Oleh: hurahura | 12 Januari 2011

Majapahit: Kerajaan Agraris-Maritim Di Nusantara


Oleh : Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi, FIB UI


Abstrak :

Meskipun Indonesia merupakan kawasan maritim dan agraris namun keterlibatan Indonesia dalam perdagangan internasional berlangsung bertahap beriringan dengan perkembangan dan terbentukanya jaringan pelayaran yang terbentuk secara berantai. Dengan cara ini berbagai pertanian Indonesia secara bertahap menjadi komoditas internasional pada abad XIII, yaitu rempah-rempah. Apalagi setelah berbagai masalah internal masing-masing kerajaan dapat diselesaikan. Aktivitas itu mengalami perkembangan pesat pada abad XIV-XVI, dan mencapai puncaknya pada abad-abad berikutnya hingga mengundangdan melibatkan bangsa-bangsa dari Barat. Sejak itu Indonesia baik secara agraris maupun maritim terlibat dalam jaringan perdagangan internasional secara penuh. Dalam intensitas demikian salah satu instrumen yang sangat diperlukan adalah kapal.

Kata kunci: Indonesia, agraris-maritim, dan perdagangan internasional

Dalam berbagai sumber yang tersedia tentang Majapahit, dapat diketahui bahwa kerajaan tersebut memang merupakan kerajaan yang bertumpu kepada aktivitas pertanian. Banyak prasasti yang membicarakan tentang penetapan sima atau daerah perdikan, yaitu daerah yang dilarang dimasuki oleh para penikmat kekayaan raja (mangilala drwya haji) istilah yang ditujukan bagi para pejabat atau pegawai kerajaan yang dibayar oleh raja. Berdasarkan nama-nama jabatan para pegawai kerajaan saja dapat diketahui bahwa kerajaan-kerajaan Jawa Kuno sejak zaman Mataram di Jawa bagian tengah hingga era Majapahit di Jawa bagian timur adalah kerajaan agraris. Jabatan-jabatan seperti wilang thani (petugas sensus penduduk desa), air haji (penjaga mata air milik raja), pulung padi (pemungut pajak padi), pangalasan (petugas kehutanan), pawdus (petugas peternakan kambing), pakbo (petugas peternakan kerbau), papuyuh (penangkap burung buyuh), patangkalan (petugas pencacah tanam-tanaman penting), dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa pejabat-pejabat tersebut banyak bergerak di bidang agraris.

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Kertarajasa Jayawarddhana dalam tahun 1293 M, sebenarnya merupakan kelanjutan dari Singhasari. Sebagaimana diketahui dari kitab Pararaton dan didukung oleh berita kakawin Nagarakrtagama, pendiri Singhasari adalah Ken Angrok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhattara Sang Amurwabhummi. Ken Angrok adalah seorang anak desa, ibunya adalah petani yang bernama Ken Endok yang diperkosa oleh Dewa Brahma (sang pencipta) di ladang Lalateng, demikian menurut Pararaton memberikan legitimasi bahwa Ken Angrok memang punya kelebihan sebagai anak dewa. Dengan demikian Ken Angrok sebenarnya anak orang biasa yang karena kejadian-kejadian luar biasa ia dapat menjadi orang nomor satu di Tumapel dan akhirnya mendirikan Singhasari menggantikan peranan raja-raja. Kadiri yang sudah mulai pudar di awal abad ke-13. Raja-raja Singhasari dan Majapahit sebenarnya anggota satu dinasti, yaitu Rajasawangsa, mereka mempunyai leluhur yang sama, yaitu Ranggah Rajasa alias Ken Angrok.

Dalam perkembangannya baik Singhasari (abad ke-13 M) ataupun Majapahit (abad ke-14 s.d 15 M) lebih banyak disibukkan dengan urusan internal di wilayah Jawa Timur. Menurut prasasati Mula-Malurung (1255 M) terdapat beberapa negara daerah yang rajanya dibawah pemerintahan Krtanagara atau Nararyya Murddhaja. Nagara atau kota-kota di daerah tersebut adalah Morono, Lwa, Lamajang, Hring, Kadiri dan Glang-glang yang semuanya berada di wilayah Jawa bagian timur. Hanya satu wilayah Singhasari yang berada di luar Jawa, yaitu Pulau Madura dengan ibu kotanya di Sungeneb/Sumenep (Munandar 1986 : 4-5). Semua negara daerah di Jawa bagian timur itu sejatinya berada di sekitar pedalaman yang subur, di sekitar daerah aliran Sungai Brantas, di lereng-lereng gunung, dan dataran persawahan yang luas membentang.

Negara daerah Singhasari yang jelas memiliki lahan aktivitas yang subur adalah Lamajang (Lumajang) di selatan Gunung Semeru, Kadiri dan Lwa di daerah aliran Sungai Brantas, dan Glang-glang di wilayah Wurawan berada di sebelah barat Gunung Wilis. Adapun Singhasari sendiri berada di dataran tinggi Malang yang subur untuk sawah dan bercocok tanam palawija, sayur mayur, dan buah-buahan hingga dewasa ini. Dalam masa Majapahit jumlah negara daerah tersebut semakin banyak, menurut uraian Prasasti Waringin Pitu (1369 Saka/1447M) yang dikeluarkan oleh raja Wijayaparakramawarddhana (Dyah Krtawijaya) terdapat sekitar 14 negara daerah yang berada di wilayah inti Majapahit, yaitu Jawa bagian timur. Negara daerah zaman Majapahit tersebut adalah (1) Daha, (2)Jagaraga, (3) Kahuripan, (4) Tanjungpura, (5) Pajang, (6) Kembang Jenar, (7)Wengker, (8) Kabalan, (9) Tumapel, (10) Singapura, (11) Matahun, (12)Wirabhumi, (13) Keling, dan (14) Kalinggapura (Yamin 1962: 193-199). Pada masa Majapahit sudah terdapat negara daerah yang berada di daerah pantai utara Jawa bagian timur selain di pedalamannya juga. Hal itu menunjukan bahwa hubungan Majapahit dengan daerah-daerah lain di luar Jawa semakin berkembang, perhatian Majapahit pada daerah luar Jawa meningkat karena berbagai argumen internal atau pun eksternal. Perhatian ke luar Jawa itu tentunya merupakan aktivitas maritim dengan berbagai sistemnya.

Dalam hal kegiatan agraris penduduk Majapahit tetap melaksanakannya, walaupun menjelang keruntuhannya masyarakat Majapahit selalu terganggu oleh berbagai peperangan perebutan kekuasaan. Kedua aspek kehidupan itulah yang akan diperbincangkan lebih lanjut dalam kajian ini, karena Majapahit memang mempunyai bukti-bukti sebagai kerajaan agraris yang maritim, artinya Majapahit juga meluaskan cakrawala kekuasaannya tidak semata-mata di dalam Pulau Jawa, namun juga keluar Jawa.

Setelah panen menjelang musim kemarau, Rajasanagara (Hayam Wuruk) mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur yang menjadi inti wilayah Majapahit pada tahun-tahun tertentu dalam masa pemerintahannya. Menurut uraian Nagarakrtagama Hayam Wuruk dan rombongannya dalam tahun 1353 mengadakan perjalanan ke daerah Pajang, tahun 1354 perjalanan ke pantai Lasem. Pada tahun 1357 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan menuju ke pantai selatan, dan di tahun yang sama terjadi peristiwa Pasunda-Bubat.

Tahun 1359 Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Lamajang yang merupakan rute paling panjang. Perjalanan ke Lamajang inilah yang diuraikan secara panjang lebar dalam Nagarakrtagama. Tahun 1360 perjalanan ke Tarib dan Sampur. Tahun 1361 perjalanan ke Rabut Palah (kompleks Candi Panataran), merupakan candi kerajaan Majapahit. Tahun 1362 Hayam Wuruk memenuhi titah ibunya untuk mengadakan upacara sraddha bagi neneknya Rajapatni Gayatri. Merupakan upacara yang meriah dan diakhiri dengan meletakkan arca

Prajñaparamita di Candi Prajñaparamitapuri di Bhayanglango. Tahun 1363 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan ke Simping (Sumberjati), meresmikan bangunan candi yang konon baru dipindahkan ke lokasi baru. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan eyang Hayam Wuruk, yaitu Raden Wijaya (Krtarajasa Jayawarddhana).

Pada setiap perjalanan tersebut Hayam Wuruk selalu dinyatakan oleh Mpu Prapanca melewati kampung-kampung, dan pesawahan penduduk. Dalam Nagarakrtagama mengesankan bahwa kehidupan masyarakat Majapahit pada waktu itu sangat sejahtera, rakyat di desa-desa berdesak-desak di tepi jalan untuk menonton rombongan rajanya lewat. Di tempat-tempat penghentian dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk dan rombongannya selalu disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat, makanan disediakan cukup berlimpah, dan bermacam hiburan yang ada dipertunjukkan kepada rombongan raja Hayam Wuruk.

Berdasarkan catatan musafir Cina bernama Ma Huan yang berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk, dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit masa itu relatif maju. Catatan Ma Huan menguraikan antara lain sebagai berikut : Di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (Cina), panen padi 2 kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih. Di sana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak. Burungnya aneh-aneh, ada nuri sebesar ayam dengan aneka warna merah, hijau, dan sebagainya. Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang,kakatua, merak, dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka, dan sebagainya. Bunga penting adalah teratai.

Penduduk di pantai utara di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Cina. Ma Huan memberitakan bahwa di kota-kota pelabuhan tersebut banyak orang Cina dan Arab menetap, penduduk anak negeri datang ke kota-kota tersebut untuk berdagang

Laporan Ma Huan selanjutnya menyatakan bahwa ibu kota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga, suatu angka cukup besar untuk zaman itu. Penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki mulai yang anak yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah, terbuat dari emas, cula badak, atau gading. Kerapkali apabila mereka bertengkar, maka dengan cepat masing-masing telah siap dengan kerisnya. Pantangan bagi penduduk Jawa adalah memegang kepala orang lain, karena hal itu merupakan penghinaan dan akan menimbulkan perkelahian berdarah.

Mereka duduk di rumahnya tidak menggunakan bangku, tidur tanpa memakai ranjang, dan makan tanpa memakai sumpit. Sepanjang hari mereka senang memakan sirih, baik laki-laki atau pun perempuan, apabila ada tamu datang yang disuguhkan bukannya teh, melainkan siring dan pinang. Atas titah raja, orang Majapahit juga senang mengadakan pertandingan dengan menggunakan tombak bambu. Apabila ada yang meninggal karena tertusuk tombak bambu itu si pemenang wajib memberikan uang kepada keluarga korban. Apabila bulan terang, terutama purnama, mereka senang bermain bersama. Para perempuan membentuk kelompok sebanyak 20 sampai 30 orang. Seorang wanita memimpin di depan dan mereka semua bergandengan tangan berjalan di bawah bulan purnama. Wanita pemimpin menyanyikan lagu-lagu yang kemudian diikuti oleh seluruh rombongannya. Mereka berkunung ke rumah-rumah orang kaya atau para pejabat kerajaan, mereka mendapat hadiah berupa uang logam tembaga, emas atau hadiah lainnya. Kesenian lain yang populer adalah bentuk cerita Wayang Beber, yaitu kisah wayang yang dilukiskan pada kain yang direntangkan (beber) kemudian sang dalang menceritakan adegan-adegan yang digambarkan tersebut.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya, mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, barang pecah belah dari porselin Cina dengan gambar bunga-bungaan berwarna hijau. Mereka juga membeli minyak wangi,kain sutra, katun yang baik dengan motif hiasan ataupun yang polos, mereka membayar dengan uang tembaga Majapahit, uang tembaga Cina dari dinasti apapun laku di kerajaan Majapahit (Groeneveldt 2009: 67-9).

Majapahit mengembangkan kegiatan agraris adalah hal yang sudah wajar, karena kerajaan itu berada di Pulau Jawa yang subur. Jika dicermati secara lebih mendalam, terdapat beberapa alasan konsepsual-religius yang agaknya dijadikan referensi oleh raja dan masyarakat Klasik sejak zaman Mataram hingga Kadiri mengembangkan kerajaan bercorak agraris. Alasan itu antara lain sebagai berikut :

1.Konsepsi keagamaan: baik ajaran Hinduisme menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting, tempat itu dinamakan Jambhudwipa, sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan-kerajaan yang bercorak Hinduisme di Jawa lebih mementingkan inward looking dan tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jambhudipa (Jawadwipa).

2. Dalam konsep makro kosmos Hinduisme dinyatakan bahwa di tengah Jambhudwipa terdapat Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta dan axis mundi antara ketiga dunia (bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka). Di bagian kaki gunung itu adalah tempat tinggal manusia, di lerengnyabermukim orang-orang suci dan para pertapa, dan di bagian puncak gunungMahameru terdapat sorga atau kota-kota tempat bersemayamnya para dewa dinamakan Sudarsana. Maka dari itu banyak kerajaan yang bernafaskan Hinduisme selalu mendekatkan diri kepada gunung dan dan dataran tinggi yang dipercaya sebagai jelmaan dari Gunung Mahameru pusat alam semesta. Dalam konsep ini daerah tepian pantai, laut atau lautan dianggap daerah yang nista dan kotor, tempat tinggal roh-roh jahat, para raksasa, dan makhluk-makhluk rendah lainnya. Oleh karena itu perhatian kepada laut, pelayaran dilaut dan menjelajah lautan bukan aktivitas yang disenangi oleh para pemelukagama Hindu

3. Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk berlayar menyeberangi lautan. Oleh karena dalam mitologinya Agastya dipercaya menghirup air laut sehingga kering (oleh karena itu dinamakan Rsi Kumbhayoni, arcanya selalu digambarkan berperut buncit), barulah Agastya berjalan kaki dari Jambhudwipa ke pulau-pulau lain di selatan India hingga ke Nusantara. Di Nusantara Agastya dipuja sebagai pendeta suci murid Siwa yang berjasa menyebarkan Hindu-saiwa. Dalam pada itu terdapat juga faktor-faktor eksternal yang menjadikan kerajaan-kerajaan kuno di Jawa dalam masa klasik belum mengembangkan kekuatan lautnya. Faktor-faktor itu antara lain adalah :

a. Jalur perdagangan laut antara abad ke-7 s.d 12 belum terlalu ramai, walau pun hubungan lewat laut antara India, Cina, dan wilayah Asia Tenggara telah lama terjadi. Sebenarnya peningkatan perdagangan laut mulai terjadi dalam abad ke-13 dan berangsur-angsur semakin ramai dalam abad ke-14 hingga masuknya bangsa-bangsa barat.

b. Rempah-rempah belum dikenal sebagai sumber komoditi yang laku diperdagangkan, karena itu para pedagang asing dari Barat belum banyak yang berkunjung ke Nusantara

c. Belum banyak bandar niaga yang berkembang di pulau-pulau Nusantara, hal ini terjadi seiring dengan belum banyaknya jumlah penduduk masa itu.

Demikian beberapa faktor yang menjadi mungkin menjadi penyebab kerajaan-kerajaan di Jawa dalam masa Hindu-Buddha, sejak Mataram kuno hingga Kadiri (abad ke-7 s.d 12 M) belum memperhatikan benar aktivitas di laut. Hal itu tercermin juga dalam berbagai karya sastra Jawa Kuno sezaman, uraian karya sastra tersebut hampir seluruhnya bernuansakan dataran, tempat istana-istana berada, lereng, pegunungan, hutan, dan gunung. Tidak ada karya sastra Jawa Kuno yang mempunyai uraian agak rinci tentang laut, pelayaran di laut perahu, atau pun tentang kemampuan navigasi laut orang Jawa Kuno.

Jadi seakan-akan kegiatan di laut itu luput dari perhatian para pujangga penyusun kitab-kitab susastra Jawa Kuno. Hanya satu kitab Jawa Tengahan yang menuturkan perjalan di laut, itupun perjalanan mitos yang dilakukan Bhima untuk mencari air Amerta, kitab itu adalah Nawaruci. Uraian perjalanan Bhima di laut tersebut bukanlah perjalanan biasa di laut, namun lebih menunjukkan metafora perjalanan batin seseorang untuk bertemu dengan pengejawantahan Superhuman being. Dengan demikian tidak dapat dijadikan referensi khusus dalam kajian maritim masa Jawa Kuno.

Dalam Prasasti Gondosuli (OJO III) yang berangka tahun 769 Saka/847 M disebutkan adanya pejabat yang berjuluk dang puhawa(ng) Glis. Istilah dang puhawang dalam masa kemudian di Jawa diucapkan dengan ”dampoawang” yang artinya nakhoda kapal besar, saudagar kaya, atau pemimpin perjalanan dengan kapal di laut. Dang sebenarnya setara dengan sang, yaitu kata sandang bagi seseorang yang dihormati, adapun kata puhawang dari kata pu + hawan memiliki kata dasar hawan atau hawang. Pu menunjuk kata sandang juga berarti ”dihormati, dimuliakan” dan hawan artinya jalan, kendaraan, alat/cara untuk mencapai sesuatu (Zoetmulder 1995, I : 345). Uraian Prasasti Gondosuli (ditemukan di lereng utara Gunung Sumbing) yang menggunakan bahasa Melayu Kuno menyiratkan adanya seorang saudagar kaya atau nakhoda besar dari daerah Malayu (Sumatra) yang akhirnya mendarat dan bermukim di pedalaman Jawa bagian tengah.

Dapat ditafsirkan bahwa dalam masa itu terjadi hubungan laut antara Sumatra dengan Jawa. Inskripsi berbahasa Melayu Kuno lainnya yang ditemukan di Jawa Tengah adalah Prasasti Sojomerto (sekitar tahun 700 M). Dengan adanya temuan tersebut penafsiran telah ada hubungan antara Jawa dan Sumatra semakin menguat, dan dapat dipastikan hubungan itu terjadi melalui jalur laut, artinya telah dikenal perahu-perahu. Jejak kapal besar dalam era Syailendra abad ke-8 s.d 10 sudah banyak dikaji oleh para ahli lewat penggambaran relief di Candi Borobudur. Kapal Borobudur tersebut bahkan telah dibuat replikanya dan dilayarkan ke laut. Dengan demikian pelayaran di laut lepas ketika pusat kerajaan di Jawa bagian tengah masih berdiri sudah barang tentu telah dikenal, namun perhatian terhadap pengembangan perahu-perahu besar untuk meluaskan pengaruh Kerajaan Mataram hingga luar Jawa belum ada buktinya, kecuali interpretasi adanya hubungan antara Sriwijaya dan Mataram
dalam abad ke-9 M.

Dalam masa yang sama sebagaimana disebutkan dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno dikenal pula kata hawan. Perkembangan selanjutnya mengartikan kata hawan/ng sebagai kendaraan perahu. Uraian prasasti-prasasti Jawa kuno menyebutkan kata hawan berarti perahu atau kapal. Misalnya dinyatakan dalam Prasasti Kubu (827 Saka/905 M): ”mwaK ikanaK rama i kubu-kubu… an pinaka hawan ing wai” (”kemudian rama di Kubukubu… bagaikan perahu di sungai”).Prasasti lainnya yang menyebutkan hawan adalah Telang I (825 S/903 M): ”makamitana ikanaK kamulan muaK prahu umantassakna sang mahawan pratidina” (”alasannya, di sana [ada] kamulan dan perahu yang mendarat dan dikendarai setiap hari”) Dalam Prasasti Mantyasih I (829 S/907 M) dinyatakan juga ”ikanaK patih rumaksa ikanaK hawan” (”di sana patih memelihara perahu”).Hal itu menunjukkan bahwa perahu sebagai kendaraan dikenal di pedalaman Jawa, namun prasasti-prasasti dan karya sastra tidak memberitakan adanya ekspedisi ke luar Jawa dalam era Syailendrawangsa. Sehingga dapat dikemukakan bahwa Kerajaan Mataram kuno belum mengembangkan pengaruhnya hingga luar Jawa, artinya dunia maritim masih belum diperhatikan dengan baik, keculai di masa mendatang ditemukan bukti-bukti baru. Adalah Kerajaan Singhasari yang dapat ditafsirkan mulai memperluas wawasan wilayahnya hingga ke luar Jawa. Interpretasi tersebut diperoleh berdasarkan berita kitab Pararaton yang didukung oleh peninggalan arkeologis berupa arca yang ditulisi prasasti (Prasasti Amoghapasa bertarikh 1208 Saka/1286 M) yang dikeluarkan oleh Krtanagara. Sebagaimana telah diketahui dalam sejarah Singhasari, menurut berita Cina Krtanagara pernah didatangi Meng-chi utusan dari Kublai Khan agar Jawa menghamba kepada kaisar dinasti Yuan tersebut. Krtanagara tidak terima dan marah, lalu melukai wajah utusan Kubhilai Khan, dan memerintahkan Meng-chi agar segera enyah dari Pulau Jawa. Krtanagara segera mengirimkan sejumlah besar tentara Singhasari ke Suwarnabhumi dengan maksud Suwarnabhumi mengakui kekuasaan Singhasari dan dapat membendung kekuasaan Kubhilai Khan ke arah Selat Malaka dan kepulauan Asia Tenggara. Pamalayu tersebut, demikian kitab Pararaton menyatakan berhasil dengan gemilang, raja Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dihadiahi arca Amoghapasa oleh Krtanagara.

Hubungan dengan Malayu tersebut seakan-akan terputus tiba-tiba, karena dalam tahun 1292 Krtanagara, terbunuh dalam serangan mendadak yang dilancarkan oleh pasukan Jayakatwang yang datang dari Gelang-gelang dan berkubu di wilayah Kadiri. Dalam masa-masa awal pembangunan Majapahit sudah pasti Raden Wijaya dan para pejabat tingginya belum lagi memperhatikan daerah Nusantara, walaupun mereka telah berhasil armada dinasti Yuan untuk kembali ke negeri asalnya. Begitupun dalam masa pemerintahan Jayanagara perhatian terhadap wilayah pulau lain belum nyata benar karena pemberontakan-pemberontakan masih acapkali terjadi di Majapahit.

Agaknya hubungan dengan Cina dalam masa Jayanagara tetap berlangsung, menurut berita Cina antara tahun 1325 sampai 1328 telah datang beberapa utusan dari Jawa ke Cina. Utusan Jawa itu dipimpin oleh Seng-chia-liyeh, sedangkan raja Jawa masa itu disebut dengan Cha-ya-na-ko-nai (Jayanagara) (Sumadio 1984:431). Dalam masa Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwarddhani Majapahit mulai melebarkan pengaruhnya ke Bali. Menurut sumber-sumber Bali yang sangat berperanan dalam penguasaan Bali adalah Gajah Mada, tentara Majapahit menyerang Bali dipimpin oleh Gajah Mada dan Pu Aditya (Adityawarman). Armada Majapahit mendarat di pantai utara, timur, dan daerah pantai selatan Bali, mereka lalu melakukan perjalanan darat menyerang ibu kota Bali Kuno yang mungkin berkedudukan di wilayah Gianyar sekarang. Setelah melalui pertempuran panjang, akhirnya Pulau Bali dapatdikuasai oleh tentara Majapahit dan bernaung di bawah panji-panji kebesaran Majapahit.

Tokoh Gajah Mada selalu saja dihubungkan dengan sumpahnya yang terkenal, sumpah yang membuat ia melakukan berbagai upaya untuk dapat membuktikannya. Mungkin saja apa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan penguasa dan para pembesar Majapahit dalam suatu paseban lengkap itu dapat dianggap sebagai pernyataan politik, atau suatu tujuan pemerintahan yang harus dicapai agar Majapahit jaya dan disegani di seluruh Nusantara.

Masa itu (abad ke-14 M) di wilayah Asia Tenggara bermunculan beberapa kerajaan yang mencoba meluaskan hegemoninya. Di wilayah Asia Tenggara daratan berdiri kerajaan Ayut’ia (Ayudhya), kerajaan ini berkembang di wilayah Menam Tengah dan Selatan, pengaruhnya mengarah ke Semenanjung Melayu yang secara tradisional selalu berhubungan dengan Asia Tenggara kepulauan. Ayut’ia juga sudah berkuasa atas wilayah Tenasserim dan Tavoy yang berada dalam wilayah Myanmar. Dalam pada itu kerajaan Khmer yang berpusatkan di Angkor kedudukannya menjadi terancam akibat munculnya kerajaan Ayudhya di Siam tersebut (Hall 1988: 158).

Wilayah Champa berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Khmer pada sekitar akhir abad ke-13, namun di waktu yang bersamaan muncul ancaman dari kekuatan dinasti Yuan (Mongol) yang berkuasa di Cina. Oleh karena itu para penguasa Champa menerima ajakan raja-raja Jawa untuk bersekutu membendung serangan orang-orang Tartar tersebut. Persekutuan itu seakan-akan tidak berarti setelah Raja Jawa (Singhasari) Krtanagara terbunuh tiba-tiba oleh serangan Jayakatwang. Jawa akhirnya diserang oleh tentara Kubhilai Khan tahun 1292, setelah mengalahkan Kadiri tentara Cina itu diusir kembali oleh Raden Wijaya dengan kawan-kawan, kemudian berdirilah Majapahit. Hubungan antara Champa dan Majapahit terus berlangsung dengan baik terutama di bawah pemerintahan Raja Jayasimhavarman di Champa. Hubungan-hubungan antara Champa dengan Majapahit mungkin berlanjut terus hingga Raja Che Bo Nga (1360-1390 M) dan Raja Indrawarman V (1400-1441 M) (Groslier 2002 : 320). Masa pemerintahan Raja Che Bo Nga di Champa hampir bersamaan waktunya dengan era kejayaan Majapahit dalam periode pemerintahan Hayam Wuruk (1351-1389 M). Agaknya hubungan kedua kerajaan tersebut berlangsung akrab, di situs Trowulan bekas kota Majapahit, banyak ditemukan boneka tanah liat bakar yang menggambarkan figur dengan wajah Asiatic Mongoloid. mungkin figur-figur itu dimaksudkan sebagai orang-orang Asia Tenggara daratan (Champa dan Siam) yang banyak berkunjung dan berniaga di kota Majapahit. Bahkan sampai sekarang terdapat kuburan kuno yang dinamakan oleh penduduk setempat dengan Makam Putri Campa, mungkin tokoh tersebut memang berasal dari Campa yang akhirnya pindah bermukim di Majapahit hingga akhir hayatnya.

Tanah Birma (Myanmar) pada masa itu tengah kacau, kekuasaan kerajaan cukup lemah, pemberontakan kerapkali terjadi. Raja Binya Oe terpaksa memindahkan ibu kotanya yang semula di Martaban, lalu dalam tahun 1363 pindah ke Donwun. Telah dikemukakan bahwa di Siam (Muang Thai) memerintah para raja Sukodaya (Sukothai), kota Ayodyapura didirikan dalam sekitar tahun 1350 oleh raja yang berjuluk Darmaraja II. Dalam pada itu Setelah Kubhilai Khan meninggal tahun 1294, maka kekuasaan dinasti Yuan mulai merosot di Cina. Sepeninggal Kubhilai Khan memerintah sekurangnya 10 raja dinasti Yuan di Cina yang tidak berpengaruh dan tidak mengesankan, malah pemberontakan demi pemberontakan orang-orang Cina terus terjadi merongrong kekuasaan raja-raja Mongol. Pada akhirnya dalam tahun 1368, seorang jendral Cina bernama Tsyu Yuan Tsyang (Hung Wu) berhasil mengenyahkan orang-orang Mongol dari dari daratan Cina, muncullah dinasti Baru di Cina, yaitu Ming (1368-1644 M) (Yamin 1977 : 64). Perkembangan sezaman di Cina dan Asia Tenggara daratan itulah sedikit banyak turut mempengaruhi Kerajaan Majapahit yang sedang dibangun oleh para rajanya yang didukung oleh Mahapatihnya, yaitu Gajah Mada.

Kakawin Nagarakrtagama yang digubah oleh Mpu Prapanca dalam masa kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, menyatakan adanya beberapa negara mitra satata di luar Nusantara, selain berbagai daerah Nusantara yang diakui telah mengakui panjí-panji kebesaran Majapahit. Pupuh 15 Nagarakrtagama menyatakan sebagai berikut;
“… tuhun/ taŋ syańkāyodyapura kimutaŋ darmmānāgarī, marûtma mwaŋ riŋ rajapura nuniweh sinhanagari, ri campa kambojanyat i yawana mitreka satata”. (“…kemudian Syangkayodyapura, lalu Darmmanagari, Marutma, dengan Rajapura, termasuk Singanagari, Campa, Kamboja, dan Yawana itulah negara-negara sahabat”)

Kerajaan-kerajaan yang disebutkan dalam Nagarakrtagama sebagai negara sahabat tersebut, berkembang di wilayah Asia Tenggara daratan, ada yang berada di Thailand (Syangkayodyapura dan Darmmanagari), di Myanmar (Marutma dan Rajapura), Di Kamboja dan wilayah Vietnam sekarang (Champa dan Yawana).

Semua kerajaan itu berkembang bersamaan waktunya dengan Majapahit di Jawa bagian timur. Para petinggi Majapahit sangat mungkin menyadari sekali akan hal itu, oleh karena itu Majapahit berupaya membendung pengaruh kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara daratan agar jangan sampai menyebar di kepulauan Nusantara. Nusantara sudah semestinya milik kerajaan yang tumbuh di pulau-pulau itu, kali ini Majapahitlah yang pantas mengembangkan pengaruhnya di pulau-pulau Nusantara, bukan kerajaan-kerajaan daratan Asia Tenggara.

Maka Gajah Mada pun mengangkat sumpah di pertemuan lengkap para pejabat tinggi Majapahit, di balairung kedaton tanpa dihadiri Ratu Tribhuwanottungga, demikian yang dapat ditafsirkan dari uraian Pararaton. Gajah Mada lalu berkata: “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa” (Padmapuspita 1966 : 38).

Demikian ucapan Gajah Mada ketika ia bersumpah menurut kitab Pararaton. Banyak tafsir dan masalah yang dapat didiskusikan dalam peristiwa “Sumpah Palapa” tersebut. Menurut ucapan sumpah Gajah Mada terdapat 10 wilayah di Nusantara yang harus mengakui kejayaan Majapahit, yaitu Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik. Agaknya penulis Pararaton hanya menyebutkan beberapa daerah yang dianggap penting saja dari sejumlah besar daerah Nusantara yang mengakui kebesaran Majapahit sebagaimana yang termaktub dalam Nagarakrtagama. Sepuluh daerah tersebut tersebar di seluruh wilayah Nusantara, jadi walaupun tidak disebutkan banyak daerah, kesepuluh daerah itu dianggap cukup mewakili wilayah Nusantara yang harus mengakui kebesaran Majapahit. Daerah yang pertama disebut oleh Gajah Mada adalah Gurun, daerah ini terletak di Pulau Lombok, artinya mewakili pulau itu secara keseluruhan, ke-2 Seran adalah daerah kepala burung di Papua, daerah ke-3 Tanjung Pura adalah wilayah penting yang terdapat di Pulau Kalimantan, ke-4 Haru daerah di wilayah pantai timur Sumatra utara, ke-5 Pahang adalah daerah penting di Semenanjung Melayu, ke-6 Dompo terdapat di Sumbawa dekat dengan wilayah Bima, ke-7 Bali, adalah Pulau Bali, ke-8 Sunda, atau Kerajaan Sunda terletak di Jawa bagian barat, ke-9 Palembang, di Sumatra bagian selatan, dan ke-10 adalah Tumasik, adalah nama lama dari Singapura sekarang.

Beberapa daerah yang “dibidik” oleh Gajah Mada tersebut ternyata tempat berkembangnya kerajaan lama, kerajaan terdahulu yang mempunyai sejarah lebih tua daripada Majapahit. Misalnya Bali, dahulu di pulau itu pernah berdiri Kerajaan Balidwipamandala dengan ibu kota Singhadwala milik dinasti Warmadewa (abad ke-8 s.d 10 M). Sunda yang terletak di Jawa bagian barat, dahulu di wilayah itu pernah berdiri kerajaan tertua di Tanah Jawa, yaitu Tarumanagara (sekitar abad ke-4 s.d 6 M). Menyusul Tanjungpura yang terletak di Kalimantan, di pulau itu pernah berdiri kerajaan Kutai kuno dengan rajanya Mulawarmman (abad ke-4 s.d 5 M), dan Palembang di Sumatra selatan bekas tempat kedudukan Kerajaan Sriwijaya yang berkembang dalam abad ke-8 s.d 12 M. Gajah Mada seakan-akan hendak mencari tuah dan kekuatan sakti dari kerajaan-kerajaan yang mendahului Majapahit, selain itu Gajah Mada juga sepertinya hendak meneguhkan bahwa Majapahit adalah pewaris dari kerajaan-kerajaan terdahulu di Nusantara.

Pahang dan Tumasik adalah daerah-daerah penting untuk menyongsong perhubungan laut dengan kekuatan dari Asia Tenggara daratan, dan yang penting sekali adalah untuk menetralisir pengaruh kekuatan politik dari Cina. Haru di Sumatra bagian utara, merupakan salah satu daerah barat Nusantara untuk memudahkan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di benua Jambhudwipa (India), adapun Dompo harus dikuasai karena daerah pusat penghasil kayu cendana bermutu tinggi yang sangat diperlukan dalam berbagai ritus keagamaan dan laku dijual keluar Nusantara, sedangkan Seran dan pulau-pulau di sekitarnya (Maluku) adalah penghasil rempah-rempah yang dalam abad ke-14 mulai dicari dan diminati oleh para pedagang Jambhudvipa untuk dijual lagi ke kawasan timur tengah dengan harga yang tinggi.

Dengan demikian Gajah Mada tidak asal saja dalam mengucapkan sumpahnya. Daerah-daerah yang dikatakannya harus berada di bawah kekuasaan Majapahit, adalah daerah pilihan yang mempunyai makna tersendiri bagi Majapahit, jika Majapahit ingin berkembang menguasai Nusantara, maka daerah-daerah itulah yang harus dikuasai lebih dahulu, demikian maksud Gajah Mada. Setelah para penentang pembuktian Sumpah Palapanya lenyap, Gajah Mada beserta tentara Majapahit dan para ksatrya, arya, dan pendukung lainnya mulai “unjuk kekuatan” dengan mengembangkan pengaruh Majapahit ke luar Jawa [timur]. Daerah pertama yang didatangi oleh bala tentara Majapahit adalah Bali, setelah peperangan lama dan melelahkan Bali ditaklukkan, lalu dengan segera Gurun (Pulau Lombok) pun dapat ditaklukkan tentera Majapahit.

Menurut uraian Berita Cina dari dinasti Ming, pada tahun 1377 Suwarnabhumi (Sumatra) diserbu oleh tentara Jawa. Putera mahkota Suwarnabhumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan kaisar Cina, putera mahkota itu takut kepada kekuasaan raja Jawa. Kaisar Cina lalu mengirimkan utusan ke Suwarnabhumi untuk mengantarkan surat persetujuan pengangkatan putra mahkota sebagai raja, namun utusan Cina itu dicegat oleh tentara Jawa dan dibunuh. Kaisar Cina tidak melakukan tindakan apapun terhadap raja Jawa, karena tindakan balasan tidak ada gunanya. Penyerbuan bala tentara Jawa ke Suwarnabhumi itu dikarenakan raja Suwarnabhumi dalam tahun 1373 mengirimkan utusan ke Cina tanpa seizin raja Jawa. Tentu saja pengiriman utasan itu dipandang oleh raja Jawa sebagai pelanggaran terhadap status negara Suwarnabhumi yang sebenarnya menjadi bawahan raja Jawa Majapahit (Groeneveldt 1960 : 69, Muljana 1979 : 142).

Raja Jawa yang dimaksudkan menurut berita Cina itu tentunya raja Majapahit, karena kerajaan itulah yang mempunyai armada laut mengesankan dalam abad ke-14 di kepulauan Nusantara. Menilik angka tahun 1377 waktu tentara Jawa menyerang Suwarnnabhumi, maka dapat dipastikan bahwa yang menjadi raja di Majapahit adalah Hayam Wuruk, karena berdasarkan berbagai sumber tertulis dapat diketahui bahwa raja tersebut memerintah antara tahun 1351-1389 M. Mengenai daerah mana yang diserang oleh tentara Majapahit tersebut, memang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi ada kemungkinan adalah Kerajaan Sriwijaya di masa senjanya yang berkedudukan Palembang. Dalam berbagai sumber tertulis lokal, berita Cina, dan juga folklore setempat dinyatakan bahwa satu-satu daerah di Sumatra yang akrab dengan kekuasaan Cina adalah Palembang.

Sriwijaya disebut oleh orang-orang Cina dengan Che-li-fo-tsi atau Co-ye. Setelah Sriwijaya runtuh, lama sekali bekas kota Sriwijaya itu dibiarkan tidak mempunyai raja. Para bajak laut Cina sempat berkuasa lama di bekas kota Sriwijaya hingga pada awal abad ke-15 ketika Majapahit sedang mengalami konflik internal, datanglah armada Cina ke bekas kota Sriwijaya untuk memulihkan keadaan. Kemudian mulai tahun 1408 berdirilah sistem pemerintahan baru yang dipimpin oleh orang-orang Cina, kota itu disebut dengan Kyu-kang (Ku-kang), verita Cina lainnya ada yang sudah menamakannya dengan Fa-ri-fong (Palembang) (Boedenani 1976 : 61). Demikianlah maka yang dimaksud dengan penyerbuan tentara Jawa ke Suwarnabhumi, adalah penyerangan tentara Majapahit terhadap kerajaan tua Sriwijaya yang pada waktu itu telah lemah dan banyak berkiblat kepada Cina.

Kejayaan bala tentara Majapahit yang menaklukkan daerah-daerah di luar Jawa juga dicatat oleh Sejarah Melayu. Menurut sumber tersebut tentara Majapahit berhasil mengalahkan Tumasik karena adanya penghianatan salah seorang pembesar Tumasik yang bernama Rajuna Tapa. Berkat peranan Rajuna Tapa itulah tentara Majapahit dengan mudah merebut Tumasik, karena kelemahan-kelemahan Tumasik dapat dimanfaatkan oleh tentara Majapahit. Setelah peperangan usai, dan Tumasik mengakui kewibawaan Majapahit, Rajuna Tapa mendapat kutukan negeri, ia berubah menjadi Batu di tepi sebuah kali di Singapura, rumahnya roboh, dan beras simpanannya menjadi tanah (Muljana1979 : 143).

Berita dari Sejarah Melayu itu menjadi bukti bahwa Sumpah Palapa Gajah Mada memang benar-benar dilaksanakan oleh Majapahit, sebab salah satu daerah Nusantara yang diucapkan Gajah Mada dalam sumpahnya dan yang harus ditaklukkannya adalah Tumasik. Mungkin sekali sejak abad ke-14 Tumasik telah menjadi daerah yang strategis bagi jalur laut yang melalui Selat Malaka ke Laut Cina Selatan dan sebaliknya, oleh karena itu Gajah Mada berpikiran harus dikuasai Majapahit. Terbukti ratusan tahun kemudian, setelah berganti-ganti penguasa Tumasik menjelma menjadi negara-kota yang jaya, yaitu Singapura.

Di wilayah Sumatra bagian utara terdapat beberapa lokasi yang mengala kepada tafsiran bahwa tentara Majapahit waktu menyerang daerah Pasai dipimpin langsung oleh Patih Amangkubhumi Gajah Mada.Dongeng yang beredar di kalangan penduduk setempat menyatakan bahwa sebuah bukit di dekat kota Langsa bernama Manjak Pahit, berasal dari kata Majapahit. Menurut cerita rakyyat setempat tentara Majapahit membuat kubu dan perkemahan di area bukit tersebut sebelum menyerbu kota Tamiang. Rawa yang membentang antara Perlak dan Peudadawa dinamakan penduduk dengan Rawa Gajah, konon nama itu berasal dari nama Gajah Mada. Sang Patih beserta tentara Majapahit pernah memintasi rawa tersebut dalam perjalanan menuju Lhokseumawe dan Lambu air. Di seberang rawa, di daerah pedalaman terdapat Bukit Gajah, dinamakan seperti itu karena setelah perahu-perahun tentara Majapahit itu mendarat di seberang rawa, mereka segera bergerak langsung menuju Bukit Gajah dipimpin oleh Gajah Mada. Adapun bukit yang ada di dekatnya dinamakan Meunta, pengubahan pengucapan dari Mada. Di tempat itulah Patih Mada berkemah mengatur strategi untuk menyerang Pasai. Nama-nama tempat itu berhubungan dengan Majapahit dan Gajah Mada, maka ada kemungkinan penaklukkan Pasai oleh bala tentara Majapahit dalam tahun 1350 dipimpin langsung oleh Mahapatih Gajah Mada (Muljana 1979 : 144). Demikian beberapa sumber tradisi yang terdapat di Sumatra yang masih dikenal hingga sekarang, sumber-sumber tersebut menjelaskan toponimi suatu lokasi yang berhubungan dengan Majapahit atau Gajah Mada. Tentu saja hal itu akan mengingatkan orang bahwa di masa silam pernah ada serangan tentara Majapahit melalu laut yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada.

Majapahit juga mengarahkan armada militernya ke pulau-pulau sebelah timur Bali, yaitu Pulau Sumbawa dan pulau lainnya. Peristiwa penyerangan ke Dompo dalam Pararaton disebut Padompo terjadi dalam tahun 1357, setelah meletusnya peristiwa Bubat. Menurut karya historiografi lokal disebutkan adanya kedatangan tokoh cerita wayang yang berasal dari Jawa, yaitu sang Bima dan saudara Pandawa lainnya. Karya itu berjudul “Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa” dan Hikayat Sang Bima yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Henri-Chambert-Loir (2004). Uraian kisahnya pun telah dilingkupi dengan berbagai mitos, legenda, dongeng, dan mungkin juga peristiwa sejarah sezaman ketika naskah itu pertama kali digubah dalam abad ke-17 dan 19 (Chambert-Loir 2004: 7)

Henri Chambert-Loir pernah menyatakan bahwa pemberian nama daerah Bima kepada wilayah di timur Dompo di daerah Sumbawa timur itu agaknya diberikan oleh orang asing (sangat mungkin orang Jawa), tidak diketahui alasan orang asing tersebut memberikan nama Bima kepada daerah tersebut, karena penduduk asli sendiri menamakannya dengan Mbojo, untuk “bahasa Bima” disebut dengan nggahi Mbojo dan “orang Bima” disebut doü Mbojo. “Barangkali nama tersebut patut dibubungkan dengan kultus tokoh Bima yang berkembang di Jawa Timur pada akhir Jaman Majapahit”, demikian menurut Chambert-loir (2004 : 69).

Adanya kemungkinan serangan orang-orang Jawa dari Majapahit terhadap daerah Dompo dan Bima ternyata mendapat dukungan dari berbagai tinggalan arkeologis. Selain adanya arca-arca yang bersifat Hindu-saiwa, di daerah tersebut terdapat juga dua prasasti singkat yang dinamakan oleh penduduk dengan Wadu Pa’a (batu pahat) dan Wadu Tunti (batu bertulis). Prasasti Wadu Tunti diperkirakan oleh para ahli berasal dari abad ke-14 M, selain prasasti singkat juga dipahatkan 4 figur relief rendah yang salah satunya menggambarkan Siwa Mahadewa. Adapun Prasasti Wadu Pa’a mempunyai banyak ciri, prasasti tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-6 s.d 7 M karena mengandung beberapa ciri prasasti Sriwijaya, tetapi juga menyimpan ciri prasasti Bali abad ke-11, namun ada juga sebagian karakter yang mirip dengan prasasti-prasasti Jawa Timur dari sekitar tahun 1371 M (Chambert-loir 2004 : 67-69). Kesimpulan yang dapat ditarik dari berita adanya serangan Majapahit ke Dompo dan juga berdasarkan temuan arca-arca serta prasasti yang bercirikan kronologi lebih tua daripada zaman Majapahit adalah bahwa di daerah Dompo telah berkembang kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Kerajaan itu agaknya telah lama berkembang dan pengaruhnya dirasakan mengganggu armada dagang Majapahit ke wilayah Nusantara timur, karena itulah perlu segera ditaklukkan oleh tentara Majapahit. Pada waktu serangan tentara Majapahit ke Dompo tersebut, pusat kekuasaan di Bima belum lagi ada, karenanya baik Pararaton maupun Nagarakrtagama menyatakan adanya serangan Majapahit ke Dompo, bukan ke Bima. Setelah Dompo jatuh tentara Majapahit dengan dibantu oleh penduduk setempat yang masih diketuai oleh para ketua adat lalu mendirikan pemukiman baru yang kelak dinamakan dengan Bima. Pemukiman baru itu sengaja didirikan untuk menjaga kelanggengan pengaruh Majapahit di Sumbawa; andaikata Dompo hendak memberontak lagi, maka anak keturunan bangsawan Majapahit dan tentara Majapahit yang telah kawin-mawin dengan penduduk setempat di Bima dapat segera menggempur Dompo kembali.

Dompo disebutkan dalam kakawin Nagarakrtagama pupuh 72, dengan menyatakan bahwa Hayam Wuruk menunjuk pejabat tinggi Tumenggung Wiramandalika untuk urusan mancanagara bernama Pu Nala. Ia adalah orang yang pemberani, pengabdi raja setia, sering mengadakan perjalanan muhibah antara lain ke Dompo (Pigeaud 1960, III : 84). Peristiwa ini disebutkan setelah Gajah Mada Meninggal tahun 1286 S/1364 M, jadi memang Pu Nala ditunjuk oleh Hayam Wuruk untuk menggantikan peranan Gajah Mada dalam bidang “menteri luar negeri” yang bertugas mengelola hubungan dengan daerah-daerah kekuasaan Majapahit di luar Jawa timur (Nusantara). Pu Nala sendiri sebagaimana yang dinyatakan dalam Nagarakrtagama ialah orang yang sering mengadakan perjalanan muhibah ke luar Jawa, antara lain dalam melakukan serangan terhadap Dompo, jadi Pu Nala bukan pemimpin utama penyerangan terhadap Dompo, melainkan salah seorang laksamana Majapahit yang turut serta dalam ekspedisi tersebut. Lalu siapa gerangan laksamana utama yang merancang untuk menaklukkan Dompo ?, sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, tokoh itu tidak lain adalah Gajah Mada sendiri. Gajah Madalah yang memimpin langsung armada Majapahit untuk menaklukkan negeri-negeri jauh ke arah matahari hidup. Dalam Pararaton disebutkan bahwa dalam tahun yang sama dengan Pasunda-Bubat yaitu tahun 1357 M, terjadi pula Padompo (ekspedisi ke Dompo) (Hardjowardojo 1965 : 53). Demikianlah setelah Dompo ditaklukkan tahun 1357, dan Bima didirikan pada tahun-tahun kemudiannya, kakawin Nagarakrtagama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca dalam tahun 1365 M pupuh 14 : 3 menyatakan sebagai berikut;

“sawetan ikanang tanah jawa muwah ya warnanen ri bali makamukya tan badahulu mwang i lwagajah gurun, makamukya sukun/ri taliwang ri dompo sape ri sanghyang api, bima , seram i hutan kadaly apupul”

(“Di sebelah timur Tanah Jawa, termasuk daerah-daerah di Bali, terutama wilayah Badahulu dan Lwa Gajah, Gurun, daerah penting Sukun di Taliwang, Dompo, Sape, Sanghyang Api (Gunung Tambora), Bima, Seram, Hutan Kadali, semuanya bersatu [di bawah panji-panji Majapahit]”).

Maka dapatlah disimpulkan bahwa ekspedisi armada Majapahit ke Dompo berhasil dengan dengan baik, orang-orang Majapahit kemudian mendirikan nagara Bima, dan para pembesar ekspedisi tersebut lalu kembali ke Majapahit termasuk Gajah Mada dan Pu Nala. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, dapat diketahui berbagai sebab sehingga Majapahit walaupun bertumpu kepada aktivitas agraris, tetapi juga mengembangkan perhatiannya kepada dunia maritim. Beberapa alasan internal sehingga Majapahit mengembangkan wawasannya hingga ke luar Jawa (timur) dan didukung dengan aktivitas kemaritiman yang meluas :

1. Konsep keagamaan masa Majapahit telah memadukan ajaran Hindu-saiva dan Buddha Mahayana. Agaknya ajaran Buddha yang menempatkan benua Jambhudwipa di selatan Gunung Mahameru telah membantu membuka wawasan bahwa ada benua-benua lain di sekitar Mahameru (barat, utara, dan selatan) yang harus dikunjungi para pemeluk Buddha (dikenal adanya Buddha Dipaŋkara yang dipuja oleh para pelaut untuk meredakan gelombang dan badai besar di lautan).

2. Majapahit melanjutkan politik Dwipantara yang telah digagas oleh Krtanagara namun diperbaharui lagi oleh Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya.

3. Mempunyai pejabat tinggi yang mendukung aktivitas kemaritiman, semisal Gajah Mada dan Pu Nala. Kenyataan yang menarik adalah apabila Hayam Wuruk menurut Nagarakrtagama kerapkali melakukan perjalanan darat berkeliling Jawa bagian timur sebagai daerah inti Majapahit, maka terdapat sejumlah data yang dapat ditafsirkan bahwa Gajah Mada melakukannya di laut. Gajah Mada sangat mungkin seringkali melakukan perjalanan laut ke berbagai wilayah Nusantara untuk membuktikan isi Sumpah Palapanya.

Dalam pada itu terdapat beberapa faktor luar sehingga memaksa Majapahit mengembangkan kekuatan maritimnya :

1. Meningkatnya perhubungan laut di Asia Selatan dan timur, jalur laut tradisional antara Arab, India, dan Cina semakin ramai dilalui para niagawan untuk melakukan transaksi barang dagangannya, akibatnya

2. Meningkatnya perdagangan laut di kawasan Asia Tenggara, karena di kawasan tersebut berdiri beberapa kerajaan besar yang mempunyai wilayah kekuasaan cukup luas.

3. Semakin banyaknya kapal-kapal layar dari pulau-pulau Nusantara dan luar Nusantara yang berlabuh di bandar-bandar Majapahit, seperti di Tuban, Lasem, Gresik, dan Ujung Galuh (Surabaya) membawa kesadaran akan adanya wilayah-wilayah lain di luar Jawa yang juga harus dikuasai oleh Majapahit

Perkara yang secara logis mudah diduga adalah perihal kapal layar atau perahu besar zaman Majapahit yang menjadi armada laut kerajaan tersebut. Sudah pasti Majapahit memiliki banyak perahu besar kecil, kapal layar, jung perang lainnya mengingat pengaruhnya yang menyebar ke seluruh Nusantara, namun hingga kini perahu atau kapal layar itu belum dapat diketahui bentuknya secara pasti. Kesulitan untuk mengungkap bentuk perahu/kapal layar zaman Majapahit tersebut disebabkan adanya keterbatasan data, antara lain :

1. Tidak ada penggambaran relief candi yang cukup memadai perihal perahu besar/kapal layar zaman Majapahit. Hanya ada satu-satu relief ”kapal” yang penggambarannya samar-samar, adapun relief perahu menunjukkan sampan kecil yang dapat dimuati oleh 2 orang. Relief-relief tersebut terdapat di kompleks Candi Panataran.

2. Sumber-sumber tertulis (prasasti dan karya sastra) yang digubah zaman Majapahit lebih banyak menguraikan dunia daratan, hutan, pegunungan, lereng berhutan, istana dan pertapaan, jadi tidak ada yang bertutur tentang dunia pelayaran di laut.

3. Belum banyak tinggalan arkeologis yang merupakan sisa perahu besar atau kapal layar zaman Majapahit.

Data butir 1 dan 2 yang memang sangat terbatas sangat mungkin dikarenakan :

1. Masyarakat sezaman tidak perlu lagi menggambarkan bentuk perahu/kapal layar, karena memang masa itu bentuk dan ukurannya merupakan pengetahuan sehari-hari yang sudah umum, karena itu penggambaran relief perahu Majapahit di candi-candi menjadi langka.

2. Dalam karya sastra yang perlu dinarasikan adalah peristiwa aktivitas tokoh-tokoh di daratan dalam upaya menegakkan kebenaran, melaksananakan ajaran keagamaan atau upaya mencari hakekat yang tertinggi, dan biasanya bertapa di hutan-hutan di lereng gunung simbol Mahameru.

3. Perahu atau kapal layar menggunakan bahan kayu, sehingga sangat mungkin banyak sisa kapal layar zaman Majapahit telah lapuk dan hancur termakan usia sehingga sukar dilacak lagi keberadaannya.

Berikut dikutipkan beberapa karya sastra sezaman atau sedikit lebih muda yang disusun di daerah pantai utara Jawa Timur (Lasem) dan yang digubah di luar Pulau Jawa. Berdasarkan uraiannya dapat diketahui karya sastra tersebut mengacu kepada setting sejarah Majapahit, namun tidak digubah oleh para pujangga besar Majapahit atau anonim; oleh karena itu disebut saja karya sastra minor masa Majapahit.

Uraian karya-karya sastra minor itu ada yang menyinggung tentang perahu layar atau perahu yang dipergunakan era Majapahit. Diharapkan berdasarkan kutipan-kutipan karya sastra minor yang belum banyak dieksplorasi informasinya tentang perahu, dapat dihipotesakan bentuk–bentuk perahu atau kapal kayu yang dipergunakan dalam zaman itu.

Carita Lasem:
”Dhek nalika taun Syaka 1273 sing dadi Ratu aneng Lasem iku asma Dewi Indu, adhik nakdulur misane Prabu Hayam Wuruk ing Wilwatikta….. Para kawula ing Lasem nganti marabi asma Dewi Purnamawulan. Garwane asma Pangeran Rajasawardana, dadi Dhang Puhawang Wilwatika, nguwasani jung-jung peranging plabuhan Kaeringan lan plabuhan Regol ing Lasem…” (Carita Lasem 1920: 10).

Menurut Carita Lasem yang berbahasa Jawa Tengahan, di pelabuhan Lasem dalam tahun 1273 Saka/1351 M banyak bersandar jung-jung perang yang merupakan bagian armada tempur Majapahit. Adapun yang menjadi laksamananya adalah Rajasawardana suami Rani Lasem Dewi Indu.

Sedikit informasi tersebut tetap harus diperhatikan untuk menyusun data perahu/kapal masa Majapahit. Babad Dalem dari Bali mempunyai informasi pula perihal perahu zaman Majapahit, dinyatakannya sebagai berikut:
”Dikisahkan perjalanan utusan (Majapahit) itu dengan menumpang perahu layar dari Bubat, menyalakan lampu menuju Telagorung, melewati Pajarakan ke selatan menuju Pulwayam menyusuri Selat Bali. Tampak pantai Kapurancak…” (Rai Putra 1995: 13).

Informasi yang didapat dari kutipan tersebut adalah adalah perahu layar yang berlampu dalam zaman Majapahit dapat berlayar dari Bubat, artinya menyusuri Sungai Berantas menuju Selat Madura, membelok ke selatan memasuki Selat Bali dan menuju pantai Bali selatan. Perahu dari Majapahit itu sebenarnya sedang menuju ke Samprangan yang dewasa itu menjadi ibu kota Bali dibawah pengaruh Majapahit.

Bagian lain dalam Babad Dalem menyatakan bahwa ketika Raja Bali Smara Kapakisan diundang oleh Hayam Wuruk ke istana Majapahit, maka :
”Dikisahkan raja Bali dalam perjalanan itu menggunakan perahu layar yang dihias dengan tumbuh-tumbuhan melata, meniru hiasan dewa asmara. Setelah itu beliau beliau yang berlayar dalam dua perahu ibarat bunga teratai yang indah, tiang panji-panjinya dihias dengan permata indah bermacam ragam. Kryan Patandakan berlayar di depan raja dengan perahu berwarna putih di sana-sini, Kryan Kubon Tubuh sebagaimana biasa menggunakan perahu berwarna hitam, para mentri yang lain menggunakan perahu sebagai masa-masa lampau, berturut-turut perahunya merupakan iring-iringan” (Rai Putra 1995: 23-24)

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa terdapat bermacam peringkat perahu, ada yang milik raja, mentri utama yang pengawal raja (berwarna putih), perahu pengawal yang tentunya jung perang (berwarna hitam), dan perahu-perahu para pejabat tinggi lainnya. Perahu layar raja Bali dan pengiringnya sangat mungkin di bagian depannya dihias dengan figur bentuk makara, sebagaimana yang dikenal hingga sekarang pada perahu-perahu nelayan Bali.

Makara adalah binatang mitos berkepala ikan, namun berbelalai seperti gajah, oleh karena itu dalam kebudayaan India dinamakan dengan Gaja-mina. Perahu-perahu itu menurut Babad Dalem, berlayar sangat cepat di laut dan lincah dikendalikan (Rai Putra 1995 : 24).

Dalam uraian Kisah Panji (Angreni) Palembang dinyatakan bahwa setelah Dewi Angreni dibunuh atas perintah raja Koripan, jenazahnya dibawa oleh suaminya Raden Panji untuk berlayar ke laut. Panji seperti hilang ingatan dan mengganggap Dewi Angreni masih hidup dan akan dihiburnya dengan bercengkerama dengan perahu di laut. ”Achirnja ia (Pandji) berkata kepada saudara-saudaranja : ’Kalau kalian kasihan kepadaku, ikutilah aku kemana aku pergi’. Saudara-saudaranja berdjandji. ’Sekarang aku hendak bersampan-sampan’, kata Pandji meneruskan, ’berilah aku perahu’. Prasanta memerintahkan mempersiapkan perahunja jang bernama Indrajala dan memuatinja dengan 600 orang pengajuh. Perahu jang sebuah lagi bernama Djaladara, dengan 400 orang pengajuh. Kedua perahu itu dipersiapkan untuk menempuh laut (Poerbatjaraka 1968: 186).

Kisah Panji diciptakan dan disebarkan dalam zaman Majapahit, oleh karena itu informasi yang terkandung di dalamnya sezaman dengan perkembangan kerajaan itu. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui adanya kapal kayu besar yang bisa memuat 600 dan 400 orang pengayuh sekaligus. Walaupun cerita Panji adalah kisah rekaan, namun situasi zaman, kehidupan sosial-budaya, bahkan inti ceritanya bersandarkan pada peristiwa sejarah yang pernah terjadi dalam zaman Majapahit (Munandar 2005). Oleh karena itu berita tentang adanya kapal kayu besar dalam era Manjapahit agaknya dapat dipercaya.

Dalam kisah Panji Angreni selanjutnya diuraikan bahwa rombongan perahu Raden Panji, saudara-saudara, para pengiring dan pengawalnya akhirnya diamuk badai, sebagian besar perahu kecil milik rakyat dan pengiring Raden Panji pecah dan tenggelam, hanya kedua kapal besar itu saja yang bertahan dan terdampar di Pulau Bali (Poerbatjaraka 1968: 187).

Karya sastra lainnya adalah Hikayat Sang Bima digubah oleh seorang dalang yang bernama Wisamarta ialah ”seorang-orang Melayu (yang) datang ke Bima”. Ia memutuskan untuk menulis karya tersebut berdasarkan sebuah cerita setempat dengan tujuan menghibur hati dan menceritakan asal-usul kerajaan Bima ”supaya tahu segala yang belum tahu dan supaya dengar segala yang belum mendengar (Chambert-Loir 2004: 143).

Dalam karya sastra itu disebutkan bahwa Sang Bima (sebenarnya metafora bangsawan Majapahit) beserta adik-adiknya meminta izin kepada Sang Nata di paseban untuk menyerang lawan ke arah matahari hidup (timur) agar termasyur, sebab seluruh Tanah Jawa telah ditaklukkan.
”…tetapi jikalau demikian baiklah kita membawa rakyat Jawa ini supaya kita suruh berbuat perahu akan kenaikan kita. Maka dikerahkan rakyat Jawa itu berbuat jung dan gurab dan pelang dan knt…[teks tidak dapat dibaca] beberapa ratus, dan kenaikan baginda empat bersaudara sebuah seorang gurab, panjangnya 30 depa, bukanya 15 depa. Maka beberapa lamanya baginda menyuruh berbuat perahu, maka sudahlah segala perahu itu dengan segala kelengkapannya” (Chambert-Loir 2004 : 217).

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dapat diketahui bahwa ada perahu Jawa (Majapahit) yang disebut gurab panjangnya 30 depa dan lebarnya 15 depa. Ada pula jenis perahu lainnya yaitu jung dan pelang.

Dalam pada itu Hikayat Banjar menyatakan bahwa ketika Negara-Dipa telah berdiri maka dan telah makmur maka banyak pedagang yang datang berniaga di pelabuhannya. Kemudian sang raja berkata: ”Sudah kita berbuat nagri sandiri, manurut tahta astilah tjara nagri Majapahit. Maka pakaian kita samuanja pakaian tjara orang Djawa. Maka chabar tjarita orang tuha-tuha dahulu-dahulu kala: manakala orang nagri itu manurut pakaian orang nagri lain nistjaja datangnya sangsara” (Ras 1968 : 264).

Mengenai perahu orang-orang Nagara-Dipa itu dinyatakan : ”Maka Aria Magatsari mahalukan ke palabuhan itu lawan parahu tanggahan namanja si Tjarang Padap. Panjangnja sapuluh depa, Andjil-andjilnja kumbala radjasa, barkakitir amas bertirai amas. Sulanja basi malila. Pabalahnja barkajuh ampat puluh. Parahu itu dikajuh tangkasnja saparti burung tarbang rupanja. Tubuh parahu itu bartulis galuga pahul dan air mas” (Ras 1968 : 260).

Demikianlah gambaran perahu Nagara-Dipa yang meneruskan cara dan tradisi Majapahit, perahu itu panjangnya 10 depa, haluannya yang membelah air dilapis baja hitam yang awet, tombak di haluan dari besi kuat, berbendera kecil-kecil kain emas, bertirai kain emas mempunyai kayuh 40, tubuh perahu diwarnai merah gelap, biru terang, dan warna emas.

Beberapa kutipan karya sastra minor masa Majapahit tersebut kiranya dapat membantu untuk sekedar membayangkan bagaimana dunia perkapalan dalam zaman Majapahit menurut sumber-sumber lokal sendiri. ”Karya sastra minor” itu dihasilkan di daerah-daerah yang mendapat pengaruh kuat kebudayaan Majapahit, sebelum banyaknya orang-orang Barat berkunjung ke pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Pada akhirnya diperoleh beberapa butir pemahaman mengenai perahu/kapal layar hasil interpretasi dari karya sastra minor Majapahit. Pemahaman itu antara lain adalah :

1. Banyak jenis perahu layar yang dikenal dalam era Majapahit, perahu yang jelas berlabuh di pelabuhan Kaeringan dan Regol di Lasem adalah jung-jung perang (Carita Lasem); kemudian ada jenis perahu gurab, pelang, jukung, dan lainnya (Hikayat sang Bima & Hikayat Banjar).

2. Ukurannya perahu bermacam-macam, berdasarkan relief Candi Panataran ada yang berupa sampan yang hanya dikayuh oleh 2 orang agaknya untuk menyusuri kali atau memintas sungai. Ada pula yang berukuran panjang 30 depa dan lebar 15 depa (Hikayat sang Bima), serta ada perahu yangberukuran 10 depa (Hikayat Banjar).

3. Hampir semua karya sastra menyatakan bahwa perahu/kapal-kapal Majapahit itu mempunyai layar (tidak dijelaskan bertiang tunggal atau ganda) (Babad Dalem, Hikayat sang Bima, Hikayat Banjar, Kisah Panji Angreni Palembang, dan Carita Lasem)

4. Kayuh yang dipasang ada yang berjumlah 40 pengayuh (Hikayat Banjar), namun ada pula yang mempunyai 400 sampai 600 pengayuh dalam 1 kapal layar besar (Kisah Panji Angreni Palembang)

5. Mempunyai perlengkapan kapal yang memadai seperti lampu, senjata, tombak di haluan, haluan yang dilapis baja, rumah kapal, dapur, dan gudang (Babad Dalem, Hikayat sang Bima, dan Hikayat Banjar)

6. Perahu/kapal layar itu melaju dengan cepat, tangkas dan mudah dikemudikan
(Babad Dalem & Hikayat Banjar).

7. Kapal layar besar dan penting mempunyai nama yang mengesankan. Dalam Kisah Panji Angreni kedua kapal layar Panji dan para pengiringnya dinamakan dengan Indrajala (raja/penguasa air), Jaladara (menyerupai air atau ”menyatu dengan air”), dalam Hikayat Banjar ada kapal yang dinamakan Tjarang Padap. Perahu/Kapal layar dihias dengan berbagai ornamen melata, ukiran bermacam, tiang utama di lapisi gading, layar putih tinggi, mempunyai payung kebesaran, itulah perahu milik penguasa Bali (Babad Dalem). Hampir semua karya sastra menyebutkan bahwa dalam kapal itu dilengkapi dengan iringan musik gamelan. Kapal mempunyai warna berbeda, jung perang berwarna hitam, kapal layar lainnya ada yang putih, merah gelap, dan biru-terang.

Beberapa pemahaman tentang perahu/kapal layar zaman Majapahit tersebut didokumentasikan oleh orang-orang yang berada di luar lingkaran inti wilayah Majapahit, seperti Lasem, Bali, Bima, Palembang, dan Banjar, dengan demikian apa yang dideskripsikan mungkin lugas dan netral. Sosok kapal layar Majapahit dinarasikan apa adanya, namun memang tidak ada karya sastra yang memerikan secara lengkap sehingga diperoleh gambaran yang komplit tentang wujud kapal layar Majapahit. Bagaimana pun diharapkan kapal layar Majapahit itu dapat direkonstruksi melalui serpihan data yang ada dari berbagai sumber.

Hal yang menarik adalah adanya penggambaran relief satu-satunya dari kapal layar Majapahit di kompleks Candi Panataran, jadi dapat dipastikan otentik dari masanya. Dalam relief tersebut dipahatkan kapal layar besar, mempunyai rumah kapal di tengah, namun bertiang kaki dua yang menyatu di bagian tengah hingga puncaknya. Kedua kaki tiang itu ditancapkan di bagian tepian dek tengah kapal lalu menyatu menjadi tiang tunggal di bagian atas rumah kapal. Apakah konstruksi kapal dengan tiang layar berkaki dua itu memungkinkan?, ataukah hanya gambaran kisah yang berbau mitos saja, sebab relief itu dipahatkan di kompleks bangunan keagamaan.


Kepustakaan :

Boedenani, H., 1976. Sejarah Sriwijaya. Bandung : Tarate.

Chambert-Loir, Henri, 2004. Kerajaan Bima Dalam Sastra dan Sejarah: Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa, Hikayat Sang Bima, Syair Kerajaan Bima. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & École Française d’Extrême-Orient.

Damais, Louis-Charles, 1970. Répertoire Onomastique de L’Epigraphie Javanaise (Jusqu’a Pu Sindok Śrī Iśānawikrama Dharmmotuŋgadewa). Paris: École Française D’Extrême-Orient.

Groeneveldt, W.P.,1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Djakarta: Bhratara.

————-, 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Terjemahan dari judul asli: Notes on The Malay Archipelago and Mallaca Compiled from Chinese Sources. Depok: Komunitas Bambu.

Groslier, Bernard Philippe, 2002. Indocina Persilangan Kebudayaan. Penerjemah Ida Sundari Hoesen. Jakarta-Paris: Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi.

Hall, D.G.E., 1988. Sejarah Asia Tenggara. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh I.P.Soewarsha. Surabaya: Usaha Nasional.

Hardjowardojo, Pitono, 1965. Pararaton. Djakarta: Bhratara.

Muljana, Slamet, 1979. Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara

Munandar, Agus Aris, 1986, ”Prasasti Mula-Malurung: Pelengkap Sejarah Kerajaan Singhasari”, dalam Buku IIa Aspek Sosial Budaya, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Cipanas, 3—9 Maret 1986. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 1-24.

————-, 2005. “Bingkai Sejarah yang Menjadi Acuan Kisah Panji”, makalah dalam Seminar Internasional Jawa Kuna: Mengenang Jasa-jasa Prof.Dr.P.J.Zoetmulder S.J. Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Kuna. Diselenggarakan oleh Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 8—9 Juli

Padmapuspita, Ki J., 1966. Pararaton: Teks Bahasa Kawi Terdjemahan Bahasa Indonesia. Jogjakarta: Penerbit Taman Siswa.

Panji Kamzah, R. & Panji Karsono, 1920. Carita (Sejarah) Lasem. Semarang: Pambabar Pustaka.

Pigeaud, Theodore G.Th., 1960—63, Java in The 14th Century A Study in Cultural History: The Nagara kertagama By Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. Volume I—V. The Hague: Martinus Nijhoff.
Rai Putra, I.B., 1995. Babad Dalem. Denpasar: Upada Sastra.

Rass, J.J., 1968. Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography. The Hague: Martinus Nijhoff.

Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984. Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.

Yamin, H.M., 1962. Tatanegara Majapahit II. Risalah Sapta Parwa. Djakarta: Prapantja.

———, 1977. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.

Zoetmulder, P.J. & S.O.Robson, 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

About these ads

Responses

  1. Mantap tulisannya. Sy akhirnya ‘sedikit’ memahami tentang kemaritiman kerajaan Majapahit. Alumnus PATI II.

  2. Keren.. sekarang tidak diragukan lagi bahwa Majapahit adalah kerajaan besar

  3. INDONESIA BUKAN NEGARA JAWA BUKAN NEGARA MAJAPAHIT. INDONESIA TERBENTUK KAARENA PERSAMAAN NASIB SEBAGAI BANGSA TERJAJAH OLEH KARENA ITULAH INDONESIA BERSATU DAN MERDEKA. DAN INDONESIA LEPAS DARI HINDIA BELANDA BUKAN KARENA JAWA ATAU MAJA PAHIT TETAPI KARENA SERANGAN JEPANG DALAM PERANG DUNIA KEDUA. DAN JEPANG PERGI DARI INDONESIA BUKAN PULA KARENA JAWA DAN MAJA PAHIT TAPI KARENA KALAH PERANG DENGAN SEKUTU. JANGAN LAGI BAWA BAWA MITOLOGI-MITOLOGI JAWA DALAM NEGARA INDONESIA. BICARA JAWA JAWA SAJA JANGAN BAWA BAWA INDONESIA. INDONESIA MILIK RAKYAT DARI SABANG SAMPAI MEROKE YANG MEMPUNYAI DERAJAT HAK DAN KEWAJIBAN SAMA.

    JAWA-JAWA FITNAH DAN DONGENG BABAD JAWI AJA YANG KALIAN BESAR-BESARKAN. APALAGI SABDO PALON SERAT GONDAL GANDUL JAWA ITU KAMU TAUKAN SABDOPALON APA ISINYA??? ITU ADALAH FITNAH KEJI TERHADAP ISLAM DAN RADEN FATAH. SABDOPALON ITU PENGHUNI KERAK NERAKA JAHANNAM.

    Kalau kalian orang Jawa nulis sejarah, rusak semua sejarah acak-acakan semua sejarah gak tersusun semua dilabrak yang penting Jawa. Arya Damar/Adityawarman kata orang Jawa adalah anak Brawijaya menikah dengan ibu Raden Patah sedangkan Raden Patah adalah putra Brawijaya juga. Artinya Raden Patah itu adalah anak tiri Arya Damar dan sekaligus adek Arya Damar gak mungkin Arya Damar penganut Islam yang taat itu menikahi dan mengawini ibunya sendiri dan punya anak yang bernama Raden Husen jadi bagaimana Arya Damar Raden Patah, Raden Husen ibu Raden Patah. gak mungkin itu terjadi. bukan Ken Arok Arya Damar itu yang tukang berzina dengan istri majikan. Gak ada orang Sumatra seperti itu. Entah kalau Jawa hal seperti itu mungkin biasa. Berzina dan kawin punya anak dengan ibu kandung saja mungkin biasa kalau di Jawa

    Jika ibu raden patah orang campa keturunan cina dan keturunan sayyid Alsamarkhan, maka ibu raden fatah itu adalah syarifah. Sedangkan Ayah Raden Fattah adalah Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam ) ibni Jamaluddin Al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammad Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .
    ibu raden fatah sebenarnya masih mempunyai kekerabatan dengan ayahnya raden fatah (wan bo/ yang menjadi raja di campa) pernikahannya adalah kaffah sama sama keturunan Rasulullah SAW. tidak ada hubungannya dengan jawa apalagi dengan brawijaya V.
    Raden fatah kejawa untuk menemui paman/ wak dan sekaligus berguru kepadanya. paman/ wak raden fatah itu bernama sunan ampel.
    sedangkan arya damar juga sayyid masih mempunyai kekerabatan dengan campa dan melayu seriwijaya.
    arya damar tidak ada hubungannya dengan jawa apalagi dengan brawijayaV. arya damar adlah raja palembang. hubungan palembang dengan majapahit adlah setara bukan sebagai taklukkan. JANGAN LAGI DIKATAKAN PALEMBANG ADALAH TAKLUKKAN MAJAPAHIT TIDAK ADA PRASASTINYA DIPALEMBANG.
    kemudian ibu raden fatah ini setelah suaminya meninggal karena campa mendapat serangan dari cina /Khemer maka dia hendak menemui sunan ampel yang masih sepupunya. dan ketika berada dipalembang dinikahkanlah oleh sunan ampel dengan raja palembang yang bernama arya damar
    jadi pernikahan ibu raden fatah dengan arya damar ini juga kaffah ( sayyid dan syarifah/ keturunan rasulullah SAW). tidak ada sedikitpun hubungan dengan jawa baik itu raden fatah ataupun arya damar ataupun ibu raden fatah
    kalau raden patah di isukan anak brawijaya/ keturunan jawa sebenarnya adalah mungkin rekayasa wali songo untuk mendapat dukungan dari orang jawa dan sekalgus legitimasi sebagai ahliwaris majapahit/ brawijayaV. untuk mendirikan kerajaan islam dijawa yang rajanya adalah raden fatah

    ketika demak hancur maka keturunan raden patah kepalembang sebenarnya merka kepalembang pulang kampung. kareana memang palembang adalah negerileluhurnya, nenek moyang mereka memang orang palembang.
    demak itu bukanlah kelanjutan maja pahit. demak adalah perpanjangan tangan palembang.
    deamak menghancurkan jawa majapahit yang sudah pindah ke daha dengan raja girindra. girindra ini adalah menantu brawijaya V raja majapahit mojokerto. brawijaya V dan majapahit dimojokerto dihancurkan oleh daha. Dan raden fatah dengan pasukannya yang terdiri dari 80% orang palembang yang datang langsung dari palembang dan 20% santrri/ murid wali songo. demak belum punya tentara. demak belum jadi kerajaan. setelah demak menghancurkan maja pahit didaha dan membunuh girindra barulah kerajaan demak berdiri. peristiwa ini di gambarkan pasukan palembang datang menyerang majapahit daha bagaikan ombak yang bergulung gulung dan bagaikan air bah yang membumi hanguskan majaphit daha. peristiwa ini sama persis dengan peristiwa pralaya yang melenyapkan kerajaan medang dan membunuh semua pembesarnya yang mana medang pada waktu itu dihancurkan seriwijaya dan air langga lari ke bali

    JADI KERAJAAN DEMAK ITU BUKANLAH PEMBERIAN / WARISAN BRAWIJAYA V ATAU KELANJUTAN MAJAPAHIT. KERAJAAN ISLAM DEMAK ITU BERDIRI KARENA USAHANYA SENDIRI YAKNI perjuangan etapak demi setapak hasil kerja keras para WALI SONGO DAN PARA SANTRINYA/ MURID- MURIDNYA yang berasal dari seluruh nusantara terutama santri sunan ampel sunan kudus, sunan giri dan pesantren raden fatah itu sendiri, yaitu pesantren gelagah wangi. DAN PASUKKAN TENTARA PALEMBANG. PERANG ANTARA DEMAK DAN MAJAPAHIT DAHA PENGGING ITU ADALAH PERANG SABILILLAH ANTARA HIDUP DAN MATI. ANDAI DEMAK KALAH PADA WAKTU ITU MUNGKIN TIDAK AKAN PERNAH ADALAGI ISLAM DIJAWA sebab hindu majapahit daha pengging itu pasti menghabisi islam sampai keakar akarnya karena telah ketahuan ingin mendirikan kerajaan islam dijawa dan orang hindu majapahit daha pengging itu yang selamt lari kebali sama persis dengan peristiwa pralaya.. PAHAM KALIAN SUKU JAWA..
    pengiriman raden fatah dan raden husen ke jawa dari palembang itu adalah misi khusus arya damar dan wali songo.

    Adapun kemudian raden patah menjadi raja islam dijawa. tentu beranak pinak dan berasimilasi dengan suku jawa. Maka wajar keturunan raden fatah yang kesekian telah menggunakan bahasa keraton jawa sebagai bahasa keraton. Jadi wajar cicit-cicit raden patah yang kemudian ke palembang pasca hancurnya kerajaan demak yang kemudian mendirikan kesultanan palembang darussalam itu berbahasa keraton jawa. dan wajar pula kesultanan palembang darussalam ini mengatakan kalau kesultanan palembang darussalam adalah kesultanan melayu. karena memang asalnya dari melayu nenek moyang mereka memang orang melayu. dan wajar pula kesultanan palembang darussalam ini adalah kesultanan habaib/ para habib, karena kakek moyang mereka memang para habib/keturunan Rasulullah SAW dari mekkah sana. Tidak pernah kesultanan palembang darussalam ini mengatakan kesultanan jawa walaupun mereka berbahasa keraton jawa. Kalau mereka mengatakan kelanjutan demak ya betul.

    KITAB NEGARA KERTAGAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAHMADA, SUKU JAWA TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUANTARA, ASIA TENGGARA

    PERBEDAAN SERIWIJAYA DENGAN MAJAPAHIT
    Kedua kerajaan ini di kabarkan konon katanya adalah kerajaan besar yang menguasai nusantara.
    Cuman pertannyaan muncul apa benar? kalau benar apa buktinya?
    Tentu untuk membuktikannya adalah dengan bukti sejarah/ pakta sejarah otentik dan catatan2 asing yang sezaman dengan seriwijaya atau maja pahit yang netral yang tidak ada kepentingan. Kalau catatan belanda semuanya bohong tidak ada yang benar catatan belanda itu karena belanda jelas ada kepentingan untuk memecah belah dan menguasai nusantara. Dan belanda tidak tau zaman majapahit apalagi zaman seriwijaya, mana mungkin orang belanda bisa bercerita tentang majapahit apalagi seriwijaya.
    Sebagai bukti kalau belanda tukang pembohong. Orang belanda menulis sejarah islam pertama disebarkan dinusantara oleh orang gujarat Pada abad 13. Kenyataannya islam disebarkan pertama dinusantara langsung dari pusatnya yakitu mekkah dan madinah pada masa nabi Muhammad SAW. Bahkan Muawiyah pernah datang ke nusantara. Kerajaan islam pertama adalah samudra pasai padahal jauh sebelum samudra pasai sudah ada kerajaan islam perlak yang diserang oleh seriwijaya yang dalam peperangan itu sultan perlak gugur sebagai syuhada. Patahillah adalah syarip hidayatullah adalah sunan gunung jati padahal mereka adalah lain patahillah bukanlah syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Raja nusantara pertama yang beragama islam adalah marah siluh padahal raja islam pertama nusantara adalah seri indrawarman raja seriwijaya. Seriwijaya adalah seratus persen kerajaan budah. Padahal sesungguhnya kerajaan seriwijaya itu adalah kerajan budah, islam, hindu. Yang ketiganya salaing berebut pengaruh dan kekuasaan. Semua sejarah yang ditulis orang belanda tidak ada yang benar
    Kembali ke tantang seriwijaya dan majapahit yang katanya sama sama besar tetapi jika kita perhatikan dan teliti dan kaji lagi dengan koreksi kritis ada perbedaan yang mencolok antara seriwijaya dan maja pahit.
    Perbedaan itu antara lain
    1. Kalau majapahit lebih dulu menceritakan sumpah palapa gajah mada yang menguasai nusantara. Sumpah palapa itu sebenarnya baru rencana gajahmada untuk menyatukan nusantara. Berdasarkan rencana gajahmada itu langsung dimasukkan semua kewilayah majapahit dan peta wilayah majapahit sama persis dengan indonesia sekarang bahkan malaysia dimasukkan kewilayah majapahit. Padahal belum tentu berhasil cita cita gajah mada itu jangan2 gagal total
    2. Sedangkan seriwijaya lebih dulu berdasarkn prasasti dan catatan asing kalau wilayah itu telah dikuasai oleh seriwijaya. Dan peta wilayah seriwijaya hanya sebagian sumatra, jawa barat, sebagian kecil kalimantan barat dan malaysia.
    3. Kalau seriwijaya banyak sekali yang mengklaim bahkan semua mengklaim.
    4. Kalau majapahit satupun tidak ada yang mengklaim. Selain dari jawa timur bahkan madura saja enggan mengklaim majapahit. Padahal berdasarkan sejarah majapahit itu bisa tegak karena madura. Sunda juga malas mengklaim majapahit padahal ayah raden wijaya adalah orang sunda.
    Berdasarkan 4 poin ini mari sama-sama kita teliti lagi dengan koreksi kritis tentang kebesaran seriwijaya dan majapahit atau jangan-jangan bohong semua keduanya.

    1. Rencana gajah mada yang terkenal dengan sumpah palapanya yang tidak akan bersenang senang jikalau nusantara belum menjadi wilayah majapahit. Kemudian sertamerta peta wilayah majapahit adalah indonesia sekarang dan malaysia. Sekarang koreksi kritisnya. Tidak ada prasasti majapahit diwilayah itu atau tanda tangan gajah mada diwilayah wilyah yang disebutkan oleh gajah mada dalam sumpah palapanya itu kalau wilayah itu telah di serang atau ditaklukkan oleh gajah mada / majapahit kecuali hanya di bali bagian selatan saja. Itupun adityawarman yang menyerang dan menghabisi orang-orang bali itu. Yang pada awalnya adityawarman menyerang bali bagian utara dan gajah mada menyerang bali bagian selatan. Adityawarman lebih dulu kembali ke majapahit dengan membawa kepala raja bali sedangkan gajah mada gak tuntas tuntas menghadapi perlawanan bali. Bahkan kocar kacir gajah mada. Kemudian adityawarman kembali menyerang bali dan menghabisi raja bali gajah mada bukanlah panglima perang lapangan gajah mada ini lebih cendrung jendral konseptor/ahli strategi. Sedangkan panglima perang majapahit adalah adityawarman. Adityawarman-lah jendral lapangan ahli perang dilapangan. Entah apa jadinya majapahit kalau tidak ada adityawarman. Kemudian adalagi jasa panglima majapahit yaitu laksamana nala. Sebenarnya armada laut majapahit laksamana nala ini yang berperan bukan gajah mada.

    Sepertinya gajahmada ini orang penakut buktinya untuk menaklukkan pajajaran di negeri sunda gajah mada membawa pasukkan 15.000 untuk menghadapi rombongan calon penganten yang hanya berjumlah 300 orang sungguh sangat memalukan dan menjijikkan. Dan buktinyata pajajaran tidak pernah takluk kepada majapahit. Pajajaran masih eksis. Kapan gajahmada menyerang palembang tidak ada prasastinya di palembang tidak pernah majapahit menyerang palembang. Palembang masuk ke wilayah majapahit atas jasa adityawarman/arya dillah bukan dengan pertumpahan darah tetapi dengan diplomasi hubugan kekeluargaan. Begitu juga dengan dharmasraya atau sumatra barat tidak pernah gajah mada ke situ tetapi jasa adityawarman yang menjadikan sumatra barat menjadi wilayah majapahit. Tidak pernah pasukkan majapahit menghancurkan sumatra barat. Bahkan pasukan majapahit dibantai habis oleh adityawarman di sumatra barat ketika adityawarman mendirikan kerajaan pagarruyung. Dan majapahit mana berani menyerang adityawarman.
    Begitu juga malaysia tidak ada satupun prasasti majapahit di malaysia kalau malaysia menjadi wilayah majapahit/diserang dan dihancurkan oleh majapahit atau gajah mada.

    Bahkan di lampung saja tidak ada prasasti majapahit kalau lampung di taklukkan majapahit. Bahkan dalam catatan naskah jawa dikatakan si jawa raja majapahit, si sunda raja pajajaran, si lampung ratu balaw. Artinya ketiga kerajaan ini ada rajanya masing masing dan bukan wilayah majapahit. Dan ditulis dalam sejarah majapahit menyerang pemberontakan palembang. Sebenarnya yang melakukan pemberontakan itu bukan orang palembang tetapi bajak laut cina. Karena palembang telah menjadi sarang bajak laut cina di asia. Dan yang menumpasnya adalah laksamana cengho dengan membawa seluruh angkatan laut cina yang sangat besar yang terkenal dengan kisah pelayaran laksamana cengho. Sepertinya gajah mada itu tukang pembual. Besak mulut saje. Sumpah palapa itu sepertinya gagal. Dan dalam catatan luar tidak ada yang mengatakan majapahit itu sebesar yang di buat di peta wilayah majapahit itu. Dan dalam akhir hayat gajahmada sepertinya dia hidupnya tersisih dan terasing dan merana dikucilkan orang tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada sanak saudara, tidak ada teman. dan itulah sumpah palapa gajahmada yang tidak akan bersenang senang selama hidupnya sebelum wilayah nusantara dipersatukan dan untuk menebus rasa bersalahnya itu gajahmada memenuhi sumpahnya gajah mada mati dengan sangat memalukan dengan minum racun.

    Sekarang kita bandingkan dengan seriwijaya. Yang wilayahnya di gambarkan dipeta sebagian sumatra sebagian kecil kalimantan barat, jawa barat, dan malaysia. Dan ditulis dalam sejarah yang dimaksud bumi jawa yang di taklukkan seriwijaya itu adalah tarumanegara atau jelasnya adalah jawa barat. Tetapi prasasti kekuasaan kerajaan seriwijaya dan dinasti selendranya ada dimana mana. Jelas seluruh jawa adalah wilayah kerajaan seriwijaya dengan penguasa dinasti selendranya. Seluruh prasastinya ada. Jelas yang dimaksud bumi jawa oleh dapunta itu adalah jawa bukan jawa barat. Jaman dulu jawa barat itu adalah tanah sunda/bumi parahyangan/galuh. Sedangkan yang ditulis oleh dapunta adalah bumi jawa. Bahkan sebenarnya tanah sunda itu mengakui kedaulatan seriwijaya karena dapunta menikah dengan putri raja sunda. Sedangkan yang dihancurkan oleh dapunta adalah kerajaan kaling jawa tengah perasastinya terdapat di kabupaten batang jawa tengah. Kemudian keturunan raja galuh yang bernama sanjaya menyingkir ke jawa tengah karena mendapat desakan dari seriwijaya mendirikan kerajaan mataram hindu kemudian itupun dikuasai oleh dinasti selendra dan sebenarnya sanjaya pun adalah masih keturunan yang berasal dari galuh yang masih keturunan dinasti selendra/raja raja seriwijaya. Dan gelar gelar raja mataram hindu itu adalah rakai dan mengakui kedaulatan seriwijaya. Dan kerajaan mataram hindu itu dihancurkan oleh seriwijaya. Dan patih kerajan mataram hindu mpu sendok menyingkir ke jawa timur dengan mendirikan kerajaan medang. Jelas sudah musuh bebuyutan jawa adalah seriwijaya prasasti prasasti seriwijaya/ dapunta/ dinasti selendra yang berada dijawa itu berbahasa melayu rumpun pasemah sumatra selatan. Kemudian raja jawa timur ini yang bernama teguh darmawangsa nekat menyerang seriwijaya yang berakibat patal dengan serangan balik seriwijaya yang memusnahkan seluruh jawa timur. Satu satunya yang selamat adalah air langga yakni menantu darmawangsa, yang berasal dari bali. Sebenarnya itu sengaja dibiarkan oleh seriwijaya karena airlangga adalah keturunan seriwijaya juga karena seriwijaya juga menyerang bali dan mendirikan kerajaan bali dan prasastinya ada di bali artinya seluruh jawa dan bali adalah wilayah kerajaan seriwijaya ada prasastinya dan ada catatan dari luar tentang hal itu, kenapa dipeta wilayah seriwijaya hanya jawa barat saja yang dimasukkan.

    Kemudian dalam peta seriwijaya dimasukkan hanya sebagian kecil kalimantan barat. Padahal prasasti di kalimantan selatan menjelaskan kalau seriwijaya menguasai kalimantan selatan dengan kedatangan pasukaan seriwijaya di banjar yang berasimilasi dengan dayak . sedangkan majapahit kapan menyerang kalimantan tidak ada prasasti di kalimantan kalau majapahit pernah menyerang kalimantan. Begitu juga dengan sulawesi kapan gajah mada menyerang dan menaklukkan sulawesi di sulawesi satupun tidak ada prasasti kalau majapahit menyerang dan menaklukkan sulawesi. Apalagi maluku dan papua mana ada prasasti majapahit disitu kalau wilayah itu dihancurkan dan ditaklukkan gajahmada/majapahit. Satu satunya sumber tentang kebesaran wilayah majapahit hanyalah kitab negara kertagama yang mencatat rencana gajahmada yang bersumpah dihadapan maha rani majapahit tribuwana tunggadewi, yang terkenal dengan sumpah palapa. Itu baru rencana. Dan bila melihat akhir kehidupan gajah mada yang merana karena menanggung malu itu sepertinya rencana gajahmada itu gagal total.

    Kitab negara kertagama dan pararaton itu adalah karangan orang gila orang gak waras orang setres mpu prapanca itu adalah guru sepiritual kerajaan yang dipecat oleh hayam wuruk dan dibuang ke desa terpencil. Kitab itu untuk menjilat untuk mengambil hati hayam wuruk dasar tua bangka keparat mpu prapanca ini yang mengarang kitab semau mau jidat dia saja hal hal yang membesarkan dirinya sendiri ditulis dan hal hal yang mengagung agungkan majapahit tanpa ada bukti sedangkan kisah kisah sejarah perang bubat pemberontakan ranggalawe sedikitpun tidak di sebut sebut. Mpu penjilat ini memasukkan semua wilayah yang disebut oleh gajah mada dalam rencana gajah mada itu ke dalam majapahit. Padahal itu baru rencana gajah mada dan rencana itu gagal total. Jangankan menguasai nusantara menguasai jawa timur saja maja pahit tidak bisa. Maja pahit itu dibagi dua sebelah timur adalah kerajaan lumajang dengan rajanya arya wira raja sebagaimana sumpah raden wijaya yang akan membagi dua maja pahit dengan arya wira raja jika berhasil menggulingkan jaya katwang. Karean atas pertolongan dan jasa arya wira raja. Dan sampai majapahit lenyap di bumi, lumajang tetap merdeka. Apa lagi sulawesi, kalimantan, sumatra, maluku, papua sedikitpun tidak ada hubungannya dengan majapahit.

    Dasar besar omong saja si gajah mada ini. Kalau sumatra itu adalah wilayah aditya warman/ arya damar. Dan semua orang maja pahit dibantai habis oleh adityawarman bagaimana bisa dikatakan kalau sumatra adalah wilayah majapahit orang orang maja pahit dicincang oleh adityawarman. Bahkan 10 kali lebih besar pagarruyung daripada majapahit. Maja pahit hanyalah seujung kuku pagarruyung , hanya sebagian jawa timur, bali, lombok saja wilayah majapahit itu. Itupun keluarga adityawarman yang menaklukkannya dan menguasainya bukan gajah mada. Gajah mada adalah si besar mulut dan penakut dan pengecut dan licik, sedangkan mpu prapanca sipengarang kitab dongeng negara kertagama adalah si penjilat dan orang setres.karena dipecat dari jabatannya sebagai resi kerajaan.

    Kalau dikatakan majapahit yang menyerang dan menghancurkan seriwijaya itu adalah salah besar ketara betul orang itu bodoh gak punya otak di zaman majapahit sudah tidak adalagi kerajaan seriwijaya bodoh. Yang ada dharmasraya dan pagarruyung yang raja-rajanya adalah keturunan seriwijaya/berasal dari seriwijaya. Dan seriwijaya sudah bukan di palembang lagi pusatnya.

    2. Perbedaan yang mendasar antara seriwijaya dan majapahit adalah seriwijaya di setiap wilayah kekuasaannya selalu ada prasastinya kalau wilayah itu telh diserang dan ditaklukkan oleh seriwijaya. Dan hampir semua wilayah taklukkan seriwijaya itu di peroleh dengan jalan peperangan hanya sunda saja dengan jalan damai yak ni pernikahan dapunta dengan putri sunda. Sedangkan majapahit gagal memperistri putri sunda akibat ulah gajah mada. Dan pajajaran tidak pernah mengakui kedaulatan majapahit atas tanah sunda. Dan pajajaran masih tetap exis berbarengan dengan majapahit. Sedangkan seriwijaya yang memperistri putri tarumanegara menakibatkan hilangnya kerajaan tarumanegara. Tarumanegara tidak pernah ada lagi setelah pernikahan dapunta dengan putri sunda itu. Sedangkan wilayah majapahit sebagian besar diperoleh dengan jalan diplomasi sepertinya hanya bali dan pumbawa saja yang diperoleh dengan jalan peperangan.
    3. Perbedaan ketiga yang mendasar antara seriwijaya dan majapahit adalah seriwijaya banyak sekali yang mengklaim bahkan hampir semua wilayah yang ditaklukkan seriwijaya mengklaim seriwijaya. Ini adalah sebagai bukti kalau wilayah itu benar benar menjadi wilayah kerajaan seriwijaya. Semakin banyak yang mengklaim seriwijaya maka semakin luas pula wilayah seriwjaya itu sesungguhnya. Padahal sudah jelas seriwijaya itu terletak dan berasal dari wilayah/kerajaan yang berada di antara kerajaan melayu (jambi sekarang) dan kerajaan tulang bawang (lampung sekarang) jadi antara kerajaan melayu dan kerajaan tulang bawang/antara jambi dan lampung itu lah seriwijaya yang sesungguhnya. Tetapi masih banyak yang mengklaimnya membuktikan kalau wilayah itu benar benar wilayah seriwijaya.
    4. Majapahit satupun tidak ada yang mengklaim. Sunda saja tidak mau padahal ayah raden wijaya (raja pertama majapahit) adalah orang sunda. Kenapa sunda tidak mau mengakui majapahit karena sunda bukan wilayah majapahit sampai majapahit lenyap sunda tetap ada. Jangankan sunda, madura saja tidak mau mengakui majapahit dan madura sampai majapahit runtuh tetap merdeka bukan wilayah majapahit. Jangankan madura, lumajang saja bukan wilayah majapahit, apa lagi sulawesi, kalimantan, sumatra, maluku, papua. Dan bali beserta lombok yang menaklukkan dan menguasainya adalah keluarga adityawarman. Mana gajah mada besar mulut aja. Gajah mada pernah dua kali menyerang pajajaran kedua duanya gagal hampir semua pasukkan gajah mada dibantai lari terbirit birit. Sebenarnya gajah mada menghadang rombongan penganten diyah pitaloka putri seri baduga yang bejumlah 300 orang sedangkan gajah mada membawa 15.000. Bayangkan apa tidak gila dan kalap gajah mada ini. Sebenarnya gajah mada ini adalah dendam dengan pajajaran yang telah meluluh lantahkan pasukkannya dulu.

    Adityawarman datang ke pajajaran untuk minta ma’af atas nama majapahit. Adityawarman ini adalah anak dari dara jingga dengan abyabrahman dan aditya warman adik cakra dara cakra dara adalah ayah hayam wuruk jadi adityawarman adalah pak cik nya hayam wuruk. Wajar adityawarman mewakili hayam wuruk selaku keponakannya untuk minta ma’af kepada pajajaran. Dara jingga adalah kakak dara petak, dara petak adalah istri raden wijaya dan ibu jayanegara. Dara petak dan dara jingga adalah putri kerajaan dharmasraya yang berasal dari keturunan raja-raja seriwijaya.

    Ya sumatra ditaklukkan adityawarman/arya damar/arya dillah dan nenek moyangnya di dharmasraya dan seriwijaya. Tapi kemudian adityawarman tidak pernah tunduk kepada majapahit dan mendirikan kerajaan pagarruyung. Jadi sumatra bukanlah wilayah majapahit tetapi wilayah adityawarman dan pagarruyung.
    Jangan pernah lagi jawa mengatakan semua nusantara adalah majapahit, semua nusantara ditaklukkan oleh gajah mada sebelum ada prasastinya yang membuktikan kalau wilayah itu telah di taklukan oleh gajah mada atau telah menjadi wilayah majapahit. Jangan dikira kitab negara kertagama itu benar isinya kitab itu adalah kitab penjilat. Jangan dikira gajahmada itu berhasil mewujudkan hayalannya dalam ucapan sumpah palapa itu. Dan kitab negara kertagama itu karangan siorang gila yang bernama mpu prapanca itu adalah karang- karangan mpu prapanca saja

    Ya sekarang orang jawa bisa banga karena jumalah penduduk terbesar di indonesia. Tetapi jangan lupa jawa secara willayah adalah minoritas, hanya 3 propensi ( jawa tengah, jogja, jawa timur) jawa barat bukan lagi suku jawa tetapi sunda, banten, betawi. Dan madura bukan lagi suku jawa tetapi suku madura. Bandingkan dengan 33 propensi di indonesia. Dan indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat Sebagai bangsa yang dijajah oleh belanda, sebagai masyarakat kelas 3/ bumi putra/ kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan jawa, rakyat dari sabang sampai meroke mempunyai hak kewajiban yang sama atas indonesia. Kamu orang suku jawa jangan pernah bepikir presiden harus suku jawa buang jauh- jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar indonesia.
    Timor leste/ timor timur mereka sebenarnya bukan menbenci indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai indonesia. Tetapi orang2 timor leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku jawa. Begitu juga papua, maluku/ RMS, sulawesi/ permesta, aceh/ GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai indonesia. Tetapi merka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku jawa. Begitu juga malaysia dan singapura tau mereka darimana asal mereka mereka sangat menghormati indonesia terlebih palembang, minang kabaw, bugis, aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku jawa. Semua orang benci dengan jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti ken arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negara kerta gama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajahmada dan suku jawa.

    Kartu Jawa Kartu Majapahit Yang Pegang Adalah Orang- Orang Yang Menjadi Cikal Bakal Seriwijaya Yaitu Propensi Sumatera Selatan Dan Bengkulu. Apa Mau Dibuka???????????????
    Bukti sejarah yang paling kuat adalah prasasti dibatu dan istana. Kedua dunya tidak ada dinusantara prasasti majapahit kecuali dibali dan lombok saja. Itupun bergandeng dengan aditya warman dan saudara- saudaranya.
    adapun tentang kitab negara kertagama itu adalah buku karangan mpu prapanca. Mengarang buku siapa saja bisa dan mengarang buku bisa sambil tidur sambil mimpi dan sambil menghayal dan semau mau pengarang. Dan bisa hanya berada didalam kamar saja kalau mengarang buku entah benar entah tidak
    sedangkan prasasti di batu tidak bisa asal tulis saja kalau tempat itu belum ditaklukkan . Bunuh orang kalau asal tulis saja, asal ancam, saja, asal kutuk saja tempat orang kalau belum wilayah itu benar- benar telah ditaklukkan.. dan membuat prasasti dibatu tidak bisa sambil tidur, sambil mimpi, sambil menghayal.
    Mana prasasti gajah mada yang menegaskan kalau wilayah wilayah husantara telah ditaklukkan oleh gajah mada gak ada, cuman di Bali dan lombok saja, itu juga aditya warman yang menaklukkan dan menguasainya.
    Gajah mada mati dalam keadaan hina, tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada kawan tidak ada pengikut, tidak ada saudara. Itulah akibat orang besar omong hingga akhirnya makan sumpah nya sendiri.
    Mungkin setelah peristiwa bubat kesabaran hayam wuruk habis sehingga gajah mada diusir oleh hayam wuruk. Karena satupun tidak ada yang terbukti sumpah palapa itu ditambah pula dengan peristiwa bubat yang sangat memalukan majapahit.
    Dan untuk mengingatkan hayamwuruk akan jasa gajah mada yang telah menyelamatkan jaya negara dan menumpas pembrontakan rakuti walaupun sumpah palapa itu gagal ditulislah negara kerta gama oleh seorang empu penjilat situa bangka keparat yang bernama prapanca.
    Kalian suku jawa menggung agungkan ken arok, wikramawardana, jakatingkir dan melecehkan tunggul ametung, bre wirabumi, arya penangsang.
    Kalian tau tidak siapa kenarok, wikramawrdan, jaka tingkir
    Ken arok adalah manusia paling bejat didunia, manusia iblis,licik, culas, tak tau balas budi, gila kekuasaan gila pangkat, tukang berzina dengan istri majikan, pembunuh majikan/ suami kendedes, pembunuh kebo ireng dengan pitnah keji, pembunuh mpu gandring gurunya sendiri yang membuatkan keris mpu gandring, tukang pitnah, itu nenek moyang kamu orang suku jawa yang kalian agung agungkan .
    Berhati- hatilah dengan orang jawa yang menjadi pembantu, tukang kebun, sopir, selip sedikit bisa berzina istri dengan pembantu/ pelayan , sopir, tukang kebun orang jawa. Belajarlah dari sejarah ken arok dan kendedes. Sebenarnya raja2 singao sari dan maja pahit itu darah tunggul ametung lebih kental daripada darah kenarok. Kerta negara adalah anak rangga wuni. Ranggawuni adalah anak anusapati, anusa pati adalah anak tunngul ametung. Gayatri adalah anak kerta negara berarti keturunan gayatri adalah keturunan tunggul ametung. Sedangkan raden wijaya ayahnya adalah orang sunda tidak ada sedikitpun hubungan dengan ken arok. Garis keturunan kenarok dari pihak ibu raden wijaya yaitu dyah lembutal. Dyah lembutal anak singamurti singamurti adalah ank mahisa wong ateleng. Mahisa wong ateleng adalah anak ken arok.
    Raden wijaya menikah dengan dara petak putri dharmasraya yang keturunan raja raja seriwijaya. Mempunyai putra bernama jaya negara ( raja kedua maja pahit)
    Kakak dara petak yang bernama darajingga kawin dengan abya brahman berputra cakra dara, arya damar/ aditya warman, arya sentong, cakra dara kawin dengan ratu tribuwana tungga dewi, jadi arya damar/ aditya warman, arya sentong adalah adik ratu/ maha rani tribuwana tungga dewi sekaligus menjadi ipar tribuwana tungg dewi.cakra dara dan tribuwana tunggadewi berputra yang bernama hayam wuruk. Hayam wuruk berputri kusumawardani. Kemudian cakra dara kawin lagi dan berputra yang bernama raden sotor. Raden sotor berputra bernama prameswara yang menjadi raja malaka.
    Hayam wuruk kawin lagi berputra brewirabumi. Jadi brewirabumi, kusumawardani, prameswara adalah bersaudara, kakek mereka sama yaitu cakra dara. Cakra dara anak darajingga, darajingga anak raja dharmas raya. Dharmasraya berasal dari raja raja seriwijaya. Seriwijaya berasal dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah( wilayah gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musirawas/ lubuk linggau, musi ulu, musi banyu asin, kubu rawas, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, manak, padang guci/ wilayah propensi sumatera selatan dan Bengkulu).
    Kalau kusumawardani dan wirabumi saudara satu ayah. Kusuma wardani dan wirabumi saudara satu kakek dengan prameswara.
    Brewirabumi dan prameswara tidak mempermasalahkan kusuma wardani. Tetapi yang membuwat brewirabumi dan prameswara naik darah ngapain wikramawardana yang menjadi raja maja pahit.
    Kalau kusumawardani adlah putri hayam wuruk dan cucu cakra dara sama dengan brewirabumi dan prameswara cucu cakra dara. Tapi wikramawardana siapa??? Damarwulan. Gak ada hubungannya sedikitpun dengan majapahit.
    Cakra dara kakek kusumawardani, berewirabumi, prameswara tidak menjadi raja majapahit. Tau diri cakradara. Tetap istrinya yang menjadi maha rani tribuwana tunggadewi. Lah wikramawardana datang datang jadi raja maja pahit sungguh taktau diri taktau malau. WAJAR BRE WIRABUMI DAN PRAMESWARA NAIK DARAH DAN BERSATU MEMERANGI WIKRAMAWARDANA.
    Dan bila melihat garis leluhur prameswara dari cakra dara, darajingga, dharmasraya, seriwijaya, wajar prameswara mengaku keturunan palembang yang berasal dari raja- raja seriwijaya. Ketika prameswara lari ke tumasik/ singapura disana berkuasa gubernur kerajaan siyam yang mana tumasik adalah wilayah kerajaan siyam mana ada tumasik masuk wilayah majapahit palak bapak gajah mada dan mpu prapanca saja gila memasukkan tumasik wilayah majapahit.. Kemudian gubernur kerajaan siyam yang berkuasa di tumasik itu dibunuh oleh prameswara kemudian lari ke malaysia dan mendirikan kerajaan malaka. Adapaun kemudian prmeswara beragama islam karena leluhurnya dari seriwijaya memang sudah banyak yang beragama islam. Arya damar, seri indra warman ( raja kedua seriwijaya) beragama islam. Dan seriwijaya itu sebenarnya adalah kerajaan budah, islam, hindu, yang ketiganya berebut pengaruh dan kekuasaan.
    Sekarang jaka tingkir yang bagi orang jawa diagung- agungkan dan orang jawa melecehkan arya penangsang. Jaka tingkir itu adalah manusia sombong, licik, culas, gila kekuaaan, gila pangkat, taktau malu, taktau diri. Siapa jaka tingkir? Tidak ada sedikitpun mempunyai hubungan darah dengan demak/ raden patah. Jaka tingkir hanyalah menantu terenggono.
    Sedangkan arya penangsang adalah cucu raden patah anak sedainglepen. Setelah wapat pati unus seharusnya yang menjadi raja demak adalah adiknya yang kedua / sedoing lepen/ ayah arya penangsag karena pati unus tidak mempunyai keturunan. Tapi sedoing lepen dibunuh prawoto anak trenggono. Sehingga ayah prawoto/ adik sedoing lepen yang menjadi raja yaitu ternggono. Wajar arya penangsang membunuh prawoto orang yang telah membunuh ayahnya. Arya penangsang tidak membunuh trenggono/ adik ayahnya/ pamannya. Setelah wapat ternggono maka lebih berhak arya penagsang daripada putri trenggono. Wajar arya penangsang yang menjadi raja demak tetapi kenapa jaka tingkir ikut campur. Kenapa jaka tingkir yang ingin menjadi raja/ sultan. Putri ternggono saja/ istri jaka tingkir saja tidak mau menjadi ratu/ sultanah dia tau arya penangsang jauh lebih berhak daripada dia. Lalu kenapa jaka tingkir yang menjadi raja/ sultan, dasar tak tau diri tak tau malau jaka tingkir ini. Wajar arya penangsang naik darah dengan jaka tingkir.
    Kata orang jawa arya penangsang mati kena kerisnya sendiri padahal arya penagsang selamat pergi ke sumatra selatan kedaerah komering dan ogan ilir dan prabu mulih dan keturunanya banyak di prabumulih dan ogan ilir sumatra selatan.
    Pada saat seminar nasional tentang peradaban rumpun suku bangsa pasemah sebagai pendahulu serwijaya yang diadakan di kota pagar alam sumatera selatan raja bali dan seri sultan HBX datang.
    Untung saja sultan jawa ini dan raja bali ini tidak membantah. Seandainya membantah bisa kehilangan muka raja jawa dan raja bali ini. Bisa diungkit semua bagaimana bali dan jawa itu bagaimana hubungannya dengan rumpun pasemah, apa isi prasasti sojomerto batang jawa tengah apa ada bahasa jawa disitu yang menuliskan nama dapunta selendra tulen prasasti itu berbahasa melayu rumpun pasemah . unutung sultan jawa ini baik malah mengadakan silaturahmi dengan tokoh- tokoh rumpun pasemah baik yang berada disumsel dan bengkulu, Malah seri sultan HBX mengatakan kalau dia dan keluarganya berasal dari rumpun pasemah dan datang kepagar alam- sumsel adalah pulang kampung. Adapun tentang asal usul seriwijaya perlu penelitian lagi. Sedangkan raja bali sepertinya sedih dan kecewa karena jejak hindu budah pada masyarakat rumpun pasemah sebagai asal usul dapunta selendra lenyap sama sekali dan telah menjadi masyarakat islam semua. Sedangkan bukti- bukti tentang rumpun pasemah sebagai asal usul seriwijaya dan dapunta selendra sudah sangat jelas kalau masih ingin diteliti lagi tambah bagus. Tapi teliti lagi juga semua seluruh sejarah di Indonesia termsuk teliti lagi juga maja pahit yang katanya menguasai nusantara sedangkan tidak ada bukti kebesaran majapahit, baik itu prasasti gajah mada/ maja pahit ditempat tempat yang disebut dalam hayalan gajah mada dan ditulis mpu prapanca dalam kitab negara kerta gama, istana maja pahit tidak ada, Satu satunya rujukan majapahit hanya kitab dongeng Negara kerta gama saja, yang menulis rencana dan hayalan gajah mada.
    Kalau ada prasastinya mana?????????????????
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????

    Kamu orang orang suku jawa tidak usah banya tingkah semua kerajaan dijawa itu berasal dari sunda semua . gak ada kerajaan dan raja dijawa apa lagi dijawa timur. Baru ada setelah empu sendok lari kejawa timur baru ada kerajaan dijawatimur itupun dimusnahkan oleh kerajaan seriwijaya. kalau mataram hindu itu berasal dari sunda dari galuh tanah sunda. siapa sanjaya itu?? anak sana raja galuh tanah sunda.
    Gak ada kerjaan gak ada raja dijawa. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya semua. Dari arah barat kerajaan2 dijawa itu dari banten, sunda, jawa tengah terakhir jawa timur dan sekarang yang paling akhir jogja dan solo. Kamu suku jawa gak usah gaya. Selendra dijawa itu adalah orng orang seriwijaya yang menikah dengan orang- orang sunda itulah yang menjadi raja- raja dijawa itu paham kalian suku jawa ( jawa tengah, jogja, jawatimur) dinasti selendra berasal dari jawa dari mana dari hongkong. Gak ada kerajaan gak ada raja dijawa itu dulu. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya. Kerajaan kaling itu lenyap dihancurkan seriwijaya.
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????
    putra sumsel | 12 Januari 2014 pada 20.00

    0

    0

    Rate This

    KITAB NEGARA KERTA GAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAH MADA, SUKU JAWA. TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUSANTARA DAN ASIA TENGGARA..

    DIBAWAH INI ADALAH BUKTI KALAU BALI ADALAH WILAYAH SERIWIJAYA.
    Shri Kesari Warmadewa adalah Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali, Indonesia dari Tahun 882 M s/d 914 M.
    Dalem Shri Kesari pendiri Dinasti Warmadewa di Bali. Raja dinasti Warmadewa pertama di Bali adalah Shri Kesari Warmadewa [ yang bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha] yang dikenal juga dengan Dalem Selonding, datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, beliau berasal dari Sriwijaya(Sumatra) di mana sebelumnya pendahulu beliau dari Sriwijaya telah menaklukkan Tarumanegara( tahun 686) dan Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah/Semarang sekarang. Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra( dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali.

    Di dalam sebuah kitab kuna yang bernama “Raja Purana”, tersebutlah seorang raja di Bali yang bernama Shri Wira Dalem Kesari dan keberadaan beliau dapat juga diketahui pada prasati ( piagam ) yang ada di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuna, sebagian mempergunakan bahasa Bali kuna dan sebagian lagi mempergunakan bahasa Sansekerta. Tulisan-tulisan itu menyebutkan nama seorang raja bernama “Kesari Warmadewa”, beristana di Singhadwala. Tersebut juga di dalam tulisan bilangan tahun Isaka dengan mempergunakan “Candra Sengkala” yang berbunyi : “Kecara Wahni Murti”. Kecara berarti angka 9, Wahni berarti angka 3 dan Murti berarti angka 8. Jadi Candra Sekala itu menunjukan bilangan tahun Isaka 839 ( 917 M ). Ada pula beberapa ahli sejarah yang membaca bahwa Candra Sengkala itu berbunyi “Sara Wahni Murti”, sehingga menunjukkan bilangan tahun Isaka 835 ( 913 M ). Pendapat yang belakangan ini dibenarkan oleh kebanyakan para ahli sejarah.
    Dengan terdapatnya piagam tersebut, dapatlah dipastikan bahwa Shri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Shri Kesari Warmadewa yang terletak di lingkungan Desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M s/d 914 M, seperti tersebut di dalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan di Desa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli (di Pura Kehen), Gobleg dan Angsari. Memperhatikan gelar beliau yang mempergunakan sebutan Warmadewa, para ahli sejarah menyimpulkan bahwa beliau adalah keturunan raja-raja Syailendra di Kerajaan Sriwijaya (Palembang), yang datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Budha Mahayana. Sebagaimana diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah menjadi pusat Agama Budha Mahayana di Asia Tenggara kala itu.
    Beliau mendirikan istana di lingkungan desa Besakih, yang bernama Singhadwala atau Singhamandawa, Baginda amat tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau terdapat di situ bernama “Pemerajan Selonding”. Ada peninggalan beliau sebuah benda besar yang terbuat dari perunggu, yang merupakan “lonceng”, yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para Biksu-Biksu Budha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama “Pura Penataran Sasih”
    Pada zaman pemerintahaan beliau penduduk Pulau Bali merasa aman, damai, dan makmur. Kebudayaan berkembang dengan pesat. Beliau memperbesar dan memperluas Pura Penataran Besakih, yang ketika itu bentuknya masih amat sederhana. Keindahan dan kemegahan Pura Besakih hingga sekarang tetap dikagumi oleh dunia.
    Shri Kesari Warmadewa merupakan tokoh sejarah, ini bisa dibuktikan dari beberapa prasasti yang beliau tinggalkan seperti Prasasti Blanjong di Sanur, Prasasti Panempahan di Tampaksiring dan Prasasti Malatgede yang ketiga-tiganya ditulis pada bagian paro bulan gelap Phalguna 835 S atau bulan Februari 913. Shri Kesari Warmadewa menyatakan dirinya raja Adhipati yang berarti dia merupakan penguasa di Bali mewakili kekuasaan kerajaan lain yaitu Sriwijaya. Kemungkinan beliau adalah keturunan dari Balaputradewa, hal ini berdasarkan kesamaan cara penulisan prasasti , kesamaan dalam menganut agama Budha Mahayana dan kesamaan nama dinasti Warmadewa.
    Raja-raja Dinasti Warmadewa Di Bali
    1. 882M – 914M Shri Kesari Warmadewa
    2. 915M – 942M Shri Ugrasena
    • Setelah pemerintahan Sri Kesari Warmadewa berakhir, tersebutlah seorang raja bernama Sri Ugrasena memerintah di Bali. Walaupun Baginda raja tidak memepergunakan gelar Warmadewa sebagai gelar keturunan, dapatlah dipastikan, bahwa baginda adalah putra Sri Kesari Warmadewa. Hal itu tersebut di dalam prasasti-prasasti (aantara lain Prasasti Srokadan) yang dibuat pada waktu beliau memerintah yakni dari tahun 915 s/d 942, dengan pusat pemerintahan masih tetap di Singha-Mandawa yang terletak di sekitar desa Besakih. Prasasti-Prasasti itu kini disimpan di Desa Babahan, Sembiran, Pengotan, Batunya (dekat Danau Beratan), Dausa, Serai (Kintamani), dan Desa Gobleg.
    3. 943M – 961M Shri Tabanendra Warmadewa
    • Baginda raja Sri Tabanendra Warmadewa yang berkuasa di Bali adalah raja yang ke tiga dari keturunan Sri Kesari Warmadewa. Baginda adalah putra Sri Ugrasena, yang mewarisi kerajaan Singhamandawa. Istri Baginda berasal dari Jawa, adalah seorang putri dari Baginda Raja Mpu Sendok yang menguasai Jawa Timur. Di dalam prasasti yang kini tersimpan di Desa Manikliyu (Kintamani), selain menyebut nama Baginda Sri Tabanendra Warmadewa, dicantumkan pula nama Baginda Putri. Beliau memerintah dari tahun 943 s/d 961.
    4. 961M – 975M Shri Candrabhaya Singha Warmadewa
    5. 975M – 983M Shri Janasadhu Warmadewa
    6. 983M – 989M Shri Maharaja Sriwijaya Mahadewi
    7. 989M – 1011M Shri Udayana Warmadewa (Dharmodayana Warmadewa)- Gunaprya Dharmapatni
    • Shri Udayana Warmadewa, menurunkan tiga putra:
    o 1. Airlangga
    o 2. Marakata
    o 3. Anak Wungsu
    8. 1011M – 1022M Shri Adnyadewi / Dharmawangsa Wardhana
    9. 1022M – 1025M Shri Dharmawangsa Wardhana Marakatapangkaja
    10. 1049M – 1077M Anak Wungsu
    11. 1079M – 1088M Shri Walaprabu
    12. 1088M – 1098M Shri Sakalendukirana
    13. 1115M – 1119M Shri Suradhipa
    Sumber
    • Buku “Riwayat Pulau Bali Dari Djaman Ke Djaman”, Disusun oleh: I Made Subaga, Gianyar – Bali
    • Sejarah Bali. Nyoka, Penerbit & Toko Buku Ria, Denpasar, 1990.
    • Ardana, I Gusti Gede,[1988], Udayana, Peranannya dalam Sejarah Bali pada Abad X, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
    • Munoz, Paul Michel[2009], Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia, Penerbit Mitra Abadi, Yogyakarta

    KENAPA WILAYAH SERIWIJAYA HANYA JAWA BARAT SAJA????
    BAHASA SERIWIJAYA (MELAYU RUMPUN PASEMAH) BANYAK YANG TERSISA DI BALI
    SEPERTI ade= ada, juge= juga, au= ya, marge= marga dan semua bahasa bali berujung e.

    • pada saat peristiwa pralaya yang mana kerajaan jawa timur beserta raja dan seluruh keturunannya dan pembesar2nya dibantai habis oleh seriwijaya. hanya air langga seorang yang dibiarkan hidup oleh seriwijaya yang menjadi menantu darmawangsa. karena air langga berasal dari darah seriwijaya. yang kemudian air langga menikah dengan putri seriwijaya pula. yang keturunannya menjadi raja2 kahuripan, jenggala, panjalu, dan menjadi kerajaan kediri, yang salah satu keturunan darah kediri adalah tunggul ametung, keturunan tunggul ametung adalah raja raja singa sari dan raja2 maja pahit. paham kamu suku jawa. kamu suku jawa mau kwalat durhaka dengan orang2 sumatra.
    Reply

    putra sumsel on January 11, 2014 at 9:39 pm said:
    Your comment is awaiting moderation.
    pada saat adityawarman dan gajahmada menaklukkan bali aditya warman tidak mau menyerang bali selatan karena raja rajanya adlah keturunan langsung seriwijaya. gajah mada yang sangat bersemangat menyarang bali selatan.
    aditya warman membunuh raja bali utara yang masih wilayah bali selatan. gajah mada kalah oleh orang bali keturunan seriwijaya. gajah mada mundur stelah aditya warman datang aditya warman langsung menyerang bali tanpa sepengetahuan gajah mada. karena sama2 berdarah seriwijaya dengan aditya warman raja bali itu mengakui aditya warman dan diajak kemaja pahit oleh aditya warman. pada saat dibali itu gajah mada sudah kehilangan muka. dan benih2 permusuhan aditya warman denagan gajah mada semakin meruncing.
    karena aditya warman mencurigai kematian jaya negara raja maja pahit kedua yang merupakan sepupu aditya warman ( anak bibi aditya warman) adalah konspirasi gajah mada dan tribuwana tunggadewi. atas ini pula adityawarman kemudian melawan majapahit.
    yang membunuh jaya negara adalah ratanca atas perintah gajah mada. buktinya gajah mada langsung membunuh ratanca tanpa diadili terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak.
    paham kamu suku jawa

    Ya sekarang orang Jawa bisa bangga karena jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Tetapi jangan lupa Jawa secara wilayah adalah minoritas, hanya 3 propensi (Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur), Jawa Barat bukan lagi suku Jawa tetapi Sunda, Banten, Betawi. Dan Madura bukan lagi suku Jawa tetapi suku Madura. Bandingkan dengan 33 propensi di Indonesia. Dan Indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat sebagai bangsa yang dijajah oleh Belanda, sebagai masyarakat kelas 3/bumiputra/kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah Indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan Jawa, rakyat dari sabang sampai merauke mempunyai hak kewajiban yang sama atas Indonesia. Kamu orang suku Jawa jangan pernah berpikir presiden harus suku Jawa. Buang jauh-jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar Indonesia.

    Timor Leste/Timor Timur mereka sebenarnya bukan menbenci Indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa Indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai Indonesia. Tetapi orang2 Timor Leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku Jawa. Begitu juga Papua, Maluku/RMS, Sulawesi/Permesta, Aceh/GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai Indonesia. Tetapi mereka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku Jawa. Begitu juga Malaysia dan Singapura tau mereka darimana asal mereka. Mereka sangat menghormati Indonesia terlebih Palembang, Minangkabaw, Bugis, Aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku Jawa. Semua orang benci dengan Jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku Jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti Ken Arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku Jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negarakertagama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajah mada dan suku jawa.

    KALAU ORANG JAWA MENYEBAR DIMANA MANA BUKAN KARENA MAJAPAHIT TELAH MENAKLUKANNYA. SEPERTI DI MALAYSIA BANYAK SUKU JAWA BUKAN BERARTI MALAYSIA ITU DITAKLUKKAN OLEH MAJAPAHIT GAK ADA PRASASTI MAJAPAHIT DI MALAYSIA. BEGITU JUGA ORANG JAWA BANYAK DI PAPUA PHILIPINA, ALIRAN SILAT KALI MAJAPAHIT PHILIPINA ITU BUKAN BERARTI PHILIPINA ITU TELAH DITAKLUKAN MAJAPAHIT OLEH GAJAH MADA SEBAB TIDAK ADA PRASASTI GAJAH MADA ATAU MAJAPAHIT DI PHILIPINA. ALIRAN SILAT KALI MAJAPAHIT ITU ADALAH SILAT YANG BERASAL DARI JAWA YANG DIBAWA KE PHILIPINA BUKAN PADA ZAMAN MAJAPAHIT. SEPERTI ALIRAN2 SILAT LAIN DIMANAPUN TEMPATNYA TETAP MEMBAWA ASALNYA DARIMANA SEPERTI WUSHU DISELURUH DUNIA TETAP WUSHU, BEGITU JUGA TAKWONDO, KUNTAU KUNGFU WINGCUN. ADA DIMANA-MANA BUKAN BERARTI TEMPAT ITU TELAH DITAKLUKAN OLEH CINA/KOREA.
    BEGITU JUGA ORANG JAWA ADA DI SURINAME. BUKAN BERARTI SURINAME TELAH DITAKLUKKAN MAJAPAHIT/GAJAH MADA. ORANG JAWA DISITU ADALAH BUDAK YANG DIPAKSA OLEH BELANDA. SAMPAI SEKARANG SURINAME ITU MASIH JAJAHAN BELANDA.

  4. kini kitab negara kerta gama itu telah diakui oleh unesco PBB. sebagai warisan dunia. jikalau benar kitab negara kerta gama itu untuk apa????
    hanya merupakan kebanngaan sejarah masa lalu suku jawa saja. sebab indonesia bukan negara jawa, bukan pula majapahit.

    • Ini orang ngaku putra sumsel bikin blog sendiri dengan bahasa yang baik…udah marah-marah, memaki-maki dan mengutuk, mana ada yang dengar ma anda…

  5. Reblogged this on Surya's Blog.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.686 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: