dan apik. Ini karena mereka memiliki pengetahuan agama yang luas dan pengetahuan sastra yang mendalam. Keterampilan itu bisa disaksikan sekarang dalam relief cerita Ramayana dan Kresnayana di dinding candi.

Cerita Ramayana sudah demikian populer. Setiap bulan purnama, pengelola Candi Prambanan selalu menyelenggarakan pergelaran Sendratari Ramayana. Tujuannya adalah untuk menjaring wisatawan sebanyak mungkin. Sampai kini Sendratari Ramayana merupakan andalan utama untuk mendongkrak kunjungan wisatawan.

Ironisnya, sejumlah bingkai yang berisi relief cerita telah lenyap dari tempat aslinya. Pastinya dilakukan oleh para maling demi motif uang. Kini yang tampak adalah batu-batu polos, sekadar untuk mengganjal batu di atasnya. Arca-arcanya juga ada yang tidak berkepala lagi karena sering dipenggali pemburu barang antik atau orang suruhannya.

Kemegahan candi tidak lepas dari bergantinya pemerintahan dari Hindia Belanda ke Jepang (1942). Hal ini juga dianggap membawa perubahan besar pada dunia arkeologi Indonesia. Karena kantor pusat Dinas Purbakala di Jakarta ditutup, maka kantor cabang di Prambanan, diserahi tugas menggantikannya. Kantor di Prambanan inilah yang sehari-harinya mengurusi berbagai kepurbakalaan, termasuk candi-candi di Jawa.

Kantor Dinas Purbakala itu terletak persis di halaman Candi Prambanan. Sebelum zaman Jepang, pemugaran candi pernah dilaksanakan pada 1918, yakni terhadap Candi Siwa, gugusan terbesar dari kompleks Prambanan yang memiliki ketinggian 47 meter. Pemugaran candi berhasil dirampungkan pada 1953.

Setelah itu pemugaran dilakukan terhadap Candi Brahma (1978-1987) dan Candi Wisnu (1982-1991). Selain ketiga candi besar itu, candi-candi kecil lainnya juga pernah menjalani pemugaran. Terakhir, Candi Garuda diresmikan pemugarannya pada Agustus 2008.

Keadaan candi secara keseluruhan parah kembali karena terguncang gempa bumi pada 27 Mei 2006 lalu dan letusan Gunung Merapi awal November 2010. Bangunan yang telah dipugar selama bertahun-tahun, menjadi berantakan. Bahkan banyak ornamen candi retak, patah, dan pecah. Belum lagi adanya abu vulkanik yang sangat membahayakan batu candi karena mengandung derajat keasaman tinggi.

Kompleks Candi Prambanan terdiri atas tiga halaman yang sangat luas. Halaman tersuci berisi Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Halaman kedua berisi 224 candi perwara atau candi-candi kecil. Sedangkan pada halaman ketiga yang terletak paling luar hanya diketahui adanya bekas bangunan. Setiap sisi panjangnya sekitar 300 meter.

Rupa-rupanya sebelum gempa 2006, berbagai bencana sering menimpa Candi Prambanan. Bencana terhebat adalah letusan Gunung Merapi dan gempa bumi pada abad ke-10 dan ke-16. Ini tergambar dari begitu banyaknya serakan batu candi sampai sekarang. Dulu, banyak batu candinya diambili penduduk sekitar untuk berbagai keperluan, seperti fondasi rumah, pengganjal tiang, tembok halaman, bibir sumur, dan sebagainya. Pada zaman Hindia Belanda, banyak batu candi dipakai untuk pembangunan pabrik gula, jalan kereta api, dan irigasi.


Penemuan

Penemuan Candi Prambanan berawal ketika seorang Belanda, C.A. Lons, mengunjungi Jawa pada 1733. Segera Lons melaporkan kepada atasannya tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar. Sayang, karena terkendala berbagai hal, penyelidikan pertama baru dilakukan puluhan tahun kemudian, yakni pada 1805-1807.

Sewaktu orang Eropa pertama kali mengunjungi Prambanan, menurut arkeolog R. Soekmono dalam bukunya Candi-candi di Sekitar Prambanan, yang mereka lihat hanyalah sebuah bukit yang seluruhnya ditumbuhi semak belukar. Sisa-sisa dari beberapa bangunan candi juga tampak di sana-sini.

Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda, Raffles (1811-1816), ikut memberikan perhatian kepada Candi Prambanan. Bahkan dia menganggap Prambanan dan daerah sekitarnya sebagai reruntuhan dari sebuah kota besar, yaitu ibu kota Medang Kamulan sebagaimana disebut dalam tradisi Jawa. Anggapan serupa juga diberikan para ahli purbakala dan sejarah zaman kemudian, antara lain N.J. Krom.

Ijzerman adalah orang yang pertama kali berusaha menyelamatkan Prambanan. Usaha itu dilakukannya pada 1885. Dia memerintahkan masyarakat sekitar untuk membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada 1901 Th. Van Erp melanjutkan usaha Ijzerman. Dia memulai pekerjaan pembinaan dengan menyusun batu-batu yang berserakan agar bangunan candi terwujud kembali.

Prambanan merupakan candi primadona untuk kepentingan pariwisata. Di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, tercakup sejumlah candi, seperti Sewu, Bubrah, Lumbung, Asu, Plaosan, dan Sajiwan. Adanya candi-candi Buddha dan Hindu di kompleks Prambanan, mengingatkan kita akan toleransi beragama yang tinggi pada masa dahulu.

Di mata masyarakat setempat, Candi Prambanan sering disebut Candi Jonggrang (lengkapnya Loro Jonggrang atau Lara Jonggrang). Meskipun penyebutan tersebut keliru—seharusnya Rara Jonggrang—karena dalam bahasa Jawa rara bermakna “anak gadis”, namun nama (Loro) Jonggrang sudah terlanjur populer.

Nama itu diberikan penduduk berdasarkan adanya sebuah arca dalam salah satu bilik candi. Sebenarnya arca tersebut melukiskan Dewi Durga, isteri Dewa Siwa. Cerita turun-temurun menganggap dewi itu tidak lain dari Sang Puteri Loro Jonggrang. Puteri ini dikaitkan dengan Prabu Ratuboko atau Ratu Baka yang juga diabadikan sebagai nama candi di Selatan Prambanan dan legenda Bandung Bondowoso.


Nama Prambanan

Candi Prambanan adalah nama paling lazim, untuk menyebut bangunan Hindu terbesar di Indonesia ini. Juga merupakan nama untuk sebuah wilayah, yaitu dataran Prambanan. Peninggalan kuno dari dataran Prambanan sangat banyak, sampai-sampai Krom memilah-milahnya menjadi kawasan sebelah Barat (misalnya Kalasan dan Sari) dan kawasan sebelah Timur (misalnya Loro Jonggrang, Sewu, Plaosan, dan Sojiwan). Dulu, Prambanan adalah nama dari sebuah dusun tempat kompleks percandian itu berada.

Asal-usul nama Prambanan memang masih misteri. J. Groneman (1887) berpendapat bahwa nama Prambanan boleh jadi berasal dari kata ramban (mengumpulkan dedaunan untuk keperluan rumah tangga atau obat-obatan, lantas berubah bunyi menjadi pa-ramban-an, untuk menunjukkan tempat. H. Helfritz (1979), sebagaimana dikutip buku Memuji Prambanan (2009), mengatakan Prambanan berasal dari nama Dusun Parawan. Ketika itu, kata Helfritz mengutip teks dari abad ke-9, penduduk dusun itu diserahi tugas merawat candi itu.

Lain lagi C.F Winter. Menurut dia kata Prambanan terbentuk dari kata Parambanan dan Poerambanan, yang berasal dari kata empu rombo (Rombo sang pandai besi). Kemungkinan lain yang disinggung Helfritz, asal-usul nama itu dari brahmana, yang selanjutnya berubah menjadi brambanan dan kemudian menjadi prambanan.

Mackenzie (1814) kemudian mengikuti nama ini, dia menulisnya ”Brambana”. Sementara Crawfurd (1855) menganggapnya ”Brambanan” (tempat tinggal para Brahmana). Roy Jordaan sendiri sebagai penyunting buku Memuji Prambanan, cenderung ’parambrahma(n)’, yang berarti ’Roh Jagat” atau ’Yang Mutlak’.

Dalam buku karangan Raffles, History of Java, disebutkan dalam sebuah sketsa ’candi induk di Jongrangan’. Sebutan ini mengacu pada Candi Siwa di kompleks Prambanan. Jelas ada nama lain dari Prambanan, yakni Loro Jonggrang, yang diartikan ”Gadis Semampai’.

Terlepas dari asal-usul nama, yang penting Prambanan dan situsnya harus benar-benar dilestarikan. Soal pelestarian pernah diusulkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (sekarang menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya/BPCB) Jawa Tengah kepada pemerintah. Menurut BPCB kawasan Prambanan perlu dijadikan daerah khusus yang terlindungi dan terlestarikan selayaknya tanah ”perdikan” (tanah bebas pajak). Pertimbangannya, Prambanan adalah kawasan percandian yang luas. Di wilayah ini masih sering ditemukan peninggalan purbakala. Warga yang melakukan penggalian, pasti menemukan batu-batu candi dalam jumlah besar atau hanya potongan batu candi. Diharapkan tidak ada bangunan baru apalagi bangunan bertingkat, termasuk hotel, di kawasan Prambanan. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: