Oleh: hurahura | 12 Oktober 2010

Naskah Kuno Etnis Arab Minim

* Banyak Naskah yang Hilang, Sejarah Etnis Arab di Kudus dan Jepara Sulit Didokumentasi

KOMPAS Jawa Tengah, Senin, 11 Okt 2010 – Tim Peneliti Etnis Arab dari Balai Arkeologi Yogyakarta hingga kini kesulitan mendokumentasikan sejarah etnis Arab di Kudus dan Jepara secara utuh. Kegiatan ini terkendala oleh minimnya naskah kuno yang mengisahkan atau menyebut keberadaan serta peran etnis Arab di tanah syiar Islam Wali Songo tersebut.

Sejarawan sekaligus arkeolog Islam Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Masyhudi, Minggu (10/10), mengatakan, sejumlah narasumber penelitian menyatakan naskah-naskah kuno itu hilang dan ada yang sengaja dimusnahkan.

Pemusnahan naskah kuno itu disebabkan ketidaktahuan pelaku terhadap nilai-nilai sejarah dan ketidaksenangan pelaku atas isi atau pembuat naskah.

“Padahal Kudus dan Jepara merupakan kota-kota awal syiar Islam di Jawa. Setidaknya, peninggalan berupa naskah kuno berbentuk apa pun bisa didapat,” kata dia.

Di Kudus, tim peneliti hanya menjumpai naskah batu atau prasasti di atas tempat imam Masjid Menara atau Al Aqsha. Tulisan dalam prasasti itu berupa huruf Arab bergaya Tsuluts atau jenis kaligrafi khas Timur Tengah.

Tim belum mampu membaca seluruh isi prasasti itu, karena ada bagian-bagian huruf yang sudah rusak atau kabur. Namun, salah satu bagian menyebut Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus.

“Di Jepara, kami tak menjumpai naskah sama sekali, hanya makam dan rumah etnis Arab yang berbaur dengan pribumi. Namun dari berbagai narasumber, kami memperoleh informasi kalau Sultan Hadirin merupakan orang Arab dari Aceh,” ujar Masyhudi.


Dua fase

Berdasarkan hasil analisis sementara dari peninggalan-peninggalan selain naskah, ditemukan bahwa etnis Arab datang dalam dua fase. Fase pertama pada masa-masa awal penyebaran Islam, abad XIV-XV, dan kedua pada masa kolonial, era 1800-an.

Di Kudus etnis Arab yang datang pada fase pertama tinggal di Barat Kali Gelis atau Kudus Kulon, dan yang datang pada fase kedua di Timur Kali Gelis atau Kudus Wetan. Mereka mengembangkan prinsip hidup Sunan Kudus, yakni mengaji dan berdagang (jigang).

Penulis Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa, Nur Said, mengemukakan, falsafah jigang tak hanya dihidupi etnis Arab, tapi juga masyarakat Kudus pada umumnya lewat tradisi Dhandangan saat menyambut Ramadhan.

Di daerah Kudus Kulon, masyarakat percaya seorang pemuda ideal harus memiliki tiga karakter, yaitu gus-ji-gang, yakni bagus akhlaknya, pintar mengaji, dan piawai berdagang. (HEN)


Responses

  1. klu bisa candi muara takus tu dibongkar habis bawah nya

    • bongkar atau tidak dibongkar biasanya sangat tergantung dari ahli konservasi, mereka tau kondisi lapangan dan bangunan

  2. @salam kebenaran…kenapa musti tradisi arab yg di cari kenapa bukan tradisi leluhur sendiri yg asli penduduk pribumi tanah kudus..mau tau kebenarannya !!orang kudus kulon itu pada suka maksiat,penipu,sombong seperti kebanyakan org..ilmunya kesantriannya hanyalah kedok saja org kudus sudah pada hilang tradisi jawanya sudah pada salah kaprah !! Sunannya masih gentayangan belum sampai dialamnya sana karena telah durhaka kpd leluhur asli nusantara Itulah kebenaran sejati !!

    • Tradisi asing juga penting karena banyak hal diperoleh dari sini…yg jelas banyak persoalan kearkeologian dan kesejarahan perlu diungkapkan…


Tinggalkan Balasan ke hurahura Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: