Oleh: hurahura | 28 November 2011

Mata Kail Tertua dari Timor

Temuan tulang ikan membuktikan bahwa 40 ribu tahun silam nenek moyang kita pintar melaut dan menyeberang ke Australia.

Profesor Sue O’Connor sudah belasan tahun malang melintang melakukan penelitian arkeologi di Timor Leste. Termasuk di Gua Jerimalai, yang terletak di Distrik ng paling timur negeri Lautem, ujung paling timur negeri Xanana Gusmao ini.

Beberapa waktu lalu, dia dan koleganya dari Australian National University menemukan 38 ribu sisa tulang belulang ikan laut dan tawar. Termasuk tulang-tulang jenis ikan pelagis, seperti tuna, hiu, pari, dan ikan laut lainnya.

Mereka terkejut karena, setelah dilakukan uji carbon dating, usia benda-benda purbakala itu 42 ribu tahun. Temuan lain berupa beberapa mata kail yang terbuat dari kerang yang usianya 11-23 ribu tahun. “Sangat mengagumkan jika 40 ribu tahun silam manusia rutin menangkap ikan-ikan di laut,“ kata O’Connor pekan lalu. Menurut dia, dibutuhkan teknologi yang rumit untuk menangkap spesies ikan pelagis. Bisa dipastikan manusia purba Asia Tenggara punya kemampuan melaut sangat maju.

Di Gua Blombos, Afrika Selatan, pernah ditemukan timbunan tulang ikan berusia 50-140 ribu tahun. Tapi tulang belulang tersebut sebagian besar berasal dari ikan air tawar yang bisa ditangkap dengan mudah menggunakan teknologi sederhana. “Temuan beberapa ikan tuna ada kemungkinan karena terdampar,“ kata Richard Klein, arkeolog di Universitas Stanford di California.

Penemuan mata kail juga mengejutkan. “Sebelumnya kail tertua ditemukan yang usianya bersamaan dengan awal masa bercocok-tanam. Di Asia Tenggara ini terjadi sekitar 5.500 tahun lalu,“ ujar O’Connor. Walhasil, temuan di Gua Jerimalai ini merupakan mata kail tertua di dunia.

Apa implikasi lain dari temuan ini? Ribuan tahun lampau, kata O’Connor, manusia modern menggunakan Timor Leste sebagai batu loncatan saat bermigrasi dari Asia menuju Australia. Dia dan tim peneliti Australian National University memaparkannya di jurnal Science.

Beberapa teknologi yang mungkin dipakai untuk menangkap ikan di tengah laut antara lain jaring yang memiliki kail. O’Connor menjelaskan, kail penangkap ikan berbeda dengan temuan sebelumnya. Namun menangkap perenang cepat, seperti ikan tuna, tak mungkin menggunakan tombak.

Christopher Henshilwood, arkeolog di Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan, mengaku tidak terkejut oleh temuan ini. “Manusia telah mampu melaut pada waktu itu,“ katanya. Sejumlah ahli memang menyebutkan migrasi manusia modern ke Australia pertama kali terjadi pada periode 50 ribu tahun silam.

Meski demikian, O’Connor belum menemukan bukti langsung tentang peralatan memancing yang canggih dan metodenya. Boleh jadi keterampilan memancing memungkinkan mereka secara efisien memanfaatkan garis pantai dan bertahan di laut terbuka guna mencapai Benua Kanguru.

O’Connor menduga situs di wilayah pesisir Afrika yang dapat menguak lebih banyak bukti dari teknologi maritim mungkin telah hilang karena kenaikan permukaan air laut dari waktu ke waktu.

Beruntung, situs Gua Jerimalai masih lengkap karena letaknya di wilayah pesisir yang tinggi. “Situs ini menyediakan jendela untuk mengetahui apa yang dilakukan awal-awal manusia modern,“ kata O’Connor. Menengok jendela itu membenarkan pernyataan bahwa nenek moyang kita memang pelaut.

UNTUNG WIDYANTO | ANTON WILLIAM | NATURE | LIVESCIENCE

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.733 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: