Oleh: hurahura | 18 Februari 2012

Produksi Garam di Batavia (5 – Habis)

Warta Kota, Sabtu, 18 Februari 2012 – Ketika singgah di Batavia pada 1655, J. Nieuhof menyebutkan bahwa bangsa China jauh mengungguli bangsa-bangsa Hindia dalam hal penguasaan laut dan tanah. Nieuhof adalah pengawal misi pertama VOC ke China. Dia juga mengatakan, perikanan besar sangat tergantung pada ketekunan mereka.(Nusa Jawa: Silang Budaya, 2, 1996). Baik langsung maupun tidak langsung, banyak pribumi mulai mempraktekkan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan itu.

Di pesisir, sebagaimana tulis Valentijn, orang-orang China mengembangkan budi daya tiram. Sejak 28 Desember 1655 mereka memang diberi hak istimewa selama tiga tahun. ”Kerangnya sangat bagus, bening, dan padat,” kata Valentijn. Pada abad ke-18 beberapa bangsa Eropa berniat juga membudidayakan tiram. Gubernur Jenderal Valkenier mengembangkan usaha tersebut di tanah miliknya di Ancol. Konsul Paul Bergman mengusahakannya dekat Tanjung Priok. Akan tetapi upaya mereka tidak bisa menandingi kualitas tiram yang diusahakan orang China.

Bersamaan dengan budi daya tiram, budi daya ikan banyak dilakukan oleh masyarakat China. Pada 1687 terdokumentasi dalam Plakaatboek, seorang China mengelola rawa yang terletak di sebelah timur Batavia, di dekat benteng Bekasi. Tambak ikan ini tergolong besar. Pada 1689 diserahkan pula rawa-rawa di sebelah barat, di antara ‘Sungai Angke’ dan ‘Sungai Tanggerang’. Laporan lain dari Teisseire menyebutkan, di daerah Pejonkeran (tidak jauh dari Cilincing) terdapat sebuah kelompok masyarakat China yang hidup dari produksi dan penjualan ikan serta udang. Nama lain dari tambak adalah empang. Kata empang berasal dari dialek Hokian, yang berarti petak atau kotak.

Teknik-teknik pembuatan garam, tidak dimungkiri berasal dari teknik-teknik sejenis di Fujian (China). Pada 1648 Batavia pernah memproduksi garam dalam jumlah besar. Bahkan sebagian produksinya diekspor. Namun pada 1654 kualitas garam Batavia semakin menurun.

Berkat garam pula masyarakat China di Batavia menyelenggarakan perayaan Pecun, pada hari kelima bulan kelima penanggalan Imlek. Pecun merupakan pesta perahu dan pesta air, sekaligus pesta naga dan peringatan pengorbanan Qu Yuan di China. Menurut mitologi China, Qu Yuan adalah penemu garam. Hingga awal abad ke-20 perayaan itu masih diselenggarakan di Batavia. Setelah itu, akibat penumpukan lumpur di kanal, pesta dipindahkan ke Sungai Cisadane Tangerang (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.685 pengikut lainnya.