Oleh: hurahura | 26 Juli 2010

Sampah Kerang Passo … Situs Prasejarah Yang Terlupakan

(kiriman tulisan dari seorang pembaca blog ini, terima kasih)

Desa Passo, yang terletak di tepi danau Tondano (Kabupaten Minahasa, Sulut) dan memiliki banyak sumber mata air panas, nampaknya bukan cuma menarik bagi kita saat ini, tetapi juga bagi manusia-manusia primitif di masa lampau. Sekitar 8000 tahun lalu, di situ pernah bermukim sekelompok manusia yang berprofesi sebagai pemburu & pengumpul.

Mereka belum mengenal cara bercocok tanam. Keramik dan peralatan mereka juga umumnya masih terbuat dari batu atau tulang. Mereka membuang sampah dari sisa makanan mereka, dan di atas timbunan sampah itulah kini berdiri Gereja GMIM Imanuel Passo.

Dari hasil penggalian, para ahli menemukan beberapa peralatan mereka, antara lain berupa serpih-serpih batu yang pinggirannya ‘diasah’ dan fragmen-fragmen tulang yang bentuknya seperti paku. Karena ukurannya yang kecil, rata-rata kurang dari 10 Cm, maka para ahli menduga bahwa serpih-serpih batu itu adalah alat untuk menggerus, sementara fragmen-fragmen tulang itu mungkin digunakan sebagai alat penusuk.

Selain peralatan, dalam penggalian itu juga ditemukan potongan-potongan tulang binatang buruan. Dari jumlahnya, babi hutan (Sus sp.) dan anoa (Bubalus sp.) nampaknya menjadi jenis yang paling banyak mereka buru, di samping juga burung, kelelawar (kecil), tikus dan ular patola (phyton sp.).

Tulang-tulang ini umumnya berbentuk potongan-potongan kecil namun jenisnya masih bisa dikenali. Ini sedikit berbeda dengan temuan-temuan sebuah situs yang hampir seusia di Sulawesi Selatan. Di sini, tulang binatang buruan umumnya dipotong kecil-kecil sehingga jenisnya sulit dikenali lagi. Tapi yang menarik dari peninggalan mereka yaitu sisa cangkang dari beberapa jenis kerang-kerangan danau (renga).

Selama tinggal di Passo yang nampaknya ‘singkat’, mungkin sekitar 500 tahun, manusia-manusia primitif ini ternyata telah memakan binatang danau ini dalam jumlah yang sangat banyak dan sisa cangkangnya mereka buang ke suatu tempat. Karena banyaknya, sampah cangkang inipun membentuk suatu timbunan setebal kira-kira 1 meter dengan diameter sekitar 30 meter.

Timbunan inilah yang menarik perhatian para ahli, yang kemudian digali oleh suatu tim dari Pusat Penelitian Purbakala Indonesia dan Universitas Nasional Australia pada pertengahan tahun 1974. Hasil penggalian itu jugalah yang mengungkapkan kepada kita sebagian misteri keberadaan mereka.

Selain cangkang renga dan tulang belulang binatang buruan, di dalam timbunan itu juga para ahli menemukan sisa arang kayu. Ketika umurnya ditentukan dengan penarikhan karbon-14, mereka memperoleh angka yang mengesankan; arang kayu itu berasal dari masa antara 7000 sampai 8000 tahun lalu.

Dengan demikian, sampah kerang Passo -demikian para ahli menamai timbunan kerang ini- menjadi salah satu situs prasejarah yang berharga untuk Sulawesi. Bahkan untuk Asia Tenggara, situs seusia ini tidak terlalu banyak. Pertanyaan yang menarik sekarang, siapakah orang-orang primitif yang membuang sampah itu? Apakah mereka leluhur langsung orang Minahasa yang sekarang atau bukan?

Delapan ribu tahun lalu jelas bukan masa yang dekat dengan kita. Pada masa itu, ketika di Timur Tengah sudah mulai terbentuk ‘kota-kota’ yang pertama, di Asia Tenggara kegelapan justru masih menyelimuti. Penduduknya masih hidup dalam alam zaman batu dengan gaya hidup berburu dan mengumpul.

Karenanya mereka juga hanya meninggalkan sedikit informasi bagi kita sekarang. Berdasarkan ciri alat-alat batunya, setidaknya mereka dapat dibagi atas dua kelompok besar; kelompok pendukung kebudayaan Hoabinhian di daratan utama dan Sumatera serta kelompok pendukung kebudayaan alat batu kerakal dan alat serpih di pulau-pulau sisanya. Manusia primitif Passo dalam hal ini masuk kelompok yang kedua.

Secara fenotip, mereka adalah Orang Australo-Melanesia yang berkerabat dengan leluhur penduduk asli Papua dan Australia sekarang (Aborigin). Dan karena Homo (Phitecanthropus erectus) yang hidup di pulau Jawa ratusan ribu tahun sebelumnya bukan tergolong manusia modern secara anatomis, maka orang Australo-Melanesia inilah yang menjadi manusia modern pertama yang diketahui menghuni kepulauan Indonesia.

Hanya saja, dengan munculnya pendatang lain pada kira-kira 5000 tahun lalu, yakni orang-orang Mongoloid Selatan yang merupakan leluhur langsung orang Minahasa, maka orang-orang Australo-Melanesia ini sepertinya lenyap dari Asia Tenggara. Di luar Papua (dan tentu saja Australia), turunan mereka tinggal ditemukan di beberapa tempat di Filipina dan Malaysia.

Di Minahasa, kehadiran mereka diwakili oleh manusia primitif Passo ini nampaknya singkat, atau kalau tidak, menimbulkan banyak pertanyaan. Mereka ibarat kilat yang bersinar sesaat di awal lorong prasejarah. Antara masa mereka dan munculnya leluhur orang Minahasa sekarang (yakni orang Mongoloid Selatan) ada senjang waktu yang sangat panjang.

Jika kita mengikuti dugaan dari beberapa ahli (Riedel, Adam dan Supit misalnya), maka masa kedatangan leluhur orang Minahasa ke Tanah Minahasa harus dicari pada milenium pertama sesudah Masehi. Ini berarti bahwa kesenjangan antara masa manusia primitif Passo dan masa kedatangan leluhur orang Minahasa berkisar 6.000 tahun lamanya. Karenanya, kita bisa menyimpulkan bahwa leluhur orang Minahasa pasti tidak `sempat` bertemu dengan mereka ketika tiba di Minahasa.

Akan tetapi, kita juga tidak bisa langsung mengatakan bahwa orang Minahasa yang sekarang tidak mempunyai kaitan genetis sama sekali dengan orang Australo-Melanesia. Karena bagaimana pun juga, perkawinan dan pertukaran gen antara leluhur orang Minahasa dan orang-orang Australo-Melanesia dapat saja terjadi di tempat lain, sebelum para leluhur orang Minahasa tersebut mencapai Tanah Minahasa.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apoakah orang Australo-Melanesia ini merupakan leluhur langsung orang Minahasa menjadi jelas, meskipun uraiannya tidak sederhana.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskusikan hal tersebut. Uraian di atas sengaja dikemukakan untuk menunjukkan betapa Sampah Kerang Passo mempunyai arti penting dalam membuka wawasan kita tentang prasejarah Minahasa. Sayangnya situs ini bukan tanpa masalah.

Selain dilupakan dan tidak mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah, situs ini juga menghadapi persoalan dilematis. Gedung Gereja GMIM Imanuel Passo justru berdiri hampir tepat di bagian tengah situs ini. Dan semua penelitian untuk mengungkap keberadaan manusia primitif Passo ini jelas harus dilakukan dengan mengusik ketenangan gereja.

Adanya bangunan gereja yang permanen jelas merupakan persoalan. Upaya-upaya penelitian tentu menjadi tak leluasa. Apalagi, bidang penelitian arkeologi memang mengharuskan para peneliti untuk menggali dan membongkar tanah. Akan tetapi, dapatkah pihak gereja dipersalahkan dalam hal ini? Sama sekali tidak! Gereja tersebut telah ada jauh sebelum lahan tempat berdirinya disadari sebagai sebuah situs prasejarah.

Sebagai gereja yang pertama di Passo, gereja ini mungkin telah ada sejak akhir abad ke-19. Dipilihnya situs ini sebagai tempat untuk mendirikan gereja, juga merupakan alasan yang sangat masuk akal. Selain strategis karena terletak di pinggir jalan utama, lahan situs ini memang lebih tinggi dari lahan-lahan di sekitarnya (karena merupakan sebuah timbunan kerang).

Persoalan lain yang juga tidak bisa diabaikan yaitu isu tentang harta karun. Ada beberapa versi ceritanya, tapi intinya adalah cerita bahwa di dalam situs ini terkandung harta karun yang bernilai tinggi. Salah satunya adalah isu adanya patung (kepala) rusa yang terbuat dari emas murni, yang konon terkubur tepat di bawah mimbar gereja yang sekarang.

Meski kedengarannya lucu, isu sperti ini tidak boleh dianggap sepele. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak aksi tak terkendali, termasuk penjarahan dan pembunuhan, bermula dari isu seperti ini. Lihat saja Waruga, berapa banyak yang sudah dijarah hingga menjadi tidak berharga lagi. Beruntunglah kalau sebagian lahan situs ini sekarang berada di bawah kepemilikan gereja. Tapi bagaimana dengan bagian situs yang berada di luar halaman gereja? Dapatkah dijamin keamanannya?

Situs Sampah Kerang Passo jelas harus mendapat perhatian yang layak. Situs ini perlu dilindungi secara resmi. Selain itu, nilai situs ini sebagai sebuah objek penelitian sejarah perlu disosialisasikan kepada masyarakat setempat untuk menghilangkan anggapan-anggapan yang keliru. Dua hal penting yang perlu dicapai dalam sosialisasi adalah memunculkan kesadaran dan membangkitkan rasa bangga pada masyarakat. Dalam beberapa kasus, ada bukti kuat bahwa kesadaran masyarakat yang sadar dan bangga lebih penting daripada petugas yang bersenjata.

Namun, harus pula diingat bahwa untuk melindungi situs ini, jangan sampai mengulangi kesalahan di masa lampau. Sampah Kerang Passo jelas tidak memerlukan `kurungan` seperti Batu Pinabetengan atau `lokalisasi` seperti Waruga-waruga di Sawangan Airmadidi Minahasa Utara. Situs ini justru memerlukan sentuhan yang lain agar ekspresi keprimitifannya dapat lebih kuat. Karenanya, yang diperlukan di sini adalah keterlibatan para arkeolog, bukan kontraktor gapura.

Terkait nilainya, situs Sampah Kerang Passo juga harus dijadikan laboratorium ilmiah yang terbuka seluas-luasnya bagi kegiatan yang bersifat ilmiah dan sah. Dan agar hasil-hasil penelitian tidak bersifat eksklusif, maka kepada setiap peneliti yang melakukan kegiatan perlu diwajibkan untuk meninggalkan copy penggandaaan laporan atau publikasi yang terkait dengan situs ini kepada Pemerintah maupun Gereja setempat. Ini akan membantu pengembangan pemahaman yang benar tentang situs ini di kalangan masyarakat.

Tentu saja, situs ini dapat pula dikembangkan sebagai objek wisata untuk menarik wisatawan. Namun perlu ada jaminan bahwa pariwisata yang dikembangkan haruslah yang tidak merusak situs. Selain itu, haruslah dijamin bahwa yang dikembangkan adalah dapat benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat setempat. Karena hanya pariwisata yang adil lah yang bisa membangkitkan rasa cinta dan memiliki objek di kalangan masyarakat. Pada sisi lain, kegiatan pariwisata juga mutlak dibarengi oleh pembangunan komitmen agar semua pelaku yang terkait, termasuk masyarakat, mau menyisihkan sebagian keuntungan bagi kelestarian situs ini.

Adanya gedung gereja juga tidak harus dipandang sebagai halangan. Gereja memang berdiri di bagian tengah situs, tapi ini tidak berarti bahwa bagian lain dari situs menjadi tak berharga. Jika kita percaya bahwa Sampah Kerang Passo hanyalah bagian kecil dari dari suatu pemukiman purba yang lebih luas, kita juga patut mempertimbangkan bahwa kawasan di sekitarnya pasti memiliki potensi arkeologis yang sama. Lagipula, gereja dalam hal ini bisa menjadi mitra potensial bagi perlindungan dan pemanfaatan situs ini, seperti juga di beberapa tempat lain, dimana gereja maupun tempat ibadah agama lain, telah menjadi mitra yang amat membantu terhadap lembaga-lembaga pelestari hewan dan hutan. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau pihak gereja memang harus dilibatkan dalam pengelolaan situs ini.

(Rendai Ruauw)

edit dari:
Harian Komentar,
Kamis, 26 & 27 Januari 2006
(halaman 5, rubrik Opini)
oleh: Herman Teguh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: