Oleh: hurahura | 11 Desember 2012

Kearifan Budaya: Orang-orang Pintar di Zaman Edan

Meneliti Sampel Posisi BatuanKompas/Totok Wijayanto
Anggota Proyek Penelitian Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, meneliti sampel galian, akhir November lalu.

KOMPAS, Minggu, 9 Desember 2012”Tanpa pemahaman sejarah, jiwa generasi muda akan kosong. Mereka akan menjadi orang-orang pintar yang menjual bangsa dan negaranya. Orang-orang yang korupsi itu, kan, orang pintar….”

Kutipan di atas diucapkan Anhar Gonggong, Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia, menjawab pertanyaan Kompas tentang pentingnya sejarah.

Masih dihargaikah sejarah? Masih didengar dan dibacakah petuah dan kearifan budaya kita?

Filolog Drs Supardjo MHum dari Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah, meminta untuk membaca Serat Kalatida karya Ronggowarsito. Kita kutip bait I dan II, berikut terjemahannya.

Mangkya darajating praja—Keadaan negara saat ini
kawuryan wus sunya ruri—terlihat semakin merosot
rurah pangrehing ukara rusak—tatanan dan aturannya
karana tanpa palupi—oleh sebab tiada yang dapat dicontoh
atilar silastuti—semua sudah meninggalkan etika
sujana sarjana kelu kalulun kala tidha—orang baik, orang pintar terbelenggu jaman yang serba tidak tentu
tidhem tandhaning dumadi—suasana kehidupan mencekam
hardayeng rat dening karoban rubeda—sebab dunia penuh godaan

**

Ratune ratu utama—Sesungguhnya rajanya termasuk raja yang baik
patihe patih linuwih—patihnya juga cerdik
pra nayaka tyas raharja—semua pegawai hatinya baik
panekare becik-becik—pemuka masyarakat juga baik
parandene tan dadi—tetapi semua itu tidak mampu menciptakan kebaikan
paliyasing kala bendu—oleh karena jaman penuh kerusakan
malah mangkin andadra—bahkan kerusakan semakin menjadi
rubeda kang ngreribeti—gangguan yang selalu membikin susah
beda-beda hardane wong sanagara—lain orang lain pikiran dan maksudnya

Pada bagian selanjutnya tertulis jangka, atau pandangan Ronggowarsito tentang zaman edan yang terkenal itu. Pada bagian akhirnya memuat pesan ”Sakbeja-bejane wong kang lali/ luwih beja kang eling lan waspada. Seberuntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat/ sadar dan waspada.


Membaca kearifan

Silakan membaca dan merenungkan kutipan di atas, apakah naskah kuno tahun 1860-an itu masih relevan dengan kondisi zaman. Para filolog, arkeolog, dan sejarawan berusaha keras membaca kearifan tersebut lewat manuskrip kuno, artefak, dan beragam sumber sejarah. Dan, marilah kita tengok jerih payah para filolog, yang jauh dari hiruk-pikuk politik, dan tak teperhatikan. Mereka bekerja dalam diam membaca kearifan dan jejak-jejak peristiwa di masa lalu, dengan harapan masyarakat membaca dan belajar.

Di Solo, ada Yayasan Sastra Lestari yang dirintis oleh Supardjo (56) dan kawan-kawan pada 1996. Yayasan Sastra menerjemahkan dan melakukan digitalisasi naskah kuno dan menyebarluaskan melalui situs http://www.sastra.org.

Mereka memburu naskah yang terserak di masyarakat. Sejauh ini telah terkumpul sekitar 3.000 naskah dan di antaranya ada sekitar 1.300 judul naskah yang telah dialihaksarakan dari aksara Jawa ke huruf Latin. Di antara naskah itu terdapat Babad Giyanti, dengan penulis anonim, berangka tahun 1820. Bukan kerja yang ringan memang.

”Mata ini sudah lebih sepuluh kali keluar-masuk rumah sakit, ha-ha-ha…,” kata Supardjo tentang kerja keras ”mata-mata” Yayasan Sastra dalam membaca naskah kuno beraksara Jawa itu.

”Ini murni kerja tanpa pamrih dan murni kepentingan bersama menyelamatkan budaya bangsa,” kata Supardjo.

Filolog dari Solo itu tidak sendirian. Oman Faturahman, filolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, hadir di tengah bencana tsunami di Aceh 2004. Sekitar dua minggu setelah tsunami melanda Aceh, Oman menelusuri lapangan menggunakan sepeda motor untuk mengumpulkan kembali ribuan manuskrip yang masih bisa diselamatkan. Perjuangan itu dilakukan Oman bersama sejawatnya, Hasnul Arifin Melayu, dosen IAIN Ar-Raniry, Aceh. Oman spesialis membaca manuskrip berbahasa Arab, Jawi, Melayu, dan Sunda dengan aksara Arab.

Bagi filolog, manuskrip adalah kekayaan intelektual bangsa yang harus diselamatkan. Sampai saat ini, jumlah yang sudah pasti teridentifikasi ”hanya” sekitar 3.000. Manuskrip di Aceh itu sangat penting karena banyak yang menggambarkan sejarah peradaban Islam awal di Nusantara. Subyeknya beragam, mulai dari bidang keilmuan yang menggambarkan tradisi intelektual Islam hingga gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti info gempa, gerhana matahari, dan obat-obatan.

”Tradisi intelektual Islam Indonesia sudah mapan sebagai produsen ilmu pengetahuan sejak abad ke-17, bukan sekadar konsumen atas karya-karya intelektual Islam dari Timur Tengah,” kata Oman.


Menjadi Indonesia

Manuskrip, pesan sejarah, seperti terabaikan. Sejumlah mahasiswa yang prihatin terhadap keterabaian sejarah tergerak mendirikan Komunitas Bambu (Kobam) pada 20 Mei 1998. Komunitas itu awalnya hadir sebagai komunitas diskusi lintas bidang ilmu dengan basis sejarah.

”Bagi saya, persoalan Indonesia adalah tidak lagi mengenal alasan menjadi Indonesia, tidak tahu raison d’etre (alasan menjadi ada) Indonesia. Tidak ada cara lain selain pulang ke rumah sejarah,” kata JJ Rizal, sejarawan pendiri Kobam.

Kobam menggelar berbagai diskusi dan menerbitkan karya sejumlah tokoh, seperti karya Tan Malaka, Islam dalam Tinjauan Madilog dan Menuju Republik Indonesia. Mereka memfokuskan diri menerbitkan buku sejarah, budaya, dan humaniora sejak tahun 2006. Buku sejarah klasik mereka kemas menarik agar orang tertarik membaca.

”Semua buku kami bermuara pada upaya menghadirkan literatur mengapa dan bagaimana kita menjadi Indonesia,” kata Rizal.

Tak kurang dari 240 judul buku telah diterbitkan atau diterbitkan kembali oleh Kobam, termasuk sejumlah buku babon karya para peneliti sejarah Indonesia. Sayang upaya memopulerkan sejarah tak disambut pasar. Namun, sejauh ini Kobam jalan terus. ”Mungkin Juni 2013 Kobam bakal bangkrut, ha-ha-ha…,” ujar Rizal.

Tahun depan mereka akan menerbitkan empat buku, masing-masing setebal lebih dari 1.000 halaman. Salah satunya, buku Soekarno di panggung sejarah Indonesia, mengumpulkan karya sejarawan asing tentang Soekarno.


Terputus dari masa lalu

Mencari dan merekonstruksi kebudayaan masyarakat masa lalu itu pula yang digali disiplin ilmu arkeologi. Dari artefak yang tergali, orang bisa membaca nilai- nilai masyarakat masa lalu, seperti gotong royong, keramahan, kesopanan, dan musyawarah. Nilai-nilai seperti itu dirasakan Dr Ali Akbar, arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, seperti tidak dikenal lagi di masa kini.

Ia mencontohkan Situs Gunung Padang, sebuah bangunan megalitik besar di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tidak mungkin situs itu dibangun tanpa adanya gotong royong pada masa lalu. Kegotongroyongan itu, ujar Oman, mulai hilang sekarang.

”Ada pengetahuan yang hilang, terputus, dan kita malas melihat ke belakang. Sebagian orang menganggap arkeologi hanya mengurus benda dan jadul. Padahal, lebih penting lagi ialah nilai- nilai di belakangnya,” kata Ali Akbar, dosen yang juga Sekretaris Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UI.

Ia memberikan contoh cara masyarakat dulu membangun Borobudur yang mencerminkan tingginya pengetahuan, kekreatifan, dengan kecermatan perhitungan luar biasa.

”Sekarang kita maunya gampang saja, tinggal copy paste,” ujar ahli prasejarah itu. Dari ukiran, bentuk rumah adat, hiasan, dan pakaian pada artefak terlihat pula betapa kreatifnya manusia Indonesia masa lalu.

Arkeologi, filologi, dan sejarah, sebagai bagian dari ilmu budaya, sangat penting dalam kehidupan berbangsa, tetapi dirasakan para penekunnya sebagai terpinggirkan. ”Padahal, yang kurang dari negara ini adalah masyarakat yang berbudaya,” kata Oman.

Dari sejarah, artefak, dan manuskrip kuno, sebenarnya banyak yang bisa dibaca, dipelajari, dan dipahami untuk kehidupan masa kini. ”Apa yang tertuang dalam naskah itu menjadi bahan permenungan kita untuk menapak ke depan. Supaya kita tak tercerabut dari akar budaya kita,” kata Supardjo. (BSW/INE/ROW/XAR)

About these ads

Responses

  1. Wahh.. Situs ini bagus bener .. Aku suka banget sama sejarah, terutama arkeologi^^ situs ini membantu banget. :)

  2. My brother recommended I might like this blog. He was entirely
    right. This post truly made my day. You can not imagine just how much time I had spent for this info!
    Thanks!

  3. sungguh sangat bermanfaat. terima kasih telah berbagi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: