Oleh: hurahura | 4 Maret 2012

Kekayaan Budaya: Kearifan dalam Manuskrip Kuno Masih Diabaikan

KOMPAS, Jumat, 2 Maret 2012 – Kearifan yang terkandung dalam berbagai manuskrip kuno Minangkabau cenderung diabaikan oleh masyarakat kontemporer di Sumatera Barat. Padahal, naskah-naskah kuno itu banyak mengandung kebajikan dan pengetahuan mengenai beragam hal, seperti bencana alam, pengobatan, serta pemahaman manusia tentang alam dan lingkungan.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, Pramono, Kamis (1/3), mengatakan, pengabaian itu terjadi sejak paruh kedua abad ke-20. ”Terutama sejak tradisi pendidikan di surau mulai ditinggalkan,” katanya.

Padahal, kata Pramono, pada masa itu tradisi keilmuan dengan saling berdebat melalui polemik dalam tulisan terjadi dengan intensitas tinggi. Misalnya saja, polemik antara kaum muda dan tua dalam menentukan penghitungan awal bulan untuk kegiatan keagamaan.

Selama ini, naskah-naskah kuno dengan tulisan Arab Melayu yang ditemukan memang sebagian besar berasal dari surau-surau, terutama surau-surau yang dahulu merupakan pusat pengajaran disiplin tarekat.

Salah satu di antaranya takwil atau tentang gempa yang ditemukan dalam salah satu manuskrip kuno di Surau Lubuk Ipuh, Korong Lubuk Ipuh, Kanagarian Kurai Taji, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Halaman 176-187 manuskrip itu berisikan takwil gempa yang dibagi berdasarkan takwil setelah waktu subuh, duha, zuhur, asar, magrib, dan isya.

Tuanku Kadhi Abdurrasyid, pewaris Surau Lubuk Ipuh, mengatakan, saat ini hanya salinan naskah asli yang tertinggal di surau itu. Salinan naskah itu buatan tahun 1976 oleh almarhum Fakiah Yauza. ”Naskah asli dengan sampul kulit kambing sudah hilang,” ujar Abdurrasyid.


Ditemukan tak sengaja

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Batusangkar, Yusri Akhimuddin, yang melakukan transliterasi manuskrip kuno itu mengatakan, naskah takwil gempa ditemukan tak sengaja pada tahun 2008. Saat itu tengah dilakukan analisis kontekstual bersama tim dari Universitas Andalas, Padang, mengenai manuskrip-manuskrip kuno yang ditemukan.

Takwil gempa itu terutama berisikan ramalan mengenai peristiwa tertentu yang akan terjadi di sebuah negeri setelah terjadinya gempa bumi pada waktu- waktu tertentu. Yusri mengatakan, naskah kuno takwil gempa itu berumur sekitar 200 tahun dan bermuara dari pengajaran di Singkil, Aceh. Kemungkinan besar asal materi dalam naskah itu dari pengajaran Sheikh Abdurrauf As Singkili di Singkil, Aceh.

Hingga saat ini sekitar 1.000 manuskrip kuno Minangkabau telah didokumentasi untuk kepentingan akademis. (INK)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.733 pengikut lainnya.