Oleh: hurahura | 13 Agustus 2011

“Lawrence of Arabia”: Arkeolog dan Revolusi Arab

TE Lawrence

Thomas Edward Lawrence (1888-1935) dipandang sebagai motor penggerak Revolusi Arab (1916–1918). Dia berhasil menyatukan Kerajaan Arab Saudi tahun 1932. Namun tokoh ini masih diperdebatkan di kalangan sejarawan, politikus, dan bahkan pemuka agama. Ada yang menyangsikan dirinya sebagai salah satu pahlawan Arab berdarah Inggris, karena berkonspirasi dengan Zionisme. Isu ini hangat diperbincangkan kalangan Muslim anti-Amerika, gerakan reformis, dan radikal Arab. Ada juga yang mengakui dirinya sebagai pahlawan karena pemaparan visi dan misinya tidak mempengaruhi pergerakan revolusi Arab.

Lawrence lahir di Wales. Ayahnya seorang keturunan Anglo-Irlandia, Thomas Robert Tighe Chapman dan ibunya Sarah Junner. Lawrence anak kedua. Adapun surname “Lawrence” didapat dari gelar kebangsawanan ibunya, Miss Lawrence. Setelah 10 tahun di Wales, keluarganya pindah ke Skotlandia, kemudian Inggris. Lawrence kecil yang biasa dipanggil Tom ini suka berlayar dan menonton balap kapal pesiar di pantai Solent Lepe bersama ayahnya dan saudara-saudaranya.

Tom aktif di gereja dan sering ditugaskan menjadi pengiring mazmur kudus dan pencatat administratif. Tom pernah kabur dari rumah sekitar tahun 1905 ketika orangtuanya melarang dia bergabung dengan Academy of British Army. Pada 1907, Tom mengikuti pendidikan agama di Jesus College, Oxford. Selama musim panas 1907 dan 1908, ia berkunjung ke Perancis dengan sepeda untuk mengumpulkan foto-foto istana dari abad pertengahan. Dia amat tertarik dengan arsitektur-arsitektur kuno, mulai dari kemegahan Istana Versailles hingga Istana Suriah Ottoman.

Pada 1909, Lawrence lulus dengan tesis berjudul “The influence of the Crusades on European Military Architecture to the End of the 12th Century” berdasarkan penelitian lapangannya sendiri di Perancis, terutama di Châlus dan wilayah Middle East. Pada 1910, Lawrence memulai program pascasarjana penelitian tembikar abad pertengahan dengan Demy Senior di Magdalen College, Oxford. Di situ dia ditawari kesempatan mengambil jurusan Arkeologi.

Lawrence adalah seorang poliglot (orang yang menguasai banyak bahasa asing), di antaranya Perancis, Jerman, Latin, Yunani, Arab, Turki, dan Syria. Atas kemampuannya ini, pada bulan Desember 1910 ia berlayar ke Beirut. Pada saat kedatangannya, dia berkunjung ke Jubayl. Di sana dia belajar bahasa Arab. Dia kemudian mengikuti penggalian di Karkemis, dekat Jarabalus di Syria Utara. Ketika itu ia bekerja di bawah naungan proyek Hogarth and Campbell-Thompson dari British Museum.

Leonard Woolley (kiri) dan T.E. Lawrence di Carchemish, 1912 [Foto-foto: en.wikipedia.org]

Lawrence melanjutkan perjalanannya di Timur Tengah sebagai arkeolog lapangan sampai akhirnya pecah Perang Dunia I (1914-1918). Pada Januari 1914, Lawrence dikooptasi oleh militer Inggris untuk melakukan survei Gurun Negev atau Najib bersama seorang arkeolog bernama Woolley. Mereka mendapat donasi dari Palestine Exploration Fund untuk mencari daerah yang terdapat dalam Alkitab, yaitu “padang gurun Zin”.

Tanah Negev ternyata merupakan jalur strategis, karena akan selalu dilewati pasukan Ottoman sebagai akses menyerang tentara Mesir dan perbekalan perangnya. Woolley dan Lawrence kemudian menerbitkan sebuah laporan arkeologi temuan ekspedisinya. Namun hasil yang lebih penting adalah pemetaan ulang, dengan perhatian khusus pada relevansi militer seperti sumber air. Lawrence juga menyempatkan diri berkunjung ke Aqabah dan Batra (Petra).

Pada Maret sampai Mei 1914, Lawrence bekerja lagi di Karkemis. Setelah pecahnya permusuhan Hasyimiyah, sebuah klan yang didirikan oleh Bani Hasyim di Yordania, Lawrence ditugaskan sebagai General List (Pencatatan Sipil) pasukan British Army.

Bani Hasyim merupakan klan besar di Arab yang salah satu sukunya, Quraysy, merupakan suku yang mewarisi kunci Ka’bah. Nabi Muhammad SAW juga seorang keturunan Bani Hasyim. Bani Hasyim terlibat perang saudara dengan Bani Umayyah dan kemudian berafiliasi dengan Bani Abbas. Pada kelanjutannya, Bani Hasyim membentuk sebuah kelompok revolusioner dalam naungan Hasyimiyah (Hashemite). Pergerakan revolusi ini berubah menjadi kelompok milisi kooperatif Inggris.

Inggris memiliki kepentingan nyata di Mesir dan Syria, sebagai wilayah Triple Entente-nya di Timur Tengah melawan Turki Ottoman. Maka, British Army merekrut Lawrence sebagai pencatat administratif di Kairo, karena Lawrence paham demografi Syria, Levanto, dan Mesopotamia. Di Kairo pula dia dimutasi menjadi Staf Intelijen GOC (General Officer Commanding), pasukan perwira khusus di Timur Tengah dengan pangkat kapten.

Selama perang, Lawrence berjuang bersama pasukan Arab, di bawah komando ‘Amir Fayshal, putra dari Syarif Makkah, Hussayn bin ‘Ali, dalam operasi gerilya melawan Turki Ottoman di Madinah. Di sana, Lawrence tertarik untuk belajar agama Islam dan sering menghadiri majelis kajian agama di Madinah. Beberapa sumber mengatakan Lawrence masuk Islam, namun tidak ada catatan yang mengatakan Lawrence memeluk Islam. Namun, perilaku Lawrence lambat-laun mengikuti tradisi Muslim di Makkah, yaitu berpakaian Arab dan menyampaikan salam Arab Muslim.

Lawrence merupakan penasihat militer dan ahli strategis ulung. Dalam kegiatan revolusi Arab, dia membujuk orang-orang Arab agar mau menggunakan senjata modern melawan Turki. Dia juga membujuk orang-orang Arab untuk tidak membuat serangan frontal terhadap benteng Ottoman di Madinah, tetapi sebaiknya membiarkan tentara Turki untuk mengepung tentara Arab di Madinah. Orang-orang Arab kemudian bebas untuk mengarahkan sebagian besar perhatian mereka pada titik lemah Turki itu, yaitu sebuah kereta api Hijaz yang membawa perbekalan berupa senjata modern, kuda, meriam (artileri), berbagai makanan, dan obat-obatan.

Pada 1917, Lawrence mengatur sebuah aksi bersama dengan laskar Arab Badui (Bedouin) di bawah komando ‘Awdah Abu Tayih yang sebenarnya masih merupakan mitra pasukan Ottoman. Tapi, Lawrence menjanjikan kehormatan ‘Awdah (sudah merupakan adat-istiadat Bangsa Arab bahwa kehormatan dalam peperangan adalah mengalahkan musuh yang kuat). Aksi itu adalah mengusir pasukan Ottoman di ‘Aqabah.

Pada 6 Juli, setelah serangan darat secara serentak, ‘Aqabah jatuh ke tangan Bangsa Arab dan Lawrence. Jatuhnya ‘Aqabah ini merupakan tanda pemutusan kekuatan Ottoman di Jazirah Arab dan akses perbekalan Ottoman ke Mesir akan menjadi tantangan baru bagi Kekhalifahan Turki Ottoman. Setelah Pertempuran ‘Aqabah, Lawrence dipromosikan menjadi mayor. Untungnya, komandan baru dalam Egyptian Expeditionary Force, Brigadir Jenderal Sir Edmund Allenby, setuju untuk memberikan inisiatif strategi pada Lawrence untuk membantu pemberontakan Arab.

Tahap-tahap berikutnya, Lawrence berusaha mengikis kekuatan Ottoman dari Syria dan Mesir. Pada akhirnya pecah Pertempuran Damsyiq yang menyebabkan kota Damsyiq (Damaskus) jatuh ke tangan Arab. Berkat jasa Lawrence, dia dipromosikan menjadi Letnan Kolonel tahun 1918, namun misinya berakhir setelah dinyatakan selesai dengan kemenangan atas pihak Triple Entente.

Selama gerilya, Lawrence mempelajari kebudayaan Arab Badui (Bedouin) yang terkenal barbar, kejam, dan beringas dalam perang. Dia juga mengenakan pakaian disydasya (jubah Arab) dan kifayah (sorban Arab) serta menunggang unta. Adapun, ‘Awdah sang komandan Bedouin belajar politik lewat Lawrence setelah Pemerintah Inggris mengirimkan bantuan-bantuan pendidikan.

Dalam upaya Pembebasan Damsyiq, ‘Amir Fayshal memegang tampuk kekuasaan sementara sampai ada persetujuan dari pihak Hasyimiyah di Syria. Untuk menghindari perang saudara, Inggris dan Perancis menjadi mediator penyerahan kekuasaan dari pimpinan Hasyimiyah Irak dengan Hasyimiyah Syria.

Lawrence kembali ke Inggris tahun 1918. Di sana dia banyak membantu diplomasi Bangsa Arab, salah satunya pada Paris Peace Conference di Paris, Perancis. Saat itu, dia menjabat sebagai staf khusus Colonial Office (Kantor Kolonial) di bawah naungan Perdana Menteri Winston Churchill pada 1921.

Pada 1922, dia mendaftar menjadi pasukan Royal Air Force dengan pangkat terakhir Aircraftman (pangkat penerbang terkecil) dengan nama John Hume Ross. Ini dalam rangka misi intelijen Inggris di India, tentunya di luar tanggungjawab Churchill. Namun karena terbentur birokrasi, dia dikeluarkan dari Royal Air Force tahun 1923.

Dengan nama palsu Thomas Edward Shaw, dia bergabung lagi dengan Royal Tank Corps tahun 1923 dan mengajukan petisi untuk diterima kembali menjadi pasukan Royal Air Force. Akhirnya, tahun 1925 dia dipanggil kembali menjadi Aircraftman dan diutus ke basis Inggris di India tahun 1926. Dia pulang kembali tahun 1928.

Dia membeli beberapa petak kecil tanah di Chingford, Inggris. Dibangunnya sebuah gubuk kecil dan kolam renang. Tempat itu sering dikunjunginya untuk berlibur. Tapi pada 1930, ketika Chingford Urban District Council membebaskan lahan tersebut untuk pembangunan akses jalan ke London, gubuknya dibeli Pemerintah dan digusur. Dia kembali mendirikan gubuk kecil di lapangan The Warren, Loughton, Inggris. Sekarang, gubuk kecil itu dihibahkan oleh keluarga Lawrence menjadi tugu Lawrence’s.

Di usia 46 tahun, Lawrence mengalami kecelakaan fatal ketika mengendarai sepeda motor di dekat pondoknya. Ketika itu dua bocah laki-laki sedang bersepeda. Di jalanan yang licin, tergenang, dan berkabut, Lawrence kaget melihat dua bocah tersebut. Dia segera membanting setir untuk menghindari mereka, namun kehilangan kendali. Dia meninggal enam hari kemudian pada 19 Mei 1935 karena gagal syaraf.

Kepentingan kolonialisme Inggris dan Perancis memang nyata di Arab. Terlebih setelah Revolusi Arab tersebut, membuat peta dunia Timur Tengah baru. Sebuah buku harian yang belum pernah diterbitkan memuat misi rahasia 100 tahun lalu yang dilakukan Letnan Kolonel TE Lawrence.

Pensiunan dosen, James Hynes (80) menuliskannya dalam buku berjudul Lawrence of Arabia’s Secret Air Force. Informasi dalam buku itu didapatkan setelah ia melakukan kontak dengan sepupunya yang menceritakan jurnal berisi pengalaman ayahnya mengikuti militer Inggris. Catatan harian itu berisi kisah spionase dan operasi militer pemboman yang diberi nama ‘X Flights’ yang dipimpin oleh Lawrence di bekas Kekaisaran Ottoman. Lawrence memimpin ‘X Flights’ pada 1918 melawan Turki dibantu oleh tim yang ia tunjuk sendiri, termasuk Earl of Winterton keenam, yang saat itu duduk sebagai anggota parlemen.

Misi rahasia ini membantu Lawrence menaklukan Damaskus pada 1918. Dia menjadi instrumen penting dalam pembentukan pemerintahan Arab. Misi ini sangat rahasia bahkan Royal Air Force (RAF), angkatan udara Britania Raya tidak mengetahuinya. Misi ini tetap jadi rahasia, termasuk dalam penggambaran Film ‘Lawrence of Arabia’ yang dibintangi Peter O’Toole pada 1962.

Detail penerbangan itu kini diungkap oleh salah satu anak buah Lawrence, George Hynes paman James Hynes. Diceritakan, hanya orang-orang yang terlibat dalam ‘Operasi Gurun’ yang tahu keberadaan ‘X Flight’. ‘X Flight adalah grup kecil yang terdiri atas beberapa pesawat terbang yang digunakan Lawrence dan rekan-rekannya untuk menjalankan misi setelah mengambil alih kekuasaan atas Aqaba pada 1917 selama perang Arab melawan Turki. Misi tersebut termasuk mengebom rel kereta api Turki, memutus jaringan suplai dan kabel telegram.

Saat ini buku karangan Lawrence yang paling populer adalah Seven Pillars of Wisdom dan Revolt In The Desert. Kedua buku dikeluarkan oleh militer Inggris. Setelah mengundurkan diri dari dinas kemiliteran, Lawrence menjadi seorang jurnalis. Pro kontra memang terus berdatangan sampai kini. Sejumlah sejarawan seperti Richard Aldington, Desmond Stewart, Lawrence James, dan Michael Asher menulis bahwa T.E. Lawrence adalah seorang homoseksual. [berbagai sumber/Djulianto Susantio]

Iklan

Responses

  1. Tokoh ini memang agak Kontroversial atau Kontradiktif, dia mungkin tak jauh beda dengan tokoh Inggris seperti Thomas Raffles, Oliver Cromwell, Prince Essex, Brian Jones, Janis Joplin, Charles Darwin, Isaac Newton, Abraham Lincoln, Alexander Graham Bell, James Hunt, Michael Phillip Jagger, Linda Blair etc.
    Ada minat untuk mempelajari ‘Habit Forming and Self Modifying Costumary Thinkings.’, akan tetapi rupanya finansial dan fiskal asisten saya terhimpit didalam e-mai dan selain saya perlu bantuan administratif dan fungsional para mandataris MPR-GR hingga MPR,MA, MUI dll, untuk dan oleh karena sebab itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: