Oleh: hurahura | 12 September 2010

Temuan Prasejarah Gayo, Dibiarkan Terlantar

Kompasiana, Minggu, 12 September 2010 – Tanoh Gayo, Takengen, Agustus 2010, Mendale atau Rock Shelter Mendale atau lebih populer dengan sebutan Abris Shous Roches Mendale, adalah sebuah lokasi penemuan batu kapak persegi dari zaman prasejarah yang berusia 3500 tahun, absolute.

Penemuan ini terkuak setelah peneliti dari Balai Arkeologi Medan (Balar) pada Maret 2009 melakukan penelitian yang dipimpin ketua penelitian Drs. Ketut Wiradnyana. Kini, kondisi Ceruk Mendale sangat menyedihkan. Banyak bagian ceruk yang berada di pinggir jalan beraspal Kampung Mendale ini telah dikeruk alat berat untuk dijadikan tanah timbun.

Menurut seorang warga di Mendale, Kamal Mude (40), dia tidak tahu kalau di salah satu kandang kerbau warga setempat, terdapat penemuan arkeolog yang penting. “Sampai sekarang, lokasi penemuan batu kapak tersebut masih dijadikan kandang kerbau”, kata Kamal Mude.

Khalisuddin, seorang anggota LSM Vistaga, mengaku sangat prihatin karena hingga saat ini ceruk belum diamankan dan dibiarkan sebagian ceruk dikeruk dengan memakai alat berat.

“Padahal sebelumnya, Kabid Kebudayaan Pemkab Aceh Tengah sudah mengetahui penemuan di ceruk Mendale dan memberitahu penemuan ini ke Dinas Kebudayaan Banda Aceh. Tapi hingga kini belum ada tindakan konkret”, kata Khalis.

Ceruk Mendale, berada di pinggir jalan Takengon-Bintang, di Kampung Mendale Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah. Persis di ujung Barat Danau Lauttawar.

Rock Shelter Mendale, memanjang sekitar 100 meter lebih, mengarah ke danau. Sebagian ceruk dijadikan kandang kerbau warga setempat. Di lokasi kandang inilah ditemukan Batu Kapak Persegi, pada kedalaman sekitar 40 cm oleh Ketut dan sembilan peneliti Balar Medan.

Disebutkan Ketut jarak ceruk ke danau sekitar 100 meter sehingga memungkinkan manusia prasejarah di Mendale menjalani kehidupan. Selama melakukan penelitian, Ketut Wiradnyana memandang setiap bagian ceruk ini. Sembilan orang lainnya dari Balar (Balai Arkeologi Medan) mempersiapkan berbagai peralatan, seperti patok–patok kecil yang diberi warna merah, putih dan hitam.

Selain itu, tali dan berbagai peralatan digital untuk keperluan arkeologi dibawa dan dipersiapkan tim arkeologi yang dipimpin Ketut. Setelah menentukan koordinat, cekatan tim ini merangkai tali, memasang patok di sepanjang ceruk Mendale.

Penelitian arkeolog dilakukan setelah di tahun 2007 lalu Balar Medan melakukan survei. Hasil survei kala itu, Ketut memprediksi tiga tempat yang diduga pernah dihuni manusia prasejarah di Dataran Tinggi Gayo.

Tempat tersebut adalah Ceruk Mendale, Putri Pukes dan Loyang Datu di Kecamatan Linge. Pada 6 Maret 2009, Tim Arkeologi Medan dipimpin Ketut mulai melakukan eksavasi. Menurut Ketut, ekskavasi atau penggalian dilakukan guna memastikan peradaban sebuah komunitas manusia dengan sisa–sisa peninggalan mereka.

Di hari pertama saja, tim Balar Medan ini sudah menemukan fragmen (potongan) gerabah, tulang, batu berbentuk kapak yang diduga kapak batu, dan kerang.

Disebutkan Ketut ada dua jenis gerabah yang ditemukan di Ceruk Mendale, gerabah biasa dan gerabah ukir. Semua bagian yang sudah diplot untuk diekskavasi dilakukan penggalian dengan hati-hati. Tidak ada bagian tanah yang digali tidak diperiksa. Ketut memperhatikan secara seksama setiap kali ada penemuan benda. Sesekali Ketut membersihkan temuan dengan kuas atau sikat gigi seraya terus menatapnya.

Semua benda yang ditemukan, ditempatkan dalam plastik yang telah diberi label. Difoto, dikumpulkan dan ditentukan titik koordinatnya. Selain dicatat secara teliti dan akurat, seorang peneliti terlihat membuat peta ceruk dan titik penggalian.

Dijelaskan Ketut, sebelum ke Takengon, Balar Medan melakukan penelitian di Tanjung Pinang Kabupaten Bintan yang sangat disupport oleh Pemkab setempat. Sebelumnya, Balar Medan juga melakukan penelitian atau ekskavasi di Aceh Tamiang dan menemukan kehidupan prasejarah 7.000 tahun lalu, tepatnya 7080 M.

Dari berbagai jenis barang-barang yang ditemukan, sebut Ketut bisa menunjukkan bagaimana sebuah komunitas manusia hidup. Bisa menunjukkan masa dan budaya. Namun untuk bisa menentukan umur dari semua penemuan, Balar Medan bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).

Situs sejarah, ungkap Ketut, akan sangat menarik bagi wisatawan. Adanya penelitian ini diharapkan Ketut menjadi pendukung pariwisata alam Gayo yang indah, seperti danau yang menjadi satu kesatuan.

Namun Ketut sempat menyatakan kekecewaannya. Karena di bagian Timur Ceruk Mendale ada bagian yang sudah dibuldozer sehingga bagian situs rusak bahkan hancur.

Setelah sepekan melakukan ekskavasi di Ceruk Mendale, Ketut dan peneliti Balar Medan menghentikan kegiatan penelitian arkeologi di Mendale karena waktu dan pendanaannya habis. Padahal, menurut Ketut, di bagian barat Ceruk Mendale, peneliti Balar menemukan potongan tulang kaki di bawah batu pada kedalaman lebih kurang satu meter.

Ketut berharap ada dana lanjutan dari APBN untuk menindaklanjuti penelitian tentang adanya kehidupan prasejarah di Takengon. Tapi sebut Ketut, penelitian dengan dana dari APBN pusat yang diusulkan Balar, baru terealisir setahun atau setahun lebih setelah diusulkan. Ada jalan lain yang bisa dilakukan Pemkab setempat, sebut Ketut, yakni Pemkab Aceh Tengah pro aktif mendukung penelitian dan upaya pengungkapan sejarah masa silam di Takengon dengan cara menyediakan dana penelitian lanjutan.

Dana ini nantinya akan dipakai antara lain untuk analisa karbon dari berbagai temuan di Ceruk Mendale guna mengetahui usia benda–benda tersebut. Penelitian tersebut dinamakan Analisa karbon.

Setelah melakukan penelitian di bulan Maret 2009, Ketut datang kembali ke Takengon, mengisi sebuah seminar, awal Januari 2010, berkesempatan meninjau lokasi ceruk Mendale dan sekitarnya.

Ketut mengatakan sangat menyayangkan masih terjadinya pengrusakan terhadap situs di Loyang Mendale. Padahal sisa kerukan tanah untuk galian C masih ditemukan artefak berbahan batu dan tanah liat.

Menurut Ketut, dua buah artefak batu itu merupakan kapak batu dari masa mesolitik yang lebih tua umurnya dari 3500 tahun yang lalu.

Wein Rahman ElMajidi, dari LSM Unders mengatakan, ceruk Mendale belum benyak diketahui warga Takengon meski saat penemuan batu kapak persegi oleh Balar Medan sudah diekspos, baik oleh media online ataupun cetak.

“Siapa lagi yang peduli akan situs purbakala tersebut, jika pihak yang berwenang saja tidak peduli”, kata Wein Rahman.

Menurut LSM Unders, sudah saatnya Pemkab dan DPRK setempat memberi ruang dan waktu serta pendanaan untuk menguak fakta sejarah yang telah ditemukan Balar Medan.

“Sepertinya visi dan misi Pemkab Aceh Tengah tidak jelas,“ kata Wein Rahman Elmajidi.

Pegiat LSM lainnya, Win Ruhdi mengatakan, dengan temuan Balar Medan, Pemkab Aceh Tengah harus menindaklanjuti temuan spektakuler tersebut dengan penelitian lanjutan yang melibatkan peneliti Balar Medan.

“Penemuan di ceruk Mendale sedikit banyaknya telah mengungkap keberadaan masyarakat Aceh Tengah yang hidup di wilayah dataran tinggi Aceh. Paling tidak, 3500 tahun silam, sudah ada kehidupan prasejarah di seputaran danau”, kata Win Ruhdi yang juga sekjen Forum Penyelamatan Danau (Win)

About these ads

Responses

  1. Duh sayangnya, berarti pemda setempat tidak tahu arti pentingnya sebuah sejarah……lantas ngapain aja mereka ya

  2. SEDEH SEDEH!!!!
    male nos MALL ya pake a…….
    modern lbh pntg.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.700 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: