Oleh: hurahura | 13 Februari 2011

Rumah Panggung Betawi

Warta Kota, Rabu, 9 Februari 2011 – Di daerah Marunda, tak jauh dari Cilincing, Jakarta Utara, terdapat sebuah rumah panggung yang bersejarah. Dulu rumah itu pernah ditinggali oleh Si Pitung, tokoh legendaris dalam masyarakat Betawi. Inilah prototipe rumah panggung Betawi yang masih tersisa.

Masyarakat Betawi tergolong masyarakat rawa. Itu sebabnya mereka mengenal model rumah panggung. Masyarakat Betawi sendiri sebenarnya tinggal di habitat yang beragam, sejak pesisir hingga pedalaman.

Rumah panggung bukan satu-satunya sistem rumah tradisional Betawi. Arsitektur rumah Betawi juga mengenal rumah darat. Jadi ada variasi pola arsitektur rumah sesuai dengan rentang sebaran komunitas Betawi, dari pesisir yang mencari nafkah sebagai nelayan hingga pedalaman yang bercocok tanam padi sawah.

Masyarakat Betawi pada awalnya adalah masyarakat sungai. Mereka tinggal secara berkelompok sepanjang sungai-sungai di kawasan tertentu. Pintu depan rumah menghadap ke arah sungai. Namun setelah masyarakat masuk ke pedalaman, arah hadap rumah Betawi tidak teratur seperti rumah di Jawa yang berjajar menghadap jalan.

Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi, yaitu kawasan publik (ruang tamu), kawasan privat (ruang tengah dan kamar), dan kawasan servis (dapur). Masing-masing kawasan bisa merupakan bangunan sendiri, dengan pola atap sendiri. Bisa pula satu rumah utuh dengan sebuah pola atap. Variasi ini ditentukan berdasarkan status sosial ekonomi penghuninya.

Ada yang sakral dalam arsitektur Betawi, yakni konstruksi tangga yang diistilahkan balaksuji. Sayangnya ini agak sulit ditemukan di rumah Betawi bukan panggung. Rumah darat kadang-kadang juga punya. Boleh jadi inilah asal mula istilah rumah tangga, sebagaimana yang dikenal selama ini. Tangga balaksuji sarat dengan nilai filosofi. Mungkin bisa diidentikkan dengan prinsip tangga dalam arsitektur kebudayaan lain, seperti Borobudur. Tersirat memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian.

Pada dasarnya suku Betawi terbagi tiga zona. Betawi pinggir membentang dari Depok sampai Parung, Kampung Melayu sampai Cikarang, dan Kebayoran Baru sampai Bintaro. Betawi tengah wilayahnya berada di pusat kota, yakni kawasan Gambir, Kwitang, Senen, Kemayoran, dan Sawah Besar. Sedangkan Betawi pesisir berada di pinggir pantai, seperti Marunda, Tanjung Priok, dan Dadap. Maka masing-masing daerah mempunyai gaya rumah yang berbeda.

Rumah masyarakat Betawi sengaja dibangun hanya satu lantai. Tujuannya, menciptakan suasana kehangatan rumah dengan seisi penghuninya. (Djulianto Susantio)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.685 pengikut lainnya.