Oleh: hurahura | 10 Februari 2016

Ditemukan, Permukiman Kuno di Desa Landungsari

LandungsariPeta lokasi temuan situs

Jejak permukiman kuno pada era transisi dari Kerajaan Kadiri menuju Kerajaan Singosari diduga berada di Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dalam jelajah situs oleh sejarawan Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, Selasa (9/2), ditemukan batu bata, batuan padas kuno, dan keping gerabah di tempat tersebut.

Berbagai barang yang diduga berasal dari abad ke-13 ini ditemukan saat anggota tim jelajah, Dwi Cahyono, sejarawan Universitas Negeri Malang, mengamati gundukan lahan di tengah sawah seluas 15 meter x 10 meter di tepi Sungai Metro dan Sungai Braholo di Desa Landungsari. Lahan berada di sebelah timur Gunung Kawi.

Posisi lahan berada lebih tinggi 1-2 meter dari areal persawahan di sekitarnya. Untuk menuju lokasi tersebut, tim harus berjalan kaki menyusuri pematang sawah sejauh 1 kilometer.

Setelah gundukan lahan sedikit digali dengan sekop kecil, ditemukan potongan batuan padas dengan beberapa torehan garis di atasnya. Ada pula kepingan bibir gerabah yang diduga sebagai wadah air yang biasa dimiliki penduduk.

Belum diketahui apakah torehan garis tersebut merupakan tulisan kuno, gambar, atau sekadar coretan tanpa arti. Dari beberapa pecahan batu bata yang berhasil disatukan, ukuran batu bata kuno tersebut diperkirakan 22 sentimeter x 38 sentimeter dengan ketebalan 7-9 sentimeter.

Lokasi yang bernama Situs Wurandungan itu berjarak sekitar 300 meter dari Situs Watugong dan 1 kilometer dari Desa Karuman, tempat tinggal ayah angkat Ken Arok, Bango Samparan. Dekatnya lokasi situs dengan lokasi hunian, menurut Dwi, memperkuat dugaan bahwa daerah tersebut merupakan kawasan permukiman.

“Hingga kini, belum dilakukan riset atau penelitian terkait di daerah ini. Padahal, berdasarkan sumber teks dalam Prasasti Ukir Negara pada tahun 1198 Masehi, tempat ini disebut sebagai daerah Wurandungan yang merupakan tanah perdikan yang diberikan oleh Rakai Pamotoh kepada warga,” kata Dwi.

Dwi menjelaskan, dalam prasasti Ukir Negara, dijelaskan, Rakai Pamotoh atau Diah Limpa memberikan anugerah tanah perdikan seluas 4 jong yang terletak di timur Pasar Wurandungan. Dari prasasti itu, Dwi menduga daerah tersebut merupakan daerah permukiman kuno pada zamannya.

Menurut Dwi, saat itu, nama daerah tersebut adalah Wurandungan. Namanya lantas berubah menjadi Klandungan dan saat ini warga menyebut desa tersebut Landungsari.

“Ketiadaan riset mengenai situs tersebut membuat kita belum tahu pasti bagaimana kondisi kawasan di sana sebenarnya, apakah sekadar permukiman atau daerah dengan tujuan lain atau bahkan bagaimana terbentuknya kawasan itu dahulu,” ujar Dwi. Menurut dia, jika Pemerintah Kabupaten Malang mau menggali dan menelitinya, hal ini bisa memperkaya pengetahuan sejarah.

Sholeh (60), petani di areal persawahan Desa Landungsari, mengatakan, sesuai cerita yang didengarnya dari orangtua, daerah itu dikenal dengan Balekambang. Di tempat ini ditemukan batuan kuno dan sesekali orang menemukan emas.

Ia menceritakan bagaimana seorang petani menemukan kepingan emas ketika membersihkan rumput. “Berdasarkan cerita dari para orang tua, tempat ini dulu semacam pendapa. Saat ada rapat besar, rupanya banjir datang dan mengangkat bangunan pendapa tersebut sehingga disebut Balekambang,” kata Sholeh.

Ia menyayangkan tempat tersebut belum digarap dengan baik sehingga cerita kuno yang didengarnya akhirnya hanya jadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Ia berharap daerah itu dibangun dan diperbaiki agar nilai sejarahnya tetap terjaga.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara mengatakan, Malang merupakan bagian cukup penting dari sejarah Nusantara. Oleh karena itu, diyakini banyak temuan atau situs bersejarah yang tersebar di Kabupaten Malang.

“Saat ini kami mulai fokus mengangkat sejarah Singosari dan sedang berusaha mengumpulkan buku, video, dan benda peninggalan sejarah untuk disimpan di Museum Singhasari,” ucap Made Arya

Tahun ini, menurut dia, museum tersebut akan diresmikan. “Setelah itu, kami akan bergerak menekuni situs-situs lain. Kabupaten Malang merupakan bagian dari sejarah bangsa ini sehingga wajar jika banyak ditemukan situs dan peninggalan masa lalu,” kata Made Arya.(DIA)

(Sumber: Kompas, Rabu, 10 Februari 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: