Oleh: hurahura | 12 Oktober 2010

Warisan Budaya: 127 Bangunan Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

KOMPAS Jogja, Kamis, 7 Okt 2010 – Sebanyak 127 bangunan berkategori bangunan cagar budaya di DIY akan ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. BCB tersebut di antaranya Candi Prambanan, Kalasan, Candi Ratu Boko, dan Tamansari Keraton Yogyakarta. Penetapan dilakukan dengan melakukan ranking kelas BCB yang bersangkutan.

“Dari 127 BCB tersebut, 84 persen pernah mendapatkan penghargaan berdasarkan SK menteri, gubernur, wali kota, maupun bupati,” kata Tri Rubiyanto, Kepala Bidang Sejarah, Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, dalam acara Sosialisasi Penetapan Bangunan Cagar Budaya (BCB) DIY, Rabu (6/10) di Yogyakarta.

Tri mengatakan, BCB tidak bergerak di DIY tercatat 515 BCB. Dari jumlah itu, berdasarkan koordinasi dengan pihak kabupaten/kota, 154 BCB diusulkan ke provinsi untuk mendapatkan penilaian penetapan sebagai BCB. Berdasarkan penilaian tim penilai, dari 154 BCB, 127 diusulkan mendapatkan penetapan BCB. Penilaian didasarkan atas nilai umur dan kepurbakalaan, nilai kesejarahan, estetika, keunikan/kelangkaan, atraktivitas karya budaya, kecanggihan struktur, konstruksi dan teknologi pengerjaan, kesulitan bahan pembentukannya, dan nilai tetenger.

Kota Yogyakarta tercatat paling banyak mempunyai BCB, yaitu mencapai 75 BCB. Adapun Sleman punya 21 BCB, Bantul memiliki 11 BCB, Gunung Kidul 12, Kulon Progo sebanyak 8 BCB. Tri menuturkan, pemprov sudah membentuk tim tenaga ahli penetapan benda cagar budaya untuk melakukan penilaian terhadap peringkat/kelas ke-127 BCB itu. “Kriteria penilaian ialah nilai sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi,” katanya.

Berdasarkan penilaian tim, empat BCB diusulkan ditetapkan masuk kelas A (international heritage), yaitu Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, Candi Kalasan, dan Tamansari. Sebanyak 12 BCB masuk kelas B (national heritage), 50 BCB masuk kelas C (provinsi), kelas D (local heritage) 53 BCB, dan kelas E (setempat). Penetapan kelas A akan dilakukan UNESCO, kelas B dilakukan menteri, kelas C oleh gubernur, sedangkan kelas D dan E oleh bupati/wali kota.

Tri menuturkan, Keraton Yogyakarta belum dimasukkan ke dalam daftar BCB yang akan ditetapkan. Hal ini karena pihaknya masih menunggu pengajuan BCB oleh pihak keraton. “Kami tidak bisa sepihak memasukkan keraton dalam BCB tanpa persetujuan pemilik,” katanya.

Ketua Tenaga Ahli Penetapan Benda Cagar Budaya DIY Suyata mengemukakan, dari BCB yang sudah mendapatkan penetapan sebelumnya, belum ada penilaian kriteria atau kelas. Dengan penetapan itu, pemilik BCB akan mendapatkan beberapa bantuan dari pemerintah, di antaranya subsidi pemugaran untuk rusak ringan Rp 50 juta, sedang Rp 50 juta-Rp 100 juta, berat di atas Rp 100 juta. Untuk mendapatkan bantuan itu, tim ahli akan melakukan penilaian terlebih dahulu. Tri menambahkan, pemprov juga akan mengusulkan keringanan pajak bumi dan bangunan sebesar 25-50 persen, tergantung nilai bangunan. (RWN)


Responses

  1. numpang ………….. tanya untuk Bp3 jateng di kab brebes sudah di survai bcb nya tapi belum di tetapkan mana – mana yang masuk dalam daftar penetapan

    • Nanti disampaikan ke pihak berwenang


Tinggalkan Balasan ke hurahura Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: