Oleh: hurahura | 22 April 2011

Strategi Pengelolaan Kawasan Bersejarah: Kasus Kawasan Kota Lama Semarang*

Oleh: Kriswandhono [1]


Pengantar

Disadarkan bahwa makna pelestarian adalah melakukan gerakan bersama yang tumbuh atas dasar kesadaran tiap pribadi maka hal yang paling tepat adalah melakukan anamnesis (pewartaan) melalui strategi dan kreativitas pengelolaan yang tinggi. Kawasan Kota Lama Semarang, selanjutnya disebut Kota Lama masih memiliki karakter kuat sebagai bekas kota Semarang perdana; hal tersebut bisa dibuktikan mulai dari naskah-naskah, peta, pola jalan dan bangunan bahkan dari hasil ekskavasi yang baru saja dilakukan beberapa bulan lalu.

Sejak dua dasa warsa terakhir masalah benda Kota Lama menjadi perhatian masyarakat, baik peneliti, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah baik dalam maupun luar negeri menyoroti dari berbagai sisi. Kota Lama telah menjadi magnet yang dikemudian hari disebut benda/ kawasan cagar budaya (BCB). Paling tidak pada tahun 1992 Pemerintah Kota Semarang pada waktu itu telah mengeluarkan Surat Keputusan yang berisi pernyataan 101 bangunan kuno/ bersejarah menjadi bangunan yang dilindungi (Surat Keputusan Walikota KDH Tk.II Semarang No. 646/50/Tahun 1992 tentang Konservasi Bangunan-bangunan Kuno/ Bersejarah di Wilayah Dati II Semarang). Sama dengan tahun lahirnya UU No.5 tentang BCB, yaitu tahun 1992.

Dalam makalah ini ingin disampaikan bagaimana tujuan pemanfaatan itu berjalan melalui strategi yang hampir selalu mematahkan semangat masyarakat karena memang pada kenyataannya antara tataran ideal suatu tujuan ketika dalam pelaksanaan berbenturan dengan tataran faktual/ realita. Akibatnya semangat pelestarian dan pemanfaatan berbenturan dan penuh dengan konflik yang pada ujungnya bisa berakibat menghancurkan BCB itu sendiri.

Awal Kota Benteng
Adalah istilah yang dipakai hingga saat ini untuk menyebut kota Semarang perdana yang berada di dalam benteng kota termasuk daerah penyangga disekelilingnya. Menurut para arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta menuturkan bahwa berdasarkan kumpulan sumber pustaka dan dokumen berupa gambar-gambar peta Semarang kuna beserta analisis yang dilakukan menunjukkan setidaknya rentang perjalanan Kota Lama Semarang dapat dibagi dalam tiga fase besar, yaitu:

Fase I (1677 – 1741),
Fase II (1756 – 1824), dan
Fase III (1824 – 1866).

Fase I (de Vijfhoek van Samarangh); di sebut dengan Fase Prabenteng Kota, dalam fase itu apabila dipersempit di pulau Jawa bagian tengah akan terangkai cerita sejarah antara lain: perjanjian antara VOC dengan Amangkurat II pada tahun 1677, yang berisi pemberian hak kepada VOC untuk mendirikan benteng pertahanan di setiap pelabuhan di wilayah kekuasaan Mataram, pemberontakan Trunojoyo kepada Mataram sampai perpindahan benteng dan pusat kekuatan VOC dari Jepara ke Semarang.

Fase II (Benteng Kota); hancurnya benteng de Vijfhoek diperkirakan antara tahun 1741-1756 karena pada tahun 1756 sudah berdiri benteng kota. Selama kurun waktu kurang lebih 68 tahun sebelum benteng kota dihancurkan sendiri oleh VOC pada tahun 1824 nampaknya cikal bakal kota Semarang tumbuh dan berkembang pesat hingga menyambung jalan pos Anyer – Panarukan yang dibangun pada tahun 1808 sampai 1811 oleh Daendels melewati kota Semarang. Karena pertumbuhan kota yang cepat dan memerlukan komponen kota yang mendukung hingga akhirnya demi perkembangan kota maka dihancurkanlah benteng kota pada tahun 1824.

Fase III (Pasca Benteng Kota); merupakan fase yang lebih jelas; bagaimana upaya Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan kota Semarang. Dinamika dan potret sebuah kota antara lain terlihat pada kegiatan ekonomi; prasarana untuk transportasi air dan darat mulai dikisahkan dalam sumber-sumber tertulis.Di era ini bisa tergambarkan bahwa kota Semarang yang secara geografis memiliki pantai, dataran rendah dan dataran tinggi terus tumbuh dan berkembang hingga era pra kemerdekaan. Dirintisnya jalur transportasi kereta api pertama, yakni jalur Semarang – Tanggung sepanjang 25 km yang perletakan batu pertamanya dilakukan oleh gubernur jenderal Baron Sloet van de Beele pada tanggal 17 Juni 1864 adalah satu contoh bahwa Semarang adalah kota pilihan yang amat diperhitungkan dari berbagai aspek. Sudah dapat dipastikan berkembangnya ekonomi pada masa itu menggerakkan sektor lain termasuk permukiman dan kota. Tahap berikut yang terkait dengan pertumbuhan kota dan pertahanan adalah Belanda mulai membangun benteng Prins van Oranje di Semarang Barat setelah mereka menghancurkan benteng kota. Benteng tersebut disebut “benteng pendem”, karena setengah bangunannya di bawah permukaan tanah (Sugeng Riyanto dkk, ekskavasi 2009).

Kota Benteng; yang saat ini dijadikan ‘batas pengertian’ penyebutan Kawasan Kota Lama Semarang. (Perda Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang RTBL Kawasan Kota Lama).

Awal kesadaran bertumbuh
Pembahasan tentang bangunan dan kawasan bersejarah di kota Semarang telah dimulai sejak akhir tahun 70 an. Pada tahun 1978 dimulai dengan inventarisasi bangunan kuno dengan cara mengumpulkan foto-foto bangunan kuno. Pada tahun berikutnya Bappeda Kodya Dati II Semarang mulai memasukkan masalah-masalah konservasi. Tahun 1985/1986 Bappeda Kodya Dati II Semarang kembali melakukan pendalaman dalam bentuk inventarisasi dan konservasi bangunan dan lingkungan di kawasan pusat kota lama dan pada tahun 1986/1987 untuk kawasan di luar kota lama [2].

Pembangunan dan perkembangan kota berlanjut dengan pesat, perlu penyelarasan antara munculnya sarana dan prasarana kota modern dan keutuhan dan keaslian tinggalan sejarah dan budaya materi yang berwujud bangunan dan lingkungan. Peniadaan bangunan bersejarah yang dilakukan pada masa pertumbuhan kota semakin menyadarkan para pemerhati dan pelaku pelestarian pada waktu itu. Tulisan-tulisan tentang konservasi bangunan kuno/ bersejarah yang telah dibuat oleh Pemerintah dan masyarakat rupa-rupanya belum cukup ampuh untuk menangkal atau mengurangi kerusakan bangunan. Secara tertulis (dalam kajian-kajian) bangunan-bangunan tersebut dinyatakan dilindungi namun secara hukum belum cukup kuat untuk menyadarkan oleh pembuatnya sendiri. Maka baru pada tahun 1992 Pemerintah Kota Semarang (pada waktu itu masih Kodya Dati II Semarang) mengeluarkan Peraturan Daerah berupa Surat Keputusan Walikota KDH Tk.II Semarang No. 646/50/Tahun 1992 tentang Konservasi Bangunan-bangunan Kuno/ Bersejarah di Wilayah Dati II Semarang. Kurang lebih 101 bangunan yang ada di Kota Semarang dinyatakan di konservasi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perubahan dan pemanfaatan bangunan tersebut masyarakat dapat langsung mengawasi. Proses perijinan perubahan dan pemanfaatannya pun dilakukan oleh Pemerintah (dalam hal ini DTKP), bersama asosiasi profesi terkait (IAI, HAPBI) dan LSM.

Tentang Kota Lama secara khusus mulai dibahas pada pertengahan tahun 90an atau awal 2000an, dimulai dengan studi-studi dan akhirnya menjadi Peraturan Daerah, yakni:

1. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Nomor 1 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RBWK)Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang tahun 1995-2005.

2. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Rencana Detil Tata Ruang Kota (RDTRK) Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Bagian Wilayah Kota (BWK) I (Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur dan Kecamatan Semarang Selatan) Tahun 1995-2005.

3. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Rencana Detil Tata Ruang Kota (RDTRK) Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Bagian Wilayah Kota (BWK) III (Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Barat) Tahun 1995-2005.

Dari perjalanan pembuatan studi tersebut maka secara khusus Kawasan Kota Lama dipandang perlu untuk mempunyai peraturan daerah, maka lahirlah: Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama Semarang.

Amanat sebuah Peraturan Daerah
Setelah Perda Kota Lama digulirkan maka maslaha berikutnya adalah siapakah yang akan mengawal dan menjaga perda tersebut? Empat tahun kemudian dibentuklah kelembagaan yang khusus menangani Kota Lama. Kelembagaan tersebut sesuai dengan amanat yang terkandung dalam Perda, bahwa untuk melaksanakan sebagian tugas yang ada dalam Perda tersebut dibutuhkan suatu lembaga. Maka melalui Peraturan Walikota No.12 Tahun 2007 dikukuhkanlah kelembagaan tersebut dengan nama Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L)

BPK2L adalah lembaga non struktural yang tidak termasuk dalam Perangkat Daerah Kota Semarang, dan mempunyai tugas mengelola, memgembangkan dan mengoptimalisasikan potensi kawasan Kota Lama yang meliputi perencanaan, pengawasan dan pengendalian kawasan. Ada pun BPK2L mempunyai kewenangan melaksanakan sebagian konservasi dan revitalisasi Kawasan Kota Lama serta berada dan bertanggungjawab kepada Walikota. Secara fungsional BPK2L melakukan tugas sebagai berikut [3]:

a. Perencanaan pengelolaan, pengembangan dan optimalisasi potensi kawasan Kota Lama.
b. Pengorganisasian pengelolaan, pengembangan dan optimalisasi potensi kawasan Kota Lama.
c. Pelaksanaan pengelolaan, pengembangan dan optimalisasi potensi kawasan Kota Lama.
d. Pengawasan dan pengendalian pengelolaan, pengembangan dan optimalisasi potensi kawasan Kota Lama.
e. Pelaksanaan pelayanan administrasi kepada masyarakat.
f. Pelaksanaan kesekretariatan Badan Pengelola.

Kerangka program pada periode pertama (lembaga tersebut bertugas secara periodik 4 tahun sekali) difokuskan kepada pemahaman tentang pengelolaan sebuah kawasan bersejarah dengan segala seluk beluknya. Pengurus yang berasal dari berbagai latar belakang membutuhkan penyesuaian dalam memahami tugas; mengingat ciri dari tugas yang amat spesifik maka dalam perjalanan kepengurusan ini banyak mengalami berbagai hambatan terutama pemahaman tentang manajemen sumberdaya budaya. Hal ini dialami baik oleh lembaga tersebut maupun pemerintah.

Kawasan Kota Lama Semarang
Penjelasan di atas dimaksudkan untuk memberikan gambaran perjalanan awal hingga terbentuknya lembaga yang mengelola kawasan bersejarah di Kawasan Kota Lama. Penetapan sebuah kawasan bersejarah mencakup dari tiga besar latar belakang antara lain alasan kesejarahan, artefaktual dan perencanaan. Pengertian masing-masing alasan tersebut secara garis besar adalah: Kesejarahan; kawasan tersebut memiliki nilai sejarah yang signifikan sebagai awal terbentuknya kota Semarang. Walau pun masih dalam bentuk naskah-naskah masa lalu namun sudah dapat disampaikan kebenarannya, misal: fungsi Kali Semarang, adanya jalur transportasi kereta api, tulisan tentang benteng kota dsb. Artefaktual; memliki bukti tinggalan budaya materi berupa jalan, bangunan, pelabuhan, benteng dsb.

Perencanaan; Sebuah kawasan atau benda yang telah atau belum dinyatakan sebagai BCB dalam pengelolaannya ke depan haruslah dikaitkan erat dengan persoalan ekonomi. Di dunia maju pun economic value ditempatkan dalam posisi yang penting dalam pengelolaan BCB. Maka Kota Lama pun secara strategik juga meletakkan nilai ekonomi dalam perencanaan pengelolaannya.
Kawasan Kota Lama ditentukan seluas ± 40 ha, meliputi; Kawasan Kota Lama ± 31 ha dan Kawasan Pengaruh ± 9 ha.

Kawasan pengaruh Kawasan Kota Lama UTARA
Batas-batas Kota Lama Semarang adalah:
a. Sebelah Utara adalah Jl. Merak
b. Sebelah Selatan adalah Jl. Sendowo
c. Sebelah Barat adalah Kali Semarang dan Kawasan Sleko
d. Sebelah Timur adalah Jl. Cendrawasih

Dalam rencana pemanfaatan ruang kawasan ditetapkan berdasarkan komposisi fungsi ruang kawasan yaitu: (a). Fungsi Hunian, (b). Fungsi Perdagangan dan Perkantoran, (c). Fungsi Rekreasi dan Budaya, sedangkan dalam pemanfaatan ruang secaradetil dibagi dalam segmen-segmen/ tema antara lain: tema budaya, rekreatif, komersial dan perkantoran, perdagangan tradisional, perdagangan modern dan pendidikan.

Pemahaman Konservasi dalam Pengelolaan
BPK2L mempunyai tugas mengelola, mengembangkan dan mengoptimalkan potensi Kawasan Kota Lama melalui pelaksanaan konservasi, revitalisasi, pengawasan dan pengendalian Kawasan Kota Lama.

Maka langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan pemahaman yang sama tentang pengertian optimalisasi potensi melalui tindakan konservasi. Pengertian Proses Konservasi dapat dimengerti sebagai berikut:

Harus jelas dalam pikiran baik dalam tujuan, prinsip-prinsip serta aturan konservasi, tindakan intervensi yang minimal adalah prinsip yang terbaik. Ada enam tingkat dari bentuk intervensi sebagai sebuah proses konservasi. Dalam sebuah tindak konservasi yang besar, seringkali terjadi beberapa tingkatan intervensi dapat terjadi bersama-sama dalam satu kesatuan tindakan. Keenam tingkat proses konservasi adalah: prevensi, preservasi, restorasi, rehabilitasi, reproduksi, dan rekonstruksi. Berikut penjelasan keenam tingkat dalam proses konservasi.

Prevensi. Tindakan prevensi atau pencegahan adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk melindungi bangunan cagar budaya dengan mengendalikan lingkungan dimana bangunan cagar budaya tersebut berada. Tindakan prevensi ini mencegah berbagai penyebab pelapukan dan kerusakan agar tidak terlalu aktif. Dalam tindakan prevensi ini termasuk diantaranya adalah mengontrol kelembaban udara, suhu dan sinar juga mengontrol ancaman kebakaran, gas-gas polutan, pencurian dan vandalisme. Tindakan pembersihan berkala dan pengelolaan yang baik termasuk pada bagian ini. Pada intinya, pengawasan yang baik pada bangunan cagar budaya adalah dasar dari tindakan prevensi dari berbagai proses pelapukan dan kerusakan.

Preservasi. Preservasi dalah tindakan untuk menjaga semua keberadaan baik bangunan asli, semua isi, lokasinya persis seperti keadaan aslinya tanpa ada perubahan. Tindakan perbaikan dilakukan bilaman diperlukan untuk mencegah berbagai kerusakan di masa datang. Segala kerusakan yang disebabkan oleh air dalam berbagai bentuk, oleh berbagai bahan yang bersifat khemis dan juga ancaman dari serangga dan mikro-organisme harus dihentikan untuk menjaga keutuan struktur bangunan cagar budaya secara keseluruhan.

Restorasi. Restorasi adalah proses mengembalikan bangunan cagar budaya pada keadaan semula dengan menghilangkan tambahan-tambahan dan memasang komponen semula tanpa menggunakan bahan baru. Restorasi layak dilakukan bila ada sebagian kecil maupun besar dari bangunan cagat budaya telah hilang atau merupakan sesuatu yang sangat penting berkaitan dengan sejarah dan waktu. Jika bangunan memiliki muatan nilai waktu yang sangat penting maka restorasi dapat dibenarkan. Jika persyaratan dan muatan nilai sejarah menuntut untuk tetap ada pada kondisi semula maka pengambilan keputusan restorasi harus diambil, meskipun harus mengorbankan sebuah evolusi bangunan dan bukti-bukti bahwa bangunan tersebut mampu bertahan.

Prinsip tindak restorasi yang baik terletak kepada keaslian elemen yang akan direstorasi, meskipun keadaanya tidak lagi dalam kondisi yang baik, dan jika memungkinkan harus membuat replikanya. Tindakan menduga-duga tanpa bukti yang jelas berkaitan dengan apa yang ada di masa lalu adalah sebuah tindakan yang tidak diperkenankan dalam tindak restorasi. Jika tidak ada dokumen yang menunjukkan aslinya maka lebih baik dibiarkan saja apa adanya. Restorasi seharusnya tidak dilakukan dengan menduga-duga tentang bentuk aslinya dahulu tetapi seharusnya didasarkan pada bukti yang ada, meskipun jumlahnya sangat terbatas.

Rehabilitasi. Banyak bangunan cagar budaya yang tidak lagi berfungsi serta memiliki kegunaan seperti aslinya tetapi masih memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Untuk kasus seperti ini bentuk intervensi yang paling umum dalam tindak konservasi adalah rehabilitasi, atau biasa disebut dengan adaptive use. Tindak rehabilitasi adalah sebuah tindakan pendekatan penyesuaian saat bagian-bagian bangunan cagar budaya mengalami kerusakan atau pelapukan tetapi masih dapat dilakukan modifikasi pada bangunan tersebut, bahkan dapat digunakan untuk satu kegunaan yang baru. Pada umumnya perubahan yang paling banyak ada pada bagian interior, dimana itu merupakan bagian agak leluasa untuk dilakukan perubahan. Untuk menjaga integritas karakter bangunan cagar budaya tersebut maka bagian eksterior hanya bisa dilakukan secara minimal saja.

Reproduksi. Tindak reproduksi meliputi pembuatan tiruan artefak asli, seringkali karena keperluan penggantian oleh karena hilang atau telah mengalami kerusakan, pada umumnya berkaitan dengan elemen dekoratif, untuk menjaga harmonisasi estetika bangunan. Jika sebuah warisan budaya mengalami kerusakan secara permanen atau terancam oleh karena lingkungan yang tidak mendukung lagi, mungkin akan lebih baik jika dipindahkan saja untuk mendapatkan lingkungan yang lebih sesuai dan harus segera dilakukan tindak reproduksi untuk menjaga keutuhan kawasan, situasi atau karakter bangunan cagar budaya.

Rekonstruksi. Tindak rekonstruksi adalah satu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan sebuah bangunan cagar budaya atau warisan budaya lainnya sesuai dengan aslinya dengan menggunakan bahan penyusun mula-mula atau yang baru. Perlu diperhatikan disini, jika harus digunakan bahan baru maka tidak diijinkan untuk diberi penyelesaian supaya terkesan seperti bangunan lama (seperti penambahan patina). Dalam tindak rekonstruksi sekali lagi harus didasarkan pada dokumen yang akurat dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan bukan dengan cara menduga-duga.

Melalui pengertian di atas maka dijabarkan dalam sebuah simbol segitiga OKE; dengan maksud untuk mempercepat proses pemahaman masyarakat dalam melakukan tindak konservasi mulai dari lingkungan yang terkecil.


Pada dasarnya segitiga di atas mengandung tataran ideal dan faktual; sebagaimana dijelaskan tujuan dari manajemen sumberdaya budaya adalah tercapainya pemahaman dan apresiasi terhadap warisan budaya.


Aspek penelitian dalam Pengelolaan Warisan Budaya
Tiap BCB memiliki nilai dan manfaat yang berbeda dalam konteks kekhasan dimana BCB tersebut berada (in situ). Maka memanajemeni Kota Lama Semarang tentu berbeda dengan dengan Kota Lama di luar Semarang. Persoalan yang hingga saat ini muncul adalah menemukan yang khas melalui proses penelitian. Ketika permasalahan penelitian tidak ditempatkan pada tahap awal maka yang sering terjadi adalah kekeliruan ’menjual’ yang berakibat tidak lakunya ’produk’. Kota Lama Semarang adalah kasus menarik untuk dijadikan contoh. Misal: ketika pertama kali tahun 1866 sarana transportasi kereta api Indonesia dibangun di Semarang, belum pernah dilakukan pembuktian secara arkeologis sehingga nilai informasi tentang kejayaan perkeretaapian di Indonesia hingga saat ini seolah tidak pernah muncul sebagai sebuah nilai maupun manfaat.

Aspek penelitian dalam pemanfaatan kawasan Kota Lama masih belum optimal, jika sudah dilakukan penelitian pun kreativitas pemanfaataannya belum bisa maksimal. Hal yang paling mungkin terjadi adalah kekuatan sumberdaya budaya tersebut tidak mampu bertahan lama. Hal ini yang sering dijumpai dalam pengelolaan BCB khususnya Kawasan Kota Lama. Maka berkaitan dengan aspek penelitian, UNESCO menggambarkannya dalam lingkaran proses perkembangan kebudayaan sebagai berikut:


Pada tahun 1990, Institute of Asian Cultures, Sophia University, Jepang juga mempresentasikan sebuah metodologi baru tentang preservasi warisan budaya, yang dikenal sebagai Historical Site Engineering, yang mana Mr. Nobuo Endo mengusulkan 5 prinsip dasar untuk melakukan tindakan konservasi dan mempresentasikan tindakan tersebut, yakni sebagai berikut:
1. Academic Aspect
2. International Aspect
3. Legal Aspect
4. Policy Aspect
5. Social Aspect
Ditunjukkan pula apa yang dinamakan sistem konsep (conceptual systems) yang terdiri dari:
1. Scientific Research
2. Preservation and restoration
3. Manpower development
4. Educational development
5. Tourism development
6. Socio-cultural development

Penelitian ilmiah selalu diletakkan pada posisi yang penting dan awal; hal ini dapat diartikan bahwa setelah aspek penelitian dilakukan maka segala proses perkembangan berikutnya akan berada dalam jalur yang benar.

Semarang’s Historical Core sebagai Sumber Identitas
Persoalan jati diri kota dan masyarakatnya selama ini masih dianggap konsumsi para warga masyarakat tertentu. Upaya untuk menguak perkembangan sejarah panjang kota Semarang pun kurang diminati. Jati diri adalah ‘dunia lain’ yang tidak berkait dengan persoalan perut; tentu hal ini tidak sepenuhnya benar. Realitanya, kota Semarang terlalu sibuk dengan rutinitas. Tidak ada arah kebijakan yang berpihak pada persoalan budaya sehingga dapat dimaklumi arah perkembangan kotanya pun tidak jelas.

Gagasan untuk ‘back to basic’ mungkin bisa jadi tindakan yang bijaksana. Konkritnya, melalui penelitian sejarah dan kebudayaan (termasuk arkeologi) kita akan melihat cakrawala masa lalu yang lebih luas. Melalui tulisan hasil penelitian kita bisa melakukan interpretasi dan eksplanasi tentang nilai yang terkandung dari sejarah dan kebudayaan kota Semarang. Melalui pemaknaan baru sejarah dan kebudayaan kita akan menghasilkan daya yang berasal dari sumberdaya budaya dan sumber identitas warga Semarang yang bisa dijadikan pondasi yang kokoh untuk menyongsong harapan baru menuju Semarang Kota yang Humanis (Kriswandhono, 2004)

Berpulang kepada keputusan politik
Sebagian penelitian telah dilakukan oleh para arkeolog, mereka ingin menyampaikan ilustrasi bahwa temuan berupa struktur bangunan merupakan satu lapisan sejarah kota Semarang tempo dulu. Tentu kegiatan ekskavasi kali ini merupakan jalan masuk menuju sebuah upaya pembuktian potret kebudayaan pada fase-fase tersebut. Kotak gali berukuran 1 x 2 meter dengan kedalaman hampir 2,5 meter adalah lubang menuju lorong peradaban masyarakat kota Semarang yang apabila kita simak pada tulisan-tulisan kuna merupakan kota kosmopolitan pada masanya, jauh meninggalkan Malaka dan Perla (Singapura). Pertanyaan bagi kita adalah mengapa yang muncul saat ini adalah carut marut kota? Bahkan ketertinggalan dengan negara tetangga seolah tak sanggup kita jawab kapan kondisi kita akan sejajar dengan mereka. Kekeliruan macam apakah yang kita dilakukan hingga pada akhirnya kita enggan mempertanyakannya dan membiarkan hanyut tanpa arah? Kapan kita akan menjawabnya?

Akhir kata
Kita tidak ingin terjebak dalam pola nostalgia, kita juga tidak sedang melakukan perjalanan sentimental dan sekadar mengenang bangunan lama atau kagum dengan ornamen bangunan lengkap dengan lanskap aransemen yang tidak beranjak dari komposisi orisinal. Kita sedang melakukan anamnesis untuk menyadarkan masyarakat serta membuktikan sekaligus mengaktualisasikan karya itu sanggup menembus waktu yang bisa dirasakan dari perspektif zaman sekarang dan menjadikan peristiwa ini menjadi dasar kokoh membangun kota yang lebih humanis. (Kriswandhono, KOMPAS, hal.33.12/12/2004)


Bahan bacaan :

Cleere, Henry, Approach to the Archaeological Heritage. Cambridge: Cambridge University Press, 1984.

Cooper, Carman, dkk, Managing Archaeology. New York; Routledge TJ Press Ltd. 1985.

Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (The General Conference of the UNESCO Meeting, Paris 17-21 October 1972)

Koentjaraningrat, Persepsi Tentang Kebudayaan Nasional. 1984

Konvensi Internasional, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keppres, Kepmen, SK yang berkaitan dengan Benda Cagar Budaya di wilayah Republik Indonesia

Krisprantono, 2007. Skenario Penulisan Sejarah Kota Semarang.
Kriswandhono, 2004. Peringatan 90 tahun Herman Thomas Karsten

Kriswandhono, 2008. Konsep Pengembangan Kawasan Kota Lama, BPK2L.

Kusumohartono, Bugie, Manajemen Sumberdaya Budaya: Pendekatan Strategis dan Taktis”. Makalah dalam Seminar Nasional Metodologi Riset Arkeologi. Depok 23-24 Januari 1995. Depok: Jurusan Arkeologi FSUI.

Musikagama, Nikom, Cultural System for Quality Management. Bangkok …,1999

Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003, Panitia Tahun Pusaka Indonesia 2003

UNESCO dalam International Cultural Tourism Charter 1999; Glosary

*Disampaikan dalam Diskusi Kota Tua Batavia: Penelitian dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Museum Nasional Jakarta. 9-10 November 2009.
[1] Anggota Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang.
[2] Konservasi Bangunan dan Lingkungan, BAPPEDA Pemerintah Kodya Dati II Semarang, h.I-2.
[3] Peraturan Walikota No.12 Tahun 2007 tentang Kelembagaan BPK2L

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.685 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: