Oleh: hurahura | 15 Februari 2011

Candi Kalasan

Foto: internet

Candi Kalasan terletak di desa Kalibening, Sleman (Yogyakarta). Di mata penduduk setempat dikenal juga dengan nama Candi Kalibening. Bangunannya berdiri di atas batur dan menghadap ke Timur. Di atas batur itu rupanya semula juga berdiri pagar langkan mengelilingi candi.

Candi ini semula dikelilingi 52 buah stupa, tapi kini hanya tinggal sisa-sisanya. Adanya stupa menandakan candi ini bersifat Buddha. Pada bilik pusat yang dapat dimasuki melalui pintu di sisi Timur, terdapat sebuah asana (lapik) yang besar. Baik di bilik pusat maupun di bilik lainnya tidak ada lagi arca sehingga menimbulkan dugaan bahwa arca yang seharusnya menempati bilik-bilik itu, terbuat dari logam.

Dinding luar candi dihias dengan ragam hias sulur gelung mursal yang disusun amat indah dari bawah ke atas. Atap bangunan terdiri dari tiga bagian pokok: paling bawah berbentuk segi empat, bagian tengah berbentuk segi delapan, dan bagian puncak berbentuk setengah bulat. Dari pembongkaran yang pernah dilakukan terhadap candi, diketahui bahwa candi itu merupakan bangunan yang telah mengalami perubahan dan pembaruan sebanyak tiga kali. Bangunan aslinya didirikan pada 778 Masehi, menurut berita prasasti Kalasan. Di sebelah Selatan candi ditemukan bekas-bekas biara tempat tinggal para pendeta.


Prasasti Kalasan

Candi Kalasan dihubungkan dengan prasasti Kalasan. Prasasti ini ditemukan tidak jauh dari candi. Prasasti Kalasan berbahan batu, kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta dengan Nomor D 147. Ditulis dalam aksara Prenagari, berbahasa Sansekerta, dan berangka tahun 700 Saka atau 778 Masehi. Isinya menyebutkan bahwa Maharaja dyah Pancapana Kariyana Panangkarana (Rakai Panangkaran) telah mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara. Untuk keperluan pemeliharaannya, desa Kalasa dijadikan sima (tanah yang dilindungi).

Uniknya, Rakai Panangkaran adalah raja beragama Hindu, sedangkan candi ini bercorak agama Buddha. Keunikan lain candi ini adalah menjadi satu-satunya candi yang menggunakan lapisan semacam semen putih yang disebut bajralepa pada beberapa bagian dindingnya. Bajralepa inilah yang membuat candi ini seolah-olah berwarna putih bila dibandingkan dengan candi lainnya.

Ukiran-ukiran yang ada pada candi ini juga yang paling halus dan paling indah bila dibandingkan dengan ukiran-ukiran di candi-candi lainnya. Ornamen-ornamen rumit dan halus berupa sulur-sulur pohon yang keluar dari pot banyak ditemukan di sekeliling candi.

Candi Kalasan pertama kali ditemukan pada 1806 oleh Cornelius. Foto pertama dibuat pada 1900 oleh Cephas. Candi ini belum pernah dipugar secara total. Sampai sekarang masih berdiri utuh walaupun banyak kerusakan di sana-sini. Salah satu peninggalan Candi Kalasan adalah sebuah genta besar yang terbuat dari perunggu yang sekarang tersimpan di Museum Sana Budaya Yogyakarta.

Menurut pendapat beberapa arkeolog, Candi Kalasan telah mengalami tiga kali pemugaran. Sebagai bukti, terlihat adanya empat sudut kaki candi dengan bagian yang menonjol. Selain itu terdapat torehan untuk keperluan pemugaran 1927-1929 oleh Van Romondt, seorang arkeolog Belanda. Sampai saat ini Candi Kalasan masih digunakan sebagai tempat pemujaan bagi penganut ajaran Buddha, terutama aliran Buddha Tantrayana dan pemuja Dewi Tara.


Bangunan candi

Bangunan candi diperkirakan berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan tanah, sehingga tinggi keseluruhan bangunan candi mencapai 34 m. Candi Kalasan berdiri di atas alas berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45 x 45 m yang membentuk selasar di sekeliling candi. Di setiap sisi terdapat tangga naik ke emperan candi yang dihiasi sepasang kepala naga pada kakinya. Di hadapan anak tangga terbawah terdapat hamparan lantai dari susunan batu. Di depan kaki tangga dipasang lempengan batu yang tipis dan halus dengan bentuk berlekuk-lekuk.

Bangunan candi secara keseluruhan berbentuk empat persegi panjang berukuran 34 x 45 m, terdiri atas ruang utama yang berbentuk bujur sangkar dan bilik-bilik yang menjorok keluar di tengah keempat sisinya. Dinding di sekeliling kaki candi dihiasi pahatan bermotif kumuda, yaitu daun kalpataru yang keluar dari sebuah jambangan bulat.

Candi Kalasan memiliki empat buah pintu yang terletak di keempat sisi, namun hanya pintu di sisi timur dan barat yang mempunyai tangga. Pintu di sisi timur merupakan pintu masuk ke ruang utama di tengah candi.

Di sepanjang dinding candi terdapat cekungan-cekungan yang berisi berbagai arca, walaupun tidak semua arca masih berada di tempatnya. Di atas semua pintu dan cekungan selalu dihiasi dengan pahatan bermotif Kala. Tepat di atas ambang pintu, di bawah pahatan Kalamakara, terdapat hiasan kecil berupa wanita bersila memegang benda di kedua belah tangannya. Relung-relung di sisi kiri dan kanan atas pintu candi dihiasi dengan sosok dewa dalam posisi berdiri memegang bunga teratai.

Bagian atas tubuh candi berbentuk kubus yang melambangkan puncak Meru, dikelilingi oleh 52 stupa setinggi, rata-rata 4,60 m. Sepanjang batas antara atap dan tubuh candi dihiasi dengan deretan makhluk kerdil yang disebut Gana.

Atap candi ini berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Tingkat pertama dihiasi dengan relung-relung berisi arca Manusi Buddha, sedangkan tingkat kedua dihiasi dengan relung-relung berisi arca Dhyani Buddha. Puncak candi sesungguhnya berbentuk stupa, tetapi sampai saat ini belum berhasil direkonstruksi kembali karena banyak batu asli tidak di temukan.

Ruang utama candi berbentuk bujur sangkar dan mempunyai pintu masuk di sisi timur. Di dalam ruangan tersebut terdapat susunan batu bertingkat yang dulu merupakan tempat meletakkan patung Dewi Tara. Diperkirakan patung tersebut terbuat dari perunggu setinggi sekitar enam meter. Menempel pada dinding barat, di belakang susunan batu tersebut terdapat semacam altar pemujaan. (Djulianto Susantio/dari berbagai sumber)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.733 pengikut lainnya.