Oleh: hurahura | 11 Desember 2012

Geliat Menyingkap Nilai Sumpah Palapa

Trw-02Grafik: Situs Trowulan

KOMPAS, Sabtu, 8 Desember 2012 – Cuaca mendung saat Yusmaini Eriawati dan belasan arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional melakukan penggalian di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Rabu (28/11). Ini salah satu upaya mengungkap sisa masa keemasan Kerajaan Majapahit, termasuk Sumpah Palapa yang ”menjahit” Nusantara.

”Ternyata di sini kosong. Tidak ada struktur bangunan ataupun artefak,” ujar Eriawati, Ketua tim peneliti Pusat Arkeologi Nasional (Pusat Arkenas). Selanjutnya, tim berencana memindahkan penggalian di sebelah barat Candi Brahu yang masih berada di Desa Bejijong. Namun, survei dihentikan karena hujan deras mengguyur.

Penggalian arkeologis di Desa Bejijong ini dilakukan dengan mempertimbangkan pernah ditemukannya arca Buddha Mahasobya (patung Joko Dolog) yang berasal dari masa Kerajaan Singosari, arca Loro Jonggrang, dan semacam tempat mengikat gajah.

Situs Trowulan di Jawa Timur memang menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit yang hingga kini terus diteliti. Dengan hamparan benda cagar budaya yang tersebar di berbagai lokasi, Trowulan menjadi laboratorium arkeologis terlengkap di pelosok Nusantara.

Di kawasan ini, ditemukan ratusan ribu peninggalan arkeologis, berupa artefak, ekofak, dan fitur yang diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga abad ke-15. Atas dasar temuan itu pula, para arkeolog dan peneliti menyimpulkan Trowulan sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit seluas 99 kilometer persegi. Situs ini mencakup Kecamatan Trowulan dan Sooko (Mojokerto) serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno (Jombang).

Eriawati mengaku pernah menemukan keramik asal Vietnam, Thailand, dan China yang merujuk pada masa periode Majapahit. Temuan keramik ini juga membuktikan Kerajaan Majapahit pernah menjalin hubungan dagang dengan negara lain di Benua Asia.

Hampir setiap tahun, Pusat Arkenas (dulunya Pusat Penelitian Arkenas) menjadwalkan penggalian arkeologi di Trowulan guna mengungkap tata kota Majapahit dan kehidupan sosial budaya masyarakat saat itu. ”Biasanya kami melakukan penggalian pada bulan Mei karena tak terhambat hujan,” kata Wati.


Diteliti sejak dulu

Penelitian di Trowulan juga dilakukan mahasiswa jurusan arkeologi, dosen arkeologi, peneliti, arsitek, dan ahli sejarah dari berbagai kampus dan lembaga penelitian. Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan.

”Sejauh ini, Trowulan masih menjadi laboratorium arkeologis terlengkap karena banyaknya temuan di kawasan ini. Itulah kenapa banyak kampus yang memilih melakukan penelitian di Trowulan,” ujar arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Danang Wahyu Utomo.

Perajin Batu Bata TrowulanKompas/Bahana Patria Gupta

Perajin batu bata menggali tanah di lokasi ditemukannya situs Majapahit tidak jauh dari Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (28/11). Aktivitas penggalian tanah untuk bahan baku batu bata mengancam keberadaan peninggalan Majapahit di Trowulan yang masih terpendam.

Berdasarkan penelitian, terdapat setidaknya 32 kanal dan 14 situs cagar budaya di Trowulan yang sudah teridentifikasi. Situs tersebut berupa dua pintu gerbang: Gapura Bajangratu dan Gapura Wringin Lawang, waduk seperti Kolam Segaran, lalu situs permukiman seperti Situs Kedaton, Situs Permukiman, Situs Sentonorejo, dan Situs Pendopo Agung.

Ada juga tempat pemujaan, seperti Candi Brahu, Candi Gentong, Situs Klinterejo, dan Candi Tikus. Selain itu, terdapat makam para petinggi, seperti makam Troloyo, makam Putri Campa, dan makam Panjang.

Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Jawa yang pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya. Peradaban Majapahit muncul tahun 1293 dan diperkirakan runtuh pada awal abad ke-16. Raja yang tersohor di Majapahit adalah Hayam Wuruk dengan sang patih Gajah Mada.

Data BPCB Jawa Timur menyebutkan, peninggalan Majapahit di Trowulan sudah diteliti sejak 1815 oleh peneliti Belanda, JW Bartholomeus Wardenaar. Dia mendapat tugas dari Sir Thomas Stamford Raffles yang menduga adanya peninggalan Majapahit di Trowulan seperti disebutkan dalam buku History of Java (1817).

Penelitian berikutnya dilakukan WR Van Hovell, JVG Brumund, dan Jonathan Rigg yang kemudian diterbitkan dalam Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia. RDM Verbeek juga mengadakan kunjungan ke Trowulan dan menerbitkan laporannya pada 1889.

Selanjutnya, penelitian dilakukan RAA Kromodjojo Adinegoro (1849-1916), salah satu Bupati Mojokerto yang sangat menaruh perhatian terhadap peninggalan arkeologi di Trowulan. Lalu, ada J Knebel (1907) dan arsitek Belanda, Henry Maclaine Pont (1921-1924).

Para peneliti inilah yang memiliki kontribusi sebelum Trowulan ”disepakati” sebagai bekas ibu kota Majapahit. Sebut saja, Bupati Kromodjojo yang menggali Candi Tikus pada 1914 dan bekerja sama dengan Henry Maclaine Pont untuk merintis pembangunan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit, museum yang kini berganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit.

Henry Maclaine Pont juga menemukan Kolam Segaran, sebuah situs waduk seluas 6,5 hektar yang diduga menjadi tempat menjamu tamu raja pada masa Majapahit. Selain penemuan ini, Maclaine Pont berhasil membuat sketsa rekonstruksi kota Majapahit di Trowulan dengan mengacu pada kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca.

Kala itu, Maclaine Pont menggambarkan bentang kota Majapahit dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi. Dalam kitab Nagarakretagama, nama Majapahit diganti Wilwatikta.

Di buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama, Slamet Muljana menuliskan, Majapahit terletak di lembah Sungai Brantas di sebelah tenggara kota Majakerta, sebuah kota kecil di persimpangan Kali Mas dan Kali Porong. Adapun keraton lama Majapahit terletak dekat Tarik di Trawulan (Trowulan).


Sumpah Palapa

Sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya, Hanan Pamungkas, mengatakan, Trowulan hampir dipastikan sebagai pusat Kerajaan Majapahit karena memiliki situs permukiman padat penduduk. Tidak ada lagi situs bekas kerajaan Majapahit lain yang menyerupai Trowulan.

Melalui berbagai penelitian, penjelajahan Hayam Wuruk, kearifan Tribuwana Tunggadewi, dan Sumpah Palapa dari sang patih Gajah Mada ini kembali menggaung. Semangat Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara perlu diaktualisasikan dan direvitalisasi di tengah maraknya keretakan sosial. (Harry Susilo)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: