Oleh: hurahura | 16 Desember 2010

Seminar Konservasi: Peran Konservasi dalam Penyelamatan Warisan Kota Bersejarah Jakarta*

Oleh: Hubertus Sadirin
(Senior Conservationist and Trainer,

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,
e-mail: hr_sadirin@yahoo.com)


Abstrak

Museum Sejarah Jakarta merupakan salah satu tonggak sejarah penting, yang tidak terpisahkan dari warisan kota bersejarah Jakarta sebagai bagian dari warisan kota bersejarah di Indonesia. Nilai warisan kota bersejarah tidak hanya dilihat dari aspek yang bersifat bendawi saja seperti halnya arsitektural bangunan yang unik dan langka tetapi juga dari aspek non bendawi yang merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan. Oleh karena itu, upaya konservasi tidak hanya dilakukan secara sepotong-sepotong tetapi harus dilakukan secara holistik dan komprehensif, baik dari sisi arsitektural bangunan, kesenian, kerajinan, kuliner, bahasa, maupun pola hubungan multikultur yang sudah berlangsung ratusan tahun dan membentuk ciri kota.

Sifat dinamis kota yang terus berubah dari waktu ke waktu, perlu dikelola secara baik, supaya warisan budaya yang ada dapat hidup berdampingan dengan yang baru (modern). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada tiga pilar utama yang perlu bekerja secara terpadu, selaras dan seimbang, yaitu pemerintah yang bertanggungjawab memelihara kota, seluruh komponen masyarakat, dan dunia usaha (wiraswasta). Sehingga dengan demikian akan terhindar terjadinya konflik kepentingan yang dapat mengancam kondisi kelestarian dan nilai-nilai warisan kota bersejarah, khususnya arsitektural bangunan yang menjadi ciri kota bersejarah. Nilai-nilai penting yang perlu dilestarikan adalah nilai keauthentikan yang melekat pada bangunan-bangunan bersejarah, yang meliputi nilai keuthentikan bahan, disain, teknologi pengerjaan, dan tata letak. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan penanganan konservasi berbasis penelitian dan hal ini menjadi bagian penting di dalam perencanaan yang perlu dilakukan secara komprehensif.

Beberapa kegiatan yang menjadi prioritas dan perlu dilakukan antara lain meliputi pendokumentasian, diagnosis dan penanganan konservasi bangunan bersejarah, pembangunan kapasitas sumber daya manusia, pembentukan jaringan antar kota bersejarah, penelitian dan pengembangan, publikasi, dan pengembangan warisan kota bersejarah.


Latar Belakang

Museum Sejarah Jakarta merupakan salah satu tonggak sejarah penting warisan kota bersejarah Jakarta sebagai bagian dari warisan kota bersejarah di Indonesia. Indonesia memiliki berbagai warisan kota bersejarah yang tesebar di seluruh pelosok nusantara, seperti halnya “Kota Tua” Jakarta, Pelabuhan Sunda Kelapa, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Kudus, Surabaya, Sawahlunto, Bangka, dll. Masing-masing warisan kota bersejarah memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda satu dengan lainnya, seperti halnya Semarang dan Surabaya sebagai “kota pelabuhan”, Bangka dan Sawahlunto sebagai “kota tambang”, Yogyakarta sebagai “kota perjuangan”, dan Solo sebagai kota batik. Keunikan dan kekhasan warisan kota bersejarah tidak hanya terletak pada warisan yang bersifat bendawi saja, seperti hanya bangunan arsitatektur yang unik dan khas, tetapi juga dari aspek yang bersifat non bendawi, seperti halnya kesenian, kerajinan, kuliner, bahasa, maupun hubungan multikultur yang sudah berlangsung selama ratusan tahun dan membentuk ciri kota.

Dewasa ini perkembangan kota sangat dinamis dan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga perlu dikelola secara baik agar warisan yang ada dapat berjalan secara berdampingan dengan yang baru (modern). Masyarakat tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan kota perlu mendapat perhatian untuk menjaga akar budaya masyarakat yang hidup dalam kota. Dalam rangka mengembangkan kesadaran bersama (public awareness improvement) tentang pentingnya warisan kota bersejarah dalam kehidupan manusia sebagai ingatan kolektif warga kota, diperlukan langkah-langkah nyata untuk memelihara keberadaannya di dalam proses perubahan kota yang sangat dinamis, sekaligus memelihara ikatan identitas sebagai akar budaya masyarakat yang hidup di dalam kawasan itu.

Dalam kaitannya dengan masalah tersebut di atas, ada tiga pilar utama yang berperanan dalam pelestarian warisan kota bersejarah yaitu pihak pemerintah (government) yang bertanggungjawab dalam pengelolaan warisan kota bersejarah, masyarakat pendukung (community), dan wiraswasta/dunia usaha (private sector). Mereka perlu bekerjasama secara sinkronik sesuai dengan peran masing-masing. Untuk menghindari adanya konflik kepentingan (conflict of interest), masing-masing pihak perlu memahami peran serta masing-masing sesuai dengan rambu-rambu kebijakan yang ada, sehingga tidak terjadi dominasi antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Dari aspek warisan yang bersifat bendawi, perlu dilakukan upaya secara terus menerus dan secara serius untuk mempertahankan bangunan-bangunan lama agar tetap ada (exist) dalam proses perubahan kota. Menjaganya agar tidak dihancurkan atau menjadi rusak adalah pekerjaan yang tidak mudah dilakukan, apalagi pada umumnya bahan bangunan yang digunakan tidak dalam keadaan prima lagi, sehingga sering dijadikan alasan untuk menghilangkannya dari wajah kota.

Aspek non bendawi yang berkaitan dengan sejarah kota sering menjadi alasan penolakan dihilangkannya bangunan-bangunan tua itu yang sudah menjadi landmark dan menyatu di ingatan warga kota. Proses pembentukan identitas budaya dan pengaruh timbal baliknya terhadap pembentukan kehidupan warga kota membuktikan bahwa warisan berupa karya bangunan (build heritage) memberi pengaruh pada perilaku nyata warga kota dan persepsi mereka tentang kotanya sendiri. Menjaga hubungan batin antara warga kota dengan kota tempat tinggal sangat relevan untuk selalu dijaga supaya dua unsur pokok yang saling berkaitan dapat terwujud yaitu saling memelihara ingatan kolektif warga dan memelihara karakter budaya yang menopang eksistensi kota. Kedua unsur tersebut sekarang sering terlupakan dalam konsep pembangunan kota modern yang ingin cepat-cepat meninggalkan akar budaya lama bergabung dengan globalisasi, akibatnya muncul berbagai kesenjangan sosial karena sebagian warga merasa mereka tidak lagi dibutuhkan mendukung proses perkembangan kota yang sangat dinamis. Warisan kota yang dimiliki bersama oleh warga dibutuhkan untuk mempertemukan antar kelompok sehingga dalam jangka panjang akan selalu terjadi kontak-kontak sosial antara anggota kelompok berbeda untuk menghormati masa lalu mereka dan memperkuat tali persahabatan.

Makalah ini secara khusus membahas mengenai peran konservasi dalam penyelamatan bangunan-bangunan warisan kota bersejarah Jakarta sebagai bagian dari bangunan cagar budaya, berangkat dari pendokumentasian, diagnosis terhadap permasalahan-permasalahan teknis yang dihadapi sebagai akibat kerusakan secara alami (natural ageing) dan dari ancaman pembangunan perkotaan, serta masih lemahnya kepedulian yang tidak hanya dari masyarakat pendukungnya sendiri tetapi juga aparat pemerintahnya, sampai dengan strategi yang diterapkan dalam konservasinya.


Warisan Kota Bersejarah Jakarta

Warisan kota bersejarah di Indonesia bervariasi dari kota-kota klasik sampai dengan kota-kota yang diwarnai dengan berbagai kebudayaan, seperti halnya pengaruh kebudayaan Jawa, Melayu, atau Bali atau konsep profan lainnya seperti halnya Hindu, Budha, China, dan Islam, maupun kebudayaan Eropa yang telah terkombinasi ke dalam kebudayaan perkotaan baru. Satu-satunya kota klasik Hundu-Budha yang masih ada yaitu adalah Trowulan, Mojopahit di Jawa-Timur. Sayangnya kota ini sudah tidak lagi dihuni dan tinggal berupa tinggalan kepurbakalaan dari “kota tua” seperti halnya fitur-fitur, artefak, fondasi, yang ditemukan di bawah permukaan tanah dan sebagian lainnya di atas permukaan tanah (Adisakti, 2010).

Warisan kota bersejarah Jakarta merupakan Kota yang merekam hampir seluruh rangkaian perjalanan sejarah Negara Indonesia. Kota ini berawal dari sebuah kota pelabuhan yang didirikan Pieterzoon Coen pada tahun 1619 sebagai benteng dan pos dagang. Sebelum menjadi Batavia, sebagian kawasannya merupakan kota pelabuhan yang bernama Sundakelapa. Setelah itu, kawasan tersebut bernama Jayakarta setelah daerah ini dikuasai oleh penguasa Banten. Pada tahap awal, Batavia dengan keindahan kota yang dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang, bangunan-bangunan yang cukup bagus di kiri kanan jalan dan kanal, menjadikan Kota Batavia sebagai kota impian, bahkan disebut dengan ”Venezia dari Timur” (Restu Gunawan, dkk, 2010). Selain dengan 50 Museum, Kota Jakarta memiliki kekayaan yang sangat beragam dari berabagai keunikan dan kekhasan arsitektural bangunan dengan gaya arsitektural bangunan dengan gaya arsitektur Cina, Arab, dan Eropa. Perkembangan budaya Kota Jakarta ditengarai dengan adanya beberapa bangunan cagar budaya yang hingga kini masih dipertahankan. Beberapa contoh bangunan cagar budaya di Jakarta misalnya Istana Merdeka (1873), Balai Kota Jakarta (1905), Museum Sejarah Jakarta ( 1707), Gedung Pancasila (1830), Kompleks Menara Syahbandar (1839), Masjid Luar Batang (1739), Gedung Arsip Nasional (1760), Gedung Candranaya (1807), Gereja Kathedral (1901), Bank Indonesia (1900-an), dan Museum Bahari (1652).

Bangunan-bangunan bersejarah di Kawasan Kotatua Jakarta merupakan bangunan cagar budaya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, yang perlu dipertahankan dan dilestarikan bagi generasi mendatang. Bangunan-bangunan di kawasan tersebut dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (yang kini telah selesai direvisi disesuaikan dengan paradima baru dan dalam waktu dekat ini akan segera diundangkan menjadi Undang-undang tentang Cagar Budaya) serta Perda No. DN-6097/D/33/1975 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan dan Bangunan Pemugaran di Wilayah DKI yang telah diperbaharui dengan Perda DKI Jakarta Nomor 9/1999 tentang Pelestaraian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya.

Nilai keindahan arsitektural bangunan-bangunan di kawasan Kotatua Jakarta tersebut tercermin di dalam disain, langgam arsitektural bangunan, dan sistem konstruksi. Keindahan bangunan ataupun kelompok bangunan-bangunan juga terkait dengan lokasi dan konteksnya. Sedangkan dari sisi aspek sosial mencakup kualitas bangunan yang telah menjadi fokus secara spritual, politik ataupun sentimen nasional secara keseluruhan. Demikian juga yang menyangkut tata letak bangunan (setting) yang merupakan salah satu bagian penting yang perlu dipertahankan dalam penanganan konservasinya.

Dari sisi tipologi bangunan yang ada, dapat dibedakan sesuai dengan masyarakat dan zamannya sebagai berikut (Yulianto Sumalyo dkk., 2007: Sejarah Kotatua 88-89). Bangunan masyarakat kolonial Eropa, yang meliputi:

Bangunan-bangunan periode VOC (abad XVI-XVII) yang berciri arsitektur Zaman Pertengahan Eropa, dengan kesan tertutup, sedikit bukaan, jendela besar-besar tanpa teritisan dan tanpa serambi (verandah);

Bangunan-bangunan periode Negara Kolonial (mulai abad 19), terutama gaya-gaya Colonial Indicshe (ata-atap teritisan, verandah, jendela-jendela krepyak) dan Neo Klasik Eropa (Yunani, Romawi, dll);

Bangunan-bangunan modern kolonial (abad XX), seperti bangunan bergaya Art Deco dan Art Nouveau.

Bangunan Masyarakat Cina
Bangunan Cina-oriental dari masyarakat Cina berbentuk shop-houses (rumah toko) dengan gaya Cina selatan. Sebagian ada yang bercampur dengan gaya kolonial Eropa.

Bangunan Masyarakat Pribumi
Bangunan masyarakat pribumi seabagian besar berada di daerah kampung-kampung, berbentuk panggung dan rumah-rumah yang sudah di tanah dengan dinding bahan-bahan alami. Masyarakat pribumi yang berkelas (abad 19) pada umumnya membangun rumahnya dengan lebih permanen, bergaya kolonial Indische.

Bangunan Modern Indonesia
Arsitektur bangunan-bangunan pada periode ini dibangun sesudah masa kemerdekaan, terutama bangunan-bangunan umum yang bergaya internasional.

Merujuk pada Perda DKI Jakarta No. 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, dari segi kondisi keterawatannya, bangunan-bangunan tersebut terbagi dalam 4 (empat) kategori:

Golongan A: Kelompok bangunan bersejarah atau bangunan-bangunan yang sangat baik nilai arsitekturnya;

Golongan B: Kelompok bangunan yang bernilai atau yang mempunyai ciri tertentu yang masih baik yang bersama-sama membentuk lingkungan yang serasi;

Golongan C: kelompok bangunan bersejarah yang sudah banyak berubah atau bangunan-bangunan yang kurang serasi degan pola tampak di sekitarnya, atau bangunan-bangunan yang karena kondisinya sukar dipertahankan sebagai Golongan B;

Golongan D: Kelompok bangunan bersejarah yang sudah banyak berubah sama sekali nilai lingkungannya, atau yang karena lokasinya sukar dipertahankan dan perlu dikembangkan secara lain.

Pelestarian warisan kota bersejarah Jakarta merupakan kebutuhan yang dinilai mendesak dan ini hanya dapat dilakukan melalui peran serta dan kerjasama antara pilar-pilar utama yang terdiri atas Pemerintah Daerah sebagai penanggung-jawab pengelolaan warisan kota bersejarah Jakarta, pemilik bangunan (pihak swasta), dan seluruh masyarakat.

Sebagai contoh model pelestarian kota di Yogyakarta dan Solo (yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Kota Bersejarah Dunia (Kota Pusaka Dunia) pada tanggal 26 Oktober 2008), yang menggunakan konsep filosofi secara harmonis, menyatu, dan keseimbangan di dalam perencanaan tata ruang. Struktur tata kota di Jawa pada umumnya mengacu pada konsep yang disebut dengan “Catur Gatra TunggaL”., yang berarti bahwa sebagai pusat kota di Jawa pada umumnya terdiri atas 4 (empat) komponen yaitu istana, masjid, pasar, dan alun-alun. Di samping, kekayaan kebudayaan bendawi, seperti halnya bangunan-bangunan candi, kompleks istana, masjid, bangunan-bangunan peninggalan kolonial, rumah-rumah tradisional, di kawasan Jogja dan Solo, juga memiliki kekayaan yang sudah sangat berkembang berkaitan dengan manisfestasi kebudayaan yang bersifat non bendawi, seperti halnya dari segi bahasa Jawa yang dipergunakan dalam percakapan-percakapan sehari-hari (ada bahasa “Kromo Inggil” dan “Ngoko”, kesenian tradisional (tari klasik, kerawitan, wayang, musik-musik sakral yang sering digunakan untuk syalawatan, musik keroncong, tari-tarian rakyat seperti halnya jatilan dan ketoprak). Di samping itu, dalam kaitannya dengan alam juga terdapat konsep kehidupan yang harmonis yang dikenal dengan “Hamewayu Hayuning Bawono”. Hubungan kehidupan antara individu dengan masyarakat, hubungan antara makhluk hidup dengan alam semesta, hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Dengan kata lain melestarikan keindahan dunia untuk kesejahteraan bagi penghuninya dan keselamatan alam semesta (Adhisakti, 2010).

Mengingat Kotatua Jakarta sudah banyak mengalami perubahan, perombakan, pembongkaran baik tembok, kanal, gedung-gedung dan elemen-elemen konstruksi lainnya, maka perencanaan konservasi ataupun revitalisasi perlu dilakukan melalui pendekatan penelitian arkeologis. Kegiatan tersebut dilakukan seiring dengan proses penanganan konservasi (research based conservation).


Permasalahan Teknis Yang Dihadapi

Warisan kota bersejarah Jakarta, baik dalam bentuk tinggalan budaya yang bersifat bendawi (tangible culture) maupun yang bersifat non bendawi (intangible culture), cepat ataupun lambat akan menghadapi masalah, baik yang bisa diprediksi sebelumnya maupun tidak dapat diprediksi, seperti halnya proses degradasi secara alami (natural ageing), bencana alam (natural dissasters) seperti halnya gempa bumi, tsunami, banjir, bahaya kebakaran, ataupun dampak dari ulah manusia sendiri dalam proses pembangunan, yang dalam hal-hal tertentu memiliki andil dalam vandalisme, baik disengaja maupun tidak disenagja. Di samping itu, perdagangan ilegal benda-benda cagar budaya yang sering terjadi serta yang terjadi akhir-akhir ini yaitu letusan gunung berapi, juga merupakan ancaman yang perlu diantisipasi.

Seiring dengan perkembangan pembangunan dewasa ini maka ancaman permasalahan teknis terhadap warisan kota bersejarah semakin nyata, baik dalam bentuk bangunan-bangunan secara individu maupun kawasan warisan kota bersejarah secara keseluruhan. Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa warisan kota bersejarah tidak hanya berupa bangunan-bangunan dan/atau tinggalan warisan bendawi lainnya, tetapi juga tempat kehidupan yang terdiri dari berbagai macam masyarakat dan aktifitas-aktifitas budaya yang bersifat non bendawi, yang perlu dijaga dan dilestarikan untuk generasi berikutnya.

Masalah utama yang dihadapi oleh bangunan-bangunan bersejarah tersebut, terutama di Kawasan Kotatua Jakarta terkait dengan kenyataan bahwa pada umumnya bangunan-bangunan tersebut tidak ditempati dalam waktu yang relatif lama dan bahkan ada yang terlantar, sementara itu dengan kondisi bangunan yang sudah cukup lama dan kondisi bahan bangunan yang sudah tidak prima lagi karena sebagian telah mengalami kerusakan dan pelapukan. Di samping itu, kondisi geotopografi Jakarta yang terletak di tepi pantai dengan ketinggian yang hanya beberapa meter dari permukaan laut, merupakan ancaman yang potensial terhadap kondisi kelestarian bangunan. Kapilaritas air tanah (ground water level) sangat rendah, sebagai contoh di Museum Bahari yang hanya sekitar 30 cm di bawah permukaan tanah. Hal tersebut tentu saja akan menjadi ancaman yang cukup serius terhadap kondisi keterawatannya.

Bahan bangunan yang bersifat porous, baik yang terbuat dari bahan organik seperti halnya kayu maupun bahan non organik yang terbuat dari bata dan batu yang sistem konstruksinya menggunakan spesi (wet masonry technique) dilengkapi dengan plaster yang bersifat bernafas (breatable), bersifat higroskopis (mudah menyerap air) baik melalui air kapiler dari air tanah (water capillary action) yang banyak mengandung garam-garam yang bersifat mudah terlarut oleh air (water soluble mineral) maupun air hujan, akan memicu dan sekaligus memacu proses degradasi bahan bangunan yang digunakan. Dampak yang ditimbulkan berupa menurunnya kualitas (degradasi) bahan bangunan yang digunakan yaitu dalam bentuk kerusakan dan pelapukan bahan bangunan yang digunakan.

Kerusakan bahan bangunan yang timbul dapat berupa retakan-retakan pada dinding bangunan atau pecah sebagai akibat adanya gaya baik yang bersifat statis maupun dinamis. Gaya statis sebagai akibat dari gaya berat dari beban di atasnya, sedangkan gaya dinamis disebabkan oleh adanya kemelesakan fondasi akibat dari penurunan daya dukung tanah, gempa, ataupun runtuhnya bangunan. Di samping itu, juga dalam bentuk pelapukan fisis (physical deterioration process/weathering process), pelapukan khemis (chemical deterioration process), yang agensia utamanya disebabkan oleh pengaruh air baik dalam bentuk air kepilerisasi air tanah maupun air hujan karena kebocoran , maupun disebabkan oleh faktor biotis (biodterioration process), seperti halnya pertumbuhan dari berbagai jenis jasad mikro (ganggang, lumut) maupun jasad makro (pohon beringin, dll), sebagaimana yang terjadi di bangunan Gereja Emanuel, bangunan di sebelah barat Museum Sejarah Jakarta, maupun bangunan Eks Kodim di Jatinegara Jakarta.

Dampak yang ditimbulkan dapat berupa terjadinya pemudaran warna asli cat, penurunan daya adhesi plaster dengan dinding sebagai akibat dari adanya proses kapilaritas air tanah, dan pelapukan bahan dasar bangunan yang digunakan. Dari sisi bentuk yang ditimbulkan dapat berupa desintegrasi maupun dalam bentuk deskomposisi, yaitu terjadinya penguraian dari komposisi bahan dasar yang digunakan yang akhirnya tersedimentasikan dalam bentuk kristal-kristal garam di permukaan dinding bangunan atau bata. Sebagai akibatnya akan terjadi pengelupasan cat, penggelembungan (bulging) plaster dan bahkan pengelupasan plaster dinding.

Di samping itu, juga terkait dengan pemanfaatan ruangan-ruangan bangunan untuk kepentingan perkantoran, yang demi kenyamanan dan kerapian ruangan dilapisi dengan triplek atau plywood, sebagaimana yang terjadi di Gedung Museum Sejarah Jakarta. Karena higroskopis dan bahan dasarnya sendiri adalah selulose, justru akan menjadi lembab dan berfungsi sebagai pemicu serangan rayap. Sebagai akibatnya dinding-dinding yang secara fisik dari luar masih bagus, ternyata di bagian dalamnya sudah diserang oleh rayap. Hal tersebut akan merambah kebagian luarnya, karena adanya dokumen-dokumen yang langsung menempel pada dinding-dinding bangunan.

Masalah lain yang dihadapi terutama terkait dengan kesadaran bersama antara aparatur pemerintah (government) yang bertanggungjawab dalam pengelolaan warisan kota bersejarah, pihak swasta (private sector) sebagai pemilik bangunan dan masyarakat pada umumnya (community). tentang pentingnya warisan kota bersejarah dalam kehidupan manusia sebagai ingatan kolektif warga kota. Menjaga hubungan batin antara warga kota dengan kota tempat tinggal sangat relevan untuk selalu dijaga agar kedua unsur tersebut dapat terwujud yaitu memelihara ingatan kolektif warga dan memelihara karakter budaya yang menopang eksistensi kota. Ke dua unsur tersebut sering terlupakan dalam konsep pembangunan kota modern yang ingin cepat-cepat meninggalkan akar budaya lama dan bergabung dengan globalisasi, sehingga memungkinkan terjadinya kesenjangan sosial karena sebagian warga merasa mereka tidak lagi dibutuhkan mendukung proses perkembangan kota yang sangat dinamis. Masalah tersebut termasuk suatu hal yang sangat penting dalam konservasi warisan budaya, terutama warisan kota bersejarah seperti halnya Jakarta. Tidak hanya bagi masyarakatnya sendiri tetapi juga bagi aparatur pemerintah. Kesadaran masyarakat dan apartur pemerintah tidak hanya merupakan tujuan tetapi lebih sebagai alat untuk mencapai tujuan terlestarikannya warisan kota bersejarah. Kesadaran masyarakat diarahkan dalam kaitannya dengan keikutsertaanya dalam ambil bagian upaya-upaya yang dilakukan dalam konservasi warisan kota bersejarah, termasuk dalam hal ini adalah bangunan-bangunan bersejarah yang ada di dalamnya, sedangkan bagi aparatur pemerintah terutama dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan dan rambu-rambu (policy) di dalam pengelolaan warisan kota bersejarah yang menjadi tanggungjawabnya. Karena sekali tinggalan budaya tersebut sudah dimusnahkan tidak akan bisa diperbaharui lagi (unrenewable).

Pembangunan kawasan warisan kota bersejarah dewasa ini menghadapi masalah yang sangat kompleks dan apabila tidak ditangani secara bijak dapat mengancam kondisi kelestarian bangunan-bangunan bersejarah, sejarah perkotaan, dan tradisi yang ada di masyarakat, sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan warisan budaya bendawi. Dalam pelaksanaannya kadang-kadang sering terjadi konflik kepentingan (conflict of interest) antara kepentingan pembangunan di satu pihak dan kepentingan pelestarian warisan kota bersejarah di pihak lainnya, sehingga pada gilirannya dapat mengancam kelestarian memori kota dan keunikan masyrakat yang ada di dalamnya.

Pilar-pilar dalam konservasi warisan kota bersejarah secara berkelanjutan memerlukan pendekatan secara komprehensif dan maksimum, dari aspek sosial, kebudayaan, ekonomi, dan lingkungan. Sehingga dengan demikian akan diperoleh manfaat yang lebih besar dan warisan kota bersejarah dapat dikelola secara tidak saling merugikan bagi semua pihak terkait dan pada gilirannya dapat mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat banyak.


Strategi Penanganan Konservasi

Pada dasarnya penanganan konservasi warisan kota bersejarah perlu dilakukan dengan pendekatan secara komprehensif, baik melalui pendekatan secara filosofis maupun teknis. Dengan demikian diharapkan dalam implementasinya tidak akan terjadi benturan yang bisa mengancam kondisi kelestarian terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, baik nilai yang bersifat bendawi maupun nilai yang bersifat non bendawi. Penanganan konservasi dilakukan baik terhadap bangunan-bangunan bersejarah secara individu maupun dalam konteks kawasan beserta lingkungannya satu kesatuan secara kontekstual berbasis pada penelitian dan pendokumentasian baik perencanaannya maupun pelaksanaannya. Pendokumentasian merupakan suatu hal yang sangat prinsip. Kegiatan tersebut perlu dilakukan sebelum ada intervensi, dalam bentuk dokumentasi secara verbal, dalam bentuk gambar teknis , maupun dokumentasi foto. Hal tersebut akan sangat membantu dalam pelaksanaan pekerjaan dikemudian hari.

Permasalahan-permasalahan ditangani melalui prosedur diagnostik konservasi, sehingga dengan demikian sasaran penanganan konservasi yang dilakukan tidak hanya diarahkan atas gejala yang secara visual nampak tetapi berdasarkan atas akar permasalahan yang dihadapi. Hal ini merupakan bagian prosedur baku yang perlu dilakukan. Berdasarkan atas gejala tersebut dilakukan observasi lapangan dan dari hasil observasi tersebut selanjutnya dievaluasi apakah sudah bisa disimpulkan atau belum akar permasalahannya. Dalam kaitannya dengan komponen bahan bangunan, jika belum dapat disimpulkan, maka jika diperlukan diambil sampelnya untuk penelitian laboratorium. Dari hasil penelitian tersebut akan dianalisis dan diagnosis akar permasalahan yang dihadapi yang selanjutnya dilakukan penelitian penanganan konservasi dan formulasi penanganannya di lapangan.

Sejauh mana tindakan konservasi harus dilakukan terhadap suatu bangunan akan sangat tergantung dari kompleksitas permasalahan yang dihadapi dan harus ditinjau kasus demi kasus. Dengan mengacu pada prinsip intervensi seminimum mungkin, maka secara garis besar tindakan konservasi yang mungkin dilakukan terhadap suatu bangunan dan lingkungannya (situs), bisa berupa tindakan pemeliharaan (preservasi) tanpa adanya intervensi secara langsung. Namun demikian dalam hal kondisi bangunan tersebut telah banyak mengalami kerusakan ataupun pelapukan, maka perlu dilakukan restorasi, yaitu dalam bentuk perbaikan-perbaikan dengan mengacu pada kaidah-kaidan dan prinsip-prinsip otentisitas bahan dasar yang digunakan. Hal ini mengandung implikasi penggantian komponen bahan menggunakan jenis dan kualitas bahan yang hampir bersamaan, termasuk dalam hal ini adalah plaster dan cat dinding. Pada umumnya plaster dan cat dinding memiliki ciri plaster dan cat yang bernapas (breatable).

Rekonstruksi pada dasarnya bisa dilakukan selama komponen-komponen dan bahan utamanya masih ada dan dimensinya diketahu secara pasti. Demikian juga mengenai revitalisasi atau alih fungsi dari fungsi semula bangunan pada prinsipnya bisa dilakukan. Namun demikian, tetap dengan memperhatikan prinsip otentistias bsngunan. Ciri-ciri arsitektural dan konsepsi bangunan, serta warna asli bangunan sebaiknya dipertahankan. Sedangkan dari sisi konservasi bahan (material conservation), tahapannya meliputi pertolongan pertama (first aid treatment), pembersihan (secara mekanis, tradisional ataupun kimiawi apabila diperlukan), perbaikan (penggantian dengan bahan sejenis atau bahan lain jika secara tekjis diperlukan), konsolidasi (perkuatan komponen/struktur), dan pengawetan, terutama komponen-komponen organik seperti halnya kayu, dan perlindungan (dengan cat atau farnish sesuai dengan keasliannya). Sejauh mungkin tindakan konservasi dilakukan secara tradisional. Penggunaan bahan khemikhalia (bahan konservan) hanya dilakukan apabila secara teknis memang diperlukan dan itupun dengan dosis yang paling rendah namun tetap efektif, serta tidak menimbulkan dampak terhadap obyek maupun lingkungannya dan berhenti pada saat terjadi keragu-raguan. Tindakan penanganan konservasi didasarkan atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip otentisitas bangunan bersejarah yang ditangani.

Pendekatan secara filosofis mengacu pada rambu-rambu kebijakan implementasi di lapangan, baik kebijakan nasional maupun kebijakan internasional.

Kebijakan Nasional
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UURI No. 5/1992;
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum;
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 062 Tahun 1995 tentang Pemilikan, Penguasaan, dan Penghapusan Benda Cagar Budaya;
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 063 Tahun 1995 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya;
Perda No. DN-6097/D/33/1975 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan dan Bangunan Pemugaran di Wilayah DKI yang telah diperbaharui dengan Perda DKI Jakarta Nomor 9/1999 tentang Pelestraian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya.

Kebijakan Internasional
International Charter for the Conservation and restoration of Monuments and Sites, ICOMOS, 1964;
Historic Buildings and Conservation Areas – Policy and Procedure: Circular from the Department of Environment, London, 1987;
The Secretary of the Interior’s Standards for Rehabilitating Historic Buildings (Revised 1983) by the U.S. Department of the Interior National Park Service, Preservation Assistance Division, Washington DC;
Australia ICOMOS (1988). The Australia ICOMOS Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance (The Burra Charter);
Conservation of Historic Buildings by Bernard Fielden, Former Director, International Centre for the Study of the Preservation and the Restoration of Cultural Property (ICCROM), Rome, 1982;
Washington Charter, 1987: conservation of historic towns and urban areas
Lausanne Charter, 1989: protection and management of the architectural heritage

Etika Konservasi
Secara operasional kode etik yang melandasi pelaksanaan kegiatan konservasi adalah sebagai berikut:

Penanganan konservasi harus dilakukan pendokumentasian yang
lengkap, baik kondisi sebelum konservasi, selama penanganan konservasi, maupun kondisi pascakonservasi;
Bukti-bukti sejarah tidak boleh rusak, dipalsukan, atau dihilangkan, karena penanganan konservasi;
Intervensi diupayakan seminimum mungkin (minimum intervention);
Segala bentuk intervensi tidak boleh mengurangi nilai historis, estetis, dan keutuhan fisik benda.

Prinsip-prinsip Teknis
Prinsip-prinsip ini terutama diberlakukan pada penanganan arsitektural bangunan yang ada di kawasan kota bersejarah. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan tindakan konservasi mengacu pada prinsip-prinsip keaslian atau autentisitas, yang meliputi:

Keaslian bahan (authenticity of material) yang meliputi jenis dan kualitas bahan, warna, tekstur;
Keaslian disain (authenticity of design) meliputi bentuk, ukuran, dan rancangan bangun;
Keaslian teknologi pengerjaan (authenticity of workmanship) yang meliputi teknik pengerjaan dan penyelesaian akhir (finishing touch);
Keaslian tata letak (authenticity of setting) yang mengacu pada keaslian letak bangunan dan tidak boleh dipindahkan dari tempat aslinya.

Di samping itu, dari sisi bahan dasar bangunan digunakan yang juga perlu mendapatkan perhatian yaitu bahwa:
Bagian asli benda yang mengalami telah mengalami kerusakan atau pelapukan dan secara arkeologis bernilai tinggi, sejauh mungkin dipertahankan dengan cara konservasi; penggantian dengan bahan baru hanya dilakukan apabila secara teknis sudah tidak mungkin dapat dilakukan dengan cara konservasi dan harus dibedakan dengan aslinya;
Metode konservasi harus bersifat “reversible”, artinya bahan dan cara konservasi harus bisa dikoreksi, apabila di kemudian hari ditemukan bahan dan teknologi yang lebih baik dan lebih menjamin kondisi kelestariannya;
Teknik penanganan konservasi harus bersifat efektif, efisien, tahan lama, dan aman bagi benda maupun lingkungannya.

Di dalam implementasinya ke tiga pilar yaitu pihak Pemerintah yang bertanggung jawab di dalam pengelolaan warisan kota bersejarah, pihak swasta, dan pihak masyarakat perlu bekerjasama secara bahu-membahu. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia terkait juga perlu dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Dalam rangka pengembangan wawasan perlu dilakukan networking dengan jaringan dengan kota-kota bersejarah lainnya yang sudah lebih maju, penelitian dan pengembangan, dan publikasi warisan kota bersejarah.


Penutup

Demikianlah secara garis besar makalah yang terkait dengan peran konservasi dalam rangka penyelamatan warisan kota bersejarah Jakarta. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi para pihak terkait yang bertanggung jawab dalam pengelolaan warisan bersejarah Jakarta, khususnya dalam rangka penyelamatan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bagi generasi mendatang.


Referensi

Anonim, 1993 : Objectives, Principles and Standards for Preservation and Conservation, Urban Development Authority, Preservation of Monuments Boards, Singapore

Adhisakti, Laretna T., 2010 : Urban Space Heritage Conception as Methods and Tools for Sustainable Urban Development

Yulianto Sumalyo, dkk, 2007 : Sejarah Kotatua, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Propinsi DKI Jakarta

Restu Gunawan, dkk, 2010 : Toponim Jakarta dan kepulauan Seribu: Kearifan Lokal Dalam Penamaan Geografis, Direktorat
Geografi Sejarah, Ditjen Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

*Disajikan dalam forum Seminar Memperingati 300 Tahun Gedung Museum Sejarah dan Jakarta, yang diselenggarakan di Hotel Omni Batavia, Jakarta, 9 Desember 2010

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.705 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: