Oleh: hurahura | 21 Februari 2010

Banyak Arca Kuno Masih di Tangan Kolektor

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Benda antik, apa pun bentuknya, selalu menarik perhatian orang untuk mengoleksinya. Ada berbagai alasan mengapa orang berantusias menjadi kolektor barang antik, antara lain sebagai hobi, demi gengsi, meningkatkan status sosial, dan juga karena nilai komersialnya yang tinggi. Kepuasan semakin bertambah apabila benda-benda itu tergolong unik, langka, artistik, dan bernilai historis. Maka tanpa disadari, dampak utama adanya kolektor barang antik adalah adanya pencurian dan segala perbuatan negatif lainnya terhadap benda-benda purbakala.

Di antara berbagai benda antik, salah satu artefak yang menjadi perhatian para kolektor adalah arca kuno, baik arca batu maupun arca logam. Karena ada kolektornya, maka perdagangan arca kuno semakin marak. Karena perdagangan semakin marak, maka pencurian pun merajalela. Bahkan yang ironis, secara berbarengan pernah dilakukan pencurian dan pemalsuan koleksi Museum Radya Pustaka Solo akhir 2007 lalu oleh orang dalam sendiri.

Umumnya, arca-arca kuno yang diincar pencuri adalah arca batu. Hal ini karena arca-arca batu biasanya terdapat di tempat terbuka yang lemah pengawasan, terpencil, dan merupakan bagian dari candi. Berbagai upaya pemenggalan, penyongkelan, dan penggotongan dari berbagai situs purbakala, sering terjadi di berbagai pelosok daerah sejak lama.

Dengan mengiming-imingi sejumlah uang kepada penduduk desa yang masih lugu, maka “operasi fajar” yang dilakukan para penadah barang antik atau orang suruhannya sering kali membuahkan hasil. Agar memperoleh keuntungan besar, maka arca-arca ilegal itu biasanya dijual kepada sindikat internasional atau turis mancanegara.

Berbeda dengan arca batu, arca logam lebih sulit dicuri orang. Umumnya, karena bentuknya yang kecil dan ringan, arca-arca logam tidak dibiarkan berada di tempat terbuka. Artefak-artefak itu hampir selalu disimpan di dalam museum yang tentu saja lebih ketat penjagaannya.

Entah dengan cara apa, banyak dari barang-barang itu kemudian bisa dengan mudah diselundupkan ke luar negeri. Banyak kejadian “unik” di negara kita, misalnya, arca-arca batu yang hilang dari candi-candi di Jawa, tiba-tiba sudah berada di mancanegara. Bahkan, muncul dalam katalogus sebuah balai lelang ternama. Kejadian serupa juga pernah dialami arca batu dari Candi Borobudur dan arca logam temuan dari Kalimantan tahun 2005 lalu.

Ironisnya, arca-arca logam yang diduga kuat merupakan hasil curian itu berhasil terjual dalam pelelangan di Belanda dengan harga miliaran rupiah. Yang ajaib, banyak kolektor Indonesia membeli barang-barang curian itu di mancanegara, lalu membawanya pulang ke Indonesia tanpa tahu bahwa barang-barang itu merupakan hasil curian. Ini pernah dialami oleh Hashim Djojohadikusumo dalam kasus Museum Radya Pustaka Solo. Ketika itu ybs membeli sejumlah arca dalam pelelangan di London, Inggris.


Kebesaran Sejarah

Mengapa arca kuno banyak diburu kolektor, tentulah tidak lepas dari kebesaran masa sejarah kuno sekaligus sejarah kesenian yang pernah dialami bangsa kita. Sejak abad ke-5 Masehi, sejumlah kerajaan kuno mulai berdiri di Indonesia. Ada kerajaan yang bercorak Hindu dan Buddha. Ada pula kerajaan atau kesultanan Islam. Kerajaan-kerajaan ini terdapat di sejumlah pulau dan kota di seluruh Indonesia.

Kerajaan-kerajaan besar itu bukan hanya meninggalkan bangunan-bangunan megah seperti candi, tetapi juga artefak-artefak kecil macam arca. Apalagi kala itu perdagangan dengan dunia luar kerap berlangsung meriah. Banyak arca (disebut arca lepas) yang merupakan benda dagang dan benda persembahan juga ditemukan di berbagai situs arkeologi.

Artefak kuno yang berupa arca memang sejak lama selalu menarik perhatian para kolektor. Yang paling diagung-agungkan adalah karena ukirannya begitu indah dan kerap berbeda antara langgam yang satu dengan langgam lainnya. Penggambarannya begitu alami dan hidup, menandakan keterampilan tinggi seniman pembuatnya. Arca kuno pun memiliki fungsi dekoratif, sehingga sering dipakai sebagai penghias ruangan. Dengan demikian, kemungkinan harga komersialnya menjadi tinggi, tidak terelakkan lagi.

Sebenarnya, apresiasi terhadap koleksi arca kuno bukan hanya didominasi warga asing. Sejumlah orang Indonesia juga sudah memiliki minat terhadap benda-benda itu. Banyak dari mereka justru tidak memandang arca sebagai benda investasi, melainkan sebagai benda budaya yang pantas dilestarikan.

Beberapa kolektor lokal yang menggemari arca kuno antara lain Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro). Selama bertahun-tahun dia berburu arca-arca kuno. Dia pun memberi wasiat bahwa setelah meninggal, koleksi-koleksi tersebut akan diserahkan kepada sebuah museum di kota tempat tinggalnya, Solo.

Seorang pengusaha hotel di Malang, Anhar, juga banyak mengoleksi arca kuno. Arca-arca tersebut dia tempatkan di beranda hotelnya, bahkan hingga ke setiap penjuru ruangan dan kamar.

Kegiatan mengoleksi arca kuno pernah digeluti mantan Wakil Presiden Adam Malik. Begitu juga dengan Hashim Djojohadikusumo yang memiliki sebuah yayasan pelestarian warisan budaya. Kalau kita memandangnya dari sudut pelestarian, tentu upaya yang mereka lakukan patut diacungi jempol.


Penjajahan

Menurut catatan sejarah, pada masa penjajahan banyak arca kuno menjadi penghias rumah-rumah pejabat Hindia Belanda. Di Gedung Agung Yogyakarta, misalnya, sampai kini masih tersimpan sejumlah arca yang berasal dari candi-candi di dataran Prambanan dan Sorogedug. Boleh dikatakan, arca-arca yang masih berada di luar situs atau museum di Indonesia tidak menjadi masalah.

Yang rumit justru adalah arca-arca yang masih berada di mancanegara. Tidak ada dokumentasi yang lengkap mengapa arca-arca tersebut bisa berada di sana. Dari beberapa literatur hanya diketahui beberapa kasus, misalnya terhadap arca-arca kuno yang kini berada di Thailand.

Arca-arca tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Hindia Belanda kepada Raja Siam ketika berkunjung ke tanah Jawa pada abad XIX. Yang tercatat antara lain beberapa potong arca dari Candi Borobudur dan candi-candi lain di Jawa. Koleksi-koleksi tersebut kini disimpan di Istana Kerajaan Grand Palace.

Sejumlah arca batu juga masih berada di Jepang. Arca-arca itu merupakan jarahan tentara Jepang dari sejumlah candi untuk diberikan kepada kaisar mereka, Tenno Heika, ketika berulang tahun.

Yang sulit dilacak adalah arca-arca yang dimiliki oleh perseorangan. Karena bisa dipastikan arca-arca tersebut merupakan barang curian dari berbagai situs di Indonesia, tentu ada keengganan dari para kolektor untuk menginformasikannya secara terang-terangan.

Tidak dimungkiri, banyak arca kuno milik kita masih berada di mancanegara. Sekarang tinggal niat kita saja, apakah ingin dibiarkan tetap berada di sana, ataukah dikembalikan ke sini? Kalau dikembalikan ke sini, apakah kita siap menyediakan tempat penampungannya?***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta


Responses

  1. saya nih heran kenapa peninggalan peninggalan situs-situs yang ada di Jawa Barat penangannya tidak pernah tuntas, Ada apa dgn Jawa Barat, coba perhatikan : Situs Bojongmeje (rancaekek), Bojongemas (Solokan Jeruk), Candi Talun (Majalaya), Cibodas/panenjoan (Cicalengka), Situs Markadeya (Nagrek), Karawang, Subang, Bekasi dll

  2. Quote: “….apakah ingin dibiarkan tetap berada di sana, ataukah dikembalikan ke sini?”
    Pas-nya sih BCB yang di manca dikembalikan ke Indonesia, tapi….
    yg jadi persoalan apakah tersedia biaya untuk terselenggaranya hal itu?
    Selain itu, sebetulnya mungkin lebih mendesak untuk menggali situs-situs baru yg ada, banyak sekali situs-situs yg masih belum dijamah oleh arkeolog-2 kita, kalau toh ditangani, penanganannya cuma ala kadarnya saja. ….. boleh jadi juga karena terbatasnya dana, atau …. niat, atau birokrasinya? walahulalam.

    • Kalau dikembalikan ke sini perlu dana banyak. Kalau dibiarkan tetap di mancanegara memang aman dan kita tidak perlu memikirkan biaya perawatan. Tapi nama kita ‘tercoreng’ karena dianggap sebagai bangsa yang tidak mampu memelihara warisan nenek moyangnya. Selama ini dana yang ‘berbau’ kebudayaan justru berasal dari mancanegara. Misalnya untuk ekskavasi arkeologi, pengadaan alat keamanan museum, dan digitalisasi naskah kuno. Masa lampau kita memang cemerlang, tapi kini kurang perhatian.


Tinggalkan Balasan ke DODY P{ERDATA Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: