Istilah BCB

Abu, Partikel halus hasil pembakaran sempurna bahan-bahan organik (hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia) atau bahan anorganik mirip debu hasil letusan gunung berapi (lihat Arang)

Adobe (Ing.), Bahan bangunan terbuat dari tanah liat yang tidak dibakar melainkan dikeringkan di bawah sinar matahari. (lihat: Bata dan Pise)

Air Mancur, Bangunan air yang memiliki pancuran, biasanya dilengkapi dengan kolam. (Lihat: Kolam)

Alas, Benda atau struktur yang menjadi kedudukan atau tumpuan bagi benda atau struktur lain di atasnya. Misalnya alas pada arca disebut lapik, sedang pada piring, gelas, atau cangkir disebut tatakan. (Lihat: Arca, Bangunan, Cangkir, dan Selasar)

Alas Kaki, Pelindung telapak kaki. Berdasarkan atas jenisnya dapat dibedakan menjadi sepatu dan terompah. Sepatu adalah alas kaki yang membungkus jari jemari hingga mata kaki secara keseluruhan. Sedangkan terompah adalah alas kaki terbuka dengan sepasang atau lebih tali sebagai pengikat. Terdapat jenis terompah lain yang tidak menggunakan tali melainkan batang kayu mirip payung atau logam pendek yang dijepitkan di antara jemari kaki. Alas kaki disebut juga kasut.

Alat, Artefak atau ekofak yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Alat dapat terbuat dari bahan-bahan organik maupun anorganik. (Lihat: Artefak, Ekofak, dan Perkakas).

Di antara jenis-jenis alat dapat disebutkan, misalnya:

Alat bunyi-bunyian, semua alat yang dapat menghasilkan bunyi. Alat bunyi-bunyian tidak harus berupa alat musik. Kentongan atau kerincingan misalnya, tidak dibuat sebagai alat musik seperti halnya terompet, piano, atau rebab karena tidak dapat menghasilkan nada-nada yang berbeda.

Alat musik, alat bunyi-bunyian yang dapat menghasilkan nada dan irama. Berdasarkan penggunaannya, alat musik dibedakan atas alat pukul (tambur atau kolintang), alat tiup (suling atau terompet), alat gesek (biola atau rebab), alat goyang (angklung), dan alat petik (gitar atau kecapi). Perbedaan nada pada gitar misalnya, dihasilkan melalui perbedaan ukuran panjang atau ketebalan dawai.

Alat ukur, semua alat yang digunakan untuk mengetahui nilai berat, dimensi, kadar, tekanan, lentur, kecepatan, waktu, volume, dan jenis ukuran lainnya.

Alat transportasi, alat atau kendaraan yang digunakan untuk memindahkan barang atau manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Keranjang pikul, kereta dorong, mobil, sepeda, atau pesawat terbang adalah contoh alat transportasi.

Alat pertukangan, semua alat yang digunakan misalnya untuk membuat peralatan, bangunan, atau perabot, dapat berupa alat pukul (palu), alat untuk menyambung (las), alat untuk melubangi (bor), alat memotong (gergaji), alat untuk memahat dan mengukir (pahat), alat mengikat (tali), dsb.

Altar, Bangunan, komponen bangunan, atau mebel berbentuk mirip meja yang digunakan sebagai tempat untuk penyelenggaraan upacara keagamaan. Altar biasanya dijumpai pada tempat-tempat yang dianggap suci. (Lihat: Mebel)

Alu, Alat penumbuk terbuat dari kayu, logam, atau batu. Berbentuk silindrik memanjang, salah satu ujungnya dibentuk membulat. Alu pada umumnya digunakan bersama lumpang atau lesung. (Lihat: Gandik, Lesung, dan Lumpang)

Ambang Pintu, Komponen bingkai pintu yang terletak di bagian atas dan bawah, digunakan sebagai kedudukan daun pintu. (Lihat: Pintu)

Ampora, Jenis botol berbahu lebar yang bagian dasarnya mengecil sehingga sering tidak dapat berdiri tegak. Biasanya terbuat dari keramik, memiliki satu atau dua tangkai melengkung yang berpangkal di bagian bahu dan mulut botol. (Lihat: Botol)

Anak Panah, Senjata penusuk yang dilontarkan dengan busur panah. Anak panah terbuat dari tangkai kayu, rotan, atau bambu berujung runcing. Anak panah terdiri atas tiga bagian, yaitu mata panah, tangkai panah, dan sirip. Tidak semua anak panah memiliki tiga komponen ini, misalnya ada jenis anak panah dari kayu atau rotan yang ujungnya ditajamkan sebagai pengganti mata panah. Mata panah bisa terbuat dari batu, kayu, tulang, atau logam. Selain meruncing, sisi-sisinya sering dibuat tajam agar memudahkan penetrasi ke bidang sasaran. Alat untuk melontarkan anak panah disebut busur panah, umumnya terbuat dari bahan kayu atau bambu. (Lihat: Busur)

Antefiks, Unsur bangunan yang berfungsi sebagai hiasan bagian luar. Sering ditemukan pada bangunan candi dalam bentuk segitiga meruncing. Karena merupakan bagian dari struktur maka antefiks tidak dapat dipisahkan dari bangunan itu sendiri.

Anting-anting, Perhiasan telinga yang dipakai dengan cara digantungkan pada cuping telinga. Pada umumnya memiliki bandul. (Lihat: Giwang)

Antropomorfik, Gambar-gambar atau benda-benda yang bentuknya menyerupai manusia. Dibuat secara abstrak atau tidak nyata, tetapi tetap memperlihatkan unsur-unsur yang dapat dikenali sebagai bagian dari tubuh manusia. Adapun bentuk-bentuk lain menyerupai hewan disebut zoomorfik. (Lihat: Hiasan)

Anyaman, Benda yang terbuat dari ikatan serat, benang, kayu, daun, atau bambu yang susunannya dibuat bersilangan dan bertumpuk satu di atas lainnya.

Arang, Bahan organik yang tidak terbakar sempurna, umumnya berwarna hitam. Arang didominasi oleh unsur karbon (C), tetapi karena masih menyimpan energi, arang sering digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu. Sisa pembakaran arang akan berupa abu. (Lihat: Abu)

Arca, Artefak yang dibentuk menyerupai manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau bentuk lain yang dibuat secara tiga dimensi. Arca dapat dihasilkan melalui teknik bentukan tangan, pahat, cetak, dan ukir. Bahan yang digunakan dapat berupa batu, kayu, tanah liat, atau logam. Arca yang dibuat untuk memperingati seorang tokoh yang telah wafat dengan menambahkan ciri-ciri kedewaan disebut arca perwujudan.

Artefak, Semua benda yang diubah (modified) atau dibuat (made) oleh manusia dari bahan-bahan alam. Kacamata, paku, buku, cincin, kipas, sandal atau celengan adalah contoh artefak. (Lihat: Citra, Ekofak, Fitur, dan Paleolanskap)

Atap, Bagian atas bangunan yang berfungsi sebagai penahan sinar matahari, angin, dan hujan. Atap mempunyai penutup yang bisa terbuat dari bahan-bahan organik seperti daun, kayu, atau bambu. Juga bahan-bahan anorganik seperti keramik, batu, atau logam. Jenis atap yang dibuat bertumpuk satu di atas lainnya disebut atap susun atau atap tumpang. Bagian tepi bawah atap disebut cucuran atap, bagian menyudut yang manjadi pertemuan dua bidang atau lebih atap disebut bubung atap atau bubungan. Adapun sudut yang berada di bagian paling atas atap disebut puncak atap. (Lihat: Bubung, Genteng, dan Sirap).

Atrium (Ing.), Halaman terbuka di bagian dalam bangunan, biasanya terhubung dengan jalan masuk utama. (Lihat: Halaman)

Badong (Jw.), Benda logam yang digunakan sebagai penutup kelamin wanita. Umumnya membentuk pola segitiga. Pada setiap sudut, atau setidaknya dua sudut di antaranya, memiliki lubang yang dapat dihubungkan dengan rantai atau tali pengikat.

Bahan, Sumber daya alam atau sintetik yang digunakan oleh manusia untuk membuat benda-benda atau bangunan.

Baju, Pakaian penutup badan bagian atas. Biasanya mempunyai lubang pada setiap sisinya untuk memasukkan tangan pemakainya, sebuah lagi di bagian tengah atas untuk memasukkan kepala. Dapat terbuat dari tekstil, kulit kayu, atau kulit hewan. Sering disebut sebagai kemeja. (Lihat: Pakaian, Kancing, dan Tekstil)

Bak, Unsur bangunan atau bangunan penampungan air, terbuat dari susunan tembok yang membentuk wadah terbuka. Biasanya bak dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah atau lantai. (Lihat: Kolam)

Balai, Bangunan beratap tanpa dinding. Atapnya disangga oleh sejumlah tiang. Balai tidak digunakan sebagai tempat tinggal seperti halnya rumah, melainkan sebagai tempat pertemuan sehingga konstruksinya dibuat untuk menampung banyak orang. Nama lainnya adalah pendopo.

Bandul, Benda yang dibuat untuk digantungkan pada seutas tali atau media lain berukuran panjang. Bandul dapat berfungsi sebagai pemberat (jaring), pemukul (lonceng), perhiasan (kalung), atau anting-anting.

Bangku, Tempat duduk tanpa sandaran. Sejenis bangku berukuran relatif kecil dan berkaki pendek disebut dingklik. (Lihat: Mebel, Kursi, dan Tempat Duduk)

Bangunan, Semua struktur yang dibuat untuk menampung kegiatan manusia atau berhubungan dengan kegiatan manusia, umumnya berukuran besar. Sifat bangunan umumnya selain berpola juga tidak dapat dipindah-pindahkan tanpa mengakibatkannya rusak. Jembatan, rumah, jalan, parit, sumur, tanggul, atau terowongan dapat digolongkan sebagai bangunan.

Berdasarkan susunannya, secara vertikal semua bagian bangunan yang berbentuk rumah atau gedung dari bawah hingga atas dapat dibedakan menjadi fondasi, kaki, badan, dan atap. Untuk bangunan bukan rumah atau gedung sistem pembagiannya dapat dinyatakan dengan dasar, tengah dan puncak. Khusus untuk bangunan candi pembagian itu dinyatakan dengan bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka. (Lihat: Fitur, Fondasi, dan Struktur).

Bangunan itu sendiri dapat dibedakan menjadi bagian bangunan, komponen bangunan, dan unsur bangunan. Bagian bangunan adalah elemen terbesar dari sebuah bangunan, seperti ruang dapur, mihrab, atap, fondasi, kamar mandi, kamar tidur, atau gudang yang secara keseluruhan memberi bentuk khas pada bangunan. Komponen bangunan adalah elemen kedua yang hampir selalu ditemukan pada bangunan dan menjadi bagian dari bangunan, misalnya jendela, pintu, lubang angin, cerobong asap, lantai, bak mandi, atau dinding. Adapun unsur bangunan adalah elemen terkecil dari bangunan yang merupakan rincian dari komponen bangunan, misalnya daun jendela, bingkai pintu, ubin pada lantai, keran air, dan sebagainya.

Sebuah bangunan dapat mengambil bentuk bagian bangunan atau komponen bangunan. Misalnya, masjid yang berbentuk atap kubah sehingga sukar dibedakan antara kaki, badan, dan atap.

Dilihat dari segi kesuciannya, bangunan dapat dibedakan atas bangunan sakral, yaitu bangunan suci yang berhubungan dengan ritual keagamaan, dan bangunan profan atau bangunan biasa yang tidak digunakan atau berhubungan dengan keagamaan.

Di bawah ini tercantum berbagai jenis bangunan berdasarkan fungsi dan nama khusus yang diberikan kepadanya:

Bangunan air, bangunan yang dibuat untuk keperluan menampung, mengendalikan, dan mendapatkan air. (Lihat: Bendungan, Kolam, Perigi, atau Waduk)

Bangunan apung, bangunan yang dibuat di atas air dan selalu dalam keadaan terapung. Umumnya merupakan rumah tinggal tepian sungai, danau, atau laut.

Bangunan bawah tanah, bangunan yang seluruh strukturnya berada di bawah permukaan tanah.

Bangunan berundak, bangunan yang dibuat menyerupai susunan anak tangga, berteras, meninggi ke atas atau ke belakang. (Lihat: Punden)

Bangunan bertingkat, bangunan berlantai dua atau lebih yang disusun ke atas satu di atas lainnya.

Bangunan kubur, bangunan yang dibuat sebagai kuburan. (Lihat: Moselium)

Bangunan kolonial, bangunan bergaya arsitektur Eropa yang dibuat pada masa penjajahan.

Bangunan pertahanan, bangunan yang dibuat untuk kepentingan pertahanan dan tempat menghimpun kekuatan militer, misalnya benteng. (Lihat: Benteng atau Bunker)

Bangunan tradisional, bangunan bercorak khas yang dibuat oleh kelompok etnik atau sukubangsa tertentu. Sering diasosiasikan dengan bangunan-bangunan yang terbuat dari bahan kayu atau bambu.

Bangunan tempat tinggal, bangunan yang dibuat dan dipakai sebagai tempat tinggal manusia, dapat berupa rumah atau gedung. (Lihat: Gedung dan Rumah)

Barbotin (Ing), Hiasan pada gerabah berupa lapisan slip yang tebal. (Lihat: Keramik dan Slip)

Bastion (Ing.), Bagian meruncing dari benteng yang menjorok keluar, atau bangunan pertahanan berukuran kecil sejenis benteng. (Lihat: Benteng)

Bata, Tanah liat bakar yang digunakan sebagai bahan bangunan, umumnya berbentuk segi empat dan digolongkan sebagai keramik. (Lihat: Adobe dan Keramik)

Batu Asah, Batu yang digunakan untuk mengasah benda-benda logam atau batuan.

Batu Inti, Batu kerakal atau serpihan besar yang menjadi bahan pembuat alat batu. (Lihat: Serpihan)

Batu Kandang, Bangunan tradisi megalitik terbuat dari susunan batu-batu besar tanpa atap yang membentuk denah persegi empat atau mendekati lingkaran. Nama lainnya yaitu stone circle. (Lihat: Bilik Batu)

Batu Kenong, Batu berbentuk membulat dengan tonjolan di puncaknya, menyerupai alat musik kenong. Peninggalan ini berasal dari tradisi megalitik dan masih dibuat hingga masa klasik. (Lihat: Kenong)

Batu Kunci, Batu-batu berbentuk khusus yang berfungsi sebagai penyambung blok-blok batu. Gunanya untuk menjaga agar blok batu yang disambung tidak bergeser dari kedudukan-nya. Sering ditemukan pada bangunan-bangunan candi. (Lihat: Blok Batu)

Batu Martil, Alat penetak yang dipakai dalam pembuatan perkakas batu. Biasanya mempunyai bidang membulat dan dapat digenggam tangan. (Lihat: Serpih)

Batu Saji, Altar batu peninggalan tradisi megalitik. Konstruksinya terbuat dari sebuah batu datar berukuran besar yang ditopang oleh beberapa batu berukuran lebih kecil. Batu saji sering dihubungkan dengan pemujaan. (Lihat: Altar dan Dolmen)

Batu Tegak, Peninggalan tradisi megalitik berupa tiang batu yang ditancapkan dalam posisi tegak. Sering diasosiasikan dengan bangunan pemujaan, walaupun bukan sebagai objek yang dipuja seperti halnya menhir. (Lihat: Menhir)

Batur, Bagian bawah bangunan balai yang terbuat dari susunan blok-blok batu atau bata. Biasanya berdenah segi empat, rendah, dengan permukaan datar. Banyak ditemukan pada kompleks candi atau pura. (Lihat: Balai)

Bejana, Wadah yang berfungsi sebagai tempat menyimpan atau menampung sesuatu. Bejana umumnya berbentuk silindrik, lingkar mulutnya sama atau mendekati sama dengan lingkar bagian dasar. (Lihat: Wadah)

Bekal Kubur, Benda-benda organik dan anorganik yang ditempatkan di dalam kubur sebagai penyerta jenazah. Bekal kubur dapat berupa barang-barang yang menjadi milik pribadi si mati atau sesuatu yang diasosiasikan secara simbolik sebagai bekal perjalanan arwah menuju alam baka. (Lihat: Persembahan Kubur)

Belanga, Wadah tertutup berbentuk membulat dengan leher rendah dan mulut terbuka lebar. Bagian dasar belanga pada biasanya cembung dan tidak memiliki kaki. Belanga umumnya terbuat dari tembikar. (Lihat: Buyung dan Kendil)

Belencong (Jw.), Pelita gantung yang ditempatkan di belakang layar sebagai penerang pada pertunjukan wayang kulit, disebut juga damar.

Beliung, Alat batu atau logam mirip kapak yang digunakan secara melintang untuk kegiatan membongkar tanah atau membelah batang kayu. Beliung memiliki penampilan ramping dengan bagian tajaman terletak secara melintang di salah satu ujungnya. Sejenis beliung yang berpunggung tinggi dan tebal disebut belincung. (Lihat: Kapak)

Benang, Serat hasil pemintalan serabut tumbuh-tumbuhan atau bulu hewan. Umumnya benang dipakai sebagai bahan dasar tekstil. (Lihat: Serat dan Tekstil)

Benda Kubur, Benda-benda yang memiliki hubungan dengan bangunan kubur atau tradisi penguburan, seperti nisan atau arca. Bekal kubur dapat digolongkan sebagai benda kubur. (Lihat: Kuburan dan Bekal Kubur)

Bendungan, Bangunan air yang dibuat melintang pada batang sungai atau parit. Bendungan berfungsi untuk menahan, mengumpulkan, dan mengendalikan air dalam jumlah banyak. (Lihat: Tanggul dan Waduk)

Benteng, Bangunan pertahanan dengan tembok-tembok tinggi, atau berupa gundukan tanah yang kuat dalam posisi memanjang atau melingkar. Kadang-kadang benteng dilengkapi dengan parit yang mengelilinginya. Selain untuk kepentingan pertahanan, benteng acapkali digunakan pula sebagai tempat tinggal atau bahkan menjadi batas sebuah kota. Nama lain dari benteng adalah kuto, kuta, koto, atau kota. (Lihat: Bastion dan Bunker)

Bia (Mdn.), Alat tiup sejenis terompet yang terbuat dari cangkang siput berukuran besar. Banyak digunakan di Indonesia Wilayah Timur.

Biara, Bangunan tempat tinggal pendeta pada lingkungan kompleks keagamaan Hindu, Buddha, atau Katolik. (Lihat: Candi)

Bilik, Ruangan kecil yang terdapat pada bangunan atau bisa berarti dinding anyaman yang terbuat dari bambu. Nama lain untuk dinding anyaman ini adalah gedek, tepas, atau sasak sedangkan untuk kata ganti ruangan ialah kamar. (Lihat: Bangunan)

Bilik Batu, Bangunan kubur tradisi megalitik berbentuk bilik dengan dinding-dinding terbuat dari batu. Bilik batu ditempatkan di dalam tanah dan biasanya memiliki pintu masuk khusus di bagian depan, disebut juga stone chamber. (Lihat: Dolmen dan Peti Kubur)

Bingkai, Pembatas yang digunakan untuk membedakan suatu bidang permukaan dengan bidang permukaan lain, atau rangka yang dipasang mengelilingi suatu benda dan berfungsi sebagai penguat. Bingkai dapat berupa susunan kayu atau batu, bisa pula merupakan pahatan, goresan, atau garis yang membatasi suatu permukaan. Pada bangunan candi, pengertian bingkai dapat dihubungkan dengan bentuk batu-batu atau bata-bata yang tersusun menjadi bagian kaki. Setiap bingkai dapat memiliki bentuk berbeda dalam susunan itu sehingga secara keseluruhan akan membentuk profil kaki candi. (Lihat: Pelipit)

Blok Batu, Batu-batu bahan bangunan yang dibentuk persegi, terutama segi empat. Banyak digunakan pada bangunan candi atau benteng. (Lihat: Batu Kunci)

Boat (Ing.), Wadah cairan berbentuk mirip cangkir tetapi lebih panjang dan memiliki bentuk mulut yang lonjong. Sisi dihadapan tangkai dibuat meninggi dan menyempit sehingga membentuk saluran. Boat, atau sauce boat, umumnya dibuat berkaki rendah dan tidak dilengkapi tutup. (Lihat: Cangkir)

Bokor, Wadah keramik atau logam sejenis mangkuk berukuran besar. Bokor dapat memiliki kaki dapat pula tidak, umumnya memiliki mulut yang diameternya mendekati diameter bagian kaki. Sejenis bokor yang dipakai sebagai wadah penginangan disebut cerana. (Lihat: Mangkuk dan Penginangan)

Bola, Barang bulat atau barang yang bentuknya menyerupai bulatan yang dibuat dari karet dan sebagainya untuk bermain-main.

Boneka, Benda mainan dalam bentuk manusia, hewan, atau yang menyerupai keduanya. Boneka umumnya berukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa, disebut juga golek atau golekan.

Botol, Wadah kaca atau keramik berleher tinggi dengan mulut mengecil. Botol digunakan untuk menyimpan cairan atau benda-benda lain berukuran kecil. Untuk keperluan itu, botol sering dilengkapi dengan tutup atau sumbat pada bagian mulut. (Lihat: Ampora)

Bros, Perhiasan yang disematkan atau disangkutkan pada pakaian. (Lihat: Pin)

Bubungan, Sejenis genteng pada bagian atap yang menyudut, yaitu pada pertemuan antara sisi-sisi yang berlawanan. Selain fungsi praktisnya untuk menghindari masuknya air dan sinar matahari pada bagian ini, bubungan juga sering dimanfaatkan sebagai hiasan untuk meningkatkan keindahan bangunan, yaitu dengan membuatnya menjadi bentuk-bentuk dekoratif yang khas. (Lihat: Atap dan Genteng)

Bukit Kerang, Gundukan sampah dapur berupa cangkang kerang dan siput yang membukit sebagai hasil penimbunan selama ratusan tahun. Nama lain bukit kerang adalah kjökkenmoddinger. Dari dalam bukit kerang sering ditemukan alat-alat purbakala seperti kapak batu, sudip, atau tulang binatang darat hasil buruan atau tulang berbagai jenis ikan. (Lihat: Kapak dan Sampah)

Buli-buli, Wadah sejenis tempayan berukuran tinggi kurang dari 30 cm. (Lihat: Tempayan)

Bullion (Ing.), Batangan logam yang dipakai sebagai bahan pembuatan uang logam. Pada masa lalu, bullion juga dipakai sebagai alat tukar seperti halnya uang. (Lihat: Ingot)

Bunker (Ing.), Bangunan pertahanan terdiri dari ruang-ruang tertutup yang sebagian atau seluruh strukturnya tertanam dalam tanah. Pada dinding bunker terdapat sejumlah jendela berukuran kecil sebagai lubang pengintaian dan tempat untuk melakukan penembakan. Hubungan keluar hanya dilayani oleh satu atau dua pintu. Bunker banyak didirikan pada Perang Dunia Kedua, umumnya terbuat dari konstruksi beton atau balok-balok kayu yang ditimbun tanah. (Lihat: Benteng)

Busur, Senjata terbuat dari kayu atau logam berbentuk lengkung, ujung-ujungnya dihubungkan dengan tali atau dawai untuk melontarkan anak panah. Busur yang digunakan untuk melontarkan anak panah disebut busur panah. (Lihat: Anak Panah)

Buyung, Wadah tertutup untuk membawa air yang memiliki dasar membulat. Bagian leher buyung pada umumnya meninggi dan diakhiri dengan mulut berukuran besar. Kebanyakan buyung terbuat dari tembikar, ada pula yang terbuat dari logam. (Lihat: Periuk dan Tempayan)

Cakram, Benda pipih berbentuk lingkaran dengan bagian tengah menebal.

Calon Kapak, Kapak yang belum jadi. Pengerjaannya kasar dan baru memperlihatkan bentuk dasarnya. (Lihat: Kapak)

Candi, Bangunan suci agama Hindu atau Budha. Sebagai sebuah sistem, pada candi biasanya dapat dijumpai bangunan-bangunan seperti gapura, biara, bangunan perwara, bangunan induk, bangunan apit, pagar keliling, dan arca penjaga pintu. Di Bali candi disebut pura/pure, di Jawa Timur juga disebut cungkup, sedangkan candi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ada yang menyebutnya sebagai biaro. Bangunan induk adalah bangunan utama pada candi yang menjadi pusat kesucian kompleks. Pada bangunan ini dapat ditemukan arca dewa-dewa utama yang menjadi objek pemujaan. Bangunan perwara adalah bangunan-bangunan berukuran lebih kecil yang menjadi pelengkap atau penyerta bangunan induk. Bangunan yang berada di samping kiri-kanan bangunan induk disebut bangunan apit. (Lihat: Biara, Cungkup, Dwarapala, Gapura, dan Kompleks)

Candrasa, Kapak upacara bertangkai terbuat dari perunggu, yang hanya digunakan untuk kepentingan upacara. Sebagai benda upacara, candrasa sering diberi hiasan sehingga tidak mencerminkan lagi fungsi praktisnya. (Lihat: Kapak)

Candrasengkala, Sistem pertanggalan yang dinyatakan dengan gambar, kalimat, atau huruf berdasarkan rumus tertentu. Nama lainnya kronogram.

Cangkir, Wadah minum mirip mangkuk berukuran relatif kecil dengan sebuah tangkai berbentuk melingkar menempel di bagian badannya. Cangkir umumnya terbuat dari keramik atau kaca. (Lihat: Gelas dan Mangkuk)

Cap, Hasil cetak pada sebuah media yang dibuat melalui metode tekan dengan menggunakan stempel atau benda-benda lain untuk keperluan itu. (Lihat: Stempel dan Cetakan)

Cawan, Wadah terbuka serupa mangkuk tanpa kaki. (Lihat: Mangkuk)

Celana, Pakaian yang digunakan untuk menutup tubuh bagian pinggang ke bawah. Celana umumnya memiliki pembungkus tungkai kaki yang terpisah antara bagian kanan dan kiri. Berdasarkan panjangnya, celana dapat dibedakan atas celana pendek dan celana panjang. Celana pendek memiliki pembungkus tungkai sampai dengan batas lutut, sedangkan celana panjang pembungkus tungkainya sampai dengan pergelangan kaki. (Lihat: Pakaian dan Sarung)

Celupak, Pelita sederhana tanpa gagang dan tutup maupun lubang sumbu. Sumbu pada celupak diletakkan pada bagian tepian yang menjorok keluar dan menyempit. Biasanya terbuat dari tembikar. (Lihat: Pelita)

Cepuk, Wadah penyimpanan berukuran kecil yang memiliki tutup. Ukuran tutup cepuk sama besar atau mendekati ukuran mulut wadah di bawahnya. Cepuk dapat terbuat dari kayu, keramik, atau logam. (Lihat: Wadah)

Cermin, Benda kaca atau logam yang mengkilat, dipakai untuk memantulkan citra objek-objek yang berada di hadapannya.

Cerobong, Bangunan, bagian, atau unsur bangunan berbentuk pipa menjulang ke atas yang berfungsi sebagai saluran pembuangan udara atau asap. (Lihat: Pipa)

Cetakan, Alat untuk mencetak. Cetakan dipakai untuk membentuk benda-benda lunak, tipis, atau cair dengan teknik cor, tekan, atau tempa. Ada dua jenis cetakan, yaitu cetakan positif dan cetakan negatif. Cetakan positif akan menghasilkan permukaan benda yang cekung, sedangkan cetakan negatif menghasilkan permukaan benda yang cembung. (Lihat: Cap dan Stempel)

Ceting (Jw.), Wadah tempat menghidangkan nasi. Bentuknya mirip bokor, bermulut lebar, dan berbadan tambun. Biasanya memiliki permukaan yang berlubang-lubang. (Lihat: Bokor)

Chopper (Ing.), Kapak sederhana dari masa paleolitik yang dihasilkan melalui proses pemangkasan pada salah satu sisinya, dengan tetap meninggalkan sebagian permukaan batu dalam keadaan asli untuk digenggam. Bagian tajaman chopper umumnya membentuk garis lengkung.

Cincin, Jenis perhiasan yang dikenakan pada jari tangan. Umumnya memiliki lubang di bagian tengah dan berbentuk melingkar. (Lihat: Perhiasan)

Citra, Goresan atau gambar yang tidak dapat dipindahkan dari media tempatnya berada. Fresko atau pahatan yang dibuat pada tebing batu dapat disebut pula sebagai citra. (Lihat: Fitur dan Fresko)

Cobek (Jw.), Alat pelumat ramuan berupa wadah dengan permukaan cekung terbuat dari keramik, kayu, atau batu. Cobek digunakan bersama alat lain bernama ulekan dan pada umumnya memiliki denah membulat atau lonjong. Nama lainnya batu lado, batu base, atau cowek. Nama lain untuk ulekan, yaitu anak batu lado atau pengulakan. (Lihat: Pipisan)

Cordon (Ing.), Tonjolan melingkar pada wadah keramik atau logam yang merupakan tambahan. Cordon selain bersifat dekoratif juga berguna untuk memudahkan pemegangan wadah saat dipindahkan.

Corong, Alat penyalur suara, udara, atau cairan berbentuk kerucut, bermulut lebar yang diakhiri dengan sebuah pipa pendek. Salah satu ujungnya berukuran lebih besar dibandingkan lainnya. (Lihat: Cerobong)

Cungkup, Bangunan pelindung mirip balai atau rumah. Sering ditemukan pada makam. (Lihat: Balai, Candi, dan Rumah)

Dadu, Alat permainan bersisi enam, setiap sisinya memiliki cekungan rendah atau gambar berbentuk bulat, berjumlah satu sampai dengan enam. Bentuknya bermacam-macam, ada yang kubus dan ada pula yang berupa batangan.

Dapur, Ruang di dalam dan di luar bangunan yang berfungsi sebagai tempat dilakukannya kegiatan memasak.

Dawai, Sejenis tali terbuat dari logam, serat, sutra, atau bahan-bahan sintetik sejenis. Nama khusus untuk dawai logam adalah kawat, sedangkan yang terbuat dari bahan sintetik atau serat disebut senar. Dawai bersifat lentur dan toleran terhadap daya tarik. Oleh karena itu, sering dimanfaatkan sebagai kelengkapan alat musik petik (gitar atau kecapi) dan gesek (biola atau rebab) karena kemampuannya menghasilkan bunyi.

Debitase, Limbah industri pembuatan alat batu yang tidak terpakai. (Lihat: Detritus dan Limbah)

Dermaga, Bangunan yang menjorok ke laut, danau, atau sungai tempat berlabuhnya kapal. Bentuknya seperti jembatan dan biasanya tidak beratap, walaupun kadang-kadang di bagian ujung atau pangkal dermaga terdapat bangunan beratap tempat orang menunggu.

Detritus (Ing.), Pecahan-pecahan kecil sebuah benda yang terjadi akibat proses pelapukan atau erosi. (Lihat: Debitase)

Dinding, Struktur bangunan yang berfungsi sebagai penyekat ruang. (Lihat: Tembok)

Dingklik (Jw.), Sejenis bangku berukuran kecil dan pendek, pada umumnya terbuat dari kayu atau rotan. Nama lainnya adalah jojodog, dadampar.

Dipan, Sejenis tempat duduk berukuran besar dan panjang yang dapat dipakai berbaring. Nama lainnya balai-balai atau amben. (Lihat: Tempat Duduk dan Tempat Tidur)

Dolmen, Bangunan kubur tradisi megalitik terbuat dari susunan batu tegak berukuran besar tanpa dinding sehingga membentuk sebuah ruang semu. Batu-batu tegak ini menopang tutup yang juga terbuat dari batu. Sejenis dolmen yang penyangganya terbuat dari lempengan-lempengan batu disebut pandusa. Dolmen umumnya didirikan di atas permukaan tanah. (Lihat: Kuburan dan Bilik Batu)

Dompet, Sejenis kantong untuk menyimpan uang berukuran relatif kecil yang dapat dilipat. Dompet berbentuk pipih dan memiliki satu atau lebih tempat penyimpanan. (Lihat: Pundi-pundi)

Dormer (Ing.), Jendela yang diletakkan pada atap bangunan. Jendela ini merupakan bagian dari ruangan di bawah atap, dibuat menjorok keluar dalam posisi tegak lurus dan sering memiliki atap tersendiri.

Dulang, Alat untuk memisahkan bijih logam dari pasir atau batu-batuan. Dulang dapat berbentuk seperti piring cekung atau wadah datar dengan sisi-sisi yang tinggi. Umumnya terbuat dari kayu, walaupun ada juga yang terbuat dari logam.

Dupa, Getah tumbuh-tumbuhan (misalnya kemenyan) atau ramuan (misalnya ratus atau hio) yang dibakar untuk menghasilkan bau-bauan tertentu. Dupa umumnya digunakan pada upacara-upacara yang berhubungan dengan peribadatan. (Lihat: Hio dan Pedupaan)

Dwarapala, Arca penjaga pintu atau gapura berwujud raksasa yang menakutkan. Sering ditemukan pada kompleks candi atau istana di Jawa. Arca yang berfungsi sebagai penolak bala ini biasanya digambarkan dalam posisi jongkok, mata melotot, dan salah satu tangannya memegang gada. Dwarapala disebut juga raksasa penjaga pintu, reco pentung, atau gupolo.

Ekofak, Komponen biota dan abiota yang tidak dibentuk ataupun diubah oleh manusia tetapi berhubungan langsung dengan aktivitas manusia. (Lihat: Artefak dan Fitur)

Enamel (Ing.), Bahan sejenis kaca yang digunakan untuk melapisi permukaan keramik atau logam. Enamel adalah pigmen yang terbuat dari campuran mineral (seperti emas, mangan, atau kuningan), glasir, dan minyak yang dioleskan pada benda sebelum pembakaran. Enamel membutuhkan panas tinggi dan memiliki sifat seperti glasir yang kedap air. Umumnya tidak tembus cahaya. (Lihat: Glasir dan Slip)

Ewer (Ing.), Sejenis kendi yang memiliki tangkai. Ewer dapat memiliki corot dan dapat pula tidak. Pada umumnya memiliki mulut yang berukuran kecil, tutup, dan berleher tinggi. (Lihat: Kendi dan Jug)

Fitur, Sruktur atau sisa kegiatan manusia yang karena ukuran dan kondisinya tidak dapat dipindahkan serta diangkat dari lingkungannya tanpa mengakibatkannya rusak. Fitur dapat berupa bangunan, perbedaan rona pada tanah, atau lanskap hasil bentukan manusia. (Lihat: Bangunan, Artefak, Paleolansekap, dan Siluet)

Fosil, Organisme yang telah membatu, tetapi masih memperlihatkan ciri fisik aslinya. Fosil terjadi di daerah-daerah yang tanahnya mengandung banyak mineral seperti kalsit, limonit, pirit, dan terutama silika. Mineral-mineral ini dalam jangka waktu ratusan tahun hingga ribuan tahun menggantikan unsur-unsur bahan organik yang tertanam tersebut dengan material baru. Proses pembentukan fosil disebut petrifikasi (menjadi batu).

Fresko, Lukisan dinding yang dibuat pada saat lepa masih basah. Bahan pewarna yang digunakan umumnya berupa pigmen yang tidak mengandung minyak. (Lihat: Lepa, Lukisan Dinding, dan Pigmen)

Gacuk (Jw.), Sejenis alat permainan berbentuk lingkaran terbuat dari tembikar. Gacuk biasanya berukuran kecil, pipih, dan memiliki permukaan datar dan tidak berhias.

Gada, Senjata pemukul bertangkai. Bagian ujungnya berukuran lebih besar dan lebih berat dibandingkan bagian pangkal.

Gandik (Jw.), Alat penggiling yang dipakai sebagai pelumat ramuan bersama pipisan. (Lihat: Alu dan Pipisan)

Gapura, Bangunan yang mewakili fungsi sebagai pintu pada suatu kompleks. Umumnya menyatu dengan pagar, walaupun ada juga yang berdiri sendiri. Jenisnya ada dua, yaitu beratap dan tidak beratap. Gapura pada kompleks candi yang tidak beratap disebut tipe bentar mirip bangunan candi terbelah dua (split gate). Jenis yang kedua disebut tipe paduraksa, bentuknya mirip bangunan candi dengan sebuah pintu berada di tengah. (Lihat: Pintu dan Pintu Gerbang)

Gayung, Alat pendulang air berupa wadah bergagang. Umumnya gayung berukuran kecil, gagangnya ada yang terpasang pada sisi wadah dan ada pula yang melintang di tengah-tengah mulut wadah.

Gedung, Bangunan mirip rumah berukuran besar dan permanen. (Lihat: Rumah)

Gelang, Perhiasan berbentuk cincin yang dikenakan pada pergelangan tangan atau kaki. (Lihat: Cincin dan Kelat Bahu)

Gelas, Alat minum terbuat dari kaca atau keramik. Bentuknya bermacam-macam, umumnya tinggi dan ukuran mulut mendekati sama dengan ukuran bagian dasar. Gelas yang berukuran besar sering dilengkapi dengan tangkai dan tidak berkaki (gelas bir), sedangkan yang berukuran kecil ada yang memiliki kaki (gelas sampanye) dan ada pula yang tidak (gelas biasa). (Lihat: Cangkir dan Tankard)

Genta, Disebut juga bel atau lonceng. Bentuknya bermacam-macam, ada yang menyerupai stupa, kubah, atau pipa. Genta memiliki rongga di bagian dalam yang menghasilkan gema, dan mulut terbuka di bagian bawahnya sebagai jalan keluarnya suara.

Berdasarkan jenisnya genta dapat dibedakan atas genta gantung dan genta bertangkai. Genta gantung adalah genta yang ditambatkan pada suatu media dengan menggunakan rantai atau tali, bisa memiliki bandul bisa juga tidak. Genta yang memiliki bandul dibunyikan dengan cara menggoyangkannya. Sedang yang tidak berbandul dibunyikan dengan cara dipukul. Ukuran genta gantung bervariasi dari kecil hingga besar. Genta bertangkai adalah genta yang mempunyai tangkai di bagian puncak, umumnya memiliki bandul dan berukuran kecil. (Lihat: Kerincingan)

Genteng, Penutup atap bangunan bagian luar. Genteng bisa terbuat dari keramik, batu, atau metal. (Lihat: Atap, Langit-langit, dan Sirap)

Gereja, Kompleks bangunan keagamaan Kristen. Gereja dapat dicirikan dari atapnya yang meruncing atau kubah yang dihiasi salib dan lonceng. Ruangan di bagian dalam gereja pada umumnya memiliki mimbar, altar, dan salib.

Gerobak, Kendaraan beroda tanpa atap untuk mengangkut barang dengan cara ditarik atau didorong. Biasanya terbuat kayu, logam, atau keduanya. Untuk menggerakan gerobak dibutuhkan tenaga manusia atau hewan. (Lihat: Kereta)

Gloss (Ing.), Sejenis slip pada keramik. Pada dasarnya, gloss tidak berbeda dengan slip, tetapi campurannya banyak mengandung mineral silika sehingga setelah dibakar pada suhu tinggi akan menghasilkan lapisan mengkilap tipis yang mirip glasir. (Lihat: Slip)

Gong, Alat bunyi-bunyian berbentuk lingkaran terbuat dari logam. Gong umumnya berukuran besar dan harus ditempatkan dalam posisi tergantung untuk bisa menghasilkan gaung. Ada dua jenis gong yang dikenal, yaitu yang tidak memiliki tonjolan dan yang memiliki tonjolan. Bentuk gong dengan tonjolan ini mirip kenong, yaitu mulut rongga bagian belakangnya yang mengecil sehingga mampu menghasilkan gaung yang kuat. Gong tanpa tonjolan jarang ditemukan di Indonesia kecuali di kawasan Asia Daratan. (Lihat: Kenong)

Gua, Lubang atau rongga alamiah pada formasi tebing batu maupun kapur. Gua sering dimanfaatkan sebagai tempat tinggal manusia purba. Ceruk dalam pada dinding tebing disebut sebagai gua payung, nama lainnya abbris sous roche. Gua payung semacam ini sering dimanfaatkan sebagai tempat tinggal manusia purba (Lihat: Terowongan)

Guci, Wadah sejenis tempayan yang memiliki tinggi kurang dari 50 sentimeter, terbuat dari tembikar, batuan, atau porselen. (Lihat: Tempayan)

Gurdi, Alat untuk membuat lubang pada kayu atau logam dengan cara memutarnya. Nama lainnya bor. Komponen untuk membuat lubang yang ditempatkan di bagian ujung gurdi disebut mata gurdi atau mata bor.

Halaman, Sebidang bidang tanah di sekitar bangunan yang menjadi bagian dari ruang aktivitas manusia. Halaman biasanya memiliki batas, baik berupa pagar maupun batas-batas lain yang menunjukkan keluasannya.

Hiasan, Disebut juga ornamen. Pola-pola dalam bentuk gambar ataupun relief yang dibuat untuk memperindah atau meningkatkan nilai estetis objek yang menjadi tempatnya. Berdasarkan jenisnya, hiasan dapat dibedakan atas bentuk-bentuk manusia atau antropomorfik, hewan (fauna) atau zoomorfik, tumbuh-tumbuhan (vegetatif/floral), pemandangan (scenery), geometrik (geometric), dan abstrak (abstract). Hiasan dapat pula menjadi bagian integral dari benda secara fungsional sehingga merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dari konsep bentuk benda itu sendiri, misalnya cordon. (Lihat: Cordon)

Hio (Cin.), Sejenis dupa terbuat dari ramuan tumbuh-tumbuhan yang dilekatkan pada sebuah batang bambu. Banyak digunakan oleh masyarakat Cina pada upacara-upacara pemujaan mereka. (Lihat: Dupa dan Kelenteng)

Histogram, Gambar-gambar yang dihubungkan dengan peristiwa sejarah, misalnya gambar bambu runcing yang mengingatkan bangsa Indonesia pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. Histogram biasanya hanya dikenali oleh masyarakat atau bangsa yang terlibat dalam peristiwa sejarah itu. (Lihat: Candrasengkala dan Piktograf)

Huruf, Simbol-simbol atau bentuk-bentuk yang mewakili bunyi tertentu dalam bahasa, baik secara kesatuan ataupun bersama-sama dalam kalimat. Huruf disebut juga aksara. Kumpulan huruf disebut kata dan kumpulan kata disebut kalimat. (Lihat: Piktograf)

Idol (Ing.), Benda-benda berbentuk manusia atau diberi hiasan antropomorfik yang digunakan sebagai objek pemujaan. (Lihat: Antropomorfik)

Ingot, Batangan logam yang dicetak dalam ukuran dan berat tertentu. (Lihat: Bullion)

Ikat, Tekstil tenun yang dibuat dengan cara menjalin benang-benang berwarna yang lebih dahulu diberi pola hias. Kain gringsing dari Bali atau selimut di Nusa Tenggara Timur keduanya termasuk kelompok ikat. (Lihat: Songket dan Tekstil)

Ikat Kepala, Tekstil atau kulit hewan yang digunakan sebagai penutup kepala. Bentuk ikat kepala tidak pernah tetap karena hanya merupakan lilitan pada kepala yang sewaktu-waktu dapat dilepas dan dibentuk kembali menurut model yang dikehendaki. (Lihat: Topi)

Ikat Pinggang, Disebut juga sabuk. Sejenis tali yang digunakan untuk mengencangkan pakaian di sekitar pinggang. Kepala ikat pinggang disebut timang atau gesper, biasanya terbuat dari logam. (Lihat: Perhiasan)

Inskripsi, Tulisan, pahatan, atau guratan huruf-huruf yang mengandung pesan pada permukaan benda atau bangunan. (Lihat: Prasasti)

Istana, Kediaman resmi kepala pemerintahan, khususnya raja dan ratu. Istana dapat berupa gedung atau rumah berukuran besar, dapat pula berbentuk kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan atau sebuah bangunan tunggal. Istana yang dibentuk menyerupai benteng disebut puri. (Lihat: Keraton)

Jalan, Bidang tanah atau bangunan yang digunakan sebagai prasarana transportasi. Jalan dikategorikan sebagai bangunan karena merupakan struktur yang terbuat dari berbagai jenis bahan, kecuali jalan yang terbuat dari tanah. (Lihat: Bangunan)

Jam, Mesin penunjuk waktu. Jam memiliki dua jarum berbeda ukuran: jarum pendek untuk menunjuk waktu dalam hitungan pukul dan jarum panjang untuk waktu dalam hitungan menit. Pada sisi luar bagian dalam terdapat angka-angka 1 sampai dengan 12 atau simbol-simbol lain yang mewakili angka-angka tersebut. Tenaga yang diperoleh jam untuk bekerja berasal dari daya lentur pegas, daya tarik bandul, atau listrik. Jam berukuran kecil yang dipakai pada pergelangan tangan disebut arloji. Jam termasuk kelompok kronometer digunakan untuk menghitung waktu.

Jambangan, Vas berukuran besar dan tinggi. Karena ukurannya yang besar, jambangan lebih sering diletakkan di lantai dari pada di meja. (Lihat: Vas)

Jangkar, Alat pemberat berbentuk kait yang ditenggelamkan ke dasar sungai, laut, atau danau untuk menahan posisi kapal. Jangkar dapat terbuat dari besi, batu, kayu, atau campuran antara keduanya. (Lihat: Kapal)

Jaring, Alat penangkap atau penahan, berupa jalinan serat atau tali yang jarak antar simpulnya relatif besar. Jaring disebut juga jala, sedangkan pukat adalah sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. (Lihat: Bandul)

Jarum, Alat penusuk berukuran relatif kecil dan runcing yang terbuat dari logam, tulang, cangkang kerang atau siput, dan kayu. Atas dasar fungsinya, jarum dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu jarum Jjahit, jarum suntik, dan jarum penunjuk. Jarum jahit memiliki lubang pada bagian pangkal atau ujungnya sebagai tempat memasukkan benang. Jarum ini digunakan untuk membuat lubang pada tekstil atau kulit. Sedangkan jarum suntik sebenarnya adalah pipa berukuran kecil yang ujungnya dibuat runcing untuk menyalurkan cairan. Jarum yang digunakan pada kompas, timbangan, atau jam adalah dari jenis jarum penunjuk. (Lihat: Jam dan Timbangan).

Jembatan, Bangunan atau bukan bangunan berfungsi sebagai jalan yang menghubungkan dua sisi atau tepi yang terpisah. Jembatan berupa bangunan dibuat dari konstruksi batu, kayu, bambu, besi, beton, atau campuran di antaranya. Sedang jembatan yang bukan bangunan dibuat dari batang-batang pohon yang dirubuhkan secara melintang tanpa digarap lebih jauh bentuk maupun konstruksinya. (Lihat: Bangunan)

Jendela, Komponen bangunan berupa lubang pada dinding sebagai jalan keluar masuknya udara dan sinar matahari ke dalam ruangan. Pengaturannya dapat dilakukan dengan pertolongan daun jendela melalui mekanisme buka dan tutup, atau sarana lain yang mewakili fungsi tersebut.

Jimat, Disebut juga aji-aji. Benda alam atau artefak berukuran kecil yang dipercaya mengandung kekuatan magis untuk melindungi keselamatan atau memberikan kekuatan supranatural bagi pemiliknya. Bentuknya bermacam-macam, dapat menyerupai manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bagian-bagian dari ketiganya, gabungan dari dua atau ketiga unsur itu, sampai dengan yang sama sekali tidak mencirikan bentuk ketiganya. Pada jimat biasanya bisa ditemukan benda-benda tanda kesucian dalam bentuk gambar, tulisan, huruf, atau bentuk-bentuk abstrak.

Jobongan (Jw.), Benda berbentuk silindrik yang digunakan sebagai dinding perigi dengan cara menumpuk satu di atas lainnya. Biasanya terbuat dari tembikar. (Lihat: Perigi)

Jubah, Baju panjang yang menutup badan mulai dari leher hingga kaki. (Lihat: Baju)

Jug (Ing.), Wadah penyimpan air berbadan tinggi dan melebar, berleher pendek, bermulut besar serta bertangkai. Umumnya tidak memiliki corot dan ukuran dasarnya lebih besar dari pada mulut. Jug banyak dibuat di Eropa. (Lihat: Ewer)

Kacamata, Kaca dengan permukaan cekung atau cembung yang ditempatkan di muka mata sebagai alat bantu penglihatan. Kacamata umumnya terdiri dari sepasang kaca yang dijepit oleh bingkai bertangkai, dipakai dengan cara mengaitkannya pada daun telinga. Ada pula jenis kacamata yang hanya memiliki satu kaca yang digunakan dengan cara menjepitkannya di antara tulang alis dengan tulang pipi.

Kacip, Alat pemotong buah pinang berbentuk gunting bertangkai panjang dengan engsel berada di bagian muka. Alat ini merupakan perlengkapan penginangan untuk menyirih. Disebut juga kalakati atau caket. (Lihat: Penginangan)

Kail, Alat sejenis kait untuk menangkap ikan. Pada bagian pangkal terdapat lubang atau celah menyempit untuk mengikatkan tali. Kail dapat dibuat dari logam, tulang, atau cangkang kerang. (Lihat: Kait)

Kail, Alat dengan ujung melengkung untuk menambat, menangkap, menahan, atau menggantungkan sesuatu.

Kala, Hiasan berbentuk kepala raksasa dengan ekspresi menakutkan: mata melotot, gigi bertaring, dan mulut menganga. Penggambaran kala sering dilengkapi pula dengan telapak bercakar dan semacam tanduk di bagian atas kepala. Hiasan ini dimaksudkan sebagai penolak bala, pada umumnya ditempatkan di tengah bingkai bagian atas pintu masuk bangunan candi. Di Jawa Timur kala disebut juga banaspati. Penggambaran Kala yang dikombinasikan dengan hiasan makara disebut kala-makara, sedangkan penggambaran kala yang dikombinasikan dengan hiasan mrga (kepala kijang) disebut kala-mrga. Kala-mrga juga merupakan hiasan bagian atas kepala seorang tokoh yang dimaksudkan untuk memberikan sifat magis atau super pada tokoh yang dinaunginya. (Lihat: Makara)

Kalamba, Kubur batu berbentuk silindrik dengan tutup di atasnya. Peninggalan ini banyak ditemukan di Sulawesi Tengah dan beberapa daerah di Sumatera Utara. (Lihat: Peti Kubur)

Kaligrafi, Pahatan atau susunan huruf yang dibentuk dan disusun membentuk suatu pola sehingga terlihat indah.

Kalung, Perhiasan yang ditempatkan atau diikatkan melingkar pada leher.

Kancing, Benda yang digunakan untuk menutup baju, biasanya di tempatkan di bagian muka baju. Fungsi praktisnya mirip dengan kait, namun di lain pihak kancing juga memiliki fungsi estetis sehingga sering dibuat sebagai asesori atau perhiasan untuk meningkatkan tampilan baju. (Lihat: Baju dan Pakaian).

Kapak, Alat batu atau logam bermata tajam yang digunakan untuk keperluan membelah dan memotong. Bentuk kapak umumnya melebar dan menipis di bagian tajaman serta memiliki pangkal yang lebih tebal dan menyempit. Sejenis kapak logam yang memiliki rongga untuk memasukkan batang kayu disebut kapak corong. Kapak disebut juga kampak. (Lihat: Beliung dan Candrasa)

Kapal, Alat transportasi air sejenis perahu berukuran besar yang ditenagai dengan mesin atau angin. Kapal biasanya dipergunakan pada perairan dalam.

Menurut komponen atau bagian-bagiannya, kapal dapat memiliki:

1. Lunas, batang-batang kayu atau logam yang berada di bagian tengah yang merupakan inti struktur kerangka kapal tempat bersatunya rusuk dan lambung. Lunas pada umumnya dibuat lebih menonjol sehingga memiliki kemampuan untuk membelah air, panjang lunas menentukan pula panjang kapal secara keseluruhan.

2. Lambung, bagian sisi kanan-kiri yang membentuk badan kapal.

3. Rusuk, disebut juga gading-gading, yaitu batang-batang kayu atau logam yang membentuk sisi-sisi kapal

4. Sirip, lembaran kayu atau logam di bagian bawah belakang kapal yang berfungsi sebagai pengarah

5. Kemudi, alat pengendali arah yang dihubungkan ke sirip

6. Tiang, batang kayu atau logam yang berdiri di tengah kapal sebagai tempat menambatkan layar. Banyak kapal yang memiliki tiang layar lebih dari satu. Pada jenis kapal ini, tiang yang paling tinggi disebut tiang utama, sedangkan tiang-tiang lain yang lebih pendek dan kecil ukurannya disebut tiang pembantu.

7. Layar, tekstil atau tikar yang ditambatkan pada tiang untuk menangkap angin.

8. Jangkar, pengait yang dibenamkan ke dasar sungai, danau, atau laut berfungsi sebagai penahan gerak kapal saat berhenti. Jangkar diikat dengan tali atau rantai yang ditambatkan pada haluan, umumnya terbuat dari logam atau kayu yang diberi pemberat batu.

9. Anjungan, disebut juga anjung-anjung, bagian yang berbentuk ruangan beratap pada dek tempat juru mudi mengendalikan kapal.

10. Haluan, bagian depan kapal. Biasanya pada bagian ini jangkar ditempatkan. Kapal-kapal yang dibuat untuk berlayar di laut memiliki haluan yang lebih tinggi dibandingkan dengan buritan. Kapal-kapal yang hanya melayari sungai, rawa, atau danau, haluannya dibuat sama tinggi atau sedikit lebih tinggi dari buritan. Bagian haluan yang dibuat melengkung disebut linggi.

11. Dek, lantai penutup ruang kapal bagian atas

12. Palka, ruang penyimpanan barang yang berada di bagian dalam kapal.

13. Buritan, bagian belakang kapal.

(Lihat: Perahu, Rakit, dan Sampan)

Kelat Bahu, Perhiasan berbentuk gelang yang dikenakan pada lengan atas. (Lihat: Gelang)

Kelenteng, Bangunan pemujaan masyarakat Cina yang diperuntukan bagi dewa-dewa agama Kong Hu Cu (Kongfucu atau Confucius), Tao (Taoisme), dan Budha. Kelenteng dapat dikenali dari bentuk atap pelananya yang sering dihiasi relief atau arca dua ekor naga memperebutkan mutiara di bagian puncak. Kelenteng juga hampir selalu memiliki tungku pembakaran di halaman muka, sejenis balai bertiang tinggi di hadapan bangunan induk, tambur besar, sebuah altar, genta, dan wadah-wadah pembakaran hio. (Lihat: Genta, Hio, dan Tambur)

Kelereng. Alat permainan berbentuk bundar terbuat dari kaca atau keramik. Dikenal pula dengan nama lain seperti keneker, neker, eker, nekal, guli, atau gundu.

Kemudi, Alat pengendali arah pada kendaran darat, udara atau air. Bentuknya menyerupai lingkaran atau tangkai. Pada kendaraan udara atau air kemudi dihubungkan dengan sirip, sedangkan pada kendaraan darat dihubungkan ke roda.

Kemuncak, Unsur bangunan atap berupa menara-menara kecil yang mengelilingi puncak. Sifatnya dekoratif dan tidak mewakili fungsi tertentu. (Lihat: Mahkota Atap)

Kendaraan, Alat transportasi untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, baik yang bertenaga manusia, hewan, mesin, maupun arus (angin dan air).

Kendi, Wadah penyimpan air minum. Memiliki badan yang membulat dengan leher relatif tinggi sebagai pegangan yang sekaligus berfungsi sebagai saluran air. Bagian dasar kendi rata, baik yang membentuk kaki maupun tidak. Pada umumnya kendi dibuat dari keramik.

Ada dua jenis kendi, yaitu kendi bercorot dan kendi tanpa corot. Kendi bercorot adalah semua kendi yang memiliki saluran air mirip pipa berukuran kecil pada bagian bahu, jumlahnya bisa satu atau lebih. Pada kendi tanpa corot fungsi pipa sebagai jalan keluarnya air digantikan oleh bagian leher yang berdiameter lebih besar. (Lihat: Teko)

Sejenis kendi dengan corot satu atau lebih, tetapi hanya salah satunya yang memiliki lubang disebut kendi maling (a). Air tidak dimasukkan melalui leher melainkan melalui corong di bagian dasar kendi, yaitu dengan cara merendamnya. Kendi maling banyak ditemukan di Jawa Tengah.

Kendi partolo (b) adalah kendi bercorot meninggi yang letaknya berdampingan dengan leher dan dihubungkan dengan tangkai yang berfungsi sebagai pegangan. Leher kendi ini ada yang bermulut lebar sebagai jalan masuknya air tetapi ada juga yang dibuat mengecil sehingga mirip dengan corot. Corotnya sendiri juga bisa berjumlah lebih dari satu. Banyak ditemukan di Sumatera, khususnya Sumatera bagian selatan.

Kendi susu (c), nama khusus yang diberikan pada semua kendi yang corotnya dibuat menggelembung, pada umumnya bercorot satu.

Sejenis kendi dengan corot pendek yang berdiri tegak pada bagian bahu dekat leher disebut kundika (d). Kundika umumnya memiliki badan yang langsing mirip vas.

Kendil (Jw.), Wadah tertutup berbadan cembung, berleher rendah dengan bagian dasar membulat atau rata. Kendil yang dasarnya rata biasanya memiliki ukuran mulut yang mendekati sama dengan ukuran bagian dasar. Umumnya berukuran kecil dan terbuat dari tembikar, dapat pula dilengkapi dengan tutup. (Lihat: Guci dan Belanga)

Kenong, Disebut juga keromong atau talempong. Alat musik berbentuk silindrik tertutup dengan tonjolan di bagian atas. Kenong terbuat dari logam. Bahan yang digunakan biasanya kuningan, besi, atau perunggu. Kenong memiliki rongga di bagian dalam sebagai ruang gema yang diakhiri dengan mulut mengecil. Alat bunyi-bunyian ini ditempatkan secara melintang dan ditabuh dengan memukul tonjolannya menggunakan pemukul. Nada yang dihasilkan kenong bersifat tunggal atau monoton karena tidak memiliki fasilitas pengatur nada, oleh karenanya harus dimainkan bersama dengan kenong lain. (Lihat: Gong)

Kentongan, Disebut juga slit drum. Alat bunyi-bunyian terbuat dari kayu, bambu, atau logam yang memiliki rongga di bagian dalamnya. Kentongan berbentuk memanjang dengan sebuah celah yang dibuat memanjang pula. Kentongan dibunyikan dengan cara memukul-mukulkan tongkat pada bagian badan dekat mulut celah. (Lihat: Tambur)

Keramik, Semua benda yang terbuat dari tanah liat bakar. Ada tiga jenis bahan keramik yang selama ini dikenal yaitu tembikar, bahan batuan, dan porselen.

Bahan batuan disebut juga stoneware, berwarna agak keabuan dan banyak mengandung feldspar, alumina, silikat, sedikit soda dan kaolin. Bahan batuan memiliki sifat keras karena dibakar pada suhu lebih dari 1200o C dan bila pecah dapat menghasilkan pecahan dengan tepian yang tajam. Tembikar terbuat dari tanah liat biasa, pada umumnya agak lunak karena hanya dibakar pada suhu 500o s.d 800o C sehingga mudah pecah. Warna tembikar berkisar dari kehitaman, coklat sampai dengan merah. Oleh masyarakat Jawa, tembikar disebut gerabah, masyarakat Sunda menyebutnya tarawengkar dan oleh masyarakat Melayu disebut periuk belanga. Masyarakat Batak menyebutnya hudun tano.

Di antara ketiga bahan keramik itu porselen merupakan yang terbaik, umumnya berwarna putih karena banyak mengandung kaolin, yaitu tanah liat yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan yang didominasi oleh unsur silika dengan campuran feldspar dan alumina dalam konsentrasi yang lebih rendah. Porselen dibakar pada suhu lebih tinggi dibandingkan dengan bahan batuan, yaitu lebih dari 1300o C sehingga memiliki tingkat kebeningan dan kekompakan yang lebih baik. Bahan batuan dan porselen keduanya sama-sama memiliki sifat kedap air, sedangkan gerabah cenderung menyerap air karena memiliki pori-pori relatif lebih besar.

Bahan campuran dalam pembuatan gerabah yang bukan berasal dari tanah liat disebut temper. Temper dapat berupa sekam, jerami, rumput, potongan-potongan kayu, pasir, dsb. Temper yang terbuat dari bahan keramik disebut grog. Grog dihasilkan dengan cara menumbuk atau memecah-mecah keramik yang tidak dipakai lagi atau merupakan limbah. Bahan campuran berupa batu-batu kerikil, pecahan karang, atau pecahan-pecahan cangkang moluska seperti kerang maupun siput disebut grit. Nama khusus untuk pecahan keramik tembikar disebut kereweng. (Lihat: Glasir, Gloss, Slip, dan Wadah)

Keranda, Alat transportasi berbentuk kereta atau tandu yang dipakai untuk mengangkut jenazah.

Kerangka, Tulang belulang manusia atau hewan yang relatif lengkap. (Lihat: Tengkorak)

Keranjang, Wadah yang terbuat dari anyaman bambu, kayu atau serat. Keranjang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan atau alat transportasi/ pengangkut bergantung pada pemakaiannya. (Lihat: Alat transportasi dan Anyaman)

Keraton, Berasal dari kata “ke-ratu-an” yang berarti kompleks tempat tinggal raja. Pada kenyataannya, keraton bukan hanya merupakan rumah kediaman raja melainkan juga sanak saudara dekatnya, para pejabat istana dan pegawai istana yang bekerja demi kepentingan raja. Di dalam kompleks keraton dapat ditemukan pula bangunan-bangunan lain yang berhubungan dengan pertahanan serta fasilitas-fasilitas pendukung kebutuhan raja. Keraton merupakan pusat pemerintahan dan pusat kesucian seluruh wilayah kerajaan. Oleh karena itu sering pula disebut kedaton yang berasal dari kata “ke-datu-an”. (Lihat: Istana)

Kereta, Kendaraan darat beroda dua sampai dengan empat pengangkut manusia atau barang. Kereta adalah alat transportasi yang umumnya memiliki atap; terbuat dari kayu atau logam. Kereta dapat digerakkan manusia, hewan, atau mesin. (Lihat: Gerobak )

Kerincingan (Jw.), Alat bunyi-bunyian terbuat dari logam berbentuk bundar. Kerincingan memiliki rongga di bagian tengah berisi bola logam yang dapat bergerak bebas. Benturan bola logam pada dinding-dinding rongga tersebut menghasilkan bunyi yang keluar melalui sebuah celah pada salah satu sisinya. Nama lain kerincingan ialah kliningan atau slit bell. (Lihat: Genta)

Keris, Senjata tusuk genggam asal Asia Tenggara, bentuknya meruncing dengan tajaman pada kedua sisi bilahnya. Keris ada yang berlekuk dan ada pula yang lurus. Lekukan keris disebut luk. Senjata ini biasanya dibuat dengan mencampurkan beberapa jenis logam, tapi dengan unsur logam besi (Fe), baja, nikel, atau logam-logam asal batu meteor sebagai bahan utamanya. Pada permukaan keris didapati pola-pola hias yang disebut pamor. Pamor terjadi sebagai akibat proses pelipatan dan penempaan logam yang terus menerus atau sengaja dibubuhkan pada permukaan keris melalui metode menggambar atau menulis. (Lihat: Pisau). Keris dibagi dalam beberapa bagian yang setiap bagiannya dibagi oleh beberapa bagian lagi. Bagian-bagian yang terdapat pada keris secara umum adalah:
(a) ukiran (hulu/pegangan keris),
(b) wilah (bilah keris), dan
(c) wrangka (sarung keris).

Kincir, Sejenis kipas berbilah atau roda bersirip yang digerakkan dengan memanfaatkan tenaga angin atau air. (Lihat: Kipas)

Kipas, Alat pengibas untuk menghasilkan angin. Dibedakan atas dua jenis, yaitu jenis yang berbilah dan lembaran. Kipas berbilah memiliki penampilan mirip kincir, umumnya digerakkan dengan bantuan mesin. Kipas lembaran digerakkan dengan tangan, terbuat dari helaian kulit, kertas, atau daun-daunan berukuran lebar yang dijepit atau ditempelkan pada tangkai sehingga mudah digenggam. (Lihat: Kincir)

Kolam, Bangunan berupa lubang pada permukaan tanah yang berfungsi sebagai tempat meyimpan atau menampung air, bukan untuk keperluan menghimpun atau membendung. Sebagai tempat penampungan, kolam memiliki dinding-dinding dan dasar yang kedap air. (Lihat: Bak, Bendungan, dan Waduk)

Kompas, Alat bantu pencari arah. Kompas memiliki jarum atau lempengan besi bermuatan magnet yang dapat berputar sebagai penunjuk arah. Kutub-kutubnya selalu menghadap ke utara dan selatan. Tiap-tiap mata angin memiliki simbol: N (north untuk utara), E (east untuk timur), S (south untuk selatan), dan W (west untuk barat). Selain itu terdapat pula skala bujur derajat yang mengelilingi bidang perputaran jarum dengan menempatkan titik 0o atau 360o pada arah utara.

Kompleks, Sekelompok bangunan (misalnya candi) atau benda (misalnya menhir) yang ditata berdasarkan pola tertentu dan mencerminkan hubungan fungsional di antaranya. Kompleks pada umumnya memiliki batas-batas yang jelas, seperti pagar atau parit buatan. (Lihat: Pagar dan Parit)

Kompor, Alat masak sejenis tungku berukuran kecil yang dapat dipindah-pindahkan. Pengertian kompor sering dihubungkan dengan adanya fasilitas ruang penyimpanan bahan bakar cair, gas, atau padat yang menjadi satu dengannya. (Lihat: Tungku)

Koprolit, Kotoran (feces) hewan atau manusia yang menjadi fosil atau mengering. Koprolit digunakan sebagai bahan studi lingkungan dan pola makan. (Lihat: Fosil)

Kotak, Benda berbentuk persegi dengan ruang di bagian tengah sebagai tempat menyimpan sesuatu. Kotak pada umumnya terbuat dari logam atau kayu.

Kubah, Pengertiannya lebih mendekati bentuk benda atau bangunan, tetapi sering digunakan untuk mengacu kepada jenis atap bangunan berbentuk membundar dengan rongga di bagian dalam. Denah dasar kubah dapat berbentuk persegi, bulat, atau lonjong.

Kubu, Bangunan pertahanan berukuran relatif kecil dan bersifat sementara, kebanyakan terbuat dari susunan tanah dan batang-batang kayu. Kubu tidak pernah digunakan sebagai tempat bermukim, seperti benteng, karena itu sewaktu-waktu dapat ditinggalkan oleh pemakainya. (Lihat: Benteng dan Bunker)

Kuburan, Disebut juga makam, yaitu lubang tempat mengubur jenazah manusia pada permukaan tanah atau dapat pula berupa bangunan yang dibuat untuk keperluan itu. Kuburan pada gua-gua disebut kubur gua, sedangkan kuburan pada ceruk-ceruk disebut kubur ceruk. Jenis lain dari kuburan ialah kubur bilik, yaitu penempatan jenazah manusia pada bilik-bilik yang terbuat dari batu atau kayu. Cara ini berlainan dengan kubur peti yang menempatkan jenazah di dalam peti kayu atau batu. Tempat menyimpan jenazah tersebut disebut gua kubur, ceruk kubur, bilik kubur, atau peti Kubur. Bangunan atau struktur yang menandai sebuah makam disebut kijing atau jirat (a), dan pada umumnya di atas kijing/jirat terdapat tonggak pendek yang disebut nisan (b). Bangunan kubur mirip punden yang dibuat berundak dengan sisi-sisi terjal disebut kubur berundak atau makam berundak. Kubur tempayan adalah kuburan yang memanfaatkan tempayan sebagai wadah penyimpanan jenazah manusia. (Lihat: Moseleum, Punden, Nisan, dan Peti Kubur)

Kursi, Tempat duduk bersandaran. Biasanya berkaki tinggi dan sering memiliki tempat untuk meletakkan tangan. (Lihat: Bangku, Dipan, Mebel, dan Tempat Duduk)

Lumpang, Alat tumbuk berupa benda yang memiliki lubang berbentuk bulat cekung pada permukaannya. Lumpang dibuat dari batu atau kayu dan digunakan bersama dengan alu. Khusus lumpang yang lubangnya lebih dari satu sering disebut batu dakon. (Lihat: Alu dan Lesung)

Lumbung, Bangunan khusus untuk menyimpan padi atau bahan pangan lainnya. Pada umumnya terbuat dari kayu atau bambu dan berdiri di atas tiang-tiang berjumlah empat atau lebih. Lumbung hanya memiliki satu pintu yang letaknya berada dekat atau menjadi bagian dari atap. Di daerah-daerah tertentu ada lumbung yang tidak berupa bangunan melainkan hanya berupa ruangan yang menyatu dengan rumah tinggal pemilik, yaitu pada bagian atap di bawah genteng.

Lukisan Dinding, Lukisan yang dibuat pada permukaan dinding tebing atau bangunan. Lukisan dinding sering dijumpai pada gua, ceruk, tebing atau ruangan-ruangan dalam kuburan dan gedung. Bahan pewarna yang digunakan dapat terbuat dari oker, cat, arang, atau pigmen. Bentuk-bentuk yang digambarkan pada umumnya manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, lambang, bentuk-bentuk abstrak, pemandangan, atau benda-benda tertentu. Lukisan dinding yang digambarkan pada gua disebut lukisan gua, sedangkan yang dilukiskan pada dinding bangunan disebut mural. (Lihat: Fresko, Mosaik, Oker, dan Pigmen)

Lubang, Cekungan dalam pada permukaan tanah, formasi alam, atau benda yang tidak diikuti dengan penembusan. Nama lainnya liang.

Lorong, Jalan sempit yang diapit oleh tembok atau tebing formasi alam. Lorong juga dipakai untuk menyebut jalan yang terletak di antara deretan rumah. (Lihat: Pagar)

Lontar, Tanaman dari keluarga palem (Borasus flabellifer) yang daunnya dimanfaatkan sebagai media tulis (seperti halnya kertas) yang digunakan dengan cara mengguratnya. Naskah pada daun lontar disebut keropak. Lontar dikenal juga dengan nama rontal atau siwalan.

Lochet (Ing.), Hiasan kepala yang disisipkan di antara ikatan rambut. Bentuknya memanjang berupa batang berujung runcing.

Lintel, Batang kayu atau blok batu yang terletak di bagian atas ambang pintu. Pada bangunan candi biasanya berupa relief yang ditempatkan di bagian atas pintu atau penampil bangunan candi. (Lihat: Pintu)

Lingga, Lambang dewa Siwa dalam agama Hindu berbentuk kemaluan lelaki (phallus). Lingga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian dasar berupa segi empat disebut brahmabhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut wisnubhaga dan bagian puncak berbentuk bulat panjang disebut siwabhaga. Walaupun jarang ditemukan, pada lingga acapkali dipahatkan juga wajah dewa Wisnu, Brahma, Siwa, atau dewa-dewa lain yang berhubungan dengan pemujaan Siwa. Dari jumlah wajah yang dipahatkan, lingga dapat dibedakan atas lingga ekamukha, berwajah satu; lingga dwimukha, berwajah dua; lingga trimukha, berwajah tiga; atau lingga caturmukha, berwajah empat. Pada umumnya lingga terbuat dari batu dan diletakkan di atas yoni pada ruang dalam bangunan induk candi. Lingga yang hanya mempunyai dua bagian saja, yaitu wisnubhaga dan siwabhaga serta tidak dilengkapi dengan yoni disebut lingga semu. Lingga semu tidak pernah ditemukan bersama yoni, tetapi lebih banyak digunakan sebagai tanda batas atau tanda suatu kawasan yang disucikan. (Lihat: Yoni)

Limbah, Sampah sisa industri atau kegiatan manusia yang tidak digunakan lagi. (Lihat: Sampah)

Liang Lahat, Lubang tempat menguburkan manusia.(Lihat: Kuburan)

Lesung, Perkakas menumbuk yang memiliki lubang lonjong memanjang di bagian atas. (Lihat: Lumpang dan Palung)

Lepa, Disebut juga plester, yaitu lapisan pelindung dinding yang terbuat dari campuran semen, kapur, atau pasir. Sejenis lepa yang ditemukan pada bangunan candi sebagai pelindung relief disebut bajralepa. Lepa yang terbuat dari tanah disebut daub.

Lencana, Hiasan dada berupa kalung yang digantungkan pada leher atau dikaitkan pada baju. Lencana biasanya dibuat untuk memperingati suatu peristiwa, mewakili simbol-simbol keagamaan, atau tanda dari anggota kelompok tertentu bagi pemakainya. (Lihat: Lambang dan Medali)

Lembing, Senjata penusuk mirip tombak berupa tongkat kayu berujung runcing yang dipakai dengan cara melempar. Lembing terdiri dari batang lembing dan mata lembing, tingginya tidak melebihi ukuran tinggi manusia. Lembing yang panjangnya melebihi tinggi manusia disebut tombak. Mata lembing atau tombak dapat terbuat dari batu, kayu, logam, atau tulang yang diikatkan pada bagian ujung sebagai penusuk. Bilah mata lembing umumnya memiliki dua tajaman bahkan sering dibuat bergerigi atau berkait. Lembing yang dihubungkan dengan tali disebut harpun.

Lapisan Pengerasan, Lapisan tanah buatan pada bagian bawah pondasi bangunan berupa tanah campuran yang dipadatkan untuk meningkatkan daya dukung terhadap bangunan. Campuran ini bisa terdiri dari pasir, pecahan bata, lempung, atau batu-batuan. Disebut juga tanah pengerasan. (Lihat: Pondasi)

Lapik, Alas suatu benda, disebut juga pedestal. Lapik pada arca yang berhiaskan pahatan kelopak bunga teratai sebagai simbol kesucian dalam agama Budha dan Hindu disebut padmasana. (Lihat: Alas).

Lantai, Permukaan tanah atau alas bangunan yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan manusia. Lantai bisa berupa sebidang tanah tanpa batas yang jelas, seperti lantai pada bengkel pertukangan logam; sebuah bangunan seperti pelataran tempat menjemur padi; atau susunan komponen bangunan dengan batas-batas yang dapat dilihat, seperti halnya ubin. (Lihat: Maaiveldt, Ruang, dan Ubin)

Langit-langit, Penutup bagian atas ruangan yang merupakan bagian bawah atap. (Lihat: Atap)

Lancipan, Alat dari batu atau tulang berbentuk runcing yang digunakan sebagai mata panah atau penusuk.

Lampu, Alat penerangan yang menggunakan listrik atau gas sebagai sumber energi. (Lihat: Pelita)

Lambang, Benda-benda, gambar, atau pahatan dari bentuk tertentu, huruf atau kata yang mengandung makna. Lambang dapat berwujud susunan huruf atau kata, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, unsur alam gunung, sungai, bulan, matahari, dsb., atau bentuk-bentuk abstrak yang hanya dimengerti oleh masyarakat dan budaya pendukungnya. Nama lainnya logo. (Lihat: Histogram)

Mumi, Jasad manusia yang diawetkan atau terawetkan sehingga masih memperlihatkan wujud aslinya tanpa mengalami kerusakan yang berarti (tidak mengalami proses pembusukan). Proses menjadikan mumi disebut mumifikasi.

Mumifikasi dapat berlangsung melalui serangkaian tindakan yang disengaja oleh manusia: misalnya melalui pembalsaman, pengasapan, pengeringan, atau cara-cara lain yang dimaksudkan untuk mengeluarkan cairan dari dalam tubuh serta mencegah proses penguraian jaringan otot dan daging. Sedangkan mumifikasi secara alamiah biasanya terjadi pada lingkungan yang panas dan dingin yang ekstrim dengan tingkat kelembaban rendah. Namun dalam kondisi istimewa di mana kadar oksigen dalam air sangat rendah, proses mumifikasi dapat pula terjadi pada jasad-jasad organik yang tersimpan di dalamnya, seperti halnya pada lingkungan rawa gambut yang sepanjang tahun tergenang air dan memiliki tingkat keasaman (pH) di atas rata-rata sehingga tidak memungkinkan hidupnya bakteri pengurai.

Moseleum, Bangunan mirip rumah atau gedung tempat menyimpan jenazah. Moseleum dapat berfungsi pula sebagai monumen, baik dalam hubungannya dengan keluarga orang yang dimakamkan, kelompok sosial, atau negara. (Lihat: Kuburan dan Monumen)

Mosaik, Hiasan bidang yang tersusun dari kepingan-kepingan batu, kaca, atau keramik berwarna. Susunan ini membentuk gambar dan pola tertentu.

Monumen, Ada dua pengertian yang dapat dihubungkan dengan monumen, yaitu relik sejarah dan bangunan peringatan. Monumen sebagai relik sejarah dapat berupa benda-benda bergerak atau tidak bergerak yang memiliki nilai sejarah bagi umat manusia. Dalam pengertian ini situs sering pula disebut sebagai monumen. Adapun monumen sebagai bangunan peringatan ialah bangunan-bangunan baru yang dibuat untuk memperingati suatu peristiwa sejarah. Bangunan tersebut bisa berupa tugu, batu berukuran besar, tembok, atau bentuk-bentuk lainnya. Jadi, pengertian dasar monumen harus dikaitkan dengan nilai kesejarahannya.

Monolit, Batu berukuran besar yang dibentuk atau digunakan manusia untuk kepentingan tertentu. Lumpang batu, batu tegak, peti kubur, atau arca yang terbuat dari sebuah batu tunggal dapat termasuk monolit. (Lihat: Batu Tegak dan Megalit)

Miniatur, Tiruan bangunan atau benda yang dibuat dalam ukuran lebih kecil dibandingkan dengan aslinya. (Lihat: Replika)

Minaret, Bagian bangunan mirip menara yang menjadi kelengkapan masjid atau gereja. Di bagian puncaknya terdapat ruangan khusus yang digunakan untuk mengalunkan adzan pada masjid atau menempatkan genta pada gereja. (Lihat: Menara)

Mimbar, Komponen bangunan atau mebel sejenis meja atau tempat duduk yang ditempatkan di bagian muka ruangan. Mimbar biasanya digunakan sebagai tempat orang berpidato

Mikrolit, Alat potong, serut atau bor berukuran kecil yang terbuat dari batu dan berbentuk geometrik (segitiga, persegi, trapesium, setengah lingkaran, dsb.).

Mihrab, Komponen bangunan berupa penampil atau relung pada masjid dan langgar yang dihadapkan ke arah kiblat, yaitu kota Mekah tempat Kabah/Ka’bah berada. Mihrab hanya diperuntukkan bagi imam, yaitu orang yang memimpin shalat berjamaah.

Mesiu, Bahan peledak berupa bubuk atau butiran-butiran, digunakan untuk melontarkan peluru. Mesiu terbuat dari bahan-bahan kimia yang mudah bereaksi dengan panas atau api sehingga menghasilkan tekanan udara berupa ledakan dalam waktu yang sangat singkat. (Lihat: Peluru)

Meriam, Senjata berbentuk silindrik berukuran besar terbuat dari logam. Meriam kuno hanya memiliki satu lubang untuk keluar masuknya peluru, sedangkan meriam modern memiliki dua lubang yang salah satu di antaranya digunakan sebagai tempat untuk memasukkan peluru, yaitu yang berada di belakang. Satu lubang lainnya yang berada di moncong dibuat sebagai jalan keluarnyapeluru. Berdasarkan jenis peluru yang digunakan, meriam dapat dibedakan atas meriam sulut dan meriam dengan peluru berselongsong. Meriam sulut ialah jenis meriam kuno yang mesiu dan pelurunya dimasukkan melalui ujung laras. Peledakan mesiu dilakukan dengan cara membakar sumbu melalui sebuah lubang kecil di bagian pangkal meriam. Meriam sulut disebut juga meriam sundut. Adapun meriam dengan peluru berselongsong ialah meriam yang peluru dan mesiunya telah disatukan dalam sebuah wadah sehingga memudahkan penggantiannya. Selongsong berpeluru itu dimasukkan lewat sebuah lubang di bagian pangkal (belakang) meriam dan diledakkan melalui pemicu. Meriam-meriam modern termasuk jenis ini. (Lihat: Peluru dan Selongsong)

Menhir, Batu tegak berlatar tradisi megalitik yang merupakan objek pemujaan. Pada umumnya ditancapkan dalam posisi berdiri, walau ada pula yang terlentang. Jenis menhir terlentang ini di Sumatera disebut batu mayat, batu bedil, atau batu meriam. (Lihat: Batu Tegak)

Menara Sudut Candi, Replika bangunan candi yang ditempatkan pada sudut-sudut atap sebagai unsur hiasan. (Lihat: Kemuncak)

Menara, Bangunan dengan konstruksi meninggi mirip tugu. Di bagian atas menara sering terdapat ruangan yang digunakan untuk menampung kegiatan-tertentu. (Lihat: Minaret dan Tugu)

Menapo (Jmb.), Gundukan tanah membukit berisi reruntuhan bangunan atau tinggalan purbakala. Nama lainnya antara lain gumuk, bukit batu, tanah tumbuh, atau unur. (Lihat: Reruntuhan)

Megalit, Batu-batu berukuran besar yang digunakan atau dibuat oleh manusia untuk kepentingan pemujaan pada tradisi megalitik. Batu-batu ini dapat merupakan bentukan alam atau sengaja dibentuk menjadi menhir, kubur batu, peti batu, atau dolmen. (Lihat: Monolit)

Medali, Tanda penghargaan yang diberikan oleh negara atau organisasi kepada seseorang atau kelompok atas jasa-jasa dan prestasinya. Medali terbuat dari lempengan logam dan memiliki keterangan tentang negara, kerajaan, atau raja yang mengeluarkannya. Selain itu, juga gambar, lambang, serta peristiwa yang diperingati. Kadang-kadang medali menyertakan angka tahun, walaupun jarang. Medali berukuran besar disebut medalion, sedangkan yang berukuran kecil disebut medalet. Istilah medalion juga digunakan untuk menamakan hiasan berbentuk bundar berukuran besar mirip medali. Kata lain dari medali adalah bintang, medal, pening, atau tanda jasa. (Lihat: Lencana)

Mebel, Perabot rumah tangga seperti meja, kursi, lemari, atau dipan. (Lihat: Perabot)

Masjid, Bangunan keagamaan umat Islam. Masjid berdenah segi empat bujur sangkar atau empat persegi panjang. Biasanya memiliki serambi, mihrab, mimbar, serta tempat untuk mengambil air wudhu. Masjid-masjid di Indonesia dan Asia Tenggara sering dilengkapi dengan beduk. Masjid ada yang mempunyai minaret atau menara dan ada pula yang tidak. Nama lain dari masjid adalah mesigit, masigit, meuseugit, atau mesigi. Disebut juga mesjid.Sejenis masjid berukuran kecil untuk menampung jumlah jemaah dalam jumlah terbatas dan tidak memiliki minaret disebut mushala. Mushala memiliki mihrab, beduk, serta tempat mengambil air wudhu seperti halnya masjid, walaupun kadang-kadang lebih sederhana karena hanya berupa sebuah ruangan. Di Indonesia mushala tidak pernah digunakan sebagai tempat melakukan shalat Jumat kecuali untuk keperluan peribadatan sehari-hari atau mengaji. Nama lain dari mushala adalah langgar atau surau. (Lihat: Mihrab, Minaret, dan Serambi)

Mangkuk, Wadah terbuka bermulut lebar dan berbadan cembung. Bagian dasarnya berukuran jauh lebih kecil dibandingkan bagian mulut, sering memiliki kaki rendah yang melingkar. Mangkuk berukuran besar disebut basi. (Lihat: Pasu)

Manik-manik, Butiran-butiran kecil yang terbuat dari biji-bijian, kulit telur, merjan, kerang, tulang, gading, kaca, logam, atau batuan yang diberi lubang dan diuntai sebagai perhiasan. Manik-manik berwarna merah kecoklatan atau jingga kusam berukuran relatif kecil sering disebut mutisala. (Lihat: Perhiasan)

Makara, Hiasan berbentuk ikan berkepala gajah yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Sering dijumpai pada bangunan candi, khususnya pada pipi tangga, gapura, pintu, relung, dan pancuran air sebagai hiasan. (Lihat: Kala dan Pancuran)

Mahkota Atap, Puncak bangunan, sering dibentuk sebagai hiasan atau diberi hiasan. Mahkota atap pada masjid disebut momolo, memolo, atau mustoko dan biasanya terbuat dari gerabah. (Lihat: Kemuncak)

Mahkota, Hiasan kepala serupa topi yang dipakai oleh raja atau ratu sebagai lambang kekuasaan, umumnya terbuat dari logam. Sejenis mahkota yang dilingkarkan pada kepala dan terbuka bagian atasnya disebut diadem atau tiara. (Lihat: Topi)

Maaiveldt (Bld.), Lantai tanah kuno yang tertimbun di bawah permukaan tanah sekarang. Maaiveldt dihubungkan dengan bukti kehadiran pemukiman kuno dan oleh karena itu banyak mengandung temuan arkeologi dari masa yang diwakilinya. Nama lainnya ialah subsurface. (Lihat: Lantai)

Nisan, Benda kubur yang diletakkan di bagian atas makam sebagai tanda. Bentuknya bermacam-macam sesuai dengan agama dan kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan, atau sistem klasifikasi sosial yang berlaku di dalam kelompok budaya masyarakat pembuatnya. Pada nisan sering dicantumkan jati diri orang yang dimakamkan, seperti nama, tanggal lahir, dan tanggal kematiannya. Nisan dapat ditancapkan dalam posisi tegak atau diletakkan secara membujur di atas makam. (Lihat: Kuburan)

Nekara, Gendang besar terbuat dari perunggu dengan bidang pukul yang lebar dan berpinggang mengecil (a). Nekara umumnya dibuat pada masa prasejarah, khususnya kebudayaan Dong Son yang berkembang di Cina Selatan dan Asia Tenggara 1000 s.d. 500 tahun SM. Pada nekara sering ditemukan hiasan-hiasan berupa geometris, zoomorfik, manusia, perahu, topeng, hewan motologis, dan sebagainya. Sebagai alat tabuh, nekara digunakan pada upacara-upacara keagamaan yang dihubungkan dengan bunyi-bunyian. Nekara berukuran kecil dan bertubuh ramping yang banyak ditemukan pada wilayah Indonesia Bagian Timur disebut moko (b). Moko dibuat hingga jauh ke masa sejarah, beberapa diantaranya dibuat di Jawa namun diperdagangkan ke wilayah itu. (Lihat: Tambur)

Naskah, Karya tulis yang tidak diterbitkan atau belum diterbitkan. Media yang digunakan umumnya terbuat bahan-bahan organik seperti kertas, kulit, daun, tanduk, tulang, atau bambu. Naskah dapat memuat cerita, ajaran, pernyataan-pernyataan politik, dsb. (Lihat: Piagam dan Prasasti)

Nampan, Wadah logam atau kayu berbentuk pipih tempat meletakkan makanan dan minuman. Bentuknya bermacam-macam, pada umumnya memiliki bidang datar di bagian tengah dengan sisi-sisi yang meninggi. Nama lainnya ialah talam atau baki.

Obor, Sejenis pelita yang berbentuk memanjang dan dipegang di bagian pangkalnya. Obor dapat juga berupa batang kayu atau bambu tanpa sumbu yang dibakar ujungnya, mirip lilin, tetapi memiliki sumbu untuk dibakar. (Lihat: Lampu dan Pelita)

Oker, Sejenis tanah liat yang terjadi sebagai akibat proses oksidasi mineral logam tertentu sehingga menghasilkan warna-warna seperti putih, cokelat, merah, atau jingga. Oker digunakan sebagai bahan pewarna pada industri tembikar, lukisan dinding, atau gambar-gambar pada benda etnografis. Nama lainnya limonit. (Lihat: Lukisan Dinding)

Pundi-pundi, Kantong terbuat dari tekstil atau kulit untuk menyimpan uang. Pundi-pundi memiliki tali melingkar di bagian mulut yang berfungsi sebagai pengikat. (Lihat: Dompet)

Punden, Bangunan berundak yang terdiri dari sejumlah teras disusun bertingkat meninggi ke atas. Bangunan pemujaan ini mulai dikenal sejak masa prasejarah, khususnya di bawah pengaruh tradisi megalitik. (Lihat: Bangunan Berundak)

Proyektil, Benda-benda tajam yang dilontarkan. Anak sumpit, anak panah, atau peluru senjata api dapat disebut sebagai proyektil. (Lihat: Panah, Peluru, dan Sumpit)

Profil, Bentuk samping atau sisi dari suatu benda atau bangunan. Profil pada bangunan candi terbentuk dari rangkaian pelipit. (Lihat: Pelipit)

Prasasti, Benda bertulis berisikan pesan atau pernyataan-pernyataan yang bukan cerita. Prasasti dapat terbuat dari batu, kayu, atau logam dan sering sehubungkan dengan peringatan suatu peristiwa atau hal-hal yang bersifat politis. (Lihat: Piagam, Inskripsi, dan Yupa)

Pot, Wadah terbuka untuk menanam bunga. Biasanya terbuat dari keramik atau kayu dan berukuran relatif tidak besar sehingga mudah dipindah-pindahkan. (Lihat: Vas)

Pondasi, Istilah lainnya adalah fondamen, yaitu bagian bangunan yang tertanam di dalam tanah berfungsi sebagai penyangga dinding atau tiang. Bentuk pondasi disesuaikan dengan denah bangunan. (Lihat: Bangunan dan Struktur)

Pistol, Senjata api genggam berlaras pendek. Mudah dibawa karena ukurannya kecil dan ringan. Peluru pistol tersimpan dalam sebuah wadah bernama magasin yang ditempatkan di dalam atau di luar gagang. (Lihat: Peluru, Revolver, Senapan, dan Senjata Api)

Pise (Ing.), Tembok bangunan, khususnya rumah, yang terbuat dari tanah yang tidak dibakar atau dibentuk seperti halnya bata atau adobe. Tembok ini dihasilkan dengan cara menumpuk campuran tanah liat basah dan dibiarkan sampai kering oleh hembusan angin dan sinar matahari. (Lihat: Adobe dan Bata)

Pisau, Senjata atau alat genggam terbuat dari logam atau batu berbentuk pipih dengan satu atau kedua sisinya diasah tajam. Ujungnya meruncing dan memiliki tangkai. Kegunaan ujung yang meruncing ini untuk menusuk, sedangkan sisi tajamnya untuk memotong ataupun menyayat. Biasanya pisau berukuran pendek dan ringan sehingga mudah dibawa-bawa. (Lihat: Pedang dan Parang).

Piring, Wadah terbuka bermulut besar terbuat dari keramik atau kayu dengan tepian melebar dan dasar yang rata. Umumnya piring memiliki kaki yang rendah, walaupun ada pula yang tidak berkaki. Piring memiliki cekungan di bagian tengahnya sebagai tempat menampung makanan.

Berdasarkan bentuknya tipe piring dapat dibedakan menjadi plate, soucer, dan dish. Dalam Bahasa Indonesia plate disebut piring ceper. Cekungannya rendah dan datar dengan bibir melebar yang juga dibuat mendatar. Dish lebih dikenal sebagai piring makan, permukaannya cekung mirip mangkuk walaupun tidak terlalu dalam. Bibirnya melebar dan membentuk sudut. Soucer lazim disebut piring buah. Jenis piring ini tingginya relatif rendah dan tidak memiliki bibir. Soucer ada yang berkaki ada pula yang tidak. Kakinya dibuat rendah seperti jenis-jenis piring lainnya. Piring berukuran besar disebut pinggan. Pada bagian dasar piring sering ditemukan informasi tentang nama perusahaan pembuatnya.

Piramid, Bangunan limas berpuncak meruncing dengan bagian dasar berdenah bujur sangkar. Sejenis piramid yang puncaknya dibuat mendatar disebut piramid terpancung.

Pipisan, Alat penghalus atau pelumat bahan ramuan, pada umumnya terbuat dari batu, berbentuk persegi, dan memiliki permukaan cekung di bagian atasnya. Pipisan digunakan bersama dengan gandik dalam proses penghalusan. Nama lain untuk alat ini ialah batu giling, batu bore, atau mortar, sedangkan nama lain gandik antara lain pastle. (Lihat: Cobek dan Gandik)

Pipa, Alat penghisap tembakau atau benda-benda berbentuk silindrik dengan lubang di tengahnya. Pipa sebagai alat penghisap tembakau terdiri dari sebuah batang untuk menghisap dan ruang pembakaran yang terletak di bagian ujung batang. Pipa semacam itu disebut juga cangklong.

Pipa dalam pengertian kedua adalah alat untuk menyalurkan benda-benda padat, cair, atau gas melalui lorong yang tidak berhubungan dengan lingkungannya.

Pintu, Komponen bangunan berupa lubang yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk menuju ke ruang-ruang yang dipisahkan oleh pembatas, dapat berupa tembok, dinding, atau pagar.

Pintu memiliki bagian-bagian yang disebut bingkai pintu dan daun pintu. Daun pintu dipasangkan pada bingkai pintu dan berfungsi sebagai penutup lubang pada dinding sekaligus menjadi batas antara bagian dalam dan bagian luar ruangan. Namun, ada pula pintu yang tidak memiliki kedua unsur ini kecuali lubang pada dinding.

Pada bangunan kuno dan tradisional sering ditemukan ambang pintu sebagai tempat kedudukan bingkai pintu. Pada bangunan tradisional yang daun pintunya tidak memiliki engsel, ambang pintu digunakan sebagai kedudukan daun pintu.

Pintu yang tidak memiliki lubang disebut pintu semu, sifatnya hanya sebagai hiasan walaupun memiliki ciri-ciri layaknya sebuah pintu. Pintu berukuran besar yang menjadi bagian dari pagar disebut pintu gerbang. (Lihat: Gapura)

Pin, Alat penjepit terbuat dari logam, kayu, atau bambu berbentuk dua bilah pipih yang menyatu pada salah satu ujungnya. Semacam jarum berhias yang disematkan pada pakaian juga disebut pin. Lihat: Bros dan Perhiasan)

Piktograf, Gambar yang memiliki makna. Susunan piktograf tidak menghasilkan kalimat melainkan cerita. (Lihat: Histogram dan Huruf)

Pigmen, Bahan pewarna berupa bubuk yang terbuat dari hancuran mineral sehingga hampir tidak pernah pudar walaupun terkena pengaruh cuaca dalam jangka waktu lama. (Lihat: Oker)

Piala, Wadah serupa tempat minum berkaki tinggi, pada umumnya terbuat dari logam. Dalam arti sempit piala sering diartikan sebagai benda penghargaan yang dihadiahkan atas dasar suatu pencapaian prestasi, terutama yang berkaitan dengan olahraga.

Piagam, Pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh raja, pemerintah, atau lembaga-lembaga resmi non-pemerintah lainnya. Piagam dapat ditulis pada kayu, bambu, keramik, atau logam. (Lihat: Prasasti)

Petirtaan, Bangunan sejenis kolam atau mata air yang dianggap sakral oleh umat Hindu dan Buddha sebagai tempat pengambilan air suci. (Lihat: Kolam)

Peti Kubur, Peti yang digunakan sebagai tempat menyimpan jenazah manusia. Disebut juga sarkofagus. (Lihat: Bilik batu)

Peti, Wadah terbuat dari kayu, logam, atau batu berukuran relatif besar yang digunakan untuk menyimpan barang. Biasanya berbentuk persegi empat dan mempunyai tutup di bagian atas. (Lihat: Bilik Batu, Kotak, dan Peti Kubur)

Pertapaan, Bangunan, bagian bangunan, ruangan atau formasi alam yang digunakan manusia untuk melakukan meditasi.

Persembahan Kubur, Benda alam atau artefak yang diperuntukkan bagi seseorang yang telah mati dan dikubur sebagai manifestasi hubungan batin dengan kerabat yang masih hidup. Persembahan kubur bisa diberikan berulang kali tanpa batas waktu yang pasti, misalnya bunga atau dupa. (Lihat: Benda Kubur)

Perkakas, Sekelompok alat yang memiliki hubungan fungsional dalam suatu sistem dan harus digunakan secara bersamaan. Misalnya perkakas menulis yang terdiri dari pena, penghapus, dan buku. (Lihat: Alat)

Periuk, Wadah tertutup berbentuk membulat dengan leher mengecil, mulut melebar, dan dasar cembung tidak berkaki. Biasanya terbuat dari tembikar. Periuk berukuran besar yang berdiameter di atas 25 cm biasanya disebut kuali.

Perisai, Alat pertahanan terbuat dari lembaran kayu, rotan atau logam untuk melindungi badan. Berdasarkan komponennya perisai dibagi menjadi dua unsur; yaitu tangkai, yang terletak di bagian belakang sebagai pegangan, dan bidang pelindung yang terletak di bagian muka untuk menahan serangan. Perisai dipergunakan dengan cara digenggam tangan. Nama lain perisai ialah tameng.

Peripih, Wadah batu atau keramik yang ditempatkan di dasar sumuran bangunan candi Hindu atau Budha. Wadah ini dapat berupa kotak atau bejana, di dalamnya tersimpan benda-benda persembahan berupa batu permata, logam mulia, abu, cermin, inskripsi, atau biji-bijian yang ditujukan untuk pemujaan dewa-dewa tertentu. Jumlah lubang pada peripih umumnya ganjil, dari satu s.d sembilan atau bahkan lebih. Peripih berlubang sembilan disebut peripih nawasanga. (Lihat: Candi dan Sumuran)

Perigi, Lubang yang dibuat menembus permukaan tanah hingga lapisan yang mengandung air. Perigi tergolong sumber air artifisial. Nama lain dari perigi adalah sumur. Tepian perigi dapat diperkuat dengan susunan bata seperti lazimnya sebuah bangunan, atau susunan bahan-bahan berbentuk silendrik terbuat dari terrakotta atau semen. (Lihat: Jobongan dan Lubang)

Perhiasan, Benda-benda alam atau artefak yang digunakan untuk meningkatkan kecantikan seseorang atau nilai estetika pakaian. Disebut juga aksesori.

Perekat, Bahan alam atau sintetik yang digunakan untuk melakukan perekatan. Perekat benda sering disebut lem (glue) sedangkan pada bangunan permanen disebut semen (mortar).

Perapian, Tempat pembakaran terbuka yang berada di atas atau sedikit di bawah permukaan tanah. Perapian tidak memiliki dinding tertutup yang dapat menghasilkan panas tinggi seperti halnya tungku. (Lihat: Tungku)

Perahu, Alat transportasi air sejenis sampan tetapi berukuran lebih besar sehingga dapat menampung banyak orang dan barang. Perahu dapat ditemukan baik di sungai, danau, maupun laut dan digerakkan dengan layar, dayung, mesin, atau kombinasi di antaranya. (Lihat: Kapal, Rakit, dan Sampan)

Komponen perahu biasanya dapat terdiri dari:

1. Lunas, batang-batang kayu atau logam yang berada di bagian tengah yang merupakan inti struktur kerangka perahu tempat bersatunya rusuk dan lambung. Lunas pada umumnya dibuat lebih menonjol sehingga memiliki kemampuan untuk membelah air, panjang lunas menentukan pula panjang perahu secara keseluruhan.

2. Rusuk, batang-batang kayu atau logam yang membentuk sisi-sisi perahu. Disebut juga gading-gading

3. Sirip, lembaran kayu atau logam di bagian bawah belakang perahu yang berfungsi sebagai pengarah jalannya perahu

4. Tiang layar, batang kayu atau logam yang berdiri di tengah perahu sebagai tempat menambatkan layar.

5. Layar, tekstil atau tikar yang ditambatkan pada tiang untuk menangkap angin. Terbuat dari tekstil, anyaman kulit kayu atau rotan

6. Dayung, alat pengayuh yang digunakan untuk memberikan daya dorong kepada perahu. Dayung memiliki dua bagian, yaitu penyibak berbentuk melebar dan tangkai yang berfungsi sebagai gagang.

7. Dinding kapal, susunan papan kayu yang membentuk badan kapal. Susunan papan ini disambung menggunakan pasak, paku, sekrup dan baut, atau tali.

8. Tumbuktu, tonjolan pada papan perahu kayu yang digunakan untuk mengikat papan-papan dinding perahu atau antara dinding perahu dengan gading-gading. Hanya ditemukan pada perahu-perahu kuno atau perahu tradisonal yang masih menggunakan sistem kuno.

Perabuan, Bangunan atau permukaan tanah yang berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah, disebut juga krematorium.

Perabot, Sekelompok barang atau alat yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu yang saling berhubungan. Misalnya perabot pertukangan, perabot rumah tangga, perabot dapur, dsb. Disebut juga perlengkapan. (Lihat: Perkakas)

Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Hasil karya manusia berupa benda atau fitur yang berumur 50 tahun atau mewakili langgam yang berumur lebih dari 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Termasuk di dalamnya benda-benda alam yang berkaitan dengannya.Peninggalan sejarah dan purbakala disebut juga sebagai benda cagar budaya.

Peninggalan purbakala masa prasejarah mempunyai sifat anhistorik, artinya tidak dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah tertentu. Pengertian untuk peninggalan historik ialah objek-objek yang dapat dikaitkan atau mempunyai kaitan langsung dengan peristiwa sejarah. Sejarah sendiri bukanlah sekadar masa lalu tetapi lebih daripada itu, yaitu masa lalu yang terekam –baik melalui gambar, tulisan, atau ingatan– dan merupakan sebuah rangkaian peristiwa. (Lihat: Relik)

Penginangan, Sejenis nampan atau bokor yang berfungsi sebagai tempat meletakkan perangkat menyirih. Terdiri dari wadah penyimpan daun sirih, wadah penyimpan kapur, wadah penyimpan pinang, dan wadah-wadah lain yang berhubungan dengan menginang/menyirih. (Lihat: Tempolong)

Penggiling, Perkakas yang digunakan untuk melumatkan atau menghancurkan bahan-bahan tertentu menjadi lembut melalui proses penggilingan. Salah satu atau beberapa bagian dari perkakas ini ada yang dapat bergerak berputar untuk melakukan penggilingan, biasanya berbentuk bulat atau bundar. Bagian lain yang permukaannya datar digunakan sebagai tempat menampung bahan-bahan yang digiling. Penggiling dibuat dari bahan-bahan yang keras seperti logam, kayu, keramik, atau batu.

Pengikat Rambut, Perhiasan atau alat praktis yang berfungsi untuk mengikat rambut, terbuat dari kulit, logam, tekstil, atau bahan asahan.

PENETAK, Alat pemukul dalam industri batu yang digunakan untuk memecah batuan. (Lihat: Martil Batu)

Penatap, Alat pemukul terbuat dari kayu dengan permukaan datar. Dalam industri keramik digunakan bersama pelandas untuk membentuk wadah. Pada umumnya penatap berpenampang pipih dan memiliki tangkai. Penatap yang diberi ukiran menghasilkan permukaan keramik yang berhias. Disebut juga paddle. (Lihat: Pelandas)

Penampil, Bagian bangunan yang menjorok keluar dari dinding. (Lihat: Mihrab)

Pemandian, Bangunan air menyerupai kolam yang dibuat untuk keperluan mandi.

Pemakaman, Sebidang tanah yang dipakai untuk menempatkan sebuah atau lebih makam. (Lihat: Kuburan dan Moseleum)

Peluru, Alat pembunuh yang dilontarkan dengan bantuan mesiu dari senjata api. Peluru dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu yang berselongsong dan tidak berselongsong.Peluru berselongsong adalah jenis peluru yang terpasang pada sebuah wadah berisi mesiu. Mesiu meledak setelah terjadi lontaran api penggalak (fuse) akibat hantaman pemicu senjata api, tekanan yang terjadi di dalam selongsong akan mendorong proyektil (anak peluru) lepas dari selongsong. Peluru tak berselongsong, ialah jenis peluru yang tidak terpasang pada wadah mesiu. Peluru tersebut dimasukkan pada laras senjata yang sebelumnya telah lebih dahulu diisi mesiu dan diledakkan melalui pembakaran langsung. Termasuk dalam jenis ini ialah peluru-peluru senjata angin. Proyektil dapat terbuat dari batu atau logam. Batu hanya digunakan pada senjata api jenis meriam sundut kuno. (Lihat: Mesiu, Projektil, dan Selongsong)

Peluit, Alat bunyi-bunyian tiup dengan nada tunggal berbentuk tabung atau pipa. Peluit memiliki rongga pipih di bagian pangkal yang menghasilkan bunyi nyaring bila ditiup. Tinggi rendahnya nada dipengaruhi oleh ukuran rongga kosong di bagian belakang dan lebar sempitnya ukuran rongga pipih. (Lihat: Suling)

Pelita, Alat penerangan yang menggunakan minyak, lemak hewan, atau getah tumbuh-tumbuhan sebagai sumber energi. Pelita biasanya dibuat berupa wadah dengan satu atau lebih sumbu. Cahaya pelita diperoleh dengan cara membakar sumbu sehingga menghidupkan api sebagai sumber penerangan. (Lihat: Lampu dan Obor)

Pelipit, Unsur permukaan dinding bangunan yang membentuk profil. Susunan pelipit secara vertikal disebut perpelipitan. (Lihat: Dinding dan Profil)

Pelinggih (Bali), Susunan batu atau bangunan yang terdiri dari sebuah alas dan sebuah sandaran mirip kursi, digunakan dalam upacara pemujaan. Pelinggih banyak ditemukan dalam kompleks pura di Bali, baik yang berlatar agama Hindu maupun Buddha. Selain itu pelinggih dalam bentuk sederhana juga ditemukan pada situs-situs prasejarah berupa susunan batu mirip kursi. Disebut juga tahta batu atau stone seat. (Lihat: Kursi)

Pelataran, Bangunan datar mirip lantai dengan batas-batas yang jelas. Pelataran dapat merupakan bagian dari halaman atau bangunan yang khusus dibuat untuk menampung suatu aktivitas. (Lihat: Halaman)

Pelandas, Alat pembentuk wadah keramik yang digunakan bersama penatap. Bentuknya bermacam-macam, ada yang menyerupai cendawan, bulat telur, sampai bulat. Untuk memudahkan perajin kadang-kadang pelandas diberi tangkai agar dapat menjangkau bagian-bagian wadah yang dalam. Pelandas terbuat dari keramik, kayu, atau batu. Disebut juga anvil. (Lihat: Penatap)

Pelana, Tempat duduk tanpa sandaran yang ditempatkan pada punggung binatang tunggangan. Terbuat dari kulit maupun kayu. Pelana dapat dilengkapi dengan sanggurdi sebagai tumpuan kaki. (Lihat: Sanggurdi)

Pedupaan, Perlengkapan upacara berupa wadah untuk membakar dupa. Pembakaran dupa pada jenis pedupaan berupa wadah terbuka bisanya dilakukan langsung di bagian atas wadah. Sedangkan pada jenis wadah yang tertutup, terdapat ruangan khusus yang disediakan untuk pembakaran dupa di mana asap hasil pembakaran akan keluar melalui lubang-lubang yang disediakan pada tutup. (Lihat: Dupa)

Pedang, Senjata genggam sejenis pisau berbilah panjang, ramping, bermata runcing dengan tajaman berada di satu atau kedua belah sisinya. Lebar bilah pedang umumnya sama, kecuali bagian ujung yang meruncing. Bentuknya dapat lurus atau melengkung. Kegunaan utama pedang adalah untuk menebas, memotong, dan menusuk. (Lihat: Pisau, Parang, dan Senjata)

Pecahan, Potongan atau kepingan benda padat yang terlepas dari benda asalnya sebagai akibat dari proses pemisahan.

Patok, Pemancang atau tonggak berukuran kecil yang ditancapkan atau ditanamkan pada tanah.

Pasu, Wadah mirip mangkuk terbuat dari keramik, kayu, atau logam. Pasu bermulut besar dengan bagian dasar rata atau cembung dan tidak berkaki. Pasu yang berdasar rata umumnya memiliki ukuran lingkar mendekati ukuran bagian mulut. (Lihat: Mangkuk)

Pasak, Batang bambu, kayu, atau logam yang digunakan untuk menyambung benda-benda padat seperti halnya paku. Pasak digunakan dengan cara menghujamkannya ke dalam lubang pada salah satu benda hingga menembus benda lain di belakangnya. Pasak tidak memilki bidang datar melebar di bagian pangkal seperti paku dan tidak pula harus meruncing ujungnya. (Lihat: Paku dan Patok)

Parit, Saluran air tanpa tutup yang letaknya lebih rendah dari pada permukaan tanah. Parit yang dibuat mengelilingi suatu bidang tanah atau wilayah disebut parit keliling (moat). (Lihat: Saluran Air)

Parang, Sejenis pisau panjang berbilah lebar, hanya satu sisinya saja yang tajam. Fungsi utama parang dimaksudkan untuk memotong, menebas, dan membelah. (Lihat: Pedang dan Pisau)

Panggung, Bangunan atau lantai yang letaknya lebih tinggi dibandingkan sekitarnya untuk memudahkan orang banyak menyaksikan kegiatan-kegiatan atau orang-orang yang ada di atasnya. Panggung disebut juga pentas. Panggung berukuran kecil untuk berpidato atau memimpin upacara disebut podium. (Lihat: Rumah)

Panil, Bidang datar pada dinding atau tembok yang dibatasi oleh bingkai. Pada bangunan candi, panil sering digunakan sebagai tempat dipahatkannya relief. (Lihat: Bingkai dan Relief)

Pancuran, Bangunan atau unsur bangunan yang berfungsi untuk menyemburkan air dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Sejenis pancuran yang bentuknya mirip makara pada bangunan candi atau kolam air masa Hindu-Budha disebut jaladwara. Adapun jenis pancuran yang mengambil bentuk arca disebut arca pancuran. (Lihat: Air Mancur dan Makara)

Palung, Sejenis lesung terbuat dari batu yang memiliki lubang lonjong memanjang di bagian atas. Palung batu merupakan peninggalan tradisi megalitik. Selain fungsi praktisnya sebagai perkakas untuk menumbuk, palung diduga digunakan pula sebagai tempat menyimpan tulang-tulang manusia. (Lihat: Lesung)

Paleolansekap, Bentang alam atau permukaan lahan (morfologi) kuno hasil bentukan manusia. Teras-teras pada lereng bukit sisa sawah berundak berumur ratusan tahun dapat juga disebut paleolansekap. Demikian pula dengan bentang alam kawasan kota dan desa yang terbentuk sebagai hasil kegiatan manusia membuat jaringan sanitasi, perataan tanah, penimbunan tanah, pemotongan tanah, berikut semua bangunan yang berdiri di atasnya.

Paku, Benda logam berujung runcing dengan bagian pangkal melebar sebagai bidang pukul. Paku digunakan sebagai penyambung dan penahan kedudukan dua atau lebih benda padat dengan cara menghunjamkannya hingga menembus benda-benda yang akan disambung. (Lihat: Pasak)

Pakaian, Tekstil atau kulit hewan yang digunakan untuk menutup tubuh. Pakaian dapat terdiri dari unsur-unsur yang berlainan, misalnya baju, celana, atau sarung. Ikat kepala, topi, atau ikat pinggang tidak termasuk pakaian tetapi asesori karena hanya berfungsi sebagai pelengkap. (Lihat: Perhiasan dan Tekstil)

Pahatan, Benda-benda yang dihasilkan melalui pemahatan. Hasilnya tidak sehalus ukiran karena dibentuk dengan menggunakan alat-alat berukuran relatif besar dengan cara memecah atau menyerpih kayu dan batu yang menjadi bahannya. (Lihat: Ukiran)

Pahat, Alat logam atau batu yang digunakan untuk membentuk benda-benda padat dengan cara menetak, menyerpih, atau memahat. Biasanya pahat berbentuk persegi empat panjang dan memiliki ujung menyempit dengan tajaman yang terjal. Untuk memudahkan pemakaiannya, pangkal pahat biasanya diikatkan atau ditancapkan pada tangkai kayu.

Pagar, Bangunan maupun susunan bahan bangunan yang menjadi batas suatu wilayah. Berdasarkan jenisnya pagar dapat dibedakan atas pagar halaman dan pagar keliling. Pagar halaman ialah pagar yang dibangun pada halaman untuk membedakan ruang-ruang yang ada di bagian dalam menurut fungsinya. Pagar keliling ialah pagar lingkar yang mengelilingi sebidang tanah. Pada candi, fungsi pagar ialah sebagai batas antara daerah sakral (suci) dan profan (tidak suci). Jumlahnya tidak selalu sama, ada yang memiliki satu pagar keliling saja dan ada pula yang lebih. Pagar berbentuk tembok yang letaknya berhadapan dengan dinding bangunan sehingga menghasilkan lorong disebut pagar langkan atau balustrade. (Lihat: Candi)

Rumah, Bangunan tempat tinggal manusia. Dapat bersifat permanen ataupun semi permanen. Sejenis rumah yang berdiri di atas tiang disebut rumah panggung, sedangkan yang dibangun di atas susunan batang kayu atau bambu pada permukaan air disebut rumah apung atau rumah rakit. Nama khusus untuk rumah yang dibuat dengan gaya arsitektur tradisional disebut rumah tradisional. (Lihat: Bangunan)

Ruangan, Bagian bangunan yang dikelilingi dinding atau pembatas lain yang berfungsi sebagai dinding. (Lihat: Bangunan dan Dinding)

Ruang, Sebidang tanah pada permukaan bumi atau unsur bangunan yang dapat dihubungkan dengan aktivitas manusia. (Lihat: Lantai dan Rongga)

Rongga, Lubang pada permukaan benda, bangunan, atau formasi alam berukuran tidak terlalu besar.

Roda Pemutar, Alat bantu dalam proses pembuatan keramik. Roda pemutar terdiri dari dua bagian utama yaitu cakram (disc) yang berbentuk bulat pipih dan datar tempat diletakkannya tanah liat, dan poros (pivot) yang terletak di tengah-tengah cakram. Cakram berputar pada poros sehingga menghasilkan gerak sentrifugal yang memudahkan perajin memperoleh bentuk membulat teratur, disebut juga pelarikan. (Lihat: Roda)

Roda, Benda berbentuk bundar melingkar pada kendaraan yang digunakan untuk memudahkan pergerakan. Dijumpai antara lain pada sepeda, mobil,truk, atau pesawat terbang. Roda berputar pada sebuah poros yang tetap kedudukannya. Nama lain roda adalah jentera.

Revolver, Senjata api genggam dengan tempat peluru berbentuk silinder yang dapat berputar. (Lihat: Pistol dan Senapan)

Reruntuhan, Sisa-sisa bangunan atau formasi alam yang runtuh dan terurai hingga kehilangan bentuk aslinya.

Replika, Benda atau bangunan tiruan, berukuran sama, lebih kecil atau lebih besar dari pada model yang ditiru. (Lihat: Miniatur)

Relung, Rongga pada dinding bangunan yang menjorok ke dalam.

Relik, Semua peninggalan purbakala yang berupa benda atau bangunan. (Lihat: Artefak dan Fitur)

Relief, Bentuk manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, simbol, atau gabungan dari unsur-unsur ini yang diukirkan atau dipahatkan pada bidang datar.

Rakit, Alat transportasi air terbuat dari batang-batang pohon atau bambu yang diikat menjadi satu. Rakit tidak memiliki dayung, bergerak mengandalkan arus air dan tenaga dorong manusia dengan bantuan galah panjang yang menyentuh dasar sungai atau danau. Rakit tidak pernah dijumpai di laut. (Lihat: Sampan, Perahu, dan Kapal)

Rahat, Alat pemintal benang berbentuk roda yang dapat diputar dengan tangan. Roda ini memiliki bagian melintang yang agak lebar dan cekung tempat benang hasil pintalan digulung, disebut juga roda pemintal. (Lihat: Ulir)

Susuk, Benda logam atau organik yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia sebagai jimat. Bentuk susuk bisa bermacam-macam, diantaranya ada yang mirip jarum, batang logam berujung tajam, atau bentuk-bentuk khusus seperti bentuk bunga, ular, dan mata.

Sumuran, Lubang vertikal di tengah ruang utama bangunan induk candi Hindu. Sumuran terletak di bawah yoni, digunakan sebagai tempat penyimpanan peripih. (Lihat: Candi, Peripih, dan Yoni)

Sumpit, Dalam perbendaharaan bahasa Indonesia sumpit memiliki dua arti, yaitu senjata tiup berlaras panjang dan alat makan. Sumpit (blowpipe) sebagai senjata berbentuk pipa, digunakan dengan cara meniupnya. Kadang-kadang dilengkapi dengan mata tombak di ujungnya. Proyektil sumpit disebut anak sumpit, berupa bilah runcing mirip jarum, terpasang pada sebuah benda ringan berbentuk melingkar yang berfungsi seperti sirip pada anak panah.

Sumpit (chopstick) pada pengertian kedua adalah alat makan berupa tangkai kayu atau bambu pendek yang dipakai sebagai penjepit. Alat makan ini berasal dari Asia Timur. (Lihat: Panah dan Proyektil)

Suling, Alat bunyi-bunyian tiup berupa pipa. Suling berbentuk memanjang dengan sejumlah lubang pada permukaannya. Nada yang dihasilkan oleh suling diatur melalui mekanisme buka tutup lubang-lubang ini dengan jari tangan, sedangkan peniupan dilakukan pada salah satu bagian pangkal yang ujungnya tertutup. (Lihat: Peluit)

Sudip, alat cungkil dan tusuk terbuat dari kayu, bambu, atau tulang yang dipangkas tipis dan meruncing.

Stupika, Replika stupa berukuran kecil. Biasanya terbuat dari tanah yang tidak dibakar dan memiliki sebuah atau lebih tablet berisi mantra agama Buddha atau naskah di bagian dalamnya.
(Lihat: Tablet)

Stupa, Bangunan atau bagian dari bangunan suci agama Buddha. Stupa terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian dasar yang berbentuk membulat disebut anda, bagian tengah yang disebut yasti, sedang pagar yang mengelilinginya disebut harmika, dan bagian puncak yang berupa payung disebut chatra. Stupa adalah perlambang-an dari tempat penyimpanan abu jenazah Buddha Ghautama. (Lihat: Stupika)

Struktur, Susunan yang berpola, lazim dihubungkan dengan bangunan. Berdasarkan letaknya struktur dapat dibedakan menjadi dua yaitu struktur bawah dan struktur atas. Struktur bawah adalah bagian bangunan yang berada di bawah garis permukaan tanah, seperti pondasi atau ruang di bawah tanah, sedangkan struktur atas adalah bagian bangunan yang berada di atas garis permukaan tanah, seperti atap atau tiang-tiang penyangga bangunan. (Lihat: Pondasi)

Stempel, Alat cetak berukuran kecil yang memiliki tangkai. Digunakan pada persuratan atau pembuatan dokumen resmi. (Lihat: Cetakan)

Stambha (Skt.), Tiang batu mirip tugu asal masa Klasik yang bukan bagian dari bangunan. Fungsinya untuk memperingati suatu peristiwa mirip monumen. (Lihat: Monumen dan Tiang)

Songket, Tekstil tradisional yang pola hiasnya dibuat pada saat benang-benangnya ditenun. Kain songket banyak menggunakan benang emas atau yang sejenis sebagai hiasan. (Lihat: Ikat dan Tekstil)

Slip (Ing.), Lapisan berwarna yang dioleskan pada keramik. Slip terbuat dari campuran oker dan tanah liat berwarna. Sering dijumpai pada tembikar sebagai unsur penghias sekaligus sebagai pelapis untuk menghasilkan efek kedap air. Sejenis slip yang terbuat dari bubuk mineral disebut pigmen. Baik slip maupun pigmen dapat dioleskan pada keramik sebelum atau sesudah pembakaran. (Lihat: Oker dan Pigmen)

Skeuomorph (Ing.), Artefak atau bagian dari artefak yang merupakan tiruan dari artefak lain yang bersifat fungsional. Misalnya replika keranjang bambu yang terbuat dari keramik. (Lihat: Replika)

Situs, Sebidang tanah di permukaan bumi yang mengandung atau diduga mengandung tinggalan purbakala.

Sirap, Genteng kayu atau bambu yang dibelah tipis dalam bentuk lembaran. Sirap terbuat dari bahan kayu atau bambu keras yang tahan lapuk dan tahan gangguan serangga. (Lihat: Genteng)

Siluet, Rona pada permukaan tanah yang berpola dan merupakan sisa dari benda-benda organik yang membusuk sehingga masih dapat diketahui bentuknya tetapi tidak mungkin diangkat dari lingkungannya. Siluet dapat diamati dari perbedaan warna pada tanah. (Lihat: Fitur)

Serpih, Alat yang dibuat dari hasil penyerpihan batu inti. Umumnya berbentuk pipih dan memiliki tajaman pada salah satu atau kedua belah sisinya, khususnya alat yang termasuk kelompok serut (scrapper) atau pemotong. Alat-alat bor (hand drill) tidak memiliki tajaman melainkan runcingan di bagian ujungnya.

Nama lain untuk alat serpih adalah flakes, sedangkan alat serpih yang memanjang dan kedua sisi sampingnya sejajar disebut bilah (blades). Serpih dibuat dengan cara menekan atau menetak batu inti secara langsung dengan menggunakan batu martil atau alat tulang. (Lihat: Batu Inti)

Serbuk, Butiran halus atau partikel benda yang terurai namun masih membawa sifat-sifat aslinya, misalnya serbuk kayu. (Lihat: Abu)

Serat, Bagian tumbuh-tumbuhan atau sintetik berupa serabut mirip benang. (Lihat: Benang)

Serambi, Bagian bangunan berupa pelataran yang tidak dikelilingi oleh dinding. Serambi sering ditemukan pada bagian muka bangunan yang berhubungan langsung dengan pintu masuk. Namun, ada pula bangunan yang memiliki serambi lebih dari satu, misalnya mesjid yang memiliki tiga serambi di kiri-kanan dan bagian mukanya. Disebut juga beranda atau teras. (Lihat: Masjid)

Senjata, Benda-benda alam atau artefak yang digunakan oleh manusia untuk melukai atau membunuh (arm). Senjata ada yang dapat dipakai secara tunggal tanpa harus didukung oleh alat-alat lain seperti pisau, pedang, celurit, atau tombak. Namun demikian ada yang harus digunakan dalam satu sistem seperti busur panah dengan anak panah atau pistol dengan peluru.

Khusus untuk senjata api dikenal dua pembagian yaitu senjata ringan dan senjata berat. Senjata ringan adalah senjata api berukuran kecil dan berkaliber kecil. Senapan dan pistol termasuk kelompok ini. Adapun senjata berat adalah senjata yang selain ukurannya besar dan berat kalibernya pun besar, seperti meriam, howitzer, dan mortir.

Dari cara menggunakannya senjata dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain senjata api (pistol, meriam), senjata lontar (panah, ketepel); senjata tiup (sumpit), senjata lecut (cambuk), senjata ayun (gada), senjata tusuk (keris, tombak), dsb.

Masih ada istilah khusus untuk mengelompokkan senjata, misalnya senjata tumpul dan senjata tajam, yaitu senjata yang berujung runcing atau tajam. Ada juga pengelompokkan berdasarkan cara membawanya, misalnya senjata genggam atau senjata panggul. Khusus untuk senjata api ringan dikenal pula istilah senjata laras pendek, yaitu semua senjata yang larasnya pendek seperti pistol atau revolver, dan senjata laras panjang seperti senapan yang memiliki ukuran laras relatif panjang. Panjang pendeknya ukuran laras berpengaruh pada jangkauan peluru mencapai sasaran.

Sendok, Alat makan bertangkai dengan ujung yang melebar dan cekung.

Senapan, Jenis senjata api laras panjang, dibawa dengan cara menggantungkannya pada bahu. (Lihat: Pistol, Revolver, dan Senjata)

Selongsong, Benda-benda pembungkus benda lain yang biasanya berbentuk silindrik. (Lihat: Peluru)

Selendang, Unsur pelengkap pakaian berupa tekstil panjang yang disampirkan pada bahu atau dipakai melingkari pinggang (sampur). Selendang aksesori. (Lihat: Perhiasan dan Pakaian)

Selasar, Serambi atau beranda dari suatu bangunan (candi atau masjid), atau bagian balai yang terendah (Lihat: Alas, Masjid, dan Serambi )

Sarung, Unsur pakaian penutup panggul dan kaki yang dilibatkan pada pinggang. Pada umumnya terbuat dari tekstil. Sarung juga berarti benda-benda yang dibuat sebagai penutup benda lain. Sarung dalam pengertian kedua terbuat dari tekstil, logam, kayu, bambu, atau tulang. Contoh: sarung keris dan sarung pedang. (Lihat: Pakaian dan Selongsong)

Sanggurdi, Pijakan kaki terbuat dari besi yang menggantung pada kanan kiri pelana dan berfungsi sebagai pengatur keseimbangan badan penunggang kuda. (Lihat: Pelana dan Taji)

Sandal, Alas kaki sejenis terompah tanpa penutup kecuali sejumlah tali yang berfungsi sebagai penahan. (Lihat: Alas Kaki)

Sampan, Alat transportasi air terbuat dari kayu yang digerakkan dengan bantuan dayung. Sampan ada yang memiliki rongga atas dan ada pula yang tidak, biasanya diawaki oleh satu atau dua orang dengan menggunakan dayung. Sampan ditemukan baik di lingkungan perairan sungai, danau, atau laut. (Lihat: Kapal).

Dilihat dari cara pembuatannya, sampan terbagi atas beberapa jenis.

1. Tipe Lesung (dugout cannoe), jenis sampan yang dibuat dengan cara melubangi sebuah batang kayu utuh pada bagian atasnya.

2. Tipe Papan (plank cannoe), yaitu sampan yang dibuat dengan cara menggabungkan sejumlah papan pada lunas untuk menghasilkan rongga bagian atas.

3. Tipe Kayak, terbuat dari kulit hewan atau tekstil yang dilibatkan pada kerangka kayu berlunas. Tipe ini tidak pernah dijumpai di Indonesia

Sampah, Benda-benda atau barang-barang hasil kegiatan manusia yang dibuang. Berdasarkan jenis bahannya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik (tanaman, hewan) dan anorganik (kimia, batuan, logam). Berdasarkan sifatnya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah padat, sampah cair, atau gas. (Lihat: Debitase dan Limbah)

Menurut sumbernya sampah dapat dibedakan menjadi sampah rumah tangga dan sampah industri. Sampah rumah tangga ialah segala jenis sampah yang dihasilkan oleh aktivitas rumah tangga seperti sisa makanan, pakaian bekas, atau sisa perabot rumah tangga. Sampah dapur merupakan bagian dari sampah rumah tangga yang terakumulasi sebagai akibat dari kegiatan memasak. Sampah ini banyak mengandung sisa makanan atau bahan makanan, atau perkakas yang ada hubungannya dengan masak-memasak. (Lihat: Bukit Kerang)

Saluran Air, Bangunan atau unsur bangunan yang berfungsi sebagai mengaliranya air. Dapat berupa parit, pipa, atau bentuk-bentuk lain yang berhubungan dengan sanitasi. (Lihat: Parit dan Pipa)

Salib, Benda, bangunan, unsur bangunan, gambar atau relief yang mengambil bentuk papan bersilang dengan bagian vertikal lebih panjang dibandingkan dengan yang horizontal. Salib sebagai lambang dihubungkan dengan agama Kristen. (Lihat: Gereja)

Tuyer (Ing.), Corong saluran angin yang ditempatkan pada tungku atau perapian dalam industri logam. Tuyer dihubungkan dengan pipa-pipa yang berpangkal pada alat penghembus angin atau ubub. (Lihat: Ubub)

Tureen (Ing.), Wadah keramik berbentuk mangkuk besar lonjong berkaki tinggi dan mempunyai tutup. Tureen dipakai untuk menyimpan sup pada perjamuan makan. Tureen mempunyai dua buah tangkai masing-masing pada sisi panjangnya. Pada bagian bawah tutup ditambahkan sebuah lubang kecil untuk menempatkan tangkai sendok yang dimasukkan ke dalam wadah. Kadang-kadang tureen disebut juga basi sop. (Lihat: Mangkuk)

Turap, Struktur penguat dinding bangunan tanah atau formasi alam yang dibuat untuk menghindari kemungkinan terjadinya proses pengikisan atau longsor. Turap dapat terbuat dari kayu, campuran kayu dan tanah, atau campuran batu, besi beton, semen, dan pasir. (Lihat: Tanggul)

Tungku, Tempat pembakaran berdinding sehingga mampu menghimpun panas tinggi. Biasanya tungku berukuran besar dan memiliki ruang berdinding tinggi; ada yang dilengkapi dengan atap dan cerobong untuk mengalirkan asap dan udara panas ke luar. Tungku bersifat permanen sehingga tidak dapat dipindahkan dari lingkungannya tanpa menyebabkan berubahnya bentuk. Disebut juga tanur. (Lihat: Cerobong, Kompor, dan Perapian)

Tumulus, Gundukan tanah buatan yang membukit. Ditemukan pada masyarakat tradisi megalitik. Sebuah tumulus bisa memiliki ruangan maupun tidak dan bisa berisi satu atau lebih jenazah,. (Lihat: Menapo)

Tulisan, Himpunan huruf yang membentuk kata atau kalimat. (Lihat: Huruf dan Kata)

Tugu, Bangunan yang dibuat untuk memperingati suatu peristiwa atau tokoh. Tugu dapat disebut monumen bila dikaitkan dengan peristiwa atau tokoh sejarah. Tugu yang bukan monumen ialah yang pendiriannya tidak dilatari oleh alasan-alasan kesejarahan, kecuali sebagai tanda atau hiasan. (Lihat: Menara dan Monumen)

Topi, Penutup kepala dengan bentuk yang permanen. Topi dapat dipakai dan dilepaskan tanpa kehilangan bentuknya.
(Lihat: Ikat)

Topeng, Penutup wajah yang menggambarkan wajah manusia atau hewan dalam ekspresi tertentu. Topeng dapat terbuat dari kayu, logam, tekstil, atau keramik dan memiliki lubang di bagian mata untuk melihat. Topeng pada umumnya bersifat tetap, yaitu bentuknya tidak mengalami perubahan saat dipakai. Kedok adalah topeng yang terbuat dari tekstil atau kulit yang tidak memiliki bentuk tetap. Kedok dapat berubah bentuk menurut struktur wajah orang yang memakainya. Baik topeng maupun kedok digunakan untuk menyembunyikan wajah atau untuk memberikan kesan lain bagi orang yang melihatnya.

Tongkat, Batang kayu, bambu, atau logam berbentuk memanjang dan ringan yang dapat digenggam tangan. Tongkat sering digunakan sebagai alat bantu untuk berjalan, guna menyangga berat badan penggunanya.

Tong, Wadah berukuran besar berbentuk silindrik dengan mulut lebar. Tong dapat terbuat dari kayu, keramik, atau logam dan pada umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan atau penampungan air.

Timbangan, Alat pengukur berat; memiliki skala pengukur yang dinyatakan dalam angka, garis-garis, dan penunjuk keseimbangan untuk mengetahui benda yang memiliki nilai berat sama; disebut juga neraca. Berdasarkan jenisnya, timbangan dapat dibedakan atas neraca dengan pegas dan neraca dengan anak timbangan. Nilai berat pada neraca dengan pegas dinyatakan melalui jarum penunjuk skala, sedangkan pada neraca dengan anak timbangan dinyatakan melalui persamaan berat benda-benda yang ditimbang dengan anak timbangan.

Tikar, Penutup lantai yang terbuat dari anyaman serat, daun, lembaran bambu atau kayu yang dipotong tipis. (Lihat: Anyaman, Karpet, dan Tekstil)

Tiang, Komponen bangunan terbuat dari kayu, dan batu atau struktur yang berfungsi sebagai penyangga. Tiang pada umumnya didirikan tegak lurus. Untuk menjaga agar tiang tidak mengalami kemelesakan, sebuah umpak dapat diletakkan di bawahnya. Hiasan di bagian puncak yang sering berukuran lebih besar daripada tiangnya disebut mahkota tiang atau kapital.

Tiang disebut juga pilar, khususnya tiang-tiang pada bangunan rumah atau gedung yang berukuran besar, sedangkan pilaster adalah tiang semu pada bangunan yang berfungsi sebagi unsur dekorasi. (Lihat: Umpak)

Terowongan, Bangunan berbentuk lubang yang menembus formasi alam atau bangunan. Terowongan dapat dibuat vertikal maupun horizontal, berfungsi sebagai jalan atau saluran. Sejenis terowongan yang khusus digunakan untuk menyalurkan air disebut gorong-gorong. (Lihat: Gua Alam dan Pipa)

Teropong, Alat bantu untuk melihat objek berjarak jauh. Melalui teropong, jarak pandang orang yang menggunakan dengan objek yang dilihat dapat diperpendek sehingga tampak dekat. Teropong berbentuk tabung dengan beberapa lensa cembung dan cekung di dalamnya. Oleh karena ituteropong termasuk alat optik.

Terali, Batang kayu atau logam yang disusun secara vertikal, horizontal atau keduanya dalam jarak tertentu. Terali berfungsi sebagai penghalang pintu, lubang angin atau jendela; disebut juga jeruji.

Terak, Limbah industri yang sering ditemukan pada situs peleburan logam atau kaca. Terak dapat digolongkan sebagai residu atau limbah, wujudnya berupa gumpalan logam atau kaca berkualitas rendah karena tercampur bahan-bahan lain yang sukar dipisahkan.

Terak kaca terjadi sebagai akibat penggumpalan mineral silika, potas, dan soda dalam proses peleburan logam, atau melelehnya mineral-mineral tersebut dari bahan wadah pelebur akibat panas yang tinggi.Terak disebut juga slag. (Lihat: Limbah dan Wadah Pelebur)

Tengkorak, Bagian dari kerangka manusia atau hewan yang mewakili struktur kepala. (Lihat: Kerangka)

Tempolong, Wadah keramik atau logam penampung air ludah. Badan wadah berbentuk membulat dan berleher tinggi dengan mulut melebar menyerupai terompet. Nama lain dari tempolong adalah paidon, peridon, atau peludahan.

Tempayan, Wadah bermulut besar, badan cembung, dan dasar rata tak berkaki. Ukuran mulut lebih besar dibandingkan dengan ukuran dasar sehingga mengesankan kemampuannya untuk menyimpan benda cair atau padat dalam jumlah banyak. Tempayan rata-rata memiliki tinggi lebih dari 50 sentimeter.

Tempat Tidur, Mebel yang digunakan untuk berbaring atau tidur, terbuat dari kayu, bambu, atau logam. Tempat tidur sering dilengkapi dengan kasur. (Lihat: Mebel)

Tempat Duduk, Mebel yang digunakan sebagai tempat untuk duduk. Biasanya tempat duduk memiliki permukaan datar, dapat dilengkapi dengan sandaran ataupun tidak. Kursi dan bangku termasuk kelompok tempat duduk. (Lihat: Bangku, Mebel, dan Kursi)

Tembok, Bangunan sejenis dinding yang bukan bagian dari gedung atau rumah. Tembok berfungsi sebagai pembatas atau pagar. (Lihat: Dinding dan Pagar)

Tekstil, Bahan tenun atau rajut terbuat dari anyaman benang atau serat. Kulit kayu yang dihaluskan dan digunakan sebagai pakaian dapat disebut tekstil, sedangkan kulit binatang tidak dapat disebut sebagai tekstil. Tekstil yang terbuat dari benang atau serat disebut kain. (Lihat: Benang dan Serat)

Teko, Wadah keramik bercorot mirip kendi. Bentuk badannya membulat, bermulut lebar, dan berkaki rendah. Teko memiliki tangkai yang melingkar mulai dari bahu dan berakhir dekat dasar. Corotnya ditempatkan pada bagian badan dan mulutnya dilengkapi tutup.
Berdasarkan bentuknya teko dibedakan atas: (a) teko teh dan (b) teko kopi. Teko teh memiliki perawakan pendek dan cenderung tambun/gemuk dengan leher pendek. Teko kopi berperawakan lebih tinggi, lehernya memanjang , dan badan bagian bawah yang berada dekat kaki menggelembung. (Lihat: Ewer dan Kendi)

Tatakan Lilin, Tempat menempatkan lilin berupa mangkuk kecil yang ditempatkan di atas piringan atau dibuat dengan kaki-kaki yang tinggi. (Lihat: Pelita)

Tasbih, Benda berupa untaian manik-manik dalam jumlah tertentu yang digunakan sebagai perlengkapan keagamaan. Tasbih dapat digunakan sebagai kalung dan dijumpai antara lain pada tradisi agama Islam, Katholik, Yahudi, Hindu, dan Buddha. (Lihat: Manik-manik)

Tapal Kuda, Sepatu kuda atau ladam kuda terbuat dari besi pipih yang melengkung dan dipakukan pada kuku kuda untuk mencegah pecahnya atau terkikisnya kuku. Pada bagian tengah luar lengkung biasanya ditambahkan tonjolan untuk menjaga agar tapal kuda tersebut tidak mudah goyah bila menerima tekanan dari arah muka.

Tankard (Ing.), Gelas berukuran besar terbuat dari keramik atau logam yang dilengkapi dengan tangkai dan tutup. Tutup tersebut menyatu dengan bagian atas tangkai dan dapat terbuat dari bahan yang berlainan. (Lihat: Gelas)

Tanggul, Bangunan tanah, batu, atau beton yang dibuat memanjang mengikuti tepi sungai atau saluran. Permukaan tanggul berada lebih tinggi dari permukaan air dan permukaan tanah di sekitarnya. (Lihat: Benteng, Turab, dan Waduk)

Tangga, Komponen bangunan atau alat yang digunakan untuk mencapai tempat yang letaknya lebih tinggi. Tangga pada bangunan biasanya terdiri dari anak tangga dan pipi tangga, sedangkan tangga sebagai alat pemanjat hanya terdiri dari batang tangga dan anak tangga.

Anak tangga adalah bagian yang digunakan sebagai tempat berpijak maka disusun meninggi ke atas. Pipi tangga adalah komponen tangga berupa dinding tegak di samping kiri-kanan anak tangga. Tangkai yang berfungsi seperti pipi tangga dan digunakan sebagai sarana pembantu keseimbangan disebut pegangan tangga.

Tandu, Alat transportasi berupa dipan atau tempat duduk yang dipanggul oleh manusia. Tandu tidak memiliki roda kecuali batang-batang kayu mendatar sebagai penyangga. (Lihat: Kereta)

Tanah Perkerasan, Lapisan tanah yang dibuat dengan mencampurkan berbagai macam bahan ke dalam lapisan asli untuk memperoleh daya dukung dan kekerasan yang lebih baik. Tanah pengerasan sering ditemukan dalam konteks bangunan, khususnya pada lantai atau pondasi. (Lihat: Bangunan dan Pondasi)

Tamsir, Baju pelindung badan dari serangan senjata tajam, khususnya bagian dada dan punggung. Tamsir dapat terbuat dari logam, kulit, atau anyaman benda organik. (Lihat: Baju)

Tambur, Alat bunyi-bunyian terbuat dari logam, bambu, atau kayu berbentuk silindrik, dengan satu atau kedua ujungnya tertutup membran sebagai bidang pukul. Tambur dapat dikelompokkan menurut jenisnya menjadi gendang, rebana, dan genderang.

Gendang memiliki badan memanjang dengan salah satu atau kedua ujungnya tertutup membran; ditabuh dengan tangan atau dengan bantuan tongkat pemukul, pada umumnya digunakan dalam posisi terbaring. Sejenis gendang yang berukuran besar disebut bedug. Tambur besar ini dapat ditemukan pada mssjid.
Kelenteng memiliki tambur serupa, tetapi tidak pernah disebut bedug.

Semua tambur jenis rebana hanya memiliki satu bidang pukul, badannya berbentuk lingkaran, dan digunakan dalam posisi tegak. Oleh karena ukurannya relatif kecil, rebana dapat dipegang dengan tangan, atau diletakkan di atas pangkuan dengan cara memeluknya.

Tambur jenis genderang hampir selalu diletakkan dalam posisi berdiri. Badannya dibuat meninggi dengan satu atau kedua ujungnya tertutup membran. Genderang, seperti juga gendang, ditabuh dengan menggunakan tangan maupun tongkat pemukul. Sejenis genderang logam kuno yang terbuat dari perunggu disebut nekara. (Lihat: Nekara)

Tali, Pilinan serat atau dawai yang kuat dan lentur untuk mengikat. Nama lainnya tambang. (Lihat: Dawai)

Taji, Alat penusuk yang dikaitkan pada bagian belakang sepatu penunggang kuda. Biasanya terbuat dari logam dengan pengikat terbuat dari kulit.

Bagian yang keras dan meruncing pada kaki ayam jantan juga disebut taji atau jalu. (Lihat: Pelana dan Sanggurdi)

Tabung, Wadah berbentuk silindrik atau bersegi memanjang menyerupai pipa tetapi hanya memiliki satu mulut. Tabung yang terbuat dari bambu disebut bumbung. (Lihat: Pipa)

Tablet, Lempengan tanah atau logam berukuran kecil yang sering ditemukan tersimpan di dalam stupika. Bentuknya bulat dan memiliki inskripsi pada salah satu permukaannya. (Lihat: Stupika)

Umpak, Landasan penyangga tiang bangunan terbuat dari batu atau susunan bata. (Lihat: Tiang)

Ukiran, Benda-benda yang dihasilkan dengan cara mengukir. Pada umumnya ukiran memiliki penampilan halus karena dikerjakan secara hati-hati dengan menggunakan alat-alat berukuran kecil, walaupun di awal proses pengerjaan dipergunakan pula pemahatan untuk memperoleh model dari bentuk yang diinginkan. (Lihat: Pahatan dan Relief).

Ulir, Alat pemintal benang terbuat dari kayu atau logam berbentuk silindrik. Ulir memiliki tangkai yang panjang yang digunakan sebagai gagang saat memintal benang. (Lihat: Benang dan Rahat).

Ubub, Alat penghembus udara pada tungku pembakaran industri logam tradisional. Dapat dibedakan menjadi ubub tabung dan ubub kantongan.

Hembusan udara pada ubub tabung dihasilkan melalui pemompaan secara simultan dengan cara menaik-turunkan piston yang dihubungkan dengan batang-batang kayu. Pada ubub kantongan, udara dihasilkan dengan cara mengembang-kempiskan kantong udara yang terbuat dari kulit hewan dan diikatkan pada sebuah batang kayu sebagai tangkai. Ubub disebut juga ububan, puputan, atau pelambusan. (Lihat: Tuyer)

Ubin, Unsur bangunan penutup lantai. Ubin terbuat dari keramik, kayu, atau batu. Susunan ubin yang membentuk permukaan datar disebut lantai. (Lihat: Lantai)

Uang, Benda alam atau artefak yang berfungsi sebagai alat pembayaran dalam kehidupan ekonomi. Nilai uang dapat ditentukan oleh berat dan jenis bahan yang dipakai (intrinsik) atau oleh satuan angka yang tercantum padanya (nominal). Pada uang biasanya terdapat angka tahun, nama negara, raja atau kerajaan yang mengeluarkannya, lambang-lambang dan gambar-gambar yang berhubungan dengan negara, kerajaan atau raja-raja di zamannya. Uang yang tidak memiliki inskripsi disebut anepigraphic.

Menurut bahannya, uang dapat dibedakan atas uang batu, uang kertas, dan uang logam. Uang batu jarang ditemukan di Indonesia, tetapi banyak digunakan oleh masyarakat di kepulauan Pasifik. Bentuknya bulat, berukuran besar, dengan atau tanpa lubang di tengahnya. Uang ini terutama muncul dan digunakan oleh masyarakat berlatar tradisi megalitik.

Uang kertas pada umumnya berbentuk segi empat dan merupakan hasil pencetakan (print).

Di antara ketiga jenis uang itu, uang logam paling banyak variasinya. Bahan yang digunakan dapat berupa emas, perak, tembaga, perunggu, kuningan, timah, atau campuran dari bahan-bahan itu.

Menurut jenis rupa, uang logam dapat dibedakan menurut jenisnya menjadi koin, uang ‘jagung’, uang ‘ma’, ingot, dan bonk. Koin, berbentuk pipih melingkar, segitiga s.d. segi delapan. Ada yang mempunyai anulet, lubang bulat atau persegi di tengahnya dan ada pula yang tidak. Nama khusus untuk koin dengan anulet ialah kepeng atau gobok. Koin biasanya dibuat dengan teknik tempa (strike), cetak (cast), tekan (press), atau gabungan ketiganya. Pada koin tercantum nilai nominal, tahun pengeluaran, nama atau simbol negara, raja, atau kerajaan yang mengeluarkannya. Koin yang hanya memiliki satu muka berhias disebut uniface. Tempat atau perusahaan pembuat koin disebut mint, tanda khusus yang menandainya disebut mint mark.

Uang ma hanya ditemukan di Jawa, khusus pada abad VII s.d. XIV Masehi. Bentuknya membundar mirip koin, cekung, tanpa lubang, dan relatif kecil ukurannya. Disebut uang ma karena pada bagian cekungnya terdapat huruf Jawa Kuno berbunyi ma. Nama lain untuk uang ma ialah uang bunga cendana (sandalwood flower coin), karena sering ditemukan jenis uang ma yang pada bagian cekungnya tidak tercetak huruf tetapi bunga berkelopak empat mirip bunga pohon cendana, khususnya yang berasal dari sekitar abad XIII Masehi. Biasanya uang ma terbuat dari bahan emas atau perak dan tidak dicantumi nilai nominalnya.

Uang jagung umumnya terbuat dari emas atau perak walaupun kadang-kadang ditemukan yang terbuat dari bahan perunggu. Uang ini diberi nama demikian karena bentuknya mirip bulir jagung, yaitu mendekati bundar dengan cekungan rendah pada salah satu sisinya. Di Asia Tenggara jenis uang ini dikenal pula dengan nama uang piloncito yang diambil dari nama seorang peneliti numismatik Pilipina. Seperti juga uang ma, pada uang jagung tidak tertera nilai nominalnya. Uang ini diduga digunakan sejak abad VII s.d. XVII di Jawa dan Sumatera.

Bonk, bentuknya berupa potongan-potongan logam dalam ukuran dan berat tertentu tanpa keterangan nilai nominal dan tahun pengeluarannya, kecuali nama atau simbol yang erat hubungannya dengan negara, raja atau kerajaan yang mengeluarkan. Nilai bonk ditentukan oleh berat dan jenis logam yang digunakan, semakin berat dan semakin mahal jenis logamnya maka semakin tinggi nilai tukarnya.

Ingot berbentuk bongkahan. Kondisinya sama dengan bonk kecuali bentuknya yang kadang-kadang tidak sama karena berat dan jenis logamnya yang dipentingkan.

Vas, Wadah terbuat dari keramik atau kayu tempat meletakkan bunga yang berfungsi sebagai hiasan rumah. Vas memiliki badan yang tinggi dan ramping mirip botol, berkaki rendah dengan mulut melebar, kadang-kadang memiliki leher panjang. Perbedaannya dengan botol terletak pada diameter leher yang lebih besar (Lihat: Botol dan Jambangan)

Ventilasi, Lubang pada dinding mirip jendela yang tidak memiliki penutup. Ventilasi berukuran kecil dan diletakkan pada bagian atas dinding; disebut juga angin-angin. (Lihat: Jendela)

Wadah, Benda berongga tempat menampung atau menyimpan sesuatu. Kendi, guci, cepuk, botol, nampan, atau mangkuk dapat dikelompokkan sebagai wadah. Menurut bagiannya wadah dapat diuraikan atas tutup, mulut, bibir, tepian, leher, bahu, corot, badan, cuping, pegangan, karinasi, cordon, dasar, dan kaki.

Berdasarkan posisi mulutnya, wadah dapat dibedakan atas wadah terbuka bila ukuran mulut lebih besar dari dasar, wadah tertutup bila mulut lebih kecil dari dasar, dan wadah tegak bila ukuran mulut sama atau mendekati sama dengan ukuran dasar.

Wadah Pelebur, Wadah yang dipakai dalam peleburan logam; berbentuk silindrik menyerupai gelas atau mangkuk dengan bagian dasar cembung. Pada salah satu sisi tepiannya sering dijumpai saluran terbuka tempat menuangkan cairan. Akibat pembakaran suhu tinggi, pada bagian luar wadah sering ditemukan konsentrasi lapisan mirip kaca yang berasal dari lelehan mineral bahan wadah, juga terak-terak logam dari jenis logam yang dicairkan. Pada wadah pelebur yang apinya disemprotkan dari atas, keadaan semacam ini hanya dapat ditemukan pada permukaan dasarnya bagian dalam; disebut juga kowi, musa, atau tambingka. (Lihat: Terak)

Waduk, Bangunan air berupa kolam besar yang terjadi akibat pembendungan sungai atau sumber air lainnya. (Lihat: Bendungan dan Kolam)

Wajra, Alat upacara terbuat dari logam, bertangkai pendek dengan salah satu atau kedua ujungnya memiliki hiasan menyerupai kelopak bunga meruncing berhelai tiga atau lebih. Wajra melambangkan kilat dan hanya digunakan oleh penganut agama Buddha aliran Mahayana. Wajra bisa dikombinasikan dengan bentuk-bentuk lain, misalnya dengan genta kecil bergagang pendek. Wajra disebut juga bajra. (Lihat: Genta)

Waruga, Sejenis peti kubur yang ditanam dalam posisi tegak. Bentuknya menyerupai kotak dengan tutup berbentuk limas. Waruga banyak ditemukan di Sulawesi Utara. (Lihat: Kalamba dan Peti Kubur)

Wayang, Wayang berarti bayang-bayang. Namun, pada perkembangannya wayang diartikan sebagai cerita berlatar agama Hindu, khususnya Mahabharata dan Ramayana dari India sebagai model. Wayang diwujudkan dalam berbagai macam bentuk, mulai dari sandiwara hingga permainan boneka.

Boneka yang terbuat dari kulit tipis dinamakan wayang kulit, sedangkan yang terbuat dari kayu secara tiga dimensi disebut wayang krucil. Wayang krucil dari segi penampilan mirip dengan wayang kulit. Seluruh badan boneka digambarkan menyamping dengan memperlihatkan seluruh unsur tubuh. Unsur yang dapat digerakkan hanya bagian tangan. Salah satu atau dua-duanya. Kedua wayang ini dimainkan dari balik layar dengan bantuan penerangan.

Wayang golek adalah bentuk lain dari permainan wayang; unsur bayang-bayang tidak dominan lagi karena dimainkan pada tempat terbuka. Badan wayang golek dibuat mirip boneka; pada umumnya secara tiga dimensi tetapi tanpa kaki. Badan, kepala, dan tangannya dapat digerakkan untuk menghasilkan lebih banyak variasi gerak. Dari bagian pinggang ke bawah umumnya ditutup kain.

Baik wayang kulit, wayang krucil, maupun wayang golek memiliki tangkai panjang berujung runcing sebagai gagang. Selain untuk dipegang tangkai ini dapat ditancapkan pada media lunak, biasanya batang pisang, yang menjadi alasnya.

Satu jenis wayang yang tidak menggunakan boneka ialah wayang beber. Bentuknya berupa gulungan kain yang diberi gambar tokoh-tokoh wayang. Adegannya diurut menurut jalannya cerita sehingga menyerupai komik. Dalang yang membawakan cerita menunjuk tokoh-tokoh pada gambar sambil menggulung layar sesuai jalannya cerita.

Sandiwara atau sendratari wayang yang diperankan langsung oleh orang disebut wayang orang.

Yoni, Landasan lingga yang melambangkan kemaluan wanita (vagina). Pada permukaan yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat di bagian tengah -untuk meletakkan lingga- yang dihubungkan dengan cerat melalui sebuah saluran air sempit. Cerat hanya terdapat pada salah satu sisi dan berfungsi sebagai pancuran. Yoni dan lingga biasanya dihubungkan dengan kehadiran candi. (Lihat: Candi, Lingga, dan Sumuran)

Yupa, Prasasti yang dipahatkan pada batu tegak. (Lihat: Menhir dan Prasasti).


Daftar Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang Telah Ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya/Situs yang Dilindungi UU-RI Nomor 5 Tahun 1992 terdiri atas 749 BCB/Situs

01. Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam berjumlah 9 BCB/Situs.
02. Provinsi Sumatera Utara berjumlah 9 BCB/Situs.
03. Provinsi Riau berjumlah 15 BCB/Situs.
04. Kepulauan Riau berjumlah 15 BCB/Situs.
05. Provinsi Jambi berjumlah 20 BCB/Situs.
06. Provinsi Bengkulu berjumlah 7 BCB/Situs.
07. Provinsi Sumatera Barat berjumlah 78 BCB/Situs.
08. Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 15 BCB/Situs.
09. Provinsi Sumatera Selatan berjumlah 9 BCB/Situs.
10. Provinsi Lampung berjumlah 7 BCB/Situs.
11. Provinsi Jawa Barat berjumlah 100 BCB/Situs.
12. Provinsi Banten berjumlah 26 BCB/Situs.
13. Provinsi DKI berjumlah 80 BCB/Situs.
14. Provinsi DIY berjumlah 56 BCB/Situs.
15. Provinsi Jawa Tengah berjumlah 72 BCB/Situs.
16. Provinsi Jawa Timur berjumlah 44 BCB/Situs.
17. Provinsi Bali berjumlah 5 BCB/Situs.
18. Provinsi NTB berjumlah 10 BCB/Situs.
19. Provinsi NTT berjumlah 1 BCB/Situs.
20. Provinsi Kalimantan Barat berjumlah 12 BCB/Situs.
21. Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 7 BCB/Situs.
22. Provinsi Kalimantan Tengah berjumlah 3 BCB/Situs.
23. Provinsi Kalimantan Timur berjumlah 7 BCB/Situs.
24. Provinsi Gorontalo berjumlah 8 BCB/Situs.
25. Provinsi Sulawesi Utara berjumlah 16 BCB/Situs.
26. Provinsi Sulawesi Tenggara berjumlah 5 BCB/Situs.
27. Provinsi Sulawesi Tengah berjumlah 5 BCB/Situs.
28. Provinsi Sulawesi Selatan berjumlah 66 BCB/Situs.
29. Provinsi Maluku berjumlah 14 BCB/Situs.
30. Provinsi Maluku Utara berjumlah 21 BCB/Situs.
31. Provinsi Papua berjumlah 7 BCB/Situs.

(purbakala.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.685 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: