Oleh: hurahura | 9 Februari 2012

Situs Muaro Jambi : Dikagumi Dunia, Tersia-sia di Negerinya

KOMPAS, Rabu, 8 Feb 2012 – Hujan mengguyur Situs Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Genangan air bercampur limbah batubara kian merapuhkan bangunan peninggalan Kerajaan Melayu Kuno itu. Andai situs ini hidup, tentu ia menangis.

Aliran air hujan membawa batubara menggenangi bagian dasar menapo China. Tanah yang menyelimuti menapo (candi yang masih tertimbun tanah) becek. Hitam pekat.

Keberadaan menapo dikelilingi aktivitas penimbunan batubara oleh empat perusahaan: Indonesia Coal Resources, Thriveni Mining, Sarolangun Bara Prima, dan Bahar Surya Abadi. Area penimbunan itu dikelola PT Tegas Guna Mandiri.

Jubir Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, Agus Widiatmoko, menjelaskan, pengeroposan bangunan candi dan menapo akan terus berlangsung selama industri beroperasi di zona inti situs. Kandungan logam batubara yang terurai air hujan akan menghasilkan kadar asam tinggi. ”Pengeroposan lebih cepat terjadi saat candi dan menapo terus digenangi kadar asam,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Debu batubara yang beterbangan juga masuk ke pori-pori candi, memperlemah daya ikat batu bata kuno itu. Faktanya, eksploitasi terus berlangsung di situs bersejarah seluas 2.612 hektar itu. Tanpa hambatan!


Universitas tertua

Situs Muaro Jambi merupakan universitas tertua dan terluas di negeri ini. Dibangun pada abad ke-7 dan menjadi pusat pendidikan yang berjaya hampir tujuh abad. Ratusan bahkan mungkin ribuan candi ada di sana meskipun baru 90 candi dan menapo yang didata. Lima belas di antaranya telah dipugar.

Kekaguman dunia melekat pada Situs Muaro Jambi hingga kini. Di sana lahir biku-biku kondang. Ratusan biku dari berbagai negara mengarungi lautan ke Muaro Jambi memperdalam agama. Mereka timba ilmu kedokteran, logika, filosofi, dan tata bahasa percandian.

Pusat pendidikan tua ini melahirkan Lana Atisya, biku India pengubah sistem keagamaan dan menciptakan kurikulum keagamaan di Tibet. Ada Changkyo Dorpe, biku Tibet pendeta utama di China pada abad ke-16.

Pendeta I-Tsing asal China yang singgah pada abad ke-7 menggambarkan situasi kampus itu. Ribuan orang belajar dalam bangunan-bangunan bertembok tebal. Masyarakat setempat dilibatkan menyiapkan makanan. Mereka juga bisa ikut belajar.

Berabad lewat, Muaro Jambi teronggok. ”Ketika Muaro Jambi diusulkan ke tingkat internasional, bahkan Kembudpar yang mengusulkan, mengapa situs ini seolah diabaikan?” ujar Husnul Abid, Direktur Pusat Pengembangan Percandian Muarajambi Svarnadvipa.

Kini, situs ini bahkan disia- siakan, termasuk oleh hukum. (IRMA TAMBUNAN)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.