Oleh: hurahura | 11 September 2010

“Zoeker” dan “Steller”, Ahli “Menjodohkan” Batu Candi

Oleh: Djulianto Susantio

Kalau orang berbicara candi, ada banyak hal yang terkandung di dalamnya. Sampai kini hampir semua informasi tentang candi, masih bersifat misteri. Kapan candi itu didirikan, bagaimana cara mendirikan candi, siapa yang mendirikan candi, mengapa tempat itu yang dipilih, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan segudang pertanyaan lain masih belum terjawab. Kalaupun sudah, jawabannya masih bersifat penafsiran. Memang susah untuk menelusuri informasi tentang candi karena bangunan candi berasal dari masa yang sangat jauh dari masa sekarang. Usia candi yang ada di Indonesia mencapai ratusan tahun, bahkan ada yang lebih dari seribu tahun.

Candi adalah sebutan untuk bangunan kuno yang berasal dari masa klasik sejarah kuno Indonesia. Masa klasik berlangsung dari abad ke-5 hingga ke-16, saat kerajaan-kerajaan bercorak Hinduisme dan Buddhisme berkuasa di Nusantara. Bangunan candi sendiri berasal dari rentang waktu abad ke-7 hingga ke-14. Persebaran candi terbanyak di Pulau Jawa. Sebagian kecil terdapat di Bali, Sumatera, dan Kalimantan.

Seiring munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam, maka selama beberapa abad keberadaan bangunan candi sempat terlantar. Bahkan keberadaan candi semakin memilukan karena tertutup oleh tumbuhan liar, tanah, dan pasir. Apalagi selama sepuluh abad terakhir ini, berbagai bencana alam seperti gempa bumi, telah berkali-kali melanda tanah Jawa. Akibatnya selama beberapa lama, banyak bangunan candi tidak tersentuh oleh siapapun.

Runtuhan candi, batu-batunya berserakan dan banyak diambili masyarakat sekitar untuk berbagai keperluan rumah tangga

Baru pada abad ke-18, terutama di era Gubernur Jenderal Raffles, berbagai kepurbakalaan mulai mendapat perhatian. Banyak candi di masa penjajahan ini, satu per satu terkuak ke permukaan.

Namun karena telah berantakan oleh bencana alam, maka kondisi candi sudah tidak utuh lagi. Sebagian besar tidak berujud bangunan lagi. Yang terlihat hanyalah serakan batu-batu candi di mana-mana.

Selain alam, bencana berikutnya justru datang dari manusia. Pada abad ke-19 dan awal abad ke- 20, batu-batu candi yang berserakan itu, mungkin dianggap barang tak bertuan. Maka, batu-batu candi tersebut diambili penduduk sekitar untuk berbagai keperluan rumah tangga mereka, antara lain pengeras jalan, sumur, pagar halaman, tungku, dan pengganjal pintu.

Baru setelah Indonesia merdeka, batu-batu yang berserakan itu mulai memperoleh perhatian. Sedikit demi sedikit batu-batu candi yang berada di lingkungan Candi Prambanan dikumpulkan oleh Dinas Purbakala. Pencarian batu dilakukan dengan cara berkeliling ke rumah-rumah penduduk oleh para petugas Dinas Purbakala.

Ribuan batu kuno inilah yang sekarang masih berada di pelataran Candi Prambanan. Oleh para petugas purbakala, batu-batu itu diklasifikasi menjadi batu bagian dasar, batu bagian badan, atau batu bagian atap candi. Batu-batu itu ada yang polos, ada pula yang berukir. Perbedaan itu untuk menunjukkan posisi batu. Batu polos berfungsi sebagai batu isian, terletak di dalam atau di bawah batu berukir. Sedangkan batu berukir terletak di bagian luar. Yang dilihat oleh pengunjung sekarang adalah batu berukir.

Pada era 1970-an jumlah batu sangat banyak. Ini mengingat di lingkungan Prambanan ada belasan candi. Jadinya, pengumpulan batu candi dipusatkan di Prambanan. Setelah dipilah-pilah, maka kemudian batu-batu tersebut didistribusikan ke masing-masing candi.


Zoeker dan Steller

Keunikan yang sampai kini mengundang decak kagum para pakar adalah susunan batu candi itu tidak mengunakan semacam semen atau perekat. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni antara batu-batu yang terletak di kanan-kiri dan atas-bawah. Meskipun begitu, tingkat presisi dan tingkat kekuatan candi amat tinggi.

Zoeker dan steller sedang mengukur batu untuk dipasangkan di sana

Karena setiap batu memiliki bentuk unik, maka tidak sembarang batu bisa secara mudah dipasangkan. Memasang batu-batu candi ibarat permainan puzzle. Salah sedikit saja, tidak mungkin terselesaikan. Soalnya adalah setiap batu sudah memiliki pasangan yang tetap. Namun bagaimana cara mencari pasangan tetapnya itu mengingat ribuan batu bergeletakan di halaman?

Sudah terang perlu keterampilan khusus. Apalagi setiap batu mempunyai berat belasan kilogram hingga puluhan sampai ratusan kilogram. Orang yang sangat ahli dalam ‘menjodohkan’ batu candi disebut zoeker dan steller. Dalam bahasa Belanda, zoeker berarti ‘pencari’ dan steller berarti ‘penyetel’. Merekalah yang bertugas mencari pasangan batu sekaligus menyetelnya agar sedikit demi sedikit terbentuk menjadi bangunan candi.

Para zoeker dan steller umumnya adalah masyarakat pedesaan yang berdomisili dekat suatu candi. Mereka kemudian dididik dan diangkat menjadi pegawai di instansi arkeologi. Seperti halnya juru pelihara atau kuncen, sering kali keterampilan zoeker dan steller bersifat turun-temurun.

Menurut cerita almarhum Soekmono, arkeolog pertama bangsa Indonesia, sekitar 20 tahun yang lalu, keterampilan mereka diawali dari penanganan terhadap Candi Prambanan. Ketika pertama kali ditemukan pada abad ke-18, Candi Prambanan masih tertutup semak belukar. Perlahan-lahan candi itu berhasil dibersihkan dari tumbuhan, tanah, dan batu yang menutupinya. Namun disayangkan pembersihan itu berkesan asal-asalan, dalam arti tidak berlandaskan ilmu pengetahuan. Akibatnya banyak batu terlepas dari tempatnya, bahkan banyak yang hilang diambili orang.

Memang kemudian sebagian besar batu yang lepas itu berhasil ditemukan dan dikumpulkan kembali di halaman candi. Jumlahnya mencapai ribuan potong. Ketika itu langkah pertama yang dilakukan adalah memilihi batunya satu per satu. Terutama batu-batu berukir yang tak menentu letaknya dalam berbagai timbunan tadi. Batu-batu tersebut dikumpulkan menurut jenis dan ragam hiasnya. Rencananya pada 1918 akan dipakai untuk percobaan menyusun kembali dinding, bingkai atas, dan bagian atap candi Siwa (Soekmono, Candi-candi di Sekitar Prambanan, hal. 18).

Upaya tadi rupanya bukanlah pekerjaan ringan. Ribuan batu tersebar di halaman yang luas itu. Sementara kondisi Candi Siwa sudah begitu amburadul, hampir tak berujud candi. Padahal dari hasil analisis diketahui Candi Siwa merupakan candi tertinggi di kompleks Prambanan, sekitar 47 meter menurut pengukuran terakhir. Belum lagi lebar dan panjangnya sekitar 23 meter x 23 meter. Dengan demikian butuh batu candi yang luar biasa banyaknya.

Untunglah sejumlah warga Prambanan berhasil dididik menjadi “ahli menjodohkan batu candi”. Menurut Soekmono, umumnya mereka adalah orang-orang tak berpendidikan, bahkan banyak yang tuna aksara. “Sulitnya ‘menjodohkan’ batu-batu candi terasa sekali. Kita bisa lihat pemugaran Candi Siwa saja membutuhkan waktu 35 tahun (1918-1953),” terang Soekmono ketika itu.


Naluri dan ingatan

Setelah Candi Siwa, beberapa candi juga berhasil berdiri megah berkat keuletan zoeker dan steller. Sebut saja Candi Wisnu, Brahma, Sewu, Plaosan, Ratu Boko, dan tak terkecuali Borobudur.

Zoeker dan steller ternyata bukan hanya terampil “menjodohkan” batu-batu candi. Mereka pun mahir menangani berbagai kepurbakalaan dalam arti luas yang pada pokoknya menggunakan bahan dasar batu, seperti petirtaan (kolam permandian) dan pura.

Menurut cerita beberapa zoeker, dulu memugar Candi Siwa terasa sulit sekali karena batu-batunya banyak yang hilang. Untuk itu mereka harus sering keluar masuk kampung mencari batu-batu candi yang masih berada di dalam rumah-rumah penduduk. Karena sudah terbiasa, para zoeker juga mampu dan terampil membedakan mana batu candi dan mana bukan batu candi.

Di antara para zoeker dan steller yang dianggap pioner adalah Kartomo atau populer disapa Mbah Karto. Mbah Karto sudah malang-melintang di dunia per-zoeker-an dan per-steller-an sebelum masa kemerdekaan. Selain Candi Siwa, Mbah Karto berjasa besar dalam pemugaran Candi Jawi di Jawa Timur. Mbah Karto merupakan zoeker dan steller generasi pertama.

Karsono

Setelah Mbah Karto, muncul zoeker dan steller generasi kedua, seperti Arjo Kimin, Kasido, Karsono, dan Abdul Kamari. Keempatnya adalah “murid” kesayangan Mbah Karto. Mereka bertempat tinggal tak jauh dari Candi Prambanan, bahkan ada yang dekat Candi Ratu Baka. Banyak candi berhasil ditangani, termasuk candi-candi di Jawa Timur.

Zoeker dan steller berpengalaman, menurut Karsono, mampu membedakan mana batu-batu milik kaki candi, badan candi, atau atap candi. Para zoeker dan steller pun fasih membedakan mana batu milik Candi Prambanan dan mana batu milik candi-candi lain di sekitarnya, seperti Sewu, Bubrah, Lumbung, Asu, dan Plaosan. Sulit belajar pengetahuan demikian, selain dari pengalaman yang panjang.

Kasido

Kunci utama menemukan pasangan batu yang cocok, sebagaimana pernah diutarakan Kasido dan Karsono ketika penulis mengunjungi Prambanan beberapa tahun lalu, adalah naluri dan ingatan yang kuat. Apalagi kalau serakan batu mencapai ribuan buah. Juga diperlukan perenungan yang menuntut konsentrasi tinggi. Misalnya mereka harus melamun untuk mengingat-ingat letak batu yang diduga pasangannya.

Batu yang paling sulit dicarikan jodohnya, menurut Abdul Kamari—juga seorang zoeker dan steller—umumnya berbentuk polos. Batu polos biasanya digunakan sebagai tembok keliling suatu candi. Yang lebih mudah adalah batu berukir atau berhias. Kamari mengaku cukup melihat sambungan hiasan atau relief cerita pada batu itu.

Arjo Kimin

“Penjodohan” batu memang tak ubahnya menyusun puzzle. Terkadang mudah, terkadang sulit. Dalam sehari seorang zoeker-steller mampu menemukan sepuluh pasang batu bahkan lebih. Namun terkadang satu batu baru memperoleh pasangannya selama dua minggu pencarian. Yang menakjubkan, keterampilan yang mahatinggi itu dilakukan hanya menggunakan perlengkapan sederhana berupa rollmeter dan penggaris siku sebagai alat bantu pengukuran.

Bukan hanya candi, para zoeker dan steller juga mampu “menjodohkan” arca-arca batu yang kepalanya terlepas dari badannya. Ketika Candi Borobudur dalam masa pemugaran, mereka ikut membantu. Bahu-membahu dengan perangkat komputer, yang juga bertugas menyocokkan kepala arca yang terlepas dari badannya.

Saat ini para zoeker dan steller tersebut mungkin sudah meninggal. Kita harapkan regenerasi zoeker dan steller tidak terputus. Ini mengingat masih banyak candi belum tertangani pemugaran.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: