Oleh: hurahura | 7 Juli 2011

Warisan Dunia Situs Sangiran, Persepsi Menurut Penduduk Sangiran

Oleh: Bambang Sulistyanto


Abstract

Cultural heritages are things from the past, which are valued by communities in recent time as part of their nation’s culture. In reality, among the communitymembers there are problems that rise as an impact of diverse perceptions, due to the fact that each perceptionis based on each party’s own interest like the one at the site of Sangiran. The Government, as part of recent community, idealistically sees the Sangiran Site as a cultural heritage that needs to be protected not only for the scientific purposes but also for the sake of national identity. Another party within the community, which is the people living aroundSangiran, sees the site as the area of their ancestors, which contain valued and useful things that they can use to increase their economic condition. Conflict that arises because of the different perceptions (fossil protection on one side and fossil trade on the other) has not been able to be solved until now. Meanwhile, the of destruction of the site of Sangiran as the World Heritage No. 593 keeps going on.

Kata Kunci: Warisan Budaya Sangiran, perbedaan persepsi, orientasi idealis, orientasi ekonomis, konflik dan dampaknya.

Keywords: Sangiran, cultural heritage, beneficiary (of cultural heritage), different perception, idealistic orientation, economic orientation, conflict and consequences.


1. PENDAHULUAN

Dimensi kultural yang mengkaji secara ilmiah masalah interaksi antara warisan budaya dan masyarakat, dan sebaliknya interaksi antara masyarakat dan warisan budaya, masih sangat jarang dilakukan. Minimnya jumlah artikel yang mempresentasikan permasalahan tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan munculnya pandangan bahwa arkeologi merupakan ilmu yang eksklusif dan nyaris tidak tersentuh oleh masyarakat. Pada akhirnya dampak serius kurangnya publikasi tentang warisan budaya menyebabkan pula minimnya pemahaman masyarakat terhadap arti penting warisan budaya.

Kecenderungan warisan budaya yang seringkali dikatakan sebagai media yang memiliki fungsi dalam menjaga proses pertumbuhan kebudayaan bangsa, ternyata mengandung nilai-nilai yang pewarisannya dapat terjadi secara berbeda. Suatu warisan budaya mungkin saja diterima terpaksa oleh pewarisnya atau justru dengan senang hati tidak diterima oleh pewarisnya. Dengan perkataan lain, warisan budaya dapat dipersepsikan oleh masyarakat sesuai dengan kecenderungan orientasi kepentingannya. Jika persepsi memiliki bobot kognitif atau nilai tambahan pengetahuan, maka warisan budaya akan dipersepsikan sebagai “informasi” yang mampu menambah dan memperkaya khazanah kognitif yang sudah dimiliki oleh masyarakat tersebut. Sebaliknya, jika persepsi mengarah pada ekspresivitas yang sifatnya individualistis , dengan persepsi afektif, sesuai dengan kepentingan atau keyakinannya sendiri maka terdapat kemungkinan warisan budaya cenderung dibesar-besarkan dalam arti dan maknanya (Nimpoeno 1980: 29). Perbedaan persepsi dalam memaknai suatu warisan budaya merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya konflik pemanfaatan yang akhir-akhir ini sering terjadi di berbagai tempat di Indonesia khususnya pada situs-situs yang menjadi pusat perhatian masyarakat luas seperti Situs Sangiran (Sulistyanto 2006: 577-586).

Terletak lima belas kilometer di sebelah utara kota Surakarta, kemashyuran Situs Sangiran telah bergema dan terekam dalam kitab-kitab ilmiah bangsa seberang. Eugene Dubois, ahli anatomi berkebangsaan Belanda misalnya, pada tahun 1893 sudah melakukan eksplorasi di Situs Sangiran (Simanjuntak 2005:16). Latar belakang dokter militer ini tertarik melakukan penyelidikan fosil manusia purba di Situs Sangiran, karena terpengaruh oleh teori gurunya, Ernst Haeckel yang beranggapan, bahwa manusia purba harus dicari di daerah tropis yang tidak banyak mengalami perubahan iklim di mana kera-kera besar masih banyak yang hidup. Sementara itu, seorang ahli biologi Inggris Alfred Russel Wallace menyatakan, bahwa jejak kera-kera besar (antropoida) pertama kemungkinan besar dapat ditemukan di hutan tropis di Indonesia. (Semah et al, 1990:7).

Secara administratif Situs Sangiran ini berada di dua wilayah kabupaten, Sragen dan Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan peta wilayah cagar budaya dapat diketahui bahwa wilayah ini terdiri atas empat kecamatan, 22 desa, dan 163 dusun. Jumlah desa yang masuk wilayah Cagar Budaya Sangiran berbeda dengan jumlah desa secara administratif karena tidak semua desa yang ada di dalam wilayah administratif juga masuk ke dalam wilayah Cagar Budaya. Berdasarkan perhitungan dari sumber monografi yang diperoleh dari 22 desa di wilayah Cagar Budaya Sangiran tahun 2006, dapat diketahui, bahwa penduduk di daerah Cagar Budaya Sangiran berjumlah 82.427 jiwa terdiri atas 22.135 Kepala Keluarga (KK). Perbandingan rasio jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan relatif seimbang, Jumlah penduduk laki-laki 40.791 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan 41.636 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata 4.587 orang per km2.

Situs berskala dunia ini menyimpan satuan stratigrafi yang tidak terputus sejak zaman Pliosen Akhir hingga akhir Plistosen Tengah, antara dua juta hingga 200.000 tahun yang lalu. Menurut hitungan para ahli, di Situs seluas 56 km2 ini telah ditemukan lebih dari 70 individu manusia purba dari takson Homo erectus; suatu jumlah yang melebihi 50% dari seluruh penemuan Homo erectus di dunia (Widianto 1996:3). Lapisan tanah tua berfosil di kawasan Situs Sangiran dipandang sebagai laboratorium alam yang sangat langka di dunia. Sangiran oleh para ahli dinilai sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia dan dipakai sebagai tolok ukur kajian proses evolusi manusia dan lingkungan purbanya (Widianto dkk. 1995/1996: 1). Potensi situs yang demikian itu menyebabkan UNESCO pada Desember 1996 menetapkan Sangiran sebagaii Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) bernomor 593.

Namun demikian, sejak Sangiran ditetapkan sebagai situs warisan dunia tiga belas tahun lalu, pengelolaan Situs Sangiran itu kurang mengalami banyak kemajuan. Artinya, seluruh potensi yang ada belum dapat dinikmati secara maksimal baik untuk kepentingan ideologi, akademik maupun ekonomi. Situs berperingkat dunia ini bahkan telah memunculkan beragam konflik kepentingan sebagai dampak atas perbedaan persepsi dalam memaknai warisan budaya. Persepsi pemerintah terhadap Situs Sangiran berbeda dengan persepsi yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar situs.

Bagi pemerintah, Situs Sangiran merupakan wilayah cagar budaya penghasil fosil yang keberadaannya sangat langka di dunia sehingga perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya. Sementara bagi penduduk, daerah perbukitan Sangiran dengan seluruh isinya adalah tanah warisan leluhurnya yang anak-cucunya berhak mendayagunakannya untuk berbagai kepentingan hidupnya. Bagi pemerintah, fosil dan lingkungannya merupakan benda yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang sangat tinggi, tetapi bagi penduduk fosil tidak bedanya dengan sumber daya alam lain seperti batu, kayu atau pasir yang memiliki nilai ekonomi sehingga menjadi objek pendukung mata pencaharian sehari-hari.

Tulisan ini akan mengkaji persepsi Situs Sangiran menurut penduduk Sangiran. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan sistem pengetahuan masyarakat Sangiran dalam mempersepsikan warisan budaya di lingkungan sekitarnya, dan cara-cara mereka bertindak menggunakan sistem pengetahuan yang dimiliki tersebut. Penelitian mengenai sistem pengetahuan seperti ini dinilai bermanfaat karena dapat mengungkapkan nilai-nilai utama yang mereka anut, guna mengetahui perasaan dan pikiran mereka dalam merepresentasikan kebudayaannya terhadap lingkungan sosial, budaya, dan lingkungan alam situs yang padat akan warisan budaya. Dengan bekal pengetahuan ini diharapkan di masa depan konflik pemaknaan situs yang terjadi di antara penduduk sekitar situs dan pemerintah dapat dipecahkan.

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif antara lain berupa luas wilayah Situs Cagar Budaya Sangiran berikut jumlah penduduknya. Adapun data kualitatif yang dikumpulkan antara lain berupa nilai-nilai dan norma-norma serta aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat kawasan cagar budaya Situs Sangiran. Nilai, norma, dan aturan tersebut merupakan hal yang tidak dapat diamati ataupun didengar, tetapi dapat dilihat perwujudannya dalam perilaku masyarakat sehari-hari. Untuk dapat mengetahui nilai, norma, dan aturan tersebut, maka dianggap perlu bertanya kepada orang atau pihak yang dipandang mengetahui permasalahan. Oleh karena itu, penelitian ini juga memerlukan data berupa pola perilaku, khususnya menyangkut masalah persepsi dan interaksi penduduk terhadap warisan budaya Situs Sangiran. Untuk itu, pengumpulan data informasi dilakukan antara lain melalui wawancara dengan orang-orang yang terkait dalam urusan fosil.

Data kualitatif lain yang penting dan perlu ditemukan dalam penelitian ini antara lain berupa cerita, baik berupa mitos, legenda maupun sejarah atau peristiwa dan kasus-kasus yang menyangkut keberadaan warisan budaya Situs Sangiran yang pernah terjadi di daerah penelitian. Cerita-cerita tersebut tidak harus masuk akal menurut pemikiran kita, sebab rasional atau tidaknya suatu cerita berkaitan erat dengan hal-hal lain dalam kebudayaan. Dengan demikian, penelitian ini di samping menghimpun, memilah, dan mempelajari data sekunder, juga mengadakan penelusuran data primer yang dicari di lapangan melalui dua cara, yaitu observasi dan juga wawancara, seperti yang telah disebut sebelumnya.


2. PERSEPSI PENDUDUK SANGIRAN TERHADAP SITUS SANGIRAN

A. Persepsi Sebelum Tahun 1930
Pada akhir abad kesembilan belas nama Sangiran sudah dikenal oleh kalangan ilmuwan barat, setelah Raden Saleh, seorang pelukis terkenal dari keraton Surakarta menceritakan kepada teman-temannya, para ilmuwan Eropa tentang banyaknya temuan fosil di Situs Sangiran. Bahkan pelukis yang juga pemerhati warisan budaya tersebut pada akhir abad kesembilan belas masehi telah melakukan penggalian di daerah Kedungbrubus, Ngawi, Jawa Timur. Hal ini membuktikan, bahwa pada masa itu sudah ada seorang budayawan Indonesia, dalam hal ini pelukis Raden Saleh yang tertarik akan keberadaan tulang-tulang raksasa atau fosil (Semah et al, 1990: 9) yang di kala itu fosil tersebut disebutnya sebagai “balung buto”. Istilah fosil baru dikenal oleh penduduk Sangiran pada sekitar tahun 1930-an setelah daerah tersebut mulai kedatangan peneliti bangsa asing. Arti balung buto tidak hanya terbatas untuk menamai tulang-tulang besar yang banyak bermunculan di lingkungan alam Sangiran tetapi arti balung buto juga terbungkus dalam bentuk mitos yang diyakini kebenarannya [1].

Mitos bukan sekedar dongeng pelipur lara yang tanpa makna. Di balik ceritanya yang kadang sangat aneh, tersembunyi pesan dari masyarakat pendukung mitos. Kecenderungan mitos yang seringkali dipergunakan sebagai media pembenaran, sesungguhnya mengandung makna yang berkaitan dengan realitas masyarakat pencipta mitos. Mitos adalah cerita tentang peristiwa awal mula dan transformasi yang mengandung kualitas sakral yang penyampaiannya dalam bentuk simbolis. Seperti halnya mimpi, mitos adalah ekspresi dari unconscious wishes (keinginan-keinginan yang tidak disadari) yang tidak konsisten dan tidak sesuai dengan kenyataan sehari-hari (Cohan 1969: 337-357). Namun demikian, dalam perspektif antropologi, cerita mitos dipandang sarat akan pesan. Walaupun pengirim pesan tidak diketahui, tetapi dapat diasumsikan bahwa pengirimnya adalah nenek-moyang dan penerimanya adalah generasi sekarang (Ahimsa- 2001: 32).

Bagi masyarakat tradisional Sangiran pada masa itu, mitos balung buto merupakan suatu cerita yang dianggap benar-benar terjadi dan cerita itu menjadi milik mereka bersama yang dihormati. Mitos ini merupakan media penyampaian pesan atau ungkapan simbolis dari konflik batin yang tidak mampu terpecahkan secara rasional oleh masyarakat Sangiran masa lalu. Konflik batin yang dimaksud adalah pertanyaan apa dan mengapa banyak tulang berukuran besar terkubur di berbagai tempat di tanah Sangiran. Oleh karena itu, mitos ini dapat dipandang sebagai contoh model untuk dijadikan referensi bagi manusia pendukungnya dalam bertindak dan bersikap. Dengan perkataan lain, mitos balung buto seperti peraturan tidak tertulis yang mengatur dan mengarahkan kehidupan masyarakat pemilik mitos (Sulistyanto 2005: 110).

Bertolak dari konsep inilah dapat dipahami jika penduduk Sangiran pada masa lalu memiliki kepercayaan kuat, bahwa tulang raksasa, yang tidak lain adalah fosil hewan atau manusia purba (Homo erectus), dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit perut, demam atau penyakit karena gigitan hewan berbisa. Kepercayaan lain yang berkaitan dengan kekuatan magis balung buto adalah untuk melindungi diri atau sebagai jimat kekebalan tubuh. Menurut penuturan beberapa informan, konsep tersebut diambil dari kisah mitos, yakni kekuatan fisik para raksasa khususnya kesaktian raja raksasa Tegopati yang menurut cerita tidak terkalahkan oleh Raden Bandung selama ksatria itu tidak memperoleh bantuan dari dewa. Oleh karena itu, balung buto yang banyak bermunculan di berbagai tempat di tepi sungai, di lereng-lereng perbukitan Sangiran, pada kurun waktu sebelum tahun 1930-an jarang terganggu oleh penduduk setempat. Berbagai jenis dan bentuk tulang raksasa dibiarkan berserakan yang pada gilirannya akan terpendam tanah kembali oleh erosi bukit yang berada di atasnya. Nilai religius-magis itulah yang dahulu menyebabkan benda ini terselamatkan oleh kondisi alam Sangiran sendiri, kecuali jika ada warga yang sakit, benda yang dianggap keramat ini dicari tetapi hanya sebatas pada kepentingan penyembuhan.

Jenis penyakit yang dapat disembuhkan oleh daya magis balung buto diceritakan bermacam-macam, tetapi sebagian besar adalah jenis penyakit yang tersebar luas di kalangan penduduk pedesaan pada umumnya. Dari beberapa informan yang diwawancara pada tahun 2003 dapat diketahui adanya sepuluh jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan balung buto; yaitu demam, encok, bisul, disentri, pusing, perut mulas, sakit gigi, gatal-gatal, dan retak tulang (keseleo) serta sakit karena gigitan hewan berbisa (Sulistyanto 2003: 103). Konsep tradisional tentang kepercayaan fosil sebagai materi medica sebenarnya tidak hanya terdapat di Pulau Jawa (Sangiran) saja, melainkan juga sudah lama berkembang dan dipraktekkan di daratan Cina [2].

Kepercayaan terhadap kesaktian para raksasa sebagaimana tercermin dalam cerita mitos, mempengaruhi persepsi masyarakat Sangiran pada masa lalu dalam merepresentasikan dirinya terhadap lingkungan alam sekitarnya yang banyak mengandung fosil. Fosil atau balung buto, dalam perkembangannya tidak hanya dipercaya dapat berfungsi sebagai materi medica tetapi juga diyakini pula sebagai jimat kekebalan tubuh atau jimat pengusir setan atau makhluk halus [3].

Konsep pemaknaan terhadap balung buto sebagai jasad dari tulang raksasa yang dapat membantu kehidupan manusia itulah yang dipergunakan oleh penduduk Sangiran sebelum periode 1930-an sebagai kerangka adaptasi terhadap lingkungan situs. Ilustrasi adaptasi penduduk terhadap lingkungan alam sekitar Sangiran dapat dilihat pada bagan 1.

Bagan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Mitos sebagai media pencarian pembenaran, bersifat simbolis terhadap fenomena di lingkungan sekitar daerah Sangiran. Fenomena itu dapat diamati melalui keterkaitan antara satu dengan yang lain: (1) Situs Sangiran menghasilkan balung buto (2) yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (3); keberadaan balung buto tersebut ditanggapi dan dipercaya sebagai bekas tulang-belulang raksasa penghuni Sangiran yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan pengusir setan (4); sistem pemaknaan seperti inilah yang dipergunakan sebagai kerangka adaptasi oleh penduduk terhadap balung buto (5).

Demikian, warisan budaya Situs Sangiran dalam persepsi penduduk setempat pada era sebelum tahun 1930-an memiliki nilai religius-magis yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit, penolak bala, dan bahkan kekebalan badan. Pemaknaan masyarakat yang demikian itudiramalkan akan mengalami pergeseran setelah situs ini sering didatangi para peneliti asing dalam rangka eksplorasi ilmiah guna mengungkapkan sejarah evolusi manusia sebagaimana akan dikaji pada subbab di bawah.

B. Persepsi pada kurun waktu 1930-1940
Dalam rangka menghimpun temuan fosil yang sebanyak-banyaknya, para peneliti asing khususnya Von Koenigswald selama hampir sepuluh tahun secara periodik tinggal di rumah Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan (Sangiran) pada waktu itu. Selama tinggal di Desa Krikilan, paleontolog berkebangsaan Jerman ini banyak bergaul dengan penduduk setempat untuk mengumpulkan fosil. Dalam eksplorasi ilmiah yang berlangsung sekitar sepuluh tahunan itu, secara tidak langsung terjadi pembudayaan perilaku penduduk dalam bentuk pencarian dan pegumpulan fosil. Nama Von Koenigswald di kalangan penduduk Sangiran yang berusia 70 tahun ke atas sampai sekarang masih melekat, karena peneliti legendaris ini dikenal sangat ramah dan murah hati kepada penduduk.

Hadirnya rombongan peneliti asing di tengah-tengah masyarakat Sangiran membawa perubahan dalam mempersepsikan warisan budaya (fosil) yang pada akhirnya memunculkan perilaku baru yang tidak dikenal pada masa-masa sebelumnya. Perilaku baru yang dimaksud adalah berburu fosil untuk mendapatkan upah. Pada masa itu, sebagian peduduk desa-desa di wilayah Sangiran benar-benar menjadi terlatih berburu fosil. Akibat kontak dengan peneliti asing, penduduk mulai sadar dan mengerti bahwa fosil yang dulu dinamai balung buto dan dianggap dipercaya memiliki nilai religius-magis ternyata juga memiliki nilai tukar uang yang cukup menjanjikan. Selama bekerja dengan para peneliti asing, secara tidak langsung mereka memperoleh pengetahuan baru, misalnya dalam mendeteksi mana fosil asli dan mana yang bukan, serta mana fosil yang penting dan mana yang kurang berarti. Di lapangan dengan sendirinya mereka juga belajar teknik berburu fosil dan cara melindunginya sekaligus mengidentifikasinya. Perubahan persepsi masyarakat Sangiran sebagai dampai kehadiran Von Koenigswald dan ilmuwan lain dapat dicermati pula melalui kisah dari Toto Marsono, orang kepercayaan Von Koenigswald pada waktu itu [4].

Luas wilayah Situs Sangiran ditambah dengan kondisi alamnya yang gersang dan berbukit-bukit, memang tidak memungkinkan rombongan peneliti mana pun dapat bekerja sendiri. Oleh karena itu, dalam rangka eksplorasi situs yang sangat panas ini, Von Koenigswald mengerahkan penduduk setempat untuk mencari fosil. Kondisi tanah purba Situs Sangiran yang padat fosil, merupakan lahan yang mudah longsor dan tererosi oleh air hujan. Pada saat setelah hujan turun inilah penduduk beramai-ramai mencari fosil yang bagi mereka menghasilkan tambahan uang guna memenuhi kehidupan.

Von Koenigswald sengaja menerapkan sistem upah berupa uang bagi penduduk yang berhasil menemukan baik itu fosil manusia, hewan atau artefak lainnya. Dalam sistem upah seperti itu, maka besarnya upah tergantung dari jenis fosil yang ditemukan serta kelangkaannya. Menurut Toto Marsono (dalam wawancara oleh penulis tahun 1999), setiap penduduk yang turun aktif mencari fosil menerima upah dua ketip sehari. Jika mereka menemukan fosil yang menurut penilaian Von Koenigswald penting, maka penemu tersebut mendapat upah antara lima sampai sepuluh ketip tergantung jenis benda yang ditemukan [5].

Demikianlah, pada era Von Koenigswald antara tahun 1930–1940 merupakan tahun-tahun mendasar bagi perubahan sikap dan perilaku penduduk Sangiran dalam memaknai warisan budaya di sekitarnya. Kedatangan Von Koenigswald dan rombongan para peneliti asing di Sangiran membawa dampak pergeseran keyakinan, yaitu dari nilai religius-magis ke nilai ekonomis. Anak-anak pada generasi ini telah mengalami sosialisasi sehingga berpikir bahwa fosil identik dengan uang. Dengan demikian, Von Koenigswald dan ilmuwan lain pada waktu itulah yang sebenarnya “meletakkan dasar” terjadinya perubahan sikap dan perilaku penduduk di dalam memaknai warisan budaya Sangiran.

C. Persepsi penduduk, pencari fosil pada masa sekarang
Perilaku perburuan fosil guna memperoleh tambahan penghasilan, terus berlanjut hingga generasi masyarakat sekarang dengan berbagai perkembangannya. Berbekal tas ransel dan sebatang pipa besi yang diruncingi ujungnya, beberapa penduduk Sangiran menelusuri lereng-lereng bukit, pematang-pematang sawah, dan menyusuri sepanjang tepi sungai serta lokasi lain yang dipandang penting. Perburuan fosil ini biasanya dilakukan setelah hujan turun karena air hujan akan menyebabkan erosi bukit-bukit yang pada akhirnya memunculkan fosil. Pada umumnya para pemburu sudah hafal tempat-tempat yang banyak mengandung fosil. Mereka juga sudah paham betul jenis lapisan tanah yang padat akan kandungan fosil di dalamnya.

Pengetahuan ini, seperti yang telah dijelaskan sebelum ini, diperoleh dari Von Koenigswald yang terus diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Tanah yang mereka curigai sebagai tempat fosil, dideteksi terlebih dulu dengan cara menusukkan pipa besi yang berujung runcing itu. Dengan alat itu konon mereka dapat mendeteksi apakah benda yang ada di dalam tanah fosil atau hanya batu biasa [6].

Seorang mantan tengkulak dan pencari fosil yang sudah terkenal di daerah Sangiran, berinisial TT (54 tahun) menceritakan berbagai kendala susahnya mencari fosil pada zaman sekarang. Hambatan pertama menurutnya adanya peraturan dari pemerintah yang melarang penduduk mencari fosil. Kedua, banyak lahan kosong yang sekarang wajib untuk ditanami tebu serta sudah padat permukiman.. Dulu pencarian fosil tidak dilarang, bahkan penduduk disuruh oleh pak lurah dan diberi upah. Menurut mantan tengkulak itu dua puluh tahun yang lalu fosil masih gampang ditemukan karena tulang-tulang itu berserakan di tegalan atau di lereng-lereng bukit. Dia menduga sekarang fosil itu sudah habis. Oleh karena itu, dia dan kelompoknya hanya mencari fosil pada musim penghujan saja atau jika mereka mendapat pesanan dari orang asing.

Pencarian fosil erat sekali hubungannya dengan pemalsuan bentuk fosil tertentu di samping perdagangan atau jual-beli yang melibatkan jaringan-jaringan sindikat yang cukup rapi. Hadirnya Museum Sangiran di Desa Krikilan pada tahun 1988 menjadikan adanya interaksi antara masyarakat setempat dengan masyarakat luar (pengunjung Museum Sangiran). Akibatnya, di daerah sekitar Museum Sangiran bermunculan home industry berupa kerajinan batuan yang dijual kepada para wisatawan. Namun, para penjual itu, khususnya para tengkulak, ternyata tidak hanya menawarkan suvenir hasil kerajinan penduduk tetapi juga fosil hasil buruannya. Setiap wisatawan asing yang datang di Museum Sangiran diamatinya. Dengan penguasaan bahasa Inggris secukupnya, mereka pura-pura menawarkan suvenir sambil menawarkan jasa mengantarkan kunjungan ke berbagai situs sebagai lokasi ditemukannya fosil-fosil Sangiran. Jika dirasakan ada tanda-tanda wisatawan itu tertarik, maka pembicaraan segera dilanjutkan ke masalah koleksi fosil yang ingin dijualnya. Jika wisatawan itu tertarik mau melihat atau membeli, tengkulak itu cukup memperlihatkan foto-fotonya saja. Masalah harga, sudah pasti tidak akan diputuskan di lapangan, demikian pula bentuk fisik fosil dianggap sangat berbahaya jika diperlihatkan di tempat terbuka. Biasanya mereka meminta alamat atau nomor telepon wisatawan yang berminat itu. Dengan membawa benda yang telah dibicarakan, tengkulak kemudian segera mendatangi alamat yang telah ditunjuk. Di tempat inilah mereka baru melakukan transaksi.

Ada pula wisatawan asing, yang sebelumnya sudah beberapa kali berkunjung ke Situs Sangiran, yang langsung mendatangi rumah tengkulak untuk memesan fosil. Wisatawan yang sejenis sering pula telah melakukan kontak dan mengadakan perjanjian terlebih dahulu. Gejala seperti ini membahayakan keamanan perlindungan fosil situs Sangiran, seperti kejadian pada tahun 1991. Pada waktu itu dua wisatawan asal Thailand beruntung dapat tertangkap ketika mereka sedang melakukan transaksi dua fosil tengkorak Badak (Rhinoceros) di rumah seorang tengkulak, penduduk Desa Krikilan (Kompas 23 Oktober 1993).

Menurut beberapa informan, tidak semua pedagang fosil mempunyai jaringan khusus untuk memasarkannya. Antara satu tengkulak dengan tengkulak lain juga tidak ada ikatan yang terkoordinasi. Mereka berjalan sendiri-sendiri, baik dalam pencarian fosil maupun pencarian pembeli. Diakui ada beberapa tengkulak yang sudah menjalin hubungan dengan beberapa orang asing seperti dari Jepang, Australia, Jerman, dan Amerika. Mereka mengadakan kontak melalui telepon jika fosil yang dikehendaki ditemukan. Tengkulak-tengkulak itu memiliki foto-foto fosil itu. Di dalam negeri sendiri biasanya mereka sudah menjalin hubungan dengan para kolektor atau toko-toko benda antik, misalnya di Pulau Bali atau kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta sebagaimana dalam berita tentang kasus yang terjadi pada 3 November 1993. Dua petugas Kantor Direktorat Jenderal Bea Cukai Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil menggagalkan penyelundupan fosil yang berasal dari Sangiran. Fosil yang seluruhnya berjumlah 42 itu siap akan dikirim oleh Ryt, pemilik salah satu art shop, di Yogyakarta ke Washington, Amerika Serikat (Sulistyanto 1999: 121).

Peminat fosil Situs Sangiran di dalam kenyataannya tidak hanya terbatas pada wisatawan lokal, wisatawan asing, kolektor atau masyarakat pencinta benda “antik” saja, melainkan juga para peneliti atau ilmuwan sendiri. Khusus untuk peminat fosil seperti peneliti atau ilmuwan, di balik profesinya memang lebih memiliki peluang untuk memperoleh fosil secara tidak resmi dengan mendekati penduduk pencari fosil. Dengan mengatasnamakan demi perkembangan ilmu atau untuk menyelamatkan warisan budaya, terselip liku-liku proses perolehan atau penemuan fosil yang bertentangan dengan kode etik ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, cara pemerolehan fosil seperti itu membuat pelanggaran terhadap Undang-Undang Benda Cagar Budaya dan bahkan pelecehan terhadap dunia ilmu pengetahuan. Pada kenyataannya untuk bentuk pelanggaran dan pelecehan itu sanksi belum diterapkan, sebagaimana dapat diamati pada kasus yang terjadi pada tahun 1993, yang terkenal dengan sebutan kasus Tyler sebagai berikut.

Akhir bulan September 1993 Sugimin, penduduk Dusun Grogolan, ketika sedang meratakan bukit untuk pendirian rumah, tiba-tiba menemukan sebuah fosil tengkorak manusia purba. Fosil itu kemudian diminta oleh Sukiman untuk dijual kepada Subur, seorang tengkulak di Desa Krikilan. Melihat temuan itu Subur terkejut dan langsung menawarnya sebesar Rp.425.000,-. Selang beberapa hari kemudian Subur menjualnya kepada Dr. Donald E. Tyler, ahli antropologi fisik dari Universitas Idaho – Amerika yang kebetulan bersama asistennya Ir. Bambang Prihanto sedang berkunjung di Sangiran. Mengetahui temuan fosil itu, Tyler membayarnya Rp.3.800.000,-. Beberapa hari kemudian pada tanggal 9 Oktober 1993, ahli antropologi fisik itu mempresentasikan fosil tersebut di Hotel Ambarukmo, Yogyakarta, sekaligus memproklamirkan fosil itu sebagai temuannya dalam suatu penelitian di Sangiran (Berita Nasional, 10 Oktober 1993: 1).

Dunia ilmu Paleoantropologi yang belum mengetahui persoalan yang sebenarnya menjadi gempar dengan temuan spektakuler itu. Berbagai instansi pemerintah yang berwenang dalam masalah keberadaan Situs Sangiran mempertanyakan kebenaran temuan fosil tersebut, karena tidak pernah mengeluarkan ijin adanya penelitian oleh orang asing. Penyidikan yang dilakukan oleh Polres Kabupaten Sragen akhirnya dapat membongkar masalah yang sebenarnya, bahwa fosil tersebut bukan hasil temuan penelitian ilmiah, melainkan hasil pembelian dari penduduk. Para pakar paleoantropologi pada waktu itu berkomentar bahwa Donald E. Tyler telah melecehkan dunia ilmu pengetahuan, melakukan penipuan ilmiah, dan telah menjual pengetahuan intelektualnya sebagai peneliti, yang dengan demikian jelas melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Untuk itu, mereka menuntut proses peradilan yang tuntas tetapi dalam kenyataannya Tyler tetap bebas.

Kasus Tyler di atas merupakan sebuah contoh dari sekian banyak kasus eksploitasi yang pernah terjadi di wilayah Situs Sangiran. Kalau dirunut jauh ke belakang, kasus tersebut sebenarnya bukan peristiwa baru yang mengejutkan. Sudah sejak lama ilmuwan, peneliti bangsa kita sendiri melakukan kontak langsung dengan penduduk setempat untuk memperoleh fosil secara mudah dengan mengatasnamakan sebagai data untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang evolusi manusia purba (Sulistyanto 2003: 107-126).

Sebagian masyarakat Sangiran, khususnya penduduk Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, sejak zaman Von Koenigswald memang sudah terlatih berburu fosil. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh penduduk desa-desa lain di kawasan Situs Sangiran. Berkat belajar dari pengalaman di masa Von Koenigswald, penduduk Desa Krikilan juga cukup memiliki pengetahuan tentang bentuk-bentuk fosil yang laku keras dan dicari oleh para peminat fosil. Dengan latar belakang demikian inilah, tidak mengherankan jika desa ini sekarang tampil menjadi pelopor dan pusat percaturan perdagangan fosil di antara desa-desa sekitarnya di wilayah Situs Sangiran (lihat Bagan 2).

Menurut Utomo (50 tahun) dari Satuan Keamanan Situs Sangiran, melacak perburuan warisan budaya Sangiran dan khususnya mencari bukti adanya proses transaksi fosil antara penduduk (penemu) dengan tengkulak sangatlah sulit dan memerlukan waktu (Wawancara awal Maret 2008). Hal ini disebabkan karena penduduk desa lebih banyak diam daripada memberikan informasi yang diperlukan oleh pihak kepolisian. Sikap tutup mulut terhadap petugas keamanan tersebut, menurut Utomo, bukan karena takut berurusan dengan pihak kepolisian tetapi untuk melindungi si penemu fosil demi persentase yang akan diperoleh kalau fosil itu sudah laku terjual. Lagipula hal itu dilakukan karena demi melindungi kepentingan bersama, yaitu dalam memanfaatkan temuan fosil yang bernilai cukup tinggi. Di sisi lain mereka juga tetap berpikir bahwa mencari fosil sebenarnya sama halnya mencari dan memanfaatkan sumber daya alam di Sangiran lainnya seperti pasir, rumput, dan batu. Dengan demikian, dalam pemikiran tradisional penduduk Sangiran, mencari fosil dirasakan bukanlah sebagai pelanggaran. Apalagi jika fosil itu secara tidak sengaja ditemukan di tanah ladangnya sendiri dan bukan tanah pemerintah [7].

Bukan rahasia umum kalau sebagian besar penduduk penemu fosil lebih suka menjual kepada para tengkulak daripada menyerahkannya ke pemerintah (Museum Sangiran). Penduduk yang dimaksud di sini adalah petani atau buruh tani setempat yang telah terpengaruh oleh hasutan para tengkulak dan pemburu fosil, sehingga mereka ikut mencari fosil. Adapun alasan pencari fosil ini lebih suka menyerahkan temuannya kepada tengkulak, karena tengkulak dalam memberikan imbalan jasa, lebih tinggi daripada pihak pemerintah. Di samping itu, pemberian imbalan jasa dari pemerintah memakan waktu lama sekali, bahkan ada yang sampai dua tahun, sebelum sampai di tangan penemu.. “Kalau dijual di tengkulak, penemu akan langsung mendapatkan uang seketika itu juga”, demikian kata Sutanto (56 Tahun), mantan pemburu fosil dan tengkulak yang sudah tidak asing bagi masyarakat Sangiran (Wawancara Awal Maret 2008).

Proses keseluruhan perdagangan fosil mulai dari pencarian fosil di lapangan hingga sampai di tangan pembeli atau pemesan, sebenarnya hanya melibatkan tengkulak, pemburu atau pencari fosil, penduduk dan peminat. Kerja sama di antara keempat unsur itu dalam menghadapi Petugas Keamanan sangat perlu karena, jika salah satu dari keempat unsur tidak berfungsi, maka mereka akan menemui kegagalan.

Tengkulak atau penadah menjadi pemeran kunci dari keseluruhan proses transaksi fosil. Tugas tengkulak di samping mengatur mekanisme agar fosil sampai di tangan pembeli atau pemesan juga memegang peran penting dalam pencarian pembeli dan penentuan harga. Pelaku kedua adalah pemburu, dalam hal ini adalah orang yang ditugaskan oleh tengkulak untuk mencari fosil. Pemburu atau pencari fosil tersebut pada umumnya merupakan penduduk asli yang menguasai seluruh wilayah Situs Sangiran dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap.

Pelaku ketiga adalah penduduk yang beralih profesi dari petani atau buruh tani menjadi pencari fosil. Mereka mencari fosil karena terprovokasi oleh tengkulak dan pemburu fosil untuk mencari fosil dan menyerahkan temuannya dengan imbalan yang cukup besar. Perbedaan antara pemburu dengan penduduk pencari fosil terletak pada intensitas keterlibatannya. Keterlibatan penduduk dalam proses pencarian fosil tidak mutlak, melainkan hanya sebagai aktivitas sampingan, sedangkan pemburu fosil, secara sengaja mereka memang pencari fosil sebagai profesi untuk tujuan komersial. Meskipun penduduk tidak pernah merasa memiliki ketergantungan dengan tengkulak atau pemburu, dalam prakteknya yang sering terjadi adalah mereka sangat memerlukan jasa para tengkulak ketika mereka menemukan fosil. Tanpa bantuan tengkulak penduduk tidak dapat mengkomersialkan fosil temuannya dengan harga yang dinilai tinggi menurut ukuran mereka. Dalam pemasaran fosil, hanya tengkulak yang memiliki jalur hubungan dengan masyarakat luar. Pelaku keempat adalah peminat fosil. Adapun yang termasuk peminat fosil disini adalah para pembeli atau pemesan fosil antara lain terdiri atas kalangan turis, kolektor, ilmuwan, atau pedagang benda antik lainnya. Hubungan antara keempat unsur pelaku eksploitasi fosil ini setiap saat dapat terganggu oleh petugas keamanan Situs Sangiran dan pihak kepolisian setempat.

Namun demikian, eksploitasi fosil Situs Sangiran dalam perkembangan dua tahun terakhir ini muncul dalam modus baru. Modus baru yang dimaksud adalah membeli atau menyewa sebuah bukit dengan alasan tujuan untuk digali tanah dan pasirnya sebagai bahan bangunan. Namun, aktivitas ini sebenarnya juga memiliki tujuan lain yang lebih utama, yaitu mencari fosil-fosil yang terpendam di bukit tersebut (lihat Gambar 4). Dengan demikian, pengusaha tanah timbunan (urugan) dan pasir yang menurut informasi kebanyakan berasal dari daerah Sragen atau Surakarta ini memperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu di satu pihak tanah timbunan dan pasir dan di lain pihak khususnya fosil. Aktivitas penggalian bukit ini terutama menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat. “tidak kurang lima belas truk setiap hari mengangkut tanah untuk di bawa ke Surakarta atau Sragen”, kata Marijo (39 tahun), salah seorang sopir truk (wawancara tanggal 26 Maret 2007).

Pengamatan lapangan pada 28 November 2008 lalu memperlihatkan tidak kurang dari tujuh bukit yang telah digali. Ketujuh bukit tersebut terletak di Desa Manjarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Aktivitas ini melibatkan penduduk sebagai tenaga penggali dan telah menjadi mata pencaharian alternatif yang menopang kehidupan antara 50–60 orang. Bukit-bukit yang mereka gali tersebut dari aspek stratigrafi sangatlah penting karena merupakan formasi Kabuh, yaitu jenis lapisan tanah berupa butiran pasir berlumpur merupakan sedimentasi dari kegiatan erupsi Gunung Merapi dan Gunung Lawu purba yang terjadi pada Kala Plestosen Tengah sekitar 0.73 hingga 0.25 juta tahun yang lalu. Lapisan Kabuh paling merupakan lapisan tanah yang sangat penting bagi studi evolusi manusia, karena sebagian besar temuan fosil manusia purba ditemukan pada lapisan tanah ini, di samping relatif banyak pula temuan fosil vertebrata (Aziz, et al.,1994: 13).

Dalam tinjauan lapangan, penulis menemukan beberapa fosil hewan vertebrata yang telah dikumpulkan oleh penambang di suatu tempat yang terlindungi oleh bangunan dari bambu. Penulis bahkan juga melihat di tepi salah satu bukit di Dusun Grogolanwetan, Desa Manyarejo Kecamatan Plupuh, adanya bekas lubang kotak galian yang masih baru. Bekas lubang ini mengindikasikan dengan jelas adanya suatu aktivitas penggalian ilegal untuk mencari fosil. Sebagaimana dituturkan oleh Mulyorejo (60 tahun) salah seorang penambang pasir dan tanah urugan, (wawancara pada 28 November 2008) kumpulan fosil-fosil tersebut nanti akan diserahkan kepada pemilik atau penyewa tanah sesuai dengan kesepakatan [8]. Eksploitasi sumber daya dengan cara menyewa atau membeli bukit-bukit kecil milik penduduk tersebut, merupakan gejala baru yang terjadi tahun 2005. Gejala baru modus operandi berburu fosil dengan cara menyewa atau membeli bukit ini sudah diketahui baik oleh para pejabat di tingkat desa maupun di tingkat kecamatan, bahkan oleh pihak Museum Sangiran selaku wakil pemerintah, tetapi hingga tulisan ini dibuat belum ada informasi lebih jauh adanya tindakan untuk menghentikan [9].


3. Diskusi

A. Transformasi nilai warisan budaya
Perubahan kebudayaan merupakan proses yang wajar. Perubahan kebudayaan dapat terjadi akibat pelbagai pengaruh, namun perubahan itu seringkali terjadi karena kontak kebudayaan dan adanya penemuan baru yang kemudian menyebabkan terjadinya penyesuaian internal dalam suatu kebudayaan (Theodorson dan Theodorson 1969: 97).

Seperti yang sebelumnya telah dijelaskan, sebelum kedatangan para peneliti asing penduduk Sangiran memiliki konsep pemikiran tersendiri terhadap fosil sebagai benda cagar budaya yang ditemukan di lingkungan sekitarnya. Fosil dipandang tidak berbeda dengan sumber daya alam lain yang terdapat di lingkungan sekitarnya, seperti batu, kayu, pasir, dan tumbuh-tumbuhan. Tempat seperti lereng bukit yang menyimpan kandungan fosil (situs), dianggap oleh mereka sebagai tanah warisan nenek moyang yang sah dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan hidup mereka. Jika berpegang pada suatu pandangan kebudayaan yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah segala tindakan yang diperoleh dengan cara belajar, maka dapat diasumsikan bahwa penyebab utama dari perubahan perilaku dan pemikiran masyarakat Sangiran itu adalah pengaruh kebudayaan luar yang dibawa oleh para peneliti asing. Rogers dan Shoemaker (1971: 8-10) menyebut perubahan semacam itu sebagai akibat kontak dengan kebudayaan luar. Pertanyaan yang timbul adalah mengapa pengaruh luar itu mudah teresap dalam masyarakat Sangiran.

Pertama, secara sosial Von Koenigswald sebagai pribadi dan sekaligus dalam perubahan ini dilihat sebagai agen pembaharu (agent of change) telah diterima oleh penduduk. Kedua, pola baru yang diterapkan oleh Von Koenigswald secara finansial mendatangkan keuntungan. Artinya, nilai jual fosil terbukti mampu mendukung perekonomian penduduk pencari fosil, oleh karena itu dapat dipahami kegiatan ini telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Rogers dan Shoemaker (1971: 148), pengaruh baru yang mendatangkan keuntungan secara materia tersebut merupakan aspek yang memengaruhi secara kuat terjadinya proses pengadopsian suatu inovasi. Dengan perkataan lain, diterimanya persepsi baru tersebut tentang fosil tersebut, karena gagasan baru itu funsional dalam kehidupan masyarakat yang menerimanya.

Ketiga, pola baru itu juga tidak dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kultural yang ada. Jika semula suatu fosil dipandang sebagai benda berharga karena bermanfaat untuk penyembuhan penyakit, maka dalam pola baru fosil itu juga tetap merupakan benda berharga karena nilai jualnya. Perubahan yang terjadi lebih bertumpu pada aspek materialistik. Dalam hal ini, pencarian fosil karena alasan untuk mendapatkan insentif. Peralihan penghargaan atas fosil dari nilai religius-magis menuju nilai ekonomi yang dimiliki oleh fosil itu dalam pasar. Awal perubahan itu terjadi pada generasi ini yang di tahun 1930-an mengalami masa eksplorasi Situs Sangiran oleh Von Koenigswald. Di masa itu orang-orang yang terlibat berumur antara 17 sampai 40 tahun. Bagi generasi itu terbentuk konsep pemikiran bahwa warisan budaya dalam bentuk fosil merupakan sumber yang dapat mendatangkan uang. Mereka kemudian menurunkan konsep pemikiran itu ke generasi berikutnya hingga sekarang ini. Dengan demikian, dapat dikatakan generasi yang hidup di tahun 1930-an ini, secara tidak sengaja merupakan generasi peletak dasar dari perubahan nilai atas fosil.

Pemaparan di atas memperkuat anggapan bahwa perubahan masyarakat Sangiran dalam memaknai warisan budaya (fosil) merupakan perubahan yang tidak sengaja (unintended change). Dalam konteks demikian itulah, menurut Selo Sumardjan perubahan yang tidak direncanakan atau perubahan yang tidak disengaja tersebut akan berkembang di luar pengawasan masyarakat dan bahkan akan menimbulkan akibat sosial yang yang sama sekali tidak disangka oleh masyarakat itu sendir (Soemardjan 1991:305). Oleh karena tidak disengaja, maka seringkali perubahan-perubahan yang rterjadi tidak diketahui arahnya. Perubahan sebagai akibat interaksi antar budaya tidak dapat berdiri sendiri dan pada umumnya akan diikuti oleh perubahan-perubahan lain yang menyertainya (Robert, 1993:21). Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sangiran, konsekuensi atas perubahan dalam memaknai warisan budaya yang tidak tersengaja, akan membawa dampak perubahan pada sektor lain yang tidak dapat dielakan sebagaimana akan dikaji di bawah.

B. Dampak atas perubahan nilai warisan budaya
Setiap masyarakat memiliki sistem nilai yang mengatur tata kehidupan manusia di dalam hidup bermasyarakat. Sistem nilai budaya ini merupakan suatu rangkaian dari konsep-konsep abstrak yang hidup di dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai sesuatu yang dianggap penting dan berharga, mengenai sesuatu yang tidak penting dan tidak berharga dalam kehidupan. Sistem nilai budaya tersebut berfungsi sebagai pedoman sekaligus pendorong sikap dan perilaku manusia dalam hidup sehingga berfungsi pula sebagai suatu sistem tata kelakuan, bahkan sebagai salah satu sistem tata kelakuan yang paling tinggi tingkatannya di antara yang lain, seperti sopan santun atau adat istiadat (Koentjaraningrat 1992: 14).

Mengkaji perubahan budaya sudah pasti tidak dapat dilepaskan dari kajian lain yang berhubungan dengan perubahan itu sendiri. Semakin maju atau semakin penting suatu perubahan, akan semakin banyak menghasilkan konsekuensi baik konsekuensi fungsional maupun disfungsional (Rogers dan Shoemaker 1971: 180). Konsekuensi fungsional yang dimaksud di sini adalah dampak positif atau dampak yang menguntungkan atas perubahan persepsi masyarakat dalam memaknai warisan budaya Situs Sangiran. Sebaliknya, konsekuensi disfungsional merupakan efek negatif yang merugikan atas perubahan persepsi masyarakat dalam memaknai warisan budaya Situs Sangiran. Suatu perubahan mungkin memiliki dampak fungsional bagi suatu sistem sosial kelompok tertentu, tetapi disfungsional bagi kelompok lain dalam sistem itu.

Konsekuensi fungsional akibat perubahan nilai fosil, nampak jelas dirasakan penduduk Sangiran dengan munculnya puluhan industri rumah tangga (home industry) berupa kerajinan batuan dan fosil yang mampu meningkatkan penghasilan penduduk [10]. Sebaliknya konsekuensi disfungsional atas perubahan tersebut dirasakan oleh pemerintah selaku penanggungjawab pelestarian Situs Sangiran [11], karena semakin meningkatnya eksploitasi fosil yang dilakukan oleh penduduk Sangiran.

Terlepas dari eksploitasi fosil yang menurut bahasa pemerintah merupakan pelanggaran, eksploitasi tanah Sangiran yang berkondisi gersang memunculkan industri batu-batuan ini dan dengan demikian berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja yang baru. Sebagian penduduk yang semula menjadi buruh tani berganti profesi menjadi perajin batu-batuan dan penjaja suvenir di depan Museum Sangiran. Pengamatan lapangan memperlihatkan kehadiran industri kerajinan rakyat ini khususnya mampu menciptakan kesibukan tersendiri bagi para penduduk wanitanya sehingga banyak dari mereka tidak perlu menggantungkan diri lagi semata-mata hanya pada penghasilan suami.

Konsekuensi perubahan langsung dari berkembangnya kerajinan ini paling sedikit menimbulkan dua fenomena perubahan. Pertama, terbukanya isolasi desa. Artinya, penduduk Desa Sangiran dengan adanya aktivitas kerajinan tersebut berubah menjadi masyarakat yang terbuka. Terjadi interaksi dengan para wisatawan pengunjung museum baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Kedua, meningkatnya eksploitasi fosil untuk tujuan komersial. Kondisi temuan fosil yang bagus dan utuh mereka jual kepada tengkulak, sedangkan temuan fosil yang rusak atau berupa pecahan-pecahan mereka serahkan ke pemerintah untuk mendapatkan imbalan jasa.

Konsekuensi perubahan secara tidak langsung dengan menjamurnya industri batuan dan fosil sekurang-kurangnya menimbulkan sembilan fenomena perubahan setempat, yaitu (1) perubahan gaya hidup masyarakatnya, (2) terciptanya fasilitas umum, (3) munculnya sindikat perdagangan fosil, (4) meningkatnya kemampuan memalsu fosil, (5) memperlakukan fosil sebagai barang komoditi, (6) terbukanya lapangan pekerjaan, (7) peralihan mata pencaharian, (8) meningkatnya kesejahteraan, dan (9) pergeseran peranan ibu.

Gaya hidup perkotaan juga mempengaruhi cara berpakaian mereka atau bahkan bentuk rumah yang mereka bangun. Demikian pula dengan pola hidup yang lebih mengarah pada mobilitas yang tinggi. Tersedianya fasilitas umum merupakan efek mata rantai akibat kesibukan aktivitas kerja yang menuntut adanya fasilitas yang lebih cepat, seperti pembangunan jalan beraspal, beroperasinya kendaraan umum, listrik, dan juga telepon. Sementara itu, konsekuensi perubahan dari meningkatnya eksploitasi fosil memunculkan beberapa kelompok orang yang sengaja membentuk suatu jaringan yang mengarah pada munculnya “sindikat” perdagangan fosil. Seiring dengan munculnya kelompok tersebut, lahirkan pula kepandaian memalsu fosil. Benda-benda tertentu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mirip fosil tengkorak manusia purba, misalnya, yang kemudian dijual kepada wisatawan yang kurang mengerti masalah keaslian fosil. Kemahiran palsu-memalsu fosil ini sering merepotkan pihak kepolisian setempat dalam penanganan kasus-kasus jual-beli fosil.

Adapun munculnya industri batu-batuan dan fosil mengakibatkan fosil menjadi barang komoditi yang menggiurkan. Artinya, segala urusan berkenaan dengan fosil didasarkan pada aspek bisnis dan aspek penciptaan jenis lapangan pekerjaan yang baru. Industri itu juga selain mengakibatkan bergesernya mata pencaharian juga ternyata dianggap meningkatkan kesejahteraan khususnya bagi kaum wanita. Semula mereka buruh tani kemudian menjadi buruh industri yang mengakibatkan bergesernya peranan ibu. Jika pada masa sebelumnya, peranan ibu demikian murni mengurus anak, maka dengan munculnya industri itu ibu-ibu itu hampir tidak memiliki waktu lagi secara penuh untuk mengurus rumah. Sebagian besar waktunya dipakai untuk bekerja sebagai perajin atau pedagang kerajinan. Pekerjaan mengasuh anak atau memasak seringkali kemudian digantikan oleh mertua atau orang tuanya.


4. PENUTUP

Persepsi penduduk terhadap warisan budaya Sangiran mengalami pergeseran sesuai dengan perkembangan sosial, budaya dan politik pada masa yang bersangkutan. Pada masa sebelum Sangiran kedatangan para peneliti asing (sebelum tahun 1930-an) warisan budaya berupa fosil dipercaya memiliki makna religius-magis yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan menjadi media penolak bala. Namun, sejak tahun 1930-an ketika Sangiran kedatangan peneliti asing, konsep tradisional tentang fosil mengalami pergeseran dari nilai religius-magis (fosil sebagai benda penyembuh) menjadi nilai komersial (fosil sebagai benda untuk dijual). Nilai komersial yang dimaksud adalah nilai uang yang dikaitkan dengan temuan fosil. Mencari dan menemukan fosil adalah cara mendapatkan uang. Sesudah tahun 1930-an, sepeninggal para peneliti asing dari Sangiran, konsep tentang fosil mengalami perubahan secara kuat. Semula pemikiran yang dimiliki adalah bahwa untuk mendapatkan uang perlu dicari dan ditemukan fosil di Situs Sangiran. Namun, pemikiran itu dengan cepat juga berubah seiring dengan berkembangnya pengetahuan penduduk dan permintaan pasar. Pada masa sekarang fosil tidak hanya dicari dan diperdagangkan karena nilai harganya yang tinggi berkat keasliannya tetapi fosil juga dipalsu atau dimodifikasi sedemikian rupa menjadi barang “seni” yang mendatangkan uang.

Upaya pemerintah melindungi warisan budaya Sangiran dari pencarian dan penggalian tak bertanggung jawab oleh masyarakat setempat dengan cara menetapkan Situs Sangiran sebagai daerah cagar budaya hingga saat ini dapat dikatakan belum berhasil sepenuhnya. Kekurangberhasilan pemerintah tersebut karena tindakan yang dilakukan lebih bersifat instruktif berlatar yuridis formal tanpa disertai penyuluhan yang sesuai dengan nilai budaya setempat. Pelarangan jual-beli fosil serta himbauan agar temuan fosil diserahkan ke pemerintah, dikemukakan tanpa diikuti tindakan nyata yang mendukung kebijakan itu. Penerapan kebijakan pemerintah seperti pemberian imbalan jasa yang rendah untuk penemu fosil, justru menjadikan penduduk kecewa dan pada akhirnya melahirkan keputusan lebih memilih untuk berhubungan dengan para tengkulak daripada menyerahkan fosil temuannya kepada pemerintah. Warisan budaya Situs Sangiran memiliki nilai yang beragam sesuai dengan kecenderungan pemanfaatan berdasarkan kepentingan masing-masing pengguna. Kepentingan antara penduduk dan pemerintah (pusat) memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas. Pemaknaan warisan budaya Situs Sangiran oleh pemerintah pusat dalam fakta di lapangan lebih cenderung bersifat idealis, yaitu untuk kepentingan jatidiri dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pemaknaan warisan budaya Situs Sangiran oleh masyarakat setempat pada masa sekarang cenderung lebih tertuju pada kepentingan pemanfaatan fosil untuk peningkatan taraf kehidupan mereka. Perbedaan persepsi dalam memaknai warisan budaya inilah yang menjadi salah satu faktor atau bahkan pemicu terjadinya konflik pemanfaatan Situs Sangiran, yang hingga sekarang belum terpecahkan.

Implikasi atas kesimpulan di atas, maka disarankan, beberapa hal untuk ditindaklajuti sebagai berikut. Pertama, upaya pelestarian situs Sangiran yang dilakukan oleh pemerintah, penting untuk melibatkan masyarakat khususnya penduduk setempat mulai dari perencanaan program, pelaksanaan, hingga sampai pengevaluasian. Pemerintah harus selalu ingat, bahwa warisan budaya pada hakekatnya adalah milik masyarakat, karena itu mereka juga berhak untuk memperoleh manfaat darinya. Dengan demikian tidak hanya penduduk di sekitar situs yang dimintai kesadarannya untuk tidak melakukan kegiatan eksploitasi di situs ini, tetapi juga pemerintah harus menyadari terhadap kebutuhuan penduduk untuk memperoleh manfaat langsung dari warisan budaya yang ada di sekitarnya.

Kedua, upaya mencegah kegiatan eksploitasi warisan budaya yang dilakukan oleh penduduk demi pelestarian situs, maka dipandang perlu untuk menciptakan lapangan pekerjaan pengganti sesuai dengan kemampuan kelompok masyarakat pencari fosil. Dalam hal ini pekerjaan yang sesuai adalah sebagai satuan keamanan atau tenaga yang berperan aktif dalam sektor kepariwisataan, seperti penjaga parkir, atau sebagai pengantar wisatawan ke situs-situs ditemukannya fosil manusia purba.

Ketiga, dipandang penting untuk menanamkan atau membentuk suatu mentalitas kesadaran terhadap nilai penting warisan budaya bagi sejarah bangsa. Hal ini hanya memungkinkan diterapkan pada generasi muda sekarang, khususnya pada anak-anak yang masih dibawah umur. Oleh karena itu, anak-anak sejak dini harus diasuh dan dibina secara sungguh-sungguh agar 15 tahun kedepan, dapat menjadi manusia yang mampu mengidentifikasikan dirinya terhadap warisan budaya di lingkungan sekitarnya. Pembentukan sikap mental seperti itu tidak selalu hanya diajarkan kepada para pelajar di sekolah, melainkan justru jauh lebih dahulu harus diajarkan dalam periode pengasuhan dan pembinaan sejak anak-anak berusia yang masih amat muda, dalam lingkungan keluarga sebagai benteng yang harus dapat diandalkan.

Catatan:
[1] Penduduk di kawasan Situs Sangiran, khususnya para orang tua yang berusia di atas 70 tahun, masih mengenal secara samar-samar mitos asal-usul balung buto. Mitos ini mengisahkan perang besar yang pernah terjadi di kawasan perbukitan Sangiran. Dalam pertempuran tersebut banyak raksasa yang gugur dan terkubur di perbukitan Sangiran. Oleh karena itu, fosil-fosil yang memiliki ukuran besar yang banyak bermunculan di lereng-lereng perbukitan Sangiran dinamakan balung buto atau tulang raksasa. Mengenai makna mitos balung buta dan relevansinya dengan fosil-fosil lihat Sulistyanto 2005.

[2] Khususnya di Cina Selatan, fosil pernah dipercaya sebagai sisa tulang naga (dragon’s bone) yang pada awal abad kedelapan belas masih dipergunakan oleh para sinse untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti penyakit hati, epilepsi, dan sembelit. Fosil khususnya berupa gigi-geligi dan tanduk dipergunakan sebagai obat dengan cara direbus kemudian ditumbuk halus untuk diminum (Gayrard 1994: 24). Di Hongkong para sinse mempergunakan fosil sebagai obat untuk gejala penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit syaraf, epilepsi, desentri, demam, insomnia, dan bahkan sebagai obat awet muda. Fosil-fosil untuk obat dibagi menjadi duajenis: liung tse (gigi-geligi naga) yang sangat mujarab dan liung khu (tulang belulang naga) yang tidak begitu berkhasiat tetapi juga bermanfaat. Pemanfaatan fosil sebagai media penyembuhan diperkirakan sudah mulai sejak Dinasti Han (206 SM) (Broderick 1964 : 26).

[3] Menurut informan bernama Suratmo (73 tahun) Mantan Sekretaris Desa Krikilan, semasa dia masih kecil seringkali melihat balung buto dibungkus kain putih bersama bunga melati dan dupa lalu digantung di depan pintu-pintu masuk rumah. “Kepercayaan seperti itu sekarang ini sudah hilang”, katanya menjelaskan (Wawancara awal Maret 2008).

[4] Toto Marsono mengisahkan, “Tuan [Von] Koenigswald pada waktu-waktu tertentu, baik ketika berada di lapangan maupun pada malam hari di rumah sering ndongeng [berkisah] kepada penduduk tentang sejarah fosil di Sangiran. Seringkali dijelaskan, fosil-fosil itu bukan tulang raksasa melainkan sisa tulang hewan atau manusia purba yang penting untuk sejarah manusia di dunia. Daerah seperti Sangiran yang menyimpan banyak tulang-tulang hewan dan manusia purba itu, jarang ditemukan di dunia. Oleh karena itu, lurah dan penduduk di sini harus membantu mengumpulkan fosil tersebut”. Demikian kisahnya menirukan nasehat Von Koenigswald waktu itu. Lebih jauh tentang hal ini periksa Sulistyanto 1999.

[5] Menurut hitungan, nilai uang 2 ketip pada masa itu jika dibelikan beras akan mendapat 4 kg, sedangkan harga sebutir telur 2.5 sen. 10 sen =1ketip, Rp1,-= 10 ketip. “Jika penduduk dapat menemukan untu bledek (kapak batu) tuan Koenigswald berani mengganti uang sebesar Rp. 5,-. Pada waktu itu uang sebesar Rp. 5,- sudah dapat dibelikan seekor lembu, (sapi) besar,”. Kata Toto Marsono. Tuan Koenigswald mengharapkan penduduk dapat menemukan fosil tengkorak manusia purba, tetapi temuan tersebut sangat jarang diperoleh. Pernah pada suatu hari tahun 1936 ketika Tuan Koenigswald sedang berjalan-jalan di Desa Bapang, seorang penduduk tiba-tiba menyerahkan fosil temuannya. Setelah diperiksa Tuan Koenigswald kaget bercampur gembira, sebab temuan itu adalah bentuk fosil yang dicarinya, yaitu tengkorak manusia purba. Karena gembiranya Tuan Koenigswad setiap hari menyebar uang diperebutkan oleh anak-anak. Kepada penduduk yang dewasa dibagi-bagikan rokok, merk mari kangen. Temuan fosil tengkorak dari Desa Bapang itu, katanya tengkorak manusia purba yang pertama kali ditemukan di Sangiran.”

[6] Tas ransel yang mereka bawa berfungsi untuk menyimpan temuan fosil berukuran kecil yang tergeletak di permukaan. Jika ditemukan fosil yang besar yang biasanya sebagian masih terbenam tanah, fosil itu tidak langsung dibongkar untuk dibawa pulangtetapi justru mereka kubur lagi supaya tidak kelihatan orang. Pada malam harinya fosil itu baru dibongkar untuk menjaga supaya tidak diketahui orang. Biasanya dalam pembongkaran mereka mengajak satu atau dua orang kawan untuk membantu mengangkat ke tempat persembunyian. Hasil temuan fosil itu langsung dibawa ke rumah atau dititipkan di tempat penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, tergantung situasi keamanan waktu itu. Dalam operasi pencarian fosil di lapangan tidak jarang mereka diketahui penduduk bukan pencari fosil yang kebetulan sedang merumput atau mencari kayu. Mereka melihat aktivitas pencarian fosil merupakan hal yang biasa.. Walaupun demikian, para pecari fosil tersebut jika “kepergok” dengan petugas keamanan, biasanya mereka beralasan “sedang mencari burung” jika itu terjadi pada siang hari, atau alasan “sedang mencari katak” jika dipergoki malam hari.

[7] Sebagaimana dikisahkan kembali oleh Sukamto (51 Tahun), Satpam Museum Sangiran (Wawancara awal Maret 2008, lebih lanjut periksa pula Sulistyanto, 2008:227). Pada suatu hari Slamet, penduduk Desa Kertosobo, menemukan fosil di saat sedang mengerjakan ladangnya. Temuan itu tidak segera diambil, melainkan justru dipendam lagi dengan maksud supaya tidak kelihatan orang. Pada malam harinya Slamet bersama Amat Puri membongkar temuan tadi dan membawanya pulang dengan cara memasukkan ke dalam keranjang yang ditutupi rumput. Berita penemuan itu sampai kepada petugas keamanan Situs Sangiran. Sukamto, petugas keamanan Situs Sangiran, segera melakukan pelacakan dengan menyamar sebagai tengkulak yang akan membeli fosil tersebut. Melihat keseriusan Sukamto, Slamet tertarik dan menjelaskan yang sebenarnya kalau fosil itu sekarang masih disimpan di tempat yang aman, (ditanam di dapur) tetapi sudah banyak tengkulak dari Desa Krikilan yang menawar dengan harga yang lebih tinggi. Memperoleh data tersebut, sore itu pula Sukamto langsung melapor ke Polsek setempat. Keesokan harinya, Selasa tanggal 16 Januari 1998, petugas kepolisian setempat mendatangi rumah Slamet dan Amat Puri, tetapi keduanya tidak ada. Untuk kedua kalinya pada tanggal 18 Januari 1998, para petugas Polsek juga tidak berhasil menemui. Nampaknya mereka sudah mencium suasana yang tidak enak yang akan menimpa diri mereka. Istri Slamet yang ada di rumah pada waktu itu menyerahkan fosil sebesar topi yang sudah rusak kondisinya. Namun, petugas Museum Sangiran itu tidak percaya kalau benda yang diserahkan tersebut adalah temuan yang dicari. Akhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Januari 1989 kedua orang itu dapat ditemui dan dipaksa menyerahkan temuannya. Temuan fosil itu berupa rahang gajah itu akhirnya diserahkan. Temuan itu sekarang menjadi bagian dari koleksi Museum Sangiran.

[8] Aktivitas penambangan pasir, tanah urukan dan fosil di beberapa bukit tersebut telah terorganisir cukup rapi antara investor, buruh penambang dan pemilik bukit. Pihak investor pemilik modal membeli bukit kecil milik penduduk seharga 16 – 20 juta rupiah tergantung dari luas bukit (gumuk). Hasil penambangan, seperempat bagian untuk pemilik tanah atau pemilik modal dan tiga perempat untuk buruh penambang. Harga satu truk pasir berkisar antara Rp.100.000 s.d Rp.120.000. Telah menjadi kesepakatan jika para buruh penambang itu menemukan fosil harus diserahkan ke pemilik modal. Biasanya pemilik modal akan memberi uang insentif atas penemuan benda berharga tersebut. Selanjutnya urusan jual beli fosil adalah urusan pemilik modal dengan tengkulak.

[9] Kepala Desa Manyarejo Warsini (40 tahun) ketika dimintai konfirmasi tidak mengelak kalau penduduknya banyak yang melakukan eksploitasi di beberapa bukit khususnya di Dusun Grogolanwetan. Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh. Kepala Desa yang baru diangkat oleh rakyat 3 tahun ini tidak berani menghentikan kegiatan tersebut, karena menyangkut masalah matapencaharian warga, disamping kegiatan tersebut banyak menyerap tenaga kerja yang dapat membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan di wilayahnya (Wawancara pada tanggal 28 November 2008).

[10] Pengamatan yang penulis lakukan pada awal Maret tahun 2008 memperlihatkan tidak kurang dari 210 perajin tersebar di beberapa desa di Sangiran seperti Desa Krikilan, Desa Bukuran, Desa Ngebung, dan Desa Tegalombo yang setiap hari berkarya dan sebagian perajin menjajakan karyanya di depan Museum Sangiran.

[11] Sebagaimana diperlihatkan kasus transaksi fosil yang tertangkap oleh Polres Sragen pada tanggal 17 Oktober 2007. Sebanyak tujuh buah fosil hewan vertebrata yang sedianya akan dibawa ke Malang Jawa Timur dapat digagalkan oleh petugas dan tiga orang pelaku dari Desa Krikilan sebagai tersangka telah diamankan (Kedaulatan Rakyat 18 Oktober 2007, hlm. 1). Ketujuh fosil tersebut terdiri atas dua rahang atas dan satu rahang bawah gajah (Elephas Sp), satu rahang atas kerbau (Bubalus paleokarabau), dan satu kepala banteng (Bos bibos paleosondaicus) serta satu rahang atas kuda nil (Hippopotamus Sp), satu rahang bawah buaya (Crocodillus Sp).

—————– $$$—————-


DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss; Mitos dan karya sastra. Yogyakarta: Galang Press..

Aziz, F. Baba, dan Narasaki, S, 1994. “Preliminary report on Recent discoveries of Fossil Hominids from the Sangiran Area, Jawa”. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, V (29), hal. 11–16.

Bernas. 10 Oktober 1993. “Pithecantrophus Erectus Ditemukan Lagi Di Sangiran”, hlm. 1.

Broderick, Alan H. 1964. Man and his ancestry. Greenwich, Conn.: Fawcett Publications.

Cohan, Percy S. 1969. “Theories of myth”, The Journal of the Royal Anthropological Institute 4/3 (September): 337-353..

Gayrard-Valy, Yvette. 1994. The story of fossils in search of vanished worlds. London : Thames and Hudson.

Kedaulatan Rakyat. 18 Oktober 2007. “Upaya Penjualan Fosil Purba Digagalkan”, hlm. 1.

Koentjaraningrat. 1992. “Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia”, di dalam: Sayoga dan Pudjiwati Sajogjo, Sosiologi Pedesaan; Kumpulan bacaan, hlm. 14 . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kompas. 23 Oktober 1993.. “Sindikasi di Sekitar Sangiran”, hlm. 1..

Nimpoeno, S. John. 1980. “Fungsi warisan sebagai pembentuk sikap terhadap pembangunan”, Analisis Kebudayaan, hlm. 26-31. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Robert, Merton. 1993. “Manifest and Latent Fungtions”. On Theoritical Sosiology. New York: The Free press.

Rogers, M. Everett dan Shoemaker, F. Floyd. 1971. Communication of innovation. New York: The Free Press.

Sémah, François, dan Djubiantono, Tony, 1990. Mereka Menemukan Pulau Jawa. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional & Museum National D’Histoire Naturelle.

Simanjuntak, Harry Truman. 2005. “Sangiran Dalam Perspektif Penelitian”. Jurnal Arkeologi Indonesia No. 4 Agustus. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm 13-24.

Soemardjan, Selo. 1991. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Terjemahan H.J. Koesoemanto. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Sulistyanto, Bambang. 1999. Balung Buto: Studi Tentang Pemaknaan Benda Cagar Budaya Sangiran, Tesis S-2 Program Pascasarjana Antropologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung buto; Warisan budaya dunia dalam perspektif masyarakat Sangiran. Yogyakarta: Kunci Ilmu.

Sulistyanto, Bambang. 2005. “Mitos balung buto; Tafsir makna dan relevansinya terhadap Benda Cagar Budaya Sangiran”, Jurnal Arkeologi Indonesia No. 3 (September): hlm 95-110.

Sulistyanto, Bambang. 2006. “The pattern of conflict of benefeting in Indonesia”, di dalam: Truman Simanjuntak. Muhammad Hisyam, Bagyo Prasetyo, Titi Surti Nastiti, (red.), Archaeology; Indonesian Perspective; R.P. Soejono’s festschrift, hlm 577-594 Jakarta: LIPI Press.

Sulistyanto, Bambang. 2008. Resolusi Konflik Dalam Managemen Warisan Budaya Situs Sangiran. Disertasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Arkeologi, Universitas Indonesia (belum diterbitkan).

Theodorson, George A. dan Achilles G. Theodorson. 1969. A modern dictionary of Sociology; The concepts and terminology of Sociology and related disciplines. New York: Thomas Y. Crowell.

Widianto, Harry; Truman S.;, dan Budianto Toha. 1995/1996. “Laporan penelitian Sangiran tentang manusia purba, budaya, dan lingkungan”, Berita Penelitian Arkeologi No. 46. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi., Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Widianto, Harry. 1996. Laporan hasil menghadiri sidang ke-20 World Heritage Committee, Merida, Mexico, 2-7 Desember. Jakarta: Depdikbud, Direktorat Jenderal Kebudayaan. (Tidak diterbitkan).

Wawancara
Wawancara dengan Marijo (sopir truk angkutan pasir), Sangiran, 26 Maret 2007.

Wawancara dengan Utomo (50 tahun), Satuan Keamanan Situs Sangiran, awal Maret 2008.

Wawancara dengan Sukamto (51 tahun) Satuan Keamanan Situs Sangiran, Sangiran, awal Maret 2008.

Wawancara dengan Suratmo (73 tahun) Mantan Sekretaris Desa Krikilan, awal Maret 2008.

Wawancara dengan Sutanto (56 tahun) mantan pemburu fosil dan (tengkulak) penduduk Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen ,Sangiran, awal Maret 2008.

Wawancara dengan Marijo (39) supir truk pengangkut pasir Desun Grogolan Wetan, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, 26 Maret 2007.

Wawancara dengan Toto Marsono (kepercayaan Von Koenigswald), Sangiran, 1999

Wawancara dengan Warsini (40 tahun) Kepala Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen 28 November 2008.

Wawancara dengan Mulyorejo (60) penambang pasir Dusun Grogolan Wetan, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen 28 November 2008.

KETERANGAN PENULIS

NAMA : BAMBANG SULISTYANTO
PROFESI : PENELITI ARKEOLOGI PUBLIK,
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ARKEOLOGI NASIONAL
PENDIDIKAN AKHIR : S-2, ANTROPOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA
S-3 , ARKEOLOGI, UNIVERSITAS INDONESIA
JUDUL DISERTASI : RESOLUSI KONFLIK DALAM MANAJEMEN WARISAN BUDAYA SITUS SANGIRAN
ALAMAT EMAIL : bsoelistyo@yahoo.com,

About these ads

Responses

  1. keren semoga bisa kesana suatu saat


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.710 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: