Oleh: hurahura | 11 Juli 2011

Peninggalan Purbakala di Mal

Salah seorang mahasiswa mengabadikan salah satu situs di pameran yang digelar di sebuah Mal di Kota Malang, Jawa Timur, oleh Kemenbudpar, Rabu (6/7/2011)

kompas.com, Rabu, 6 Juli 2011 – Untuk memperkenalkan berbagai macam peninggalan purbakala kepada generasi muda, pameran arkeologi digelar di sebuah mal di Kota Malang, Jawa Timur. Pameran tersebut diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Malang Town Square pada 5-9 Juli 2011.

Menurut ketua panitia, Peristua Sihagian, pameran diselenggarakan di mal agar masyarakat lebih mudah mempelajari sejarah kehidupan masa lalu serta benda peninggalannya. “Langkah ini saya nilai lebih efektif ketimbang masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa, harus datang ke museum. Masyarakat masih menilai museum kumuh dan tidak terawat, bahkan orang takut mau masuk museum karena dinilai seram,” ujarnya, Rabu (6/7/2011).

Pameran yang bertema “Akar Peradaban dan Pembentukan Masyarakat Multikultur” itu mempertontonkan 15 artefak dan ekofak dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu juga informasi tentang sejarah sejumlah kerajaan di Indonesia.

Di sini pengunjung bisa melihat replika fosil tengkorak manusia yang ditemukan di Goa Harimau di Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Fosil tengkorak yang diperkirakan ada sebelum abad ke-3 Masehi itu merupakan manusia pertama yang tiba di Sumatera dari ras Mongoloid.

Hal lain yang dipamerkan adalah mengenai situs Kerajaan Singosari di daerah Bungkuk, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dalam situs ini ditemukan sisa permukiman kuno dan beberapa peninggalan sejarah lainnya. Panitia juga menyajikan informasi tentang peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Kanjuruhan.

Peninggalan tersebut antara lain terakota dari situs Trowulan, Mojokerto, Prasasti Sangguran, Arca Dwarapala, Candi Jago, Candi Songgoriti, Candi Kidal, dan Candi Sumberawan, serta prasasti Dinoyo.

Sementara itu, menurut peneliti arkeologi nasional, Amelia Driwantoro, masyarakat bisa mengetahui bahwa peradaban di zaman dulu sudah maju. “Contohnya adalah Kerajaan Majapahit yang sudah baik dalam mengelola kesenian, sistem pemerintahan, teknologi, perdagangan, religi, hingga kesusasteraan,” katanya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.686 pengikut lainnya.