Oleh: hurahura | 1 Desember 2011

Situs Komunitas Buni Hancur karena Emas

HER SUGANDA
Pecahan gerabah.

KOMPAS, Jumat, 25 November 2011 – Dalam menyusuri awal peradaban manusia di Nusantara, Buni, di Kabupaten Bekasi, merupakan situs penting. Temuannya yang melimpah ruah dan tak terbilang banyaknya sudah berlangsung sejak tahun 1960-an. Namun, karena kekayaan tersebut, situs ini keadaannya sangat memprihatinkan. Tulang belulang kerangka manusia yang menjadi budaya pendukungnya serta pecahan gerabahnya dibiarkan berserakan akibat penggalian liar selama itu.

Padahal, menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia (UI) Prof Hasan Djafar, benda-benda temuan arkeologi yang ditemukan di Buni menunjukkan bukti adanya kehidupan masyarakat pada zaman akhir prasejarah hingga masa Kerajaan Tarumanagara. Dalam sebuah kesempatan di Bandung, Jawa Barat, ia menambahkan, temuan-temuan itu juga menunjukkan adanya jalinan dua peradaban.

Temuan tembikar Arikamedu serta perhiasan-perhiasan berupa manik-manik dan lainnya memperlihatkan adanya kontak komunitas Buni dengan bangsa India. Arikamedu merupakan pelabuhan di India Selatan.

Akan tetapi, masyarakat yang awam sejarah, apalagi awam dunia arkeologi, hanya mencari barang-barang perhiasan yang terbuat dari emas, manik-manik, gelang batu, dan benda-benda lainnya yang dianggapnya mempunyai nilai ekonomi. Temuantemuan itu dianggap sebagai harta karun yang dijadikan jalan pintas untuk mengatasi kebutuhan ekonomi keluarga.

Pada sisi lain, nasib situs ini berpacu dengan kegiatan eksplorasi minyak di sekitar daerah itu.


Berawal secara kebetulan

Temuan benda-benda arkeologi di daerah ini berawal secara kebetulan dari pengalaman (almarhumah) Nenek Masnah. Pada suatu pagi yang cerah di tahun 1960-an, tiba-tiba pandangannya tertuju pada pantulan sinar matahari yang berasal dari lubang yuyu (kepiting sawah), di dekat pematang sawah yang digarapnya. Ketika itu, ia sama sekali tidak membayangkan bahwa temuannya itu akan menarik perhatian para peneliti di bidang arkeologi. Bahkan, mendengar namanya saja belum pernah.

Nenek Masnah dan suaminya, Mardi, hanya petani penggarap. Sebagaimana dikisahkan salah seorang anaknya, Sakiudin (60), begitu menemukan benda yang menarik perhatiannya, ibunya segera menemui suaminya. Saat itu Sakiudin baru berusia delapan tahun.

”Apa ini, ya? Emas bukan?” Sakiudin menirukan ibunya yang berharap temuannya itu merupakan barang berharga.

Sebentuk anting-anting itu ternyata telah membuka riwayat pencarian harta karun oleh masyarakat.

Tiap jengkal tanah di kampung itu digali. Bahkan, tanahnya dibawa pulang lalu diteliti di rumah masing-masing. Saat para peneliti dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (kini Pusat Penelitian Arkeologi Nasional/Puslitarkenas) mengunjungi tempat tersebut, keadaannya sudah berantakan.

Selama tiga tahun—1964, 1969, dan 1970—melakukan survei dan ekskavasi, hasil temuan sudah bercampur-aduk. Tulang belulang kerangka manusia berikut perlengkapannya tidak utuh lagi dan tidak diketahui asal keberadaannya.

Di mata penduduk, temuan berupa perhiasan justru merupakan harta karun tempat mengadu keberuntungan. ”Kadang kala secara tidak sengaja kita menemukan emas. Tapi jika sengaja mencarinya, selama berhari-hari belum tentu bisa menemukan,” ujar penduduk lainnya yang tinggal di RT 10 RW 04 Kampung Buni.


Sejarah panjang Kampung Buni

Buni sebagai salah satu kampung di Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang. Nama kampung itu secara toponimi menunjukkan tempat yang terpencil. ”Buni itu artinya sepi atau sunyi karena letaknya terpencil,” kata Sakiudin.

Lahir dan dibesarkan di Buni, Sakiudin tahu banyak seluk-beluk kampungnya. Ayahnya yang bernama Saman menjadi ”mandor” di daerah ini sehingga penduduk sekitarnya menyebutnya Mandor Saman. Ia sekaligus menjadi orang pertama yang membuka hutan di daerah ini menjadi perkampungan.

Menurut Sakiudin, karena lokasinya yang terpencil, Buni pada zaman kolonial menjadi tempat pelarian para jawara setelah mereka beraksi di Bekasi atau Batavia (Jakarta). ”Di sini dijadikan tempat buronan,” katanya.

Di kampung ini mereka berziarah ke makam keramat sehingga kampungnya dinamakan Kampung Buni Kramat Bendungan. Bendungan tersebut dibangun di Kali Buni untuk mengairi sawah di daerah ini. ”Bendungannya ada di sebelah sono (sana),” kata Sakiudin seraya mengarahkan telunjuknya ke arah sebelah utara.

Kampung kelahirannya itu menjadi terkenal setelah masyarakat melakukan penggalian secara massal. ”Hanya dengan menggali tanah setengah sampai satu meter sudah bisa menemukan emas,” ujar Sakiudin. Bahkan, kadang-kadang perhiasan emas muncul ke permukaan tanah sehingga bisa ditemukan oleh siapa saja.

Bagaimana hiruk-pikuknya penggalian kubur prasejarah di tempat itu pada tahun 1960-an diceritakan Dulloh, pedagang barang antik dari Desa Sukamanah, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Ia mengaku kewalahan menampung barang-barang berupa gerabah sehingga saking banyaknya Museum Nasional di Jakarta yang menampungnya tidak jarang harus berutang dulu (Martokrido, Intisari 2006).


Masih berlanjut

Kisah penemuan perhiasan emas di daerah ini ternyata masih berlanjut hingga kini. ”Saya menemukan emas balokan seberat 7 gram,” kata Ny Atikah, istri Sakiudin, menimpali pembicaraan menjelang akhir November lalu. Logam mulia itu kemudian dijual ke toko emas di Pasar Babelan dengan harga Rp 400.000 per gram. ”Lumayan,” katanya sambil tersenyum bangga.

Seorang anak lainnya, Roki, tanpa sengaja menemukan bingkai mahkota, yang biasa dipasang di dahi, pada saat menggali tanah untuk pembuatan dapur. Namun, baru saja mencapai kedalaman 40 sentimeter, anak laki-laki berusia 15 tahun itu dikagetkan dengan barang temuannya. ”Mak, ini apaan?” tanyanya kepada ibunya yang terbaring sakit.

Ibunya terbelalak. Sorot matanya memancarkan kegembiraan. Di mata mereka, emas lebih menyilaukan. Emas bisa cepat dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apalagi menjual emas tidak perlu repot-repot pergi ke Pasar Babelan yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Setiap saat para penampung selalu datang berkeliling kampung. ”Emas, emas,” teriaknya, tak ubahnya pedagang yang menjajakan dagangannya. Mereka menyambangi penduduk seraya menanyakan apakah sudah menemukan perhiasan emas atau belum.

Karena banyaknya penampung emas yang berkeliaran, Kampung Buni dikenal sebagai Kampung Pasar Emas. Julukan ini melekat kuat walaupun tidak berarti di Kampung Buni terdapat pasar khusus tempat berjualan emas. Kampung tersebut tidak beda dengan kampung-kampung lainnya yang penduduknya menjadi petani.

Julukan pasar emas diberikan karena banyaknya transaksi jual-beli yang dilakukan masyarakat dengan para penampung emas. ”Apalagi waktu ramai-ramainya penggalian,” kata seorang ibu rumah tangga.


Justru karena emas

Dalam dunia arkeologi Indonesia, Buni merupakan situs penting. Situs Buni memiliki ciri-ciri budaya prasejarah dari masa perundagian, seperti bermacam-macam gerabah, beliung persegi, kapak batu, gelang batu, manik-manik batu, bandul jaring, artefak logam perunggu dan besi, serta tulang belulang. Manusia pendukungnya dijuluki komunitas Buni karena pada awalnya kubur-kubur prasejarah ditemukan di sana.

HER SUGANDA
Temuan Situs Buni

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kubur-kubur prasejarah tersebut terdapat pula di daerah-daerah yang terletak di sebelah timur Kali Bekasi, Sungai Citarum, sampai Kali Ciparage di Cilamaya. Daerah sebarannya dikenal dengan istilah Kompleks Tembikar Buni. Namun, ada pula yang menyebutnya Horison Buni.

Selain di Kampung Buni, beberapa situs yang pernah diteliti, antara lain, Kedungringin, Cabangbungin, Batujaya, Kobakkendal, Cilebar, dan Rengasdengklok.

Situs lainnya terdapat di Clincing dan Kelapa Dua, Jakarta. Akan tetapi, satu-satunya lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia pendukung budaya Buni dalam keadaan utuh beserta bekal kubur hanya terdapat di situs kompleks percandian Batujaya.

Temuan gerabah dan tulang belulang tersebut menunjukkan bahwa komunitas Buni sudah mengenal tradisi penguburan langsung tanpa wadah. Bekal kuburnya disertakan pada gerabah yang berisi berbagai perlengkapan.

Penyertaan bekal kubur tersebut merupakan bagian dari ritus yang dilatari kepercayaan adanya kehidupan setelah mati. Untuk melanjutkan ke alam arwah, jenazah yang dikuburkan perlu diberi bekal. Selain disimpan dalam gerabah, terdapat pula perhiasan berupa cincin emas yang masih menempel di jari pemiliknya.

Akan tetapi, karena emas pula, situs-situs komunitas Buni yang tersebar di sepanjang pantai utara Provinsi Jawa Barat menjadi berantakan karena penggalian liar. Keadaannya semakin parah karena selama ini tidak terlihat adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk melindungi situs-situs tersebut.

(HER SUGANDA, wartawan tinggal di Bandung)

About these ads

Responses

  1. ada yang perlu kalian tau itu semua adalah milik leluhur kami… Jadi tolong Jangan di kemukakan ke publik….

  2. […] Jejak Kejayaan Barus di Lobu Tua In “Arkeologi” […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.685 pengikut lainnya.