Oleh: hurahura | 16 Mei 2011

Naskah Tionghoa tentang Batavia

Keadaan masyarakat Tionghoa sebelum terbentuknya Batavia diketahui dari naskah Kai Ba Lidai shji atau bermakna ‘Kronologi (shji) generasi-generasi berturut-turut (lidai) yang membangun (kai) Batavia (ba)’. Naskah ini disusun dalam bahasa Tionghoa klasik (dialek Hokkian) pada akhir abad ke-18. Sekurang-kurangnya ditulis sebelum 1820-an, namun penulisnya tidak diketahui.

Kemungkinan besar, cerita yang disajikan berlangsung antara tahun 1610 dan 1793, merupakan catatan para sekretaris kapiten China. Salinan dalam bahasa Tionghoa (dari Sukabumi, 1869) diterbitkan pada 1924 dan 1953. Sayang, salinan naskah asli hilang saat berlangsung pendudukan Jepang. Namun, naskah itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda hampir 100 tahun sebelumnya oleh H.W. Medhurst (1840).

Naskah berbahasa Belanda itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Adolf Heuken, sebagai bagian dari buku Sumber-sumber asli Sejarah Jakarta, Jilid III (Yayasan Cipta Loka Caraka, 2001). Kai Ba Lidai shji menceritakan kejadian-kejadian umum dan administratif, disusun sesuai masa pemerintahan gubernur-gubernur jenderal dan kapiten-kapiten China.

Menurut naskah itu, pada 1615 Gerrit Rijnst mendarat di Jayakarta dan memberikan hadiah kepada ’Pangeran dari Jayakarta’. Tidak lama kemudian J.P. Coen juga mendarat di Jayakarta. Dia memberikan banyak hadiah kepada pangeran. Sebagai imbalannya, Coen meminta tanah yang luas di seberang sungai Ciliwung. Inilah cikal bakal terbentuknya Batavia.

Pada masa itu, orang-orang berambut merah, yaitu Inggris, Prancis, Denmark, dan Swedia menjadi tahu bahwa Batavia merupakan aset penting. Mereka ingin menjadikannya markas besar. Begitu mendengar bahwa orang Belanda mengangkat Coen menjadi gubernur, orang-orang Inggris mengutus beberapa kapal untuk mengusir Coen. Namun, karena kesiapsiagaan armada Coen, rencana mereka kandas.

Pada 1619 ada perintah dari Belanda agar pasukan di Jayakarta merebut tanah di sekitarnya. Pasukan Coen berhasil mengalahkan pasukan pribumi. Segera Coen memindahkan kediamannya ke Jayakarta dan memerintahkan pendirian suatu kota yang dikelilingi parit dan tembok. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang Eropa merasa aman. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

About these ads

Responses

  1. maaf pak, dulu waktu saya menyingkat jan “anak si pieter” coen dengan J.P. Coen di jurnal saya, pengasuh http://www.londoh dalam suratnya bilang itu tak lazim; kelaziman mereka > J.Pz. Coen.
    saya rasanya bisa percaya, melihat penulisan singkatan nama2 perancis juga khas mereka.
    semoga membantu. terima kasih.

    • Cara Indonesia yang benar diambil huruf depannya. Ada juga akronim, misalnya Kemenbudpar. Setiap negara memang memiliki ejaan atau singkatan sendiri. Tapi kadang kita selalu menulis berdasarkan ejaan atau singkatan negara ybs. Misalnya saja China atau sering dibaca penyiar televisi ‘Caina’. Di Indonesia kan ejaan CH sudah diganti KH. Kalau saya lebih condong Cina, bukan China.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.686 pengikut lainnya.