Oleh: hurahura | 29 Desember 2010

Benarkah Orang Jaman Dulu Bisa Terbang?

Erabaru.net, Rabu, 22 Desember 2010 – Sejak abad ke-16, orang Eropa mengenal layang-layang. Namun sebetulnya masyarakat di Tiongkok sudah mulai mengenalnya sejak abad ke-4 dan ke-5 Sebelum Masehi.

Lu Ban, yang hidup pada 500 S.M., dianggap sebagai dewa pelindung para pekerja. Dia sangat cekatan sejak kecil. Salah satu kemampuannya adalah membuat aneka macam layang-layang yang cantik. Ketika beranjak dewasa, ia belajar membangun jembatan, menara dan rumah dari ayahnya yang juga seorang tukang kayu. Dia sangatlah terkenal di kampung halamannya.

Setelah menikah, Lu Ban diundang oleh seorang bhiksu untuk membangun pagoda, yang terletak sangat jauh dari rumahnya. Untuk menyelesaikannya dibutuhkan waktu yang lama yaitu dua tahun penuh. Lu Ban sangat khawatir akan keadaan orang tuanya, selain itu, ia juga sangat rindu dengan istri yang baru dinikahinya.

Dia pun berpikir bagaimana caranya pulang ke rumah tanpa mengganggu pekerjaannya. Ia terinspirasi oleh burung dan membuat sebuah layang-layang kayu yang rumit. Ia mencoba beberapa kali dan menemukan bagaimana cara menggunakan pengendali untuk mengontrol jarak terbangnya. Setelah makan malam, Ia mencoba terbang dengan layang-layang, menggerakkan pengendali tiga kali dan terbang kembali ke rumah.

Lu Ban terbang di antara kedua tempat tersebut selama beberapa hari dengan selamat. Suatu hari, ayahnya ingin mencoba layang-layang tersebut. Ban menjelaskan bagaimana cara kerja pengendali layang-layangnya, “jika ingin terbang jauh, gerakkan pengendali beberapa kali lebih banyak, jika tidak sebaliknya gerakkan lebih sedikit.”

Ayahnya berniat terbang jauh untuk melihat-lihat, jadi ia menggerakkan pengendali puluhan kali. Ketika terbang di angkasa tinggi, Ayah Lu Ban terlalu takut untuk membuka matanya. Saat mendarat, ia menemukan dirinya berada di daerah lain yang sangat jauh dari rumahnya. Masyarakat di daerah itu melihat seorang tua dengan janggut putih mengendarai benda aneh, mereka berpikir bahwa ia adalah monster, kemudian memukulinya hingga tewas.

Ban menunggu di rumah selama beberapa hari, tetapi ayahnya tak kunjung pulang. Ia takut sesuatu terjadi pada ayahnya, jadi ia membuat sebuah layang-layang kayu lain untuk mencari ayahnya. Ketika mengetahui ayahnya telah meninggal, Ia sangat sedih. Ia berpikir bahwa jika ia tidak menciptakan layang-layang tersebut, maka ayahnya tidak akan meninggal. Lu Ban kemudian membakar layang-layang yang dibuatnya dan karya seni ini hilang sejak saat itu. (Erabaru/ana)

About these ads

Responses

  1. ini sejarah ya? baru tahu ini..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.686 pengikut lainnya.