Oleh: hurahura | 4 Januari 2012

Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Material Cagar Budaya*

Oleh:
Ir. Yoesoef. BA
Direktorat Tinggalan Purbakala


A. Pendahuluan

Lingkungan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Perubahan sedikit saja pada kondisi lingkungan akan mengakibatkan dampak yang besar bagi kehidupan manusia, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan munculnya fenomena perubahan iklim. Secara umum pasti kita sudah pernah mendengar tentang rumah kaca. Rumah yang dibangun dengan konstruksi khusus pada bagian atapnya ini biasa digunakan untuk lahan proses pembibitan pada kegiatan perkebunan dan berfungsi untuk menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya.

Hal di atas juga terjadi pada bumi, di mana radiasi yang dipancarkan oleh matahari, menembus lapisan atmosfer dan masuk ke bumi. Radiasi matahari yang masuk ke bumi dalam bentuk gelombang pendek, menembus atmosfer bumi dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun sayangnya, tak semua gelombang panjang yang dipantulkan kembali oleh bumi dapat menembus atmosfer menuju angkasa luar karena sebagian dihadang dan diserap oleh gas-gas yang berada di atmosfer – disebut Gas Rumah Kaca (GRK). Akibatnya radiasi matahari tersebut terperangkap di atmosfer bumi.

Karena peristiwa ini berlangsung berulang kali, maka kemudian terjadi akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu di bumi menjadi semakin hangat. Peristiwa alam ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca (ERK), karena peristiwanya serupa dengan proses yang terjadi di dalam rumah kaca.

Dalam Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC), ada enam jenis gas yang digolongkan sebagai GRK, yaitu karbondioksida (CO2), dinitroksida (N2O), metana (CH4), sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs). GRK terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) seperti pada penggunaan kendaraan bermotor dan penggunaan alat-alat elektronik. Selain itu penebangan pohon, penggundulan hutan, kebakaran hutan, cerobong industri serta TPA juga merupakan sumber emisi GRK.

Meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer akibat aktivitas manusia inilah di berbagai belahan dunia akan berakibat meningkatnya radiasi yang terperangkap di atmosfer. Akibatnya suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi meningkat. Peristiwa ini disebut Pemanasan Global. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya mengubah pola iklim dunia. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Perubahan Iklim.


B. Perubahan Iklim Global

1. Iklim
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam satu tahun dan meliputi wilayah yang luas. Secara garis besar, iklim dapat terjadi karena adanya rotasi, revolusi bumi, perbedaan lingkungan geografis dan lingkungan fisis. Rotasi adalah pergerakan melingkar bumi terhadap sumbunya sendiri yang menjadikan adanya siang dan malam serta distribusi panas matahari ke seluruh permukaan bumi. Sedangkan revolusi adalah pergerakan bumi dalam mengelilingi matahari yang dicapai dalam 365 hari atau satu tahun dalam sekali putarannya.


2. Faktor-faktor Pembentuk Iklim Indonesia

Faktor faktor yang mempengaruhi iklim di Indonesia adalah

a) Perairan laut Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas, sehingga terbentuk iklim laut yang sangat berpengaruh di Indonesia.

b) Topografi

Indonesia memiliki topografi wilayah yang sangat bervariasi seperti dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan yang memiliki suhu yang berbeda-beda. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan iklim secara vertikal seperti iklim panas, sedang, sejuk, dan dingin.

c) Letak Astronomis

Posisi wilayah Indonesia secara Astronomis berada di antara 6º Lintang Utara – 11º Lintang Selatan dan 95º – 141º Bujur Timur. Keberadaan wilayah Indonesia dalam posisi ini menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun.

d) Letak Geografis

Indonesia berada di antara benua Asia dan Australia sehingga menjadi tempat perlintasan arah angin yang berubah setiap enam bulan. Hal ini menyebabkan terjadinya dua musim di Indonesia, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Angin dari benua Australia yang kering menyebabkan musim kemarau, sedangkan angin yang bertiup dari Samudera Pasifik melewati Laut Cina Selatan yang basah menyebabkan musim penghujan di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh iklim musim.


3. Perubahan Iklim

a) Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang yang terjadi pada pola rata-rata cuaca di suatu wilayah atau bumi secara menyeluruh. Perubahan cuaca mencerminkan variasi abnormal yang terjadi pada iklim di bumi, yang selanjutnya berdampak terhadap bagian bumi yang lain, seperti pencairan lapisan es. Perubahan iklim yang ekstrim dapat menyebabkan penyimpangan iklim yang jauh dari normalnya sehingga bisa mengakibatkan kekeringan, kemarau panjang dan banjir.

b) Penyebab Perubahan Iklim
Faktor penyebab perubahan iklim tak lain adalah manusia sendiri. Kegiatan-kegiatan manusia seperti konsumsi energi, meningkatnya industri dan transportasi, dan pembukaan lahan baru merupakan pemicu awal dari perubahan iklim.

c) Dampak Perubahan Iklim
Laporan “Climate Change, Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability (2007)”, telah memprediksi kemungkinan dampak perubahan iklim yang sudah dan yang mungkin akan terjadi di masa depan. Salah satu kesimpulannya, pemanasan global akan memberi dampak negatif yang nyata bagi kehidupan ratusan juta warga di dunia. Salah satunya adalah meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang. Ini akan mengakibatkan gunung es mencair. Dampaknya panen gagal, yang hingga tahun 2050 membuat 130 juta penduduk dunia terutama di Asia mengalami kelaparan. Pertanian gandum di Afrika juga bernasib sama. Pemanasan global juga membuat permukaan laut meningkat, lenyapnya beberapa spesies dan bencana nasional yang makin meningkat. 30% garis pantai di dunia lenyap pada 2080. Lapisan es di kutub mencair hingga terjadi aliran air di Kutub Utara dan membuat Terusan Panama terbenam.

Naiknya suhu udara akan memicu topan yang lebih dasyat hingga mempengaruhi wilayah pantai. Banyak tempat yang kering akan makin kering, sebaliknya sejumlah tempat yang basah akan makin basah. Hal ini membuat distribusi air secara alami kian tidak teratur dan berpotensi meningkatkan ketegangan dalam pemanfaatan air untuk kepentingan industri, pertanian dan sosial. Sekitar 1-3 milyar orang di dunia terutama di wilayah miskin, diperkirakan akan menderita kekurangan air kronis pada 2100.

Dari seluruh dampak yang muncul, Asia menjadi bagian dari bumi yang akan menderita paling parah. Setiap kenaikan suhu 2 derajat celcius akan menurunkan produksi pertanian di China dan Bangladesh hingga 30% pada 2050. Kelangkaan air meningkat di India seiring dengan menurunnya lapisan es di pegunungan Himalaya. Sekitar 100 juta warga pesisir di Asia pemukimannya tergenang karena peningkatan permukaan laut antara 1-3 mm/tahun.

Untuk Indonesia sendiri, ada sejumlah dampak perubahan iklim. Dalam periode 2003-2005 saja, terjadi 1.429 kejadian bencana. Sekitar 53,3% adalah bencana terkait hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB, 2006). Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi (34%), diikuti oleh longsor (16%). Kemungkinan pemanasan global akan menimbulkan kekeringan dan curah hujan ekstrim yang lebih parah, yang pada gilirannya akan menimbulkan risiko bencana iklim yang lebih besar (Trenberth dan Houghton, 1996). Laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (2006) mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan satu dari negara-negara yang rentan terhadap bencana terkait dengan iklim.

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah rapuhnya bangunan-bangunan sepanjang pesisir, terutama bangunan yang sudah tua. Bangunan tua tersebut sebagian besar adalah Cagar Budaya yang harus dilestarikan.


C. Cagar Budaya

1. Cagar Budaya
Pengertian Cagar Budaya menurut Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.

Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas

2. Kondisi Cagar Budaya di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, baik yang berupa budaya materi (tangible) maupun budaya non materi (intangible). Budaya materi sering disebut dengan Cagar Budaya yang dibedakan menjadi dua, yaitu Cagar Budaya tidak bergerak dan Cagar Budaya bergerak. Cagar Budaya yang tidak bergerak ini mempunyai masa atau periode yang berbeda, yaitu periode prasejarah, periode klasik (Hindu–Buddha), Islam, dan Kolonial. Sedangkan jenis bangunannya menjadi beberapa, antara lain gua prasejarah, menhir, candi, pura, masjid kuno, rumah adat, benteng, gedung, dan lain sebagainya.

Namun pada saat ini Cagar Budaya telah banyak mengalami kerusakan, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu umur yang sudah tua, lingkungan alam maupun ulah manusia akibat pembangunan, dan lain sebagainya. Kalau hal ini dibiarkan maka kerusakan Cagar Budaya akan dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitasnya serta nilai intangible yang dikandungnya.

Pelestarian Cagar Budaya harus tetap terjaga agar tidak rusak dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.


D. Material Penyusun Cagar Budaya

1. Batuan
Adalah segala macam yang menyusun kerak bumi baik padat maupun lepas seperti pasir dan debu. Sifat fisik batuan adalah berat jenis, porositas, kadar air jenuh/natural, volume pori, dan volume butir. Sedangkan sifat mekanik batuan adalah kuat tekan (retak dan pecah ), kuat tarik, dan elastisitas.

Batuan tersusun atas beberapa jenis mineral. Mineral adalah zat padat dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk oleh proses anorganik dan mempunyai susunan kimia tertentu, contohnya adalah K (AlSi3O8) atau Ortoklas dan (Mg,Fe)2 (SiO4) atau Olivin.

Mineral terang (Felsik) secara berurutan adalah Olivin – orto piroksin – klino piroksin – Amphibol – biotit. Sedangkan Mineral gelap (mafik) secara berurutan adalah: Anortit – Bitownit – Labradorit – Andesin – Oligoklas – Albit

Mineral sekunder adalah mineral yang dibentuk dari mineral utama oleh proses pelapukan, sirkulasi air atau larutan dan metamorfosma.
Contoh:
2(KAlSiO3)O8 Al2Si2O3(OH)4
plagioklas lempung

Berdasarkan komposisi, sifat, dan asal terbentuknya, batuan dibedakan menjadi beberapa kelompok.

a. Batuan Beku
Adalah batuan yang terjadi dari pembekuan magma.
Penggolongan batuan beku berdasarkan tiga hal yaitu :
– Pembagian genetik berdasarkan tempat terjadinya (ekstrusif dan intruksif)
– Pembagian kimia berdasarkan senyawa oksidanya :
SiO2, TiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, H2O
P2O (Granit, Diorit, Gabro, Peridotit).

Berdasarkan kandungan silika: Batuan asam > 66% , menengah 52 – 66 %, basa 45 – 52%, ultra basa < 45%. Batu lapuk mempunyai komposisi kimia berbeda dengan batu segar. – Pembagian berdasarakan susunan mineralogi: Kwarsa, Feldspar plagioklas, (mineral felsik), amphibol, piroksin dan olivin (mineral mafik) Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari Tekstur (kristalin, granularitas), struktur (masif, vesikuler), dan komposisi mineral.

b. Batuan Sedimen

Batuan sedimen atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. – Batuan sedimen klastik diendapkan dengan proses mekanis. Contoh: breksi, konglomerat, dan batu pasir. – Batuan sedimen evaporit (proses hidrolisis dengan larutan kimia yang cukup pekat), contoh batu gip dan batu garam. – Batuan sedimen batu bara (terbentuk oleh unsur organik) – Batuan sedimen karbonat terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera yang bercangkang kapur.

c. Batuan Metamorfosa

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tekstur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan metamorfosa adalah marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. 2. Bata Bata merah adalah suatu unsur bangunan yang diperguakan untuk konstruksi bangunan. Bata merah dibuat dari tanah dengan atau tanpa bahan baku lain dibakar cukup tinggi sehingga tidak larut dalam air. Proses pembuatan bata mulai dari penggalian tanah, pencampuran dengan air dan bahan bahan lain jika perlu hingga pemberian bentuk, semua dikejakan dengan tangan. Tanah yang baik sebagai bahan dasar adalah jenis lempung padas. Bila terlalu banyak lempung, bata akan mudah pecah pada waktu proses pengeringan. Bila terlalu banyak pasir, bata akan getas. Perbandingan antara lempung pasir perlu pengalaman tersendiri dalam proses pembuatan. Perlu analisis laboratorium mengenai kandungan unsur garam tanah. Campuran bahan dasar, biasanya terdiri atas bahan organik, misal sekam, abu tidak dianjurkan/hindari campuran dengan bahan yang korosif misal garam. Ukuran bata normal adalah 230 x 110 x 50 mm, sedangkan bata kuno berukuran 350 x 200 x 100 mm. Pembakaran bata biasanya menggunakan bahan kayu, sekam, sekam campur garam dan belerang. Suhu pembakaran sebaiknya mencapai 700º C agar partikel air yang terjebak di antara butir bisa hilang/menguap Berdasarkan kuat tekannya, bata dikelompokkan menjadi :  Tingkat I > 100 kg/cm²
 Tingkat II 80 – 100 kg/cm²
 Tingkat III 60 – 79 kg/cm²

3. Kayu
Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri atas senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat) dan zat ekstratif. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial, dan tangensial). Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di sekelilingnya, dan mempunyai titik jenuh serat. Bila kadar airnya di bawah TJS kayu akan mengerut. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit serta dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

4. Bata Berplester
Bata berplester adalah bata yang dilapisi oleh plester yang terbuat dari semen. Semen yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di dalam air disebut semen hidrolik. Yang tergolong semen hidrolik antara lain kapur hidrolik, semen pozolan, dan semen port land.
Proses pembuatan kapur hidrolik:
Proses pembakaran
CaCO3 CaO + CO2
Proses mematikan
CaO + H2O Ca(OH)2 + panas
Proses pengerasan
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O

Sifat :
Agar proses pengerasan dapat berlangsung sempurna diperlukan carbon dioksida yang cukup. Kapur hidrolik memiliki kekuatan yang rendah dengan berat jenis rata-rata 1000kg/m³.

Semen Pozolan adalah bahan pozolan yang bila dicampur dengan kapur padam (Ca (OH)2) dan air akan membentuk benda padat dan keras. Pozolan adalah bahan alami maupun buatan yang terdiri atas unsur silikat dan aluminat yang reaktif. Bahan yang tergolong sebagai pozolan antara lain semen merah, abu terbang, bubukan terak tanur tinggi. Zeolit atau batuan mendidih merupakan senyawa alumino silikat yang secara kimia dan fisik mempunyai kemampuan sebagai pozolan. Sifat semen pozolan antara lain sukar larut dalam air (wahyu wijarnako : httn://wahyu.com).


E. Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya Akibat Perubahan Iklim

Kerusakan adalah suatu proses perubahan bentuk yang terjadi pada suatu benda dimana jenis dan sifat-sifat fisik maupun kimiawinya masih tetap (disintegrasi).

Pelapukan adalah suatu proses penguraian dan perubahan dari bahan asli ke bahan lain dimana jenis dan sifat-sifat fisik dan kimiawi dari bahan tersebut sudah berubah (dekomposisi).

1. Gejala Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya
a) Gejala kerusakan :
Biasanya dapat dilihat secara visual/langsung (retak, patah, miring, pecah, bengkok dll)
b) Gejala pelapukan :
Pada tingkat awal belum nampak dan baru nampak pada tingkat menengah hingga lanjut, (diskomposisi, pembusukan, perubahan warna).

2. Faktor Penyebab Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya

Kerusakan dan pelapukan bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal penyebab kerusakan dan pelapukan antara lain adalah:
– Kualitas dan jenis material
– Teknologi pembuatan struktur bangunan
– Sifat tanah sebagai dasar bangunan

Faktor internal penyebab kerusakan dan pelapukan antara lain adalah:
– Iklim
– Bencana alam
– Organisme

Beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan dan pelapukan material:
a) Kayu
– Air hujan
– Degradasi oleh pengaruh suhu dan kelembaban
– Degradasi cahaya
– Degradasi mikrobia

b) Batu
– Air hujan
– Pembentukan carbonat (HCO3)
– Oksidasi (2Fe2O3.3H2O)
– Hidrasi atau hidrolisis
– Suhu dan kelembaban udara, intensitas sinar matahari
– Angin

c) Bata
– Penggaraman
– Kelembaban relatif
– Kapilarisasi air (15.10 -6 /r meter)
– Suhu dan kelembaban udara, intensitas sinar matahari
– Angin (arah dan kecepatan)

3. Dampak perubahan iklim global terhadap kelestarian benda cagar budaya:
a) Meningkatnya kerusakan bangunan karena adanya perubahan daya dukung tanah, erosi, banjir, longsor, dan kapilarisasi air, yang disebabkan oleh meningkatnya runoff dan debit aliran air pada daerah basah (contoh Stasiun Tawang, Gedung Sobokarti Semarang).
b) Meningkatnya risiko kebakaran pada bangunan kayu.
c) Meningkatnya kerusakan fisis (retak, pecah, melengkung, degradasi warna) pada bangunan batu, bata, dan kayu karena fluktuasi suhu yang sangat besar dan intensitas penyinaran yang lebih tinggi (contoh Gereja Blendok Semarang).
d) Proses pelapukan kimiawi akan lebih cepat, karena banyaknya unsur terlarut, dan meningkatnya penguapan (misal pengelupasan, penggaraman dan degradasi struktur material).
e) Pertumbuhan mikroorganisme pada daerah basah akan meningkat, sedangkan pada daerah kering pertumbuhan mikroorganisme tertentu yang bisa bertahan hidup (golongan mikroorganisme thermofil). Serangan serangga pada bangunan kayu akan meningkat, seiring dengan tingkat kelembaban dan kekeringan yang tinggi


F. Konsep Penanganan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Cagar Budaya

Untuk mengantisipasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap Cagar Budaya, maka diperlukan suatu konsep penanganan agar kerusakan yang terjadi akibat perubahan iklim tersebut bisa diminimalisasi. Selain itu konsep penanganan juga diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari Cagar Budaya yang telah terkena dampak perubahan iklim. Beberapa konsep tersebut adalah:
 Monitoring jenis kerusakan yang disebabkan oleh faktor iklim secara periodik;
 Mempersiapkan SDM yang paham tentang klimatologi;
 Untuk monitoring kondisi iklim setempat, perlu adanya sarana stasiun klimatologi di dekat/di sekitar Cagar Budaya baik rekayasa maupun minta bantuan BMKG atau monitoring melalui stasiun klimatologi terdekat (apabila menggunakan AWS akses lewat internet);
 Dalam pelaksanaan pemugaran agar dipikirkan adanya lapisan kedap air di dalam struktur bangunan untuk mencegah adanya air rembesan dan kapilarisasi air agar tidak memicu terjadinya hidrolisis dan meningkatnya kelembaban yang bisa berakibat terjadinya pelapukan kimiawi dan biologi;
 Mengurangi material Cagar Budaya dari sinar matahari secara langsung, dengan jalan membuat pertamanan yang rindang dan tidak menebang pohon perindang di sekitar Cagar Budaya;
 Menyempurnakan sistem drainase (menghitung debit maksimum berdasarkan intensitas curah hujan) di sekitar Cagar Budaya untuk mengurangi kapilarisasi air dan kelembaban. Untuk Cagar Budaya yang rawan longsor buat talut penahan yang kuat dan kurangi air yang masuk ke halaman atau kawasan situs Cagar Budaya;
 Dalam pemugaran, agar dipilih bahan pengganti yang berkualitas baik dan tahan terhadap pengaruh iklim;
 Bila terjadi rembesan dan kapilarasi air pada Cagar Budaya agar segera diatasi penyebabnya;
 Instalisasi listrik pada Cagar Budaya kayu agar disempurnakan untuk menghindari kebakaran;
 Bila terjadi rembesan air pada Cagar Budaya batu dan bata, sebelum rembesan tersebut teratasi sebaiknya air rembesan dibersihkan setiap 15 hari untuk menghindari adanya endapan garam;
 Cagar Budaya yang dekat pantai agar selalu dimonitor dan dilindungi/dibuatkan dinding pelindung dari kemungkinan kenaikan air laut dan terjadinya badai.


G. Penutup

Dampak dari perubahan iklim terhadap kehidupan manusia meliputi hampir seluruh aspek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perubahan iklim tersebut tidak dapat dicegah, namun bisa diperlamban. Cagar Budaya mengalami dampak yang serius akibat perubahan iklim global, terutama Cagar Budaya yang usianya sudah sangat tua dan berada dalam wilayah berisiko tinggi terhadap perubahan Iklim. Material Cagar Budaya yang sudah rapuh sangat rentan terhadap perubahan iklim yang terjadi. Apabila hal ini tidak segera ditanggulangi, maka dikhawatirkan Cagar Budaya tersebut akan rusak dan hilang di waktu mendatang.


H. Referensi

– Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

- Aris Munandar, Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Benda Cagar Budaya

- Nasrullah, Dampak Perubahan Iklim pada Aktivitas Pelestarian Cagar Budaya

- Syafrudin, Dampak Perubahan Iklim terhadap Lingkungan

- United Nations Development Programme – Indonesia, 2007. Sisi lain perubahan iklim – Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya. ISBN: 978-979-17069-0-2

- Meiviana, Armely, Diah R Sulistiowati, Moekti H Soejachmoen, 2004. Bumi Makin Panas – Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia. Kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Pelestarian Lingkungan, Pelangi dan JICA.

*Dimuat dalam Jurnal Arkeologi 2011

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.711 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: