Oleh: hurahura | 27 Februari 2018

Manik-manik dalam Status Sosial dan Harapan Pasca Kematian

 

Manik-1Buku karya Nasruddin dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Manik-manik merupakan benda tinggalan hasil kebudayaan manusia yang ditemukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Manik-manik bisa berbentuk bulat, persegi atau lonjong yang pada bagian tengahnya sengaja  diberi lubang agar bisa dirangkai menjadi perhiasan (kalung, gelang, dan lain lain). Bahan pembuatan manik-manik beraneka ragam, tergantung dari zaman pembuatannya. Pada masa awal manusia mengenal manik-manik, mereka membuatnya dari batu atau tulang kecil yang langsung dilubangi begitu saja. Perkembangan berikutnya adalah membuat manik-manik dengan menghaluskan batu menjadi bentuk yang presisi. Pada sekitar zaman batu baru, manusia menggunakan tanah liat yang dikeringkan dan terkadang diberi ukiran/gambar untuk dijadikan manik-manik.

Teknik pembuatan manik-manik sangat beraneka ragam. Di antaranya  dengan penggosokan pada batu-batuan untuk memperoleh bentuk tertentu. Pembuatan lubang pada manik-manik bisa dilakukan dengan cara menggunakan bambu yang diruncingkan dan digosokkan dengan mencampurkan pasir dan air di atas batu kemudian menggosokannya. Manik-manik berbahan tanah liat lebih mudah pembuatannya. Sebelum dibakar, bagian dalam tanah liat dilubangi dengan kayu/bambu yang kemudian bisa dilepas setelah tanah liat dibakar. Pada zaman modern ini, pembuatan manik-manik sudah menggunakan bor listrik (untuk melubangi batu) dan kawat (untuk melubangi manik-manik berbahan tanah liat sebelum dibakar).

Dalam perjalanan sejarah, manik-manik sering kali dijumpai pada penggalian situs arkeologi era prasejarah atau sebelum masehi. Manik-manik bisa dijumpai sendirian dan/atau sering kali dijumpai bersama peralatan lain seperti gerabah, besi, dan perhiasan. Lokasi penemuan manik-manik sangat menentukan fungsi dari manik-manik itu sendiri. Manik-manik yang ditemukan sendirian atau bersamaan dengan perhiasan maupun keramik Cina, bisa diindikasikan merupakan benda yang digunakan sebagai perhiasan secara umum. Akan tetapi, manik-manik yang ditemukan bersama-sama dengan kerangka tubuh manusia dan gerabah, bisa diindikasikan merupakan salah satu bekal kubur yang umum dijumpai pada era prasejarah.


Manik-manik sebagai status sosial

Manik-manik bisa jadi merupakan perhiasan pertama yang dikenal oleh manusia. Manik-manik sebagai perhiasan bisa berupa sebagai gelang dan kalung. Dikutip dari laman epnri.indonesiaheritage.org, penggunaan manik-manik sebagai perhiasan juga menandakan status sosial dan usia yang dimiliki oleh pemakainya. Semakin banyak manik-manik yang dimiliki dan dipakai, menandakan status sosial yang semakin tinggi. Demikian juga sebaliknya. Sebagai penanda usia, masing-masing rentang usia memiliki warna manik-manik yang berbeda. Usia 15 – 25 tahun mengenakan manik-manik merah hitam. Usia 25 – 30 tahun mengenakan manik-manik berwarna merah ungu. Usia 30 tahun ke atas mengenakan manik-manik berwarna kuning.

Penggunaan warna yang berbeda untuk masing-masing rentang usia dan perbedaan status sosial yang muncul dari banyak sedikitnya manik-manik yang dimiliki, menunjukkan sekat-sekat sosial dalam suatu masyarakat sudah ada sejak zaman prasejarah. Hal ini sama seperti kebiasaan suku-suku di wilayah Indonesia bagian Timur yang mengukur kekayaan dengan jumlah peliharaan babi yang dimiliki. Kekayaan dan status sosial masih belum diukur dengan uang, tetapi dengan harta benda yang dimiliki. Hal ini disebabkan oleh fungsi manik-manik yang selain sebagai perhiasan, juga sebagai alat perdagangan dengan sistem barter. Seorang manusia yang memiliki kulit kerang berlimpah akan dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi karena mampu melakukan transaksi pertukaran atau barter lebih banyak dari pada golongan mereka kebanyakan.


Manik-manik sebagai bekal kubur

Manik-manik sering kali ditemukan dalam sebuah kubur batu atau bersama tulang kerangka manusia dengan sebuah tempayan dan peralatan lainnya. Dalam hal ini, manik-manik berfungsi sebagai bekal kubur, sehingga diletakkan di samping jasad seseorang ketika ia dikuburkan. Manik-manik yang dalam kehidupan umum juga difungsikan sebagai penolak bala, kemungkinan diharapkan mampu menghalau hal-hal buruk pada kehidupan jasad pemilik setelah meninggalkan alam dunia ini. Selain itu, dimungkinkan pemberian manik-manik sebagai bekal kubur  dimaksudkan untuk menjaga status sosial jenazah di alam setelah kematian. Dengan demikian, masyarakat era prasejarah sudah mengenal kahidupan religius dan sudah mempercayai adanya kehidupan atau aktivitas lain setelah kematian.

Penulis: Wulan Agustri Ayu, Mahasiswa Unesa


Responses

  1. Kalo pengen beli buku ini (eksotisme manik2 menembus zaman) dimana ya … Trimssss infonya .

    • Buku itu tidak diperjualbelikan. Anda bisa bersurat ke Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, siapa tahu masih ada.


Tinggalkan Balasan ke Beny Priyo Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: