Oleh: hurahura | 24 November 2010

Nama “Suvarnnabhumi” Dibajak Thailand

Oleh: Djulianto Susantio

Sejak pertengahan Oktober 2006, pemerintah Thailand menggunakan bandar udara baru yang diberi nama Suvarnnabhumi. Padahal, menurut kitab-kitab kuno, nama Suvarnnabhumi identik dengan Pulau Sumatera. Nama yang berasal dari bahasa Sansekerta ini arti harfiahnya adalah “Negeri Emas”.

Sesungguhnya, bagi negeri kita nama Suvarnnabhumi sangat bernilai historis. Nama itu mengingatkan kita akan kejayaan Sumatera di masa lampau. Selama berabad-abad nama Suvarnnabhumi sangat lekat dengan Sumatera.

Nama Suvarnnabhumi atau Swarnnabhumi pertama kali disebutkan dalam kitab Jataka yang ditulis pada abad ke-4 Masehi. Jataka adalah sebuah kitab kuno dari India yang isinya menguraikan kehidupan Sang Buddha. Dalam kitab itu Suvarnnabhumi disebutkan sebagai “sebuah negeri yang memerlukan perjalanan penuh bahaya untuk mencapainya”. Menurut para pakar, Suvarnnabhumi tidak lain adalah Pulau Sumatera.

Bahkan jauh sebelumnya kitab Ramayana (berbahasa Sansekerta dan ditulis sekitar tahun 150 SM), mengisahkan bagaimana balatentara kera mencari Sita yang diculik hingga mencapai Suvarnnadwipa (Pulau Emas). Suvarnnadwipa juga ditafsirkan sebagai Pulau Sumatera. Selain Suvarnnabhumi dan Suvarnnadwipa, Sumatera sering dinamakan Suvarnnapura (Kota Emas).


Berita Cina

Sumatera sebagai “Negeri Emas” atau “Pulau Emas” sering disebut-sebut pula oleh berita-berita Cina, yakni sumber sejarah yang berasal dari berbagai dinasti di Cina. Seorang pendeta Buddha bernama I-tsing, yang lama bermukim di Kerajaan Sriwijaya, mengenalnya sebagai chin-chou (Negeri Emas) atau kintcheou (Pulau Emas).

Menurut sumber lain, pada 945 Raja Sulaiman mengirim sejumlah kapal ke Ofir untuk mencari emas. Geolog S. Sartono menduga, kemungkinan besar Ofir yang berupa pegunungan terdapat di daerah Tapanuli Selatan. Di sebelah Timur Ofir terletak Gunung Amas (Gunung Emas).

Istilah “Pulau Emas” juga kerap dikemukakan para musafir Arab. Mereka menyebutnya Sarandib, yakni transliterasi dari Suvarnnadwipa. Di pulau ini emas dihasilkan oleh kerajaan Zabag (Muara Sabak) dan Zarbosa. Sumber Arab tersebut malah menyebutkan Pulau Nias kaya akan emas sehingga menarik perhatian pedagang-pedagang Portugis untuk datang ke sana.

Saking banyaknya emas di Sumatera, sampai-sampai maharaja Zabag memiliki kekayaan yang demikian besar. Konon jauh melampaui kekayaan raja-raja di India, demikian sumber Arab menggambarkan. Penulis Arab Abu Zayd (tahun 916) bahkan memberi ilustrasi demikian, “Raja setiap hari melemparkan segumpal emas ke dalam danau di dekat istananya”.

Bukan hanya sumber-sumber Timur yang memuji-muji Sumatera sebagai Suvarnnabhumi. Kitab Yunani dari awal abad Masehi, Periplous tes Erythras thalasses dan Geographike Hyphegesis menyebutnya Chryse Chora (Negeri Emas) yang terletak di Chryse Chersonesos (Semenanjung Emas). Sedangkan sumber-sumber Portugis menyebut Sumatera sebagai Ilha de Ouro (Pulau Emas). Dikatakan, banyak pelayar Eropa datang ke tempat baru nan kaya tersebut untuk berdagang.


Minangkabau

Di samping Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Minangkabau yang muncul beberapa abad setelah itu, juga dikenal sebagai penghasil dan pemasok terbesar emas ke banyak negara. Konon dalam Kerajaan Minangkabau terdapat pegunungan emas sehingga pusat kerajaan terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas tersebut diekspor dari pelabuhan Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir. Puncak kebesaran Minangkabau terjadi pada zaman Raja Adityawarman. Karena bergelimang emas maka kemudian beliau menggelari dirinya Kanaka-medinindra (Penguasa Negeri Emas).

Ketenaran Minangkabau sempat terdengar oleh pengelana Portugis, Tome Pires (1511). Dia sampai terkagum-kagum ketika mengunjungi Minangkabau. Pires kemudian menjuluki Minangkabau sebagai “suatu kawasan yang diberkahi oleh Tuhan untuk memiliki emas yang terbaik”. Hasil produksi emas Minangkabau dikabarkan mencapai lebih dari dua bahar setahun.

Hal serupa juga diungkapkan Duarte Barbosa (1518). Dia mengemukakan bahwa penduduk Minangkabau dengan mudah dapat mengumpulkan emas sepanjang sungai-sungai besar dan kecil. Setiap tahun dari Minangkabau diekspor 12 – 15 kuintal emas ke Malaka.

Sementara itu Joao de Barros (1496-1570) menafsirkan bahwa nama Sumatera berhubungan erat dengan kata zam yang berarti emas sungai atau emas diambil dari sungai. Perubahan toponimi dari zam menjadi sum, menurut para pakar, cukup masuk akal.

Sebagai kawasan penghasil emas sejak zaman purba, banyak temuan arkeologi berupa arca, perhiasan, dan artefak-artefak lain terdapat di Sumatera. Hampir di setiap situs arkeologi pernah ditemukan benda emas bersama benda-benda lainnya.

Jelas, Suvarnnabhumi adalah Sumatera. Sayang, namanya dibajak dan sudah terlanjur populer di Thailand. Ya, hitung-hitung buat promosi pariwisata Indonesia karena pariwisata Thailand lebih maju dari kita.***

Iklan

Responses

  1. Djoe, kita belum tahu apakah sumber-sumber tertulis d Thailand ada menyebutkan toponimi “Suvarnnabhumi” (dibaca: Suwanapumi), yang mungkin mengacu kepada sumber-sumber yang lebih tua, seperti kitab Jataka tersebut. Ini juga akibat dari pendapat para sarjana sejarah kuno yang lebih dulu menemukan istilah “Suvarnnabhumi” yang kemudian mengarahkan toponimi tsb ke suatu tempat di Thailand. Ini sama saja dengan istilah “Srivijaya” yang ketika itu dipopulerkan oleh Coedes, yang mengidentifikasikan sebuah kerajaan di Sumatra Selatan (Palembang). Tapi setelah itu banyak pendapat, termasuk ahli sejarah kuno dari Thailand, Chand Chirayu Rajani, mengatakan bahwa Srivijaya haruslah dicari di Thailand berdasarkan prasasti Ligor yang cuma satu-satunya menyebut Srivijaya. Pendapat Chand ini kemudian ditentang habis-habisan oleh para sarjana lain, termasuk alm. Pak Soekmono, yang mengatakan bahwa Srivijaya itu di pulau Sumatra, mengingat prasasti tertua Srivijaya ditemukan di sini. Kesimpulannya, bukan pembajakan, ini masalah ‘pembentukan opini publik’ soal identitas kesejarahan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: