Oleh: hurahura | 13 September 2011

Percandian Batujaya dan Cibuaya Kabupaten Karawang, Jawa Barat

Oleh: Etty Saringendyanti
Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran


ABSTRAK

Situs Batujaya terletak di dua desa Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum daerah pantai utara Jawa Barat. Situs Batujaya merupakan gundukan tanah berisi sisa bangunan bata, yang oleh penduduk setempat disebut Unur. Hingga tahun 1999 tercatat sebanyak 26 unur yang berindikasi ke arah bangunan candi.

Tujuan penelitian ini terutama mengkaji masalah bentuk bangunan, fungsi bangunan, dan pendukung budaya pada masa bangunan itu berfungsi. Untuk mencapai tujuan penelitian, langkah penelitian berjalan sebagaimana metode penelitian arkeologi. Langkah-langkah tersebut diurai dalam identifikasi, analisis bentuk, serta mencari pola persebaran candi-candi di wilayah Batujaya dan Cibuaya. Selain itu dilakukan pula penjabaran mengenai latar keagamaan atau kepercayan masyarakat pendukungnya pada saat bangunan itu berfungsi sebagai sarana upacara mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan penempatan situs secara ekologis sangat mungkin karena kelangkaan air tawar, dan secara geomorfologis karena menghidari banjir. Dalam analisis bentuk bangunan data bantu berupa analogi karya sastra Jawa Kuna dan beberapa data prasasti memperlihatkan kesesuaian bahwa sisa bangunan mengacu kepada sebuah patirthan. Kemudian daripada itu, mengingat besar dan luasnya lahan serta banyaknya candi yang mungkin akan banyak lagi ditemukan pada masa mendatang, situs Batujaya sangat mungkin merupakan sebuah kompleks percandian yang menjadi pusat upacara (ceremonial centre).

Sementara itu, situs Cibuaya sampai saat ini hanya ditemukan 6 buah candi yang jelas menunjukkan kehinduannya (Saiwa). Dan untuk sementara ini dapat diasumsikan bahwa situs Cibuaya adalah sebuah parahiyangan, sementara candi mana yang dianggap sebagai prasada, apakah candi Cibuaya I (Lemah Duwur Lanang) dapat dianggap sebagai prasada ? Penelitian di masa mendatang tentunya akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan.


PENDAHULUAN

Karawang selama bertahun-tahun telah dikenal tidak hanya sebagai lumbung beras nasional, namun juga sebagai kota yang tercatat dengan tinta emas semasa perjuangan kemerdekaan. Hingga kini bukti-bukti itu masih dapat ditemukan tidak jauh dari pasar Rengas Dengklok. Dalam perkembangannya ternyata Karawang juga menyimpan potensi sumberdaya arkeologi yang sangat besar sejak masa prasejarah, klasik sampai masa Islam tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Dua situs dari masa klasik yakni Batujaya dan Cibuaya, sampai saat ini setidaknya memiliki 30 buah lokasi yang diduga merupakan bangunan candi dari masa Kerajaan Tarumanagara sampai Sunda. Satu jumlah yang berlum tertandingi oleh daerah lain di Jawa Barat dan tentu tidak berlebihan jika Karawang mendapat julukan sebagai Lumbung Candi di Jawa Barat.

Tidak sukar untuk mengunjungi Komplek Percandian Batujaya yang ditemukan pada tahun 1984 ini. Dari Pasar Rengas Dengklok dapat ditempuh dengan kendaraan umum kurang lebih 30 menit melalui satu-satunya jalan yang menghubungkan kota ini sampai ke Pantai Pakis. Sesampai di Desa Segaran perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan ojek yang biasa mangkal di ujung jalan. Jangan kuatir akan tersesat karena dari jalan raya arah ke Desa Segaran telah tampak papan penunjuk yang berbunyi “Candi Jiwa”meskipun ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi tentu jika tidak mau repot memang lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Komplek percandian ini letaknya tersebar dalam radius 5 hektar dan sebagian besar berada di areal pertanian.

Dari seluruh situs yang ditemukan baru candi Jiwa dan Blandongan yang dibuatkan jalan setapaknya sisanya dapat ditempuh melalui pematang sawah. Lumayan juga bisa menikmati suasana alam pertanian. Dari 24 lokasi yang ditemukan, 13 lokasi berada di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan sisanya berada di Desa Telagajaya, Kecamatan Telagajaya. Secara topografis, komplek ini berada pada dataran rendah aluvial dengan ketinggian sekitar 4 meter di atas permukaan laut.Sebelah baratdaya komplek merupakan daerah limpahan banjir dan di utara merupakan rawa yang selalu digenangi air pada musim hujan.

Dengan demikian kemungkinan komplek ini tergenang air banjir sangatlah kecil karena sekitarnya merupakan daerah kantung air. Secara geografis, letaknya berada di ujung Karawang pada kordinat 6°06’15’’ – 6°16’17” Lintang Selatan dan 107°09’01” – 107°09’03” Bujur Timur. Sekitar 500 meter di sebelah selatan candi ini mengalir Sungai Citarum yang dimanfaatkan untuk irigasi air. Sungai utama yang mengalir di daerah Batujaya ini berhulu di lereng Gunung Wayang, Malabar. Lebar sungai sekitar 40 — 60 meter terutama di daerah hilir. Sungai ini tergolong berstadia tua dengan ciri lembah berbentuk huruf U dan aliran sungai berkelok-kelok. Mendekati muara di Laut Jawa, aliran sungai ini terpecah menjadi tiga yakni Solo Bungin, Solo Balukbuk, dan Kali Muara Gembong. Selain Sungai Citarum di daerah Batujaya terdapat tiga buah sungai yang bermuara di Laut Jawa yakni Sungai Pakis, Sukajaya, dan Cikiong.

Lengkapnya silakan unduh di sini:
PERCANDIAN BATUJAYA

About these ads

Responses

  1. thank’s infonya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.686 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: