Oleh: hurahura | 22 Agustus 2010

Peran Penting Data dalam Karya Sastra Jawa Kuna dalam Kajian Arkeologi Hindu-Buddha: Candi Pendharmaan (Abad ke-13–15M)

Oleh Dr. Agus Aris Munandar

I

Ketika para arkeolog Belanda mulai melakukan penelitian di wilayah Indonesia di awal abad ke-20, pada waktu itu kajian terhadap sumber tertulis yang berupa karya sastra dan prasasti pun masih dalam tahap awal kegiatannya. Hal yang menarik adalah bahwa perhatian terhadap peninggalan kuna yang bersifat artefaktual agaknya lebih dahulu diberikan oleh para cendekiawan Belanda daripada perhatian mereka terhadap sumber-sumber tertulis. Sangat mungkin hal itu dikarenakan peninggalan yang berwujud artefaktual lebih nyata terlihat ada di permukaan tanah di lokasi tertentu. Dalam pada itu prasasti yang berupa sumber tertulis harus dipelajari terlebih dahulu tulisannya, kemudian baru kandungan isinya, apalagi sumber tertulis yang berupa naskah, data seperti itu sudah dipastikan tidak berada di sembarang tempat melainkan disimpan oleh koleksi perorangan, lembaga, atau tersimpan rapi di scriptorium tradisional.

Data yang terungkap dalam sumber tertulis sudah tentu beraneka bentuknya, berkenaan dengan berbagai aspek kebudayaan manusia. Dapat dikemukakan bahwa sumber tertulis menyimpan data tentang kehidupan sosial- kemasyarakatan, keputusan hukum, sistem politik pemerintahan, kesenian, pengetahuan tradisional, dan lain-lain. Data yang terungkap lewat kajian sumber tertulis sebenarnya tidak secara langsung berkenaan dengan kajian arkeologi di Indonesia.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam wilayah kajian arkeologi terdapat dua periode utama yang membagi perhatian para arkeolog dalam melakukan penelisikannya. Dua periode itu adalah (a) masa prasejarah, dan (b) masa sejarah. Kedua periode itu lalu melahirkan dua fokus ilmu arkeologi yang sedikit berbeda dalam melakukan analisis dan interpretasi terhadap datanya, yaitu arkeologi prasejarah dan arkeologi-sejarah.

Apabila arkeologi yang meneliti periode prasejarah menyandarkan sepenuhnya pada data yang berupa artefak, maka arkeologi-sejarah selain mempelajari peninggalan masa lalu yang berupa artefak juga harus dilengkapi dengan dukungan data dari sumber-sumber tertulis. Maka dalam melakukan analisis dan penarikan kesimpulannya pun ditopang oleh data dari sumber-sumber tertulis. Arkeologi-sejarah bukan kajian sejarah itu sendiri, karena tetap dalam tlatah arkeologi yang membahas benda-benda peninggalan masa lalu yang dihasilkan oleh masyarakat yang telah mengenal tulisan.

II

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kajian sumber tertulis yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah arkeologi sejarah sebenarnya meliputi bermacam data yang bersifat tulisan, misalnya prasasti, karya-karya sastra (termasuk juga yang susastra), dokumen, laporan perjalanan, arsip dan lain sebagainya. Namun yang akan menjadi pembicaraan selanjutnya adalah sumber tertulis yang berupa karya-karya sastra, khususnya yang menggunakan bahasa Jawa Kuna dalam membantu mengungkap permasalahan arkeologi Hindu-Buddha di Indonesia.

Salah satu hal yang dapat diungkapkan lewat data karya sastra Jawa Kuna adalah perihal candi-candi pendharmaan para raja yang pernah berkuasa dalam masa Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14—15 M). Walaupun beberapa bangunan yang disebutkan dalam karya sastra telah berhasil diidentifikasikan dengan suatu candi yang masih ada sekarang, namun banyak nama bangunan suci lainnya yang masih belum dapat diketahui keberadaannya.

Candi pendharmaan adalah suatu istilah dalam arkeologi Hindu-Buddha Indonesia untuk menyebutkan suatu bangunan suci –umumnya candi– yang didirikan untuk memuliakan seorang tokoh yang telah meninggal. Kata dharma berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya cukup luas, seperti hukum, aturan hidup dan tingkah laku yang ditentukan oleh agama dan adat, keadilan, kabajikan, ajaran agama, kebenaran, kewajiban, kesucian, dan lain-lain. Salah satu pengertian kata dharma dalam bahasa Jawa kuna adalah lembaga keagamaan, candi, biara, pertapaan, dan bangunan suci lainnya (Zoetmulder 1995, I: 197—8).

Dalam beberapa karya sastra Jawa Kuna seperti Wirataparwa, Nagarakrtagama dan Siwaratrikalpa begitupun dalam karya sastra lainnya seperti Pararaton dan Kidung Harsyawijaya banyak disebutkan kata dharma atau dhinarma yang artinya membangun candi untuk tokoh tertentu. Dengan demikian kata pendharmaan adalah bentukan kata dalam Bahasa Indonesia dengan awalan pe dan akhiran an dengan kata dasar kata Jawa Kuna dharma, maka artinya dapat menunjukkan lokasi atau tempat suatu bangunan suci tertentu atau bangunan suci itu sendiri. Selanjutnya yang akan ditinjau dalam bahasan ini adalah beberapa nama pendharmaan di wilayah Jawa bagian timur yang berhasil disesuaikan dengan berita dalam karya sastra, serta akan diungkap pula beberapa pendharmaan bagi tokoh-tokoh penting yang masih belum dapat diketahui keberadaannya hingga sekarang.

III

Pada masa Klasik Muda, terutama dalam periode kerajaan Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14—15 M), terdapat suatu tradisi yang mungkin belum dikenal dalam era yang lebih tua, yaitu mendirikan candi pendharmaan bagi tokoh yang telah meninggal. Raja-raja Mataram Kuna (abad ke-8—10 M), hingga raja-raja dua kerajaan Janggala dan Panjalu/Kadiri (abad ke-12 M) di Jawa Timur –menurut sumber-sumber tertulis– tidak disebut-sebut didharmakan di suatu candi atau lokasi tertentu. Demikian pula belum dijumpai bukti-bukti arkeologi atau bangunan suci yang dapat dihubungkan dengan pemujaan terhadap raja-raja masa Klasik Tua.

Lain halnya dengan raja-raja zaman Singhasari dan Majapahit, menurut karya sastra terutama kakawin Nagarakrtagama dan Pararaton, setelah kematiannya raja-raja itu didharmakan di suatu tempat. Lokasi itu tentunya berupa bangunan suci, ada yang bernafaskan agama Buddha Mahayana, Hindu-Saiva, atau bernafaskan pemujaan terhadap Siva-Buddha. Pengetahuan tentang bangunan candi tertentu sebagai pendharmaan bagi seorang tokoh adalah berkat informasi tertulis dari karya sastra. Apabila tidak ada informasi tersebut, arkeologi tidak dapat mengungkap lebih lanjut latar sejarah sekitar bangunan suci tertentu. Walaupun demikian tidak seluruh bangunan suci dari masa Singhasari dan Majapahit yang tersisa sampai sekarang dapat ditelisik lewat informasi dari karya sastra, masih banyak candi yang hanya dapat dipelajari dari dimensi arkeologi saja, dari sudut pandang, bentuk, ruang (tata letak), dan kronologi, itupun kebanyakan kronologi relatif. Oleh karena itu data dari karya sastra memegang peran penting bagi pemahaman yang lebih luas dalam mengkaji data arkeologi, dalam hal ini candi pendharmaan.

Nagarakrtagama pupuh 40: 5 menyatakan bahwa setelah wafatnya Sri Ranggah Rajasa (Ken Angrok) pendiri kerajaan Singhasari, ia didharmakan di dua tempat,

“ ri sakasyabdi rudra krama kalahaniran mantuk ing swarggaloka,
kyating rat/ sang dinarmma dwaya ri kagnangan/ssewaboddeng usana”

(“Pada tahun Saka 1149 (1227 M), dia berpulang ke sorgaloka,
meninggalkan dunia. [Dia] didarmmakan di dua [tempat], di Kagnangan [sebagai] Siwa [dan sebagai] Buddha di Usana” ).

Demikianlah berita tentang tempat pendharmaan tokoh Ken Angrok pendiri dinasti Rajasa yang keturunannya kelak memerintah di kerajaan Singhasari dan Majapahit. Mengenai pendharmaan tokoh yang sama disebutkan juga dalam kitab Pararaton sebagai berikut: “ri linanira sang amurwabhumi I saka 1169. sira dhinarmeng kagenengan” (Par.15: 25). (“Sang Amurwabhumi [Ken Angrok] mangkat pada tahun 1169 Saka/1247 M. Dia didharmakan di Kagenengan”). Pararaton hanya menyebutkan satu lokasi pendharmaan untuk Ken Angrok, yaitu di Kagenengan, lagi pula tahun meninggalnya disebut 1247 M, berbeda dengan tahun yang dicatat oleh Nagarakrtagama, 1227 M. Dalam hal ini berita dari Nagarakrtagama lebih patut untuk dipercaya, sebab kakawin itu selesai digubah oleh Mpu Prapanca dalam tahun 1365 M, jadi tidak terlalu jauh dengan masa Ken Angrok. Adapun Pararaton baru selesai ditulis tahun 1535 Saka/1613 M (Hardjowardojo 1965: 59), dengan demikian ingatan penulis Pararaton terhadap peristiwa sejarah yang telah terjadi jauh sebelumnya menjadi samar-samar, maka maklum saja jika terjadi kekeliruan.

Mengenai Kagnangan/Kagenengan sebagai pendharmaan Ken Angrok sebagai Siwa atau pun pendharmaan di Usana sebagai Buddha hingga sekarang ini belum dapat diketahui keberadaannya secara pasti. Di wilayah Blitar, terdapat bangunan candi bata yang dinamakan penduduk sekarang dengan Candi Kali Cilik. Berdasarkan temuanj arca Agastya dapat diketahui bawa candi itu bernafaskan agama Hindu-Saiwa. Di bagian depan batu ambang yang terletak di atas pintu masuk terpahat angka tahun 1271 Saka/1349 M, jadi bangunan itu berasal dari masa Majapahit. Dahulu sekitar awal abad ke-19 bangunan kuna itu disebut dengan Candi Genengan, mungkin merupakan nama asli bangunan itu (Pangkoesmijoto 1970: 210).

Hal yang menarik selanjutnya adalah mungkin saja Kagenengan tempat pendharmaan Ken Angrok itu adalah candi Kali Cilik sekarang, sedangkan angka tahun yang menunjuk masa Majapahit tersebut, bisa saja angka tahun peringatan terhadap perbaikan atau pemugaran dari bangunan yang telah ada sebelumnya dari masa Singhasari. Tentu saja asumsi tersebut harus dibuktikan lebih lanjut lewat berbagai data lainnya yang lebih valid.

Dalam kakawin Nagarakrtagama juga disebutkan adanya pendharmaan beberapa raja Singhasari setelah masa pemerintahan Ken Angrok, yaitu:

“Sakabdi tilakadri sambhu kalahan/bhatara mulih ing girindrabhawana, sireki winangun/pradipa simbha sobhita rikang sudarmma ri kidal” (Nag.41:1)

(Pada tahun Saka 1170/1248 M, Bhatara [raja Anusanatha/Anusapati] berpulang ke alam Girindra/Siwa. Untuk beliau dibuatlah arca yang luar biasa indah bercahaya di sana, di bangunan suci yang indah di Kidal).

Bangunan suci yang dimaksudkan oleh Nagarakrtagama sebagai pendharmaan raja Anusapati sampai sekarang masih berdiri, yaitu Candi Kidal di Malang. Di bilik candi itu dahulu terdapat arca Siwa Mahadewa yang tingginya 1, 23 m. sangat mungkin merupakan arca perwujudan Anusapati yang sesuai dengan ista-dewatanya, yaitu sebagai Siwa Mahadewa. Sekarang arca Siwa dari Candi Kidal disimpan di Royal Tropical Institute, Amsterdam (Bernet Kempers 1959; 73—74, plate 216—17).

Begitupun dalam pupuh 41: 4 kakawin Nagarakrtagama disebutkan bahwa raja Wisnuwardhana dari Singhasari mangkat dalam tahun 1190 Saka/.1268 M. Ia kemudian didharmakan dengan wujud arca Siwa di Waleri dan dalam bentuk arca Sugata (Buddha) di Jajaghu (“sakabda kanawawaniksithi bhatara wisnu mulih ing Suralaya pjah, dinarmma ta sire weleri siwawimbha len/sugatawimbha munggwing jajaghu”).

Pendharmaan di Weleri sampai saat ini belum dapat diketahui lokasinya, tetapi pendharmaan sebagai Buddha Amoghapasa di Jajaghu masih dapat diidentifikasikan, yaitu Candi Jago di daerah Tumpang, Malang. Di candi itu didapatkan arca Dhyani Bhoddhisattva Amoghapasa dengan 4 pengiringnya (Bhrkuti, Hayagriva, Sudhanakumara, dan Syamatara) yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta (Bernet Kempers 1959: 85).

Dalam pemerian Pararaton disebutkan pula tentang kematian dan bangunan suci yang didedikasikan bagi raja Anusapati, sebagai berikut,

“…Tuhu yan sedeng antakanira, kemper pijer angadoken sawungira, sinuduk denirapanji Tohjaya. Lina sang Anusapati I saka 1171. Dhinarma sira ring Kidal” (Par.16:10) (“Kemudian mereka memperhatikan pertarungan ayam itu, [Anusapati] selalu memperhatikan ayam aduannya, ditusuklah ia oleh Panji Tohjaya [dengan keris]. Mangkatlah sang Anusapati pada tahun saka 1171. [Ia] didharmakan di Kidal “.

Perihal pendharmaan raja Wisnuwarddhana beserta saudaranya yaitu Mahisa Campaka, Pararaton menyatakan: “Panjenengira sri Ranggawuni ratu tahun 14, moktanira 1194 dhinarma sira ring Jajagu. Sira Mahisa campaka mokta, dhinarma ring kumeper pamelesatanira ring Wudi kuncir (Par.18:10). (Sri Ranggawuni (Wisnuwarddhana) menjadi raja selama 14 tahun, meninggal tahun 1194 saka dan didharmakan di Jajagu. [Setelah] Mahisa Campaka meninggal , ia didharmakan di Kumeper, ia dimuliakan juga di Wudi Kuncir.

Mengenai keagungan suatu bangunan pendharmaan dalam masa Majapahit diuraikan pula dalam Nagarakrtagama. Tempat pendharmaan itu dibangun untuk memuliakan tokoh Rajapatni, nenek Hayam Wuruk. Uraiannya sebagai berikut:

1. prajnaparimitapuri ywa panlahnin rat/ ri sanghyang sudarmma,
prajnaparamitakriyenulahaken/sri jnanawidyapratista
sotan/pandita wrdda tantragata labdawesa sarwwagamajna,
saksat/ hyang mpu bharada mawak I sirande trpti ki twas narendra

2. mwang taiki ri bhayalango ngganira sang sri rajapatning dinarmma, rahyang jnanawidinutus/muwah amuja bhumi sudda pratista etunyan mangaran/wisesapura kharambhanya pinrih ginong twas mantryagong winkas/wruherika dmung bhoja nwam utsaha wijna

3. lumra sthananiran pinuja winangun/ caityadi ring sarwwadesa,
yawat/waisapuri pakuwwana kabhaktyan/sri maharajapatni,
angken bhadra siran pinujaning amatya brahma sakwehnya bhakti,
mukti swargganiran/ mapotraka wisesang yawabhumyekhanatha
(Nag.69: 1—3)

Terjemahannya:

1. ”Bangunan suci Prajnaparamita merupakan permata dunia, adalah suatu kesempurnaan darmma yang keramat,
Upacara bagi pentahbisan arca Prajnaparamita diselenggarakan [oleh pendeta] agung Jnanawidya,
Merupakan pendeta sepuh [aliran] Tantragata yang telah menerima ilham dan memahami berbagai ilmu agama,
Sungguh bagaikan Mpu Barada yang menjelma pada dirinya, membawa kebahagiaan bagi Narendra [raja Hayam Wuruk].

2. Kemudian lagi sekarang di Bhayalango tempat bagi Sri Rajapatni didarmakan (dimuliakan),
Tokoh suci Jnanawidhi dititahkan untuk [mengadakan upacara] pengkudusan lahan [dan] perngkeramatan arca,
Sebab itulah diseru [dengan] nama Wisesapura, dipelihara secara baik sehingga menjadi tempat mulia,
Banyak mentri [pejabat tinggi] bersegera mengunjunginya, [termasuk] Demung, Bhoja, remaja, dan kaum cendikia.

3. Tempat [itu] sangat terkenal sebagai pemujaan, dibangun pula caitya [sumbangan] dari berbagai daerah,
[Di sekitarnya] banyak perumahan kaum Waisya, [mereka juga melakukan] kebaktian bagi Sri Rajapatni,
Tiap bulan Bhadra (Agustus-September), dia [Rajapatni] dipuja oleh para pengiring raja dengan mantra suci, mengadakan sembah bakti,
Pembebasan [untuk] masuk surga baginya, [dan] dia [Rajapatni] beranak cucu raja-raja terkenal di tanah Jawa.

Bangunan yang disebut Prajnaparamitapuri pendharmaan untuk Rajapatni, sekarang masih bertahan walaupun sudah tidak utuh lagi. Pendharmaan itu tidak lain dari candi Bayalango yang sekarang terletak di wilayah Tulungagung selatan. Candi Bayalango terbuat dari bata berbentuk teras bertingkat dua, di permukaan teras teratas terdapat arca dewi yang merupakan personifikasi kitab ajaran keBuddhaan Prajnaparamita, hanya saja kepala arca itu telah terpenggal. Pada batu umpaknya terpahat angka-angka yang menunjuk tahun 1291 S (1369 M (Suleiman 1981: 45). Menilik angka tahun yang dipahatkan pada pada abu umpaknya, maka pembangunan candi Bayalango sesuai dengan berita yang tercantum dalam Nagarakrtagama. Nagarakrtagama menyatakan bahwa candi Bayalango dibangun di suatu masa dalam era pemerintahan Rajasanagara (1350—1389 M). Mungkin pembangunan itu terjadi sebelum diselesaikannya penggubahan Nagarakrtagama oleh Mpu Prapanca, tahun 1365 M.

Berdasarkan data dari karya sastra Nagarakrtagama itu pemahaman para arkeolog tentang bangunan pendharmaan untuk memuliakan tokoh yang telah mangkat menjadi lebih luas lagi. Dalam pada itu kitab Pararaton menyebut sejumlah raja yang mangkat dan kemudian didharmakan di suatu tempat. Pendharmaan itu cukup banyak, dan tidak seluruhnya dapat diidentifikasikan hingga sekarang.

Nama raja beserta pendharmaannya menurut Pararaton antara lain sebagai berikut:

(1) Raden Wijaya/Krtarajasa Jayawarddhana di Antahpura, (2) Jayanagara di Kapopongan nama resmi bangunannya adalah Srnggapura, (3) Stri Bhra Gundal kerabat Hayam Wuruk didharmakan di Sajabung, nama pendharmaannya Bajrajinaparimitapura, (4) Bhre Daha di Adilangu, nama resmi pendharmaannya adalah Purwawisesa, Bhre Kahuripan (ibunda Hayam Wuruk) di Panggih, nama bangunannya Pantarapura, (5) Bhre Tumapel Krtawarddhana di derah Japan, pendharmaannya Sarwajnapura, (6) Bhre Parameswara Pamotan di Manyar, nama pendharmaannya Wisnubhawanapura, (7) Bhra Matahun di Tegawangi, bangunannya disebut Kusumapura, (8) Bhre Pajang di Embul, bangunannya dinamakan Girindrapura, (9) Bhre Paguhan di Lo Bencal, nama pendharmaannya Parwatigapura, (10) Bhre Hyang Wekasingsukma (Hayam Wuruk) di daerah Tanjung, pendharmaannya bernama Paramasukapura, (11) Bhre Lasem (adik perempuan Hayam Wuruk) di Pabangan, pendharmaannya disebut Laksmipura, dan (12) Bhre Wirabhumi di daerah Lung, nama bangunannya adalah Girisapura.

Masih banyak tokoh lainnya yang disebut-sebut dalam Pararaton beserta bangunan pendharmaannya di suatu tempat. Tempat-tempat itu sekarang tidak diketahui lagi, mungkin telah berubah nama sejalan dengan perubahan zaman. Oleh karena itu banyak candi yang masih relatif lengkap, setengah lengkap, atau tinggal runtuhannya saja yang tidak dapat diketahui lagi nama aslinya. Nama-nama candi yang dikenal pada masa sekarang kebanyakan berdasarkan pada nama desa tempat candi itu berada, atau nama sebutan yang diberikan oleh penduduk setempat secara arbitrer.

Kajian arkeologi Hindu-Buddha telah berhasil menelisik perihal gaya bangunan, gaya relief, ormanen bangunan, gaya arca, dan lain-lain dari masa Singhasari dan Majapahit. Penelitian tersebut sudah tentu berada dalam ranah arkeologi sejarah, maka tidak lengkap kiranya jika sumber-sumber tertulis sezaman –hasil kajian para filolog– tidak dipergunakan untuk melengkapi pemahaman tentang peninggalan arkeologi tersebut (Munandar 2004: 25).

Berkat hal itu kajian arkeologi Hindu-Buddha yang berkenaan dengan masa Singhasari-Majapahit telah berhasil mengetahui beberapa bangunan candi yang berhubungan dengan pemuliaan tokoh tertentu yang telah wafat. Bangunan candi itulah yang lazim dinamakan candi pendharmaan. Secara ringkas dapat dilihat dalam Tabel berikut:

Demikianlah hanya beberapa candi pendharmaan saja yang hingga sekarang berhasil dikenali kembali keberadaannya, dan tentu saja masih terdapat sejumlah nama bangunan lainnya yang tidak diketahuilagi lokasinya. Di beberapa daerah Jawa Timur sekarang ini terdapat pula bangunan candi yang mungkin saja dahulu merupakan pendharmaan-pendharmaan yang disebutkan baik dalam Nagarakrtagama dan atau Pararaton. Karena ketiadaan data pendukung yang dapat menghubungkan bangunan candi sekarang dengan penyebutan bangunan pendharmaan dalam Nagarakrtagama atau Pararaton, maka untuk sementara candi-candi tersebut dikaji secara fisik saja dan belum mampu dimasukkan dalam kerangka sejarah atau periode pemerintahan raja tertentu.

Candi-candi itu antara lain adalah: (1) Candi Singasari di Malang, berdasarkan prasasti yang dikeluarkan atas perintah Gajah Mada pada tahun (1273 S/1351 M). Dapat diketahui bahwa candi itu dibangun untuk memperingati mangkatnya raja Krtanagara yang telah memasuki alam Siwa-Buddha. Jadi kerangka sejarahnya dapat diketahui berkat uraian prasasti saja, tidak ada uraian dalam naskah. (2) Candi Ngrimbi di Jombang dihubungkan dengan tokoh Tribhuwanottunggadewi berkat kajian banding yang dilakukan terhadap arca utamanya, yaitu Parwati sakti Siwa. Berdasarkan ilmu tentang arca (ikonografi), arca Parwati di Candi Ngrimbi penggambarannya mirip dengan arca Hari-Hara perwujudan Krtarajasa Jayawardhana dari Simping. Oleh karena itu para ahli lalu menafsirkan bahwa arca Parwati itu mungkin menggambarkan seorang ratu pada masa awal Majapahit, ratu itu tidak lain adalah Tribhuwanottunggadewi, ibunda Hayam Wuruk. Dua candi itu masih dapat diinterpretasikan sebagai bangunan pendharmaan berkat adanya data pendukung lain, seperti uraian prasasti yang in-situ dan kajian ikonografis. Namun candi-candi berikut tidak dapat diketahui apakah sebagai pendharmaan atau bukan, candi-candi itu adalah:

01. Candi Sawentar (Lwa Wentar), Hindu, Blitar
02. Candi Bangkal, Hindu , Mojokerto
03. Candi Kali Cilik, Hindu, Blitar
04. Candi Ngetos, Hindu, Nganjuk
05. Candi Gunung Gangsir, Pasuruan
06. Candi Pari, Hindu (?), Sidoarjo

Candi-candi tersebut mungkin saja merupakan pendharmaan bagi seorang tokoh yang telah meninggal sebagaimana halnya candi-candi pendharmaan yang telah disebutkan terdahulu. Beberapa ciri candi pendharmaan yang dapat diamati adalah, (a) Ditilik dari ukurannya semua candi pendharmaan tidaklah terlalu besar, (b) ada yang dihias dengan relief cerita tetapi ada pula yang tanpa relief naratif, (c) mempunyai bilik/kamar karena dindingnya terbuat dari susunan bata atau batu, tetapi ada pula yang mungkin terbuka tanpa dinding dan hanya dinaungi atap saja, dan (d) di dalam atau di puncak teras candi pendharmaan terdapat arca perwujudan penggambaran tokoh yang telah meninggal sebagai dewata sesembahannya semasa ia masih hidup dahulu (ista-devata).

Berdasarkan beberapa ciri tersebut, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa keenam candi yang telah disebutkan itu termasuk pula ke dalam jenis candi pendharmaan. Tentu saja untuk memperkuat asumsi tersebut perlu argumentasi ilmiah dan data pendukung yang lebih banyak lagi, mungkin dapat dilakukan dalam penelitian di masa mendatang.

Selain candi-candi itu masih terdapat beragam kepurbakalaan yang fungsi dan banyak aspek keagamaan lainnya juga belum diketahui secara pasti, misalnya (1) Candi Kedaton, Hindu, Probolinggo, (2) Candi Brahu latar belakang agamanya belum diketahui, Trowulan, Mojokerto, (3) Candi Kotes, agama Hindu/Rsi (?), Blitar, (4) Candi Dadi, struktur bangunan yang bagian tengahnya berlubang di puncak bukit Wajak Kidul, (5) pemandian kuna Simbatan Wetan, Madiun, (6) pemandian kuna Watu Gede, Malang, (7) goa Selamangleng di Tulungagung, merupakan dua ceruk besar yang dibuat pada bukit batu, (8) goa Pasir, lebih kecil dari goa Selamangleng, juga di Tulungagung, dan (9) puluhan punden berundak di lereng barat Gunung Penanggungan (Pawitra).

Mengenai Candi Panataran atau Rabut Palah sangat mungkin bukan merupakan candi pendharmaan, karena merupakan kompleks yang relatif luas. Rabut Palah adalah candi kerajaan yang telah disucikan sejak zaman Kadiri hingga periode akhir Majapahit, jadi masa berfungsinya percandian itu membentang sejak temuan prasasti tahun 1197 (zaman Kadiri) hingga tahun 1454 M, prasasti dari zaman kemunduran Majapahit (Bernet Kempers 1959: 90). Selain disebutkan sebagai salah satu tujuan perjalanan Hayam Wuruk pada tahun 1283 S/1361 M, sebagaimana terurai dalam Nagarakrtagama (Nag. 61: 2), Rabut Palah hingga awal abad ke-16 masih ramai dikunjungi oleh para penziarah, demikian laporan Bujangga Manik seorang brahmana dari Sunda.

Naskah Sunda kuna yang disusun oleh Bujangga Manik menceritakan pula tentang Rabut Palah (Noorduyn 1982). Bujangga Manik melakukan perjalanan keliling pulau Jawa di awal Abad ke-16. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi beberapa tempat suci Hindu-Buddha baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun Jawa bagian timur. Bujangga Manik juga sempat singgah di Rabut Palah dan tinggal di kompleks bangunan suci itu sekitar satu tahun. Ia tidak hanya melakukan pemujaan di tempat itu melainkan juga meningkatkan pengetahuannya dalam bidang kesusastraan dan memperdalam bahasa Jawa (Noorduyn 1982: 431). Sebelum mengunjungi Rabut Palah Bujangga Manik terlebih dahulu mendatangi Rabut Pasajen yang merupakan bangunan suci yang lebih “dituakan” dari Rabut Palah. Lokasi bangunan Rabut Pasajen itu letaknya mungkin di lereng yang lebih tinggi dari lokasi Rabut Palah pada lereng Gunung Kelud. Mengenai Candi Panataran atau Rabut Palah yang disaksikannya pada waktu itu, ia mencatat:

…Rabut Palah
kabuyutan Majapahit,
nu disembah ku na Jawa,

Datang nu puja ngancana,
Nu nyembah hanteu pegatna,
Nu ngideran ti nagara
(Noorduyn 1982: 430)

Terjemahannya lebih kurang sebagai berikut:

… Rabut Palah
bangunan suci Majapahit
yang menjadi tumpuan pemujaan orang Jawa

[Pengunjung] yang datang melakukan pemujaan sangat banyak
Yang menyembah tak terputus-putus
Yang mengelilingi [bangunan suci itu] dari berbagai daerah

Berdasarkan uraian ringkas dari Bujangga Manik, dapat ditafsirkan bahwa pada zaman itu para penziarah dari berbagai daerah yang datang ke Rabut Palah masih sangat banyak. Para penziarah itu agaknya melakukan ritus berjalan mengelilingi candi induknya, sebagaimana yang lazim dikenal dalam upacara pemujaan dewata Hindu/Buddha. Mereka dapat saja berkeliling dengan gerak searah jarum jam (pradaksina) atau berlawanan dengan gerak jarum jam (prasawya), Bujangga Manik tidak menjelaskannya secara rinci.

Demikianlah pemahaman tentang aktivitas keagamaan pada masa Candi Panataran dapat lebih banyak diketahui lewat berbagai sumber tertulis yang berupa karya sastra Jawa Kuna atau Sunda Kuna. Bahkan naskah Bali Kuna, yaitu Dwijendra Tattwa juga menjelaskan bahwa sebelum Danghyang Nirartha bermukim di Pulau Bali, ia juga sempat belajar di pada Danghyang Panataran yang menjadi pendeta agung di kompleks Candi Panataran. Uraian-uraian dari karya sastra sudah tentu berperanan dalam melakukan tafsiran dalam kajian arkeologi. Semula para arkeolog hanya mengetahui bahwa Candi Panataran adalah kompleks bangunan suci bagi pemujaan kepada dewa saja, namun berkat tuturan sumber tertulis dapat pula diketahui bahwa di lingkungan candi itu terdapat pula aktivitas pendidikan keagamaan dan bahasa bagi mereka yang mau belajar.

IV

Dalam kakawin Siwaratrikalpa (Teeuw dkk. 1969) disebutkan bahwa ketika pemburu Lubdhaka mengadakan perjalanan di hutan di daerah pegunungan ia melalui suatu bangunan suci yang telah lama terbengkalai. Siwaratrikalpa menyatakan:

1. dharmagong ring usana konjuk asamipa walahar asamun tikung hawan
runtuh sirna tikang supit makara tan kahuninga lalayanya meh rebah
kadyangembih ikang cawinten asaput mukha winilet I panjrah ing lata
lwir sokanglih atirikang wiwarapala magulingan akundah ing lemah

2. bwat-dhanten ri natarnya sirna makihu wangunan ika gigal waneh awuk
rigrig runtuh atepnya tan patulungan saka nika tumayun maringggungan angras twas pakatonan ing wukiran adyah angadeg- adeg angdelo tawang himper majaraken laranya winiwarja taya linawad ing mahas mango

3. prasadaruhur angjelag puca-pucaknya pinakapamarantyan ing suket
parswanyeki huwus sayat katuwuhan prih atisaya rumrmbay anwangi
sakweh ning pariwarta sampun anana tekap i pawilet ing latasalit
nghing sang hyang ri dalem subaddha mapageh mangadeg i tengah ing
pranalaka

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

1. Suatu kelompok percandian besar dari masa silam berdiri dekat sungai [di]
gunung, jalan setapaknya [yang menuju ke candi itu] terasa senyap,
Lengkung belalai makaranya telah runtuh dan berkeping-keping
Dan karena telah lama tidak dipelihara dinding temboknya hampir-hampir runtuh.
Terlihat bagaikan meratap kepala Kalanya, wajahnya tertutupi oleh tumbuh-tumbuhan liar yang menjalar
Dan seperti sedih serta kelelahan arca [raksasa] penjaga candi, tergolek dan terguling di permukaan tanah pelataran.

2. Bangunan-bangunan di halaman [percandian] telah runtuh, banyak bangunan yang hanya tersisa kepingan-kepingannya saja sekarang, sementara itu yang lainnya telah mulai lapuk.
Atapnya telah rusak dan berjatuhan, dan karena tak ada perbaikan tiang-tiangnya telah miring, berayun keluar dan dan kedalam.
Pecah bagian tengah rangkaian reliefnya yang sangat indah: [adegan] para perawan sedang berdiri menatap luasnya langit.
Bagaikan menyatakan kedukaan yang mendalam karena diabaikan dan tidak lagi dikunjungi oleh para pujangga pengembara.

3. Atap prasada yang menjulang tinggi hingga ke kemuncaknya menjadi tempat merambatnya rumputan.
Bagian sisinya telah lekang, ditumbuhi oleh pohonan yang berbiji kecil, teduh dan berkembang dengan subur.
Semua tokoh-tokoh [dewa] pendamping retak-retak, dibelit oleh tanaman menjalar.
Dan hanya dewa utama yang tetap tak bergeming di tempatnya, berdiri teguh di pusat pranala [yang menjadi alasnya] (Teeuw dkk 1969: 72—73)

Demikianlah dari karya sastra dapat diperoleh informasi lainnya tentang bangunan suci. Agaknya cukup banyak candi dan bangunan suci lainnya yang telah ditinggalkan oleh para pendukungnya ketika agama Hindu-Buddha masih berkembang di tengah masyarakat. Uraian dalam Siwaratrikalpa tersebut sangat mungkin didasarkan pada kenyataan sebenarnya pada waktu itu, pada saat Mpu Tanakung menggubah kakawinnya (abad ke-15 M).

Hal yang dapat ditafsirkan adalah rusaknya bangunan suci Hindu-Buddha tidak terjadi dalam masa-masa sesudah kedua agama itu mulai surut perannya dalam masyarakat Jawa, melainkan justru telah terjadi pula dalam masa yang telah lama, di era kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha masih berdiri. Mpu Prapanca sendiri dalam Nagarakrtagamanya telah mengeluh tentang tidak diperhatikannya percandian Kasogatan (Buddha). Candi Buddha telah itu tidak utuh lagi, halamannya dipenuhi rumput liar, pintu gapuranya telah runtuh, yang tersisa hanya bagian intinya yang terbuat dari bata merah (Nag. 37: 3—5). Prapanca seakan-akan menyindir Rajasanagara untuk memperhatikan pula nasib candi-candi Buddha di Majapahit, karena candi-candi Hindu atau Siwa-Buddha yang diuraikan sebelumnya masih terpelihara dengan baik. Hanya raja yang dapat memperbaiki hal itu karena ia pelindung bagi segala kehidupan (Nag.37: 6).

Bagi kajian arkeologi Hindu-Buddha karya sastra Jawa Kuna jelas memegang peranan penting sebagai sumber yang cukup berharga untuk memperluas pemahaman dan mempertajam tafsiran terhadap data arkeologi yang ada. Karya sastra itu tidak semata-mata merupakan bukti tertulis tentang adanya ajaran keagamaan Hindu-Buddha yang melatarbelakangi dibuatnya artefak-artefak yang berhubungan dengan kedua agama itu, melainkan dapat dimanfaatkan lebih jauh lagi. Apabila para arkeolog berupaya untuk memperdalam lagi kajiannya terhadap peninggalan masa Hindu-Buddha, maka pemanfaatan data dari karya-karya sastra Jawa Kuna mutlak harus dilakukan.

Dalam hal nilai pentingnya data dari karya sastra Jawa Kuna bagi penelitian arkeologi Hindu-Buddha terutama yang berkenaan dengan candi-candi adalah:

1.
Arkeologi dapat melakukan menelusuran lebih lanjut terhadap lokasi dan candi-candi beserta nama resminya sebagaimana yang disebutkan dalam karya sastra. Mungkin sekali candi-candi itu masih ada dan dikenal dengan nama yang lain oleh masyarakat sekarang, atau juga candi itu sudah lenyap, paling memungkinkan hanya tinggal reruntuhannya saja.

2.
Melalui kajian yang mendalam dan meluas terhadap karya-karya sastra, aspek sosial-kemasyarakatan yang berhubungan dengan suatu candi mungkin dapat diungkapkan lebih lanjut. Antara lain mengenai aktivitas para pendukungnya, sistem ritus, hari-hari penting, pejabat yang mengawasinya, dan kehidupan para brahmana yang melayani umat di suatu candi.

3.
Karya-karya sastra sangat membantu untuk mengungkapkan relief-relief cerita yang dipahatkan di suatu candi. Pada umumnya karya sastra Jawa Kuna menguraikan ajaran agama yang dibingkai dalam suatu kisah. Kisah keagamaan itulah yang kemudian dipilih oleh para seniman pembangun candi untuk dipahatkan sebagai relief cerita penghias candi. Mengenai hal ini telah ada kajian khusus yang pernah dilakukan (Munandar 2004: 54—61).

Mengenai candi pendharmaan memang baru sedikit yang dapat disesuaikan dengan lokasi dan keberadaannya dengan candi-candi yang masih ada sekarang. Oleh karena itu kajian yang berkenaan dengan candi pendharmaan masih terbuka, mengingat cukup banyaknya candi pendharmaan yang disebut-sebut dalam Nagarakrtagama dan Pararaton, serta karya sastra sezaman lainnya.

Dewasa ini masih banyak pula bangunan candi baik yang berdiri tetapi rumpang, candi yang sudah runtuh, atau hanya tersisa pondasinya saja yang belum dipelajari secara lengkap, mungkin ada di antara candi-candi atau sisa candi itu adalah suatu pendharmaan. Hal yang perlu diperhatikan pula tidak semua candi dari masa Singhasari-Majapahit merupakan candi pendharmaan, sebab terdapat bukti-bukti bahwa ada pula bangunan candi yang memang hanya diperuntukkan bagi pemujaan kepada dewata langsung, jadi candi merupakan kuil untuk memuja dewa, bukannya pendharmaan yang dibangun untuk memuja tokoh yang telah diperdewa (Santiko 1999: 18). Di masa mendatang tidak tertutup kemungkinan akan ada penemuan candi yang sekarang masih terpendam tanah endapan vulkanik mengingat banyaknya gunung berapi yang meletus di masa silam di wilayah Jawa Timur. Temuan baru niscaya berdampak bagi perkembangan ilmu, yaitu dapat membantu memecahkan permasalahan yang ada atau menambah permasalahan baru. Bagaimanapun temuan baru tersebut sebenarnya akan memperkaya data arkeologi Hindu-Buddha yang harus dipecahkan dengan bantuan data pendukung dari sumber-sumber tertulis, antara lain karya sastra Jawa Kuna.

————————-

* Tulisan ini disampaikan pada Seminar “Naskah Kuno Nusantara sebagai Warisan Bernilai Luhur” (Memperingati Seperempat Abad Perpustakaan Nasional RI, 1980—2005). Jakarta, 11-12 Mei 2005
** Dr. Agus Aris Munandar adalah Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Departemen Arkeologi.


PUSTAKA ACUAN

BERNET KEMPERS, A.J., 1959, Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.van Der Peet.

BRANDES, J.L.A.,1920, Pararaton (Ken Arok) of Het Boek Der Koningen van Tumapel en van Majapahit Uitgegeven en Toegelicht. Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen Deel LXII. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, Batavia: Albrecht & Co.

HARDJOWARDOJO, R.PITONO, 1965, Pararaton, Djakarta:Bhratara.

MUNANDAR, AGUS ARIS, 2004, “Karya Sastra Jawa Kuno yang Diabadikan pada Relief Candi-candi Abad ke-13—15 M”, dalam Makara Seri Sosial Humaniora. Volume 8, Agustus, No 2. Universitas Indonesia. Halaman 54—61.

—————– 2004, “Kajian Arkeologi dan Filologi di Indonesia: Kesejajaran dan Keterkaitan”, dalam Sang Tohaan: Persembahan untuk Prof. Dr.Ayatrohaedi, Beberapa Kajian Pernaskahan dari Perspektif Arkeologi. Bogor: Akademia, Hlm.13—33.

NOORDUYN, J. 1982, “Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical Data from an old Sundanese Source”, dalam BKI. Deel 138, ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Halaman 413—42.

PANGKOESMIJOTO, R., 1970, Nusantarakala. Bogor.

PIGEAUD,THEODORE G.TH., 1960—1962, Java in The 14th Century: A Study in Cultural History. The Nagara-Kertagama By Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. Volume I—V. The Hague: Martinus Nijhoff.

SANTIKO, HARIANI, 1999, “Candi Masa Majapahit: Struktur Bangunan dan Fungsi”, dalam Rahayu Hidayat (Penyunting), Cerlang Budaya: Gelar Karya Untuk Edi Sedyawati. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Hlm.7—20.

SULEIMAN, SATYAWATI, 1981, Monumen-monumen Indonesia Purba. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

TEEUW, A. Dkk., 1969, Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung: An Old Javanese poem, its Indian source and Balinese illustrations. The Hague: Martinus Nijhoff.

WORSLEY, P.J., 1991, “Mpu Tantular’s kakawin Arjunawijaya and conceptions of kingship in fourteenth century Java”, dalam J.J.Ras & S.O.Robson (Penyunting), Variation, Transformation and Meaning: Studies on Indonesian Literatures in Honour of A.Teeuw. Leiden: KITLV Press, Hlm. 163—190.

ZOETMULDER, P.J., 1996, Kamus Jawa Kuna – Indonesia 1&2. Bekerja sama dengan S.O.Robson, penerjemah Darusuprapto, Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(fib.ui.ac.id)

About these ads

Responses

  1. menarik sekali berbagai catatan dan ulasan yg dihimpun di majalah arkheologi ini. smoga memberi manfaat kepada siapapun yg membaca.

    mengenai candi yng tidak teridentifikasi karena tidak terawat, faktor bencana alam, saya juga pernah membaca sedikit saya sebuah catatan, bahwa bbrpa candi memang sengaja dihancurkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Dalam sebuah literatur lokal di lasem, Carita Sejarah Lasem, yg dapat dikategorikan literatur sejarah minor karena tidak ditulis dari salah seorang pujangga kerajaan/keraton menyebutkan, bahwasanya terdapat beberapa candi di lasem termasuk juga candi samodrawela untuk memuja dewa baruna dan juga candi malad untuk perabuan Rajasaduhita Indudewi atau Dewi Indu yang dikenal sebagai Bhre Lasem I, selain itu terdapat juga beberapa candi lain yang tersebar di wilayah barisan perbukitan di Lasem. tetapi, setelah meletusnya perang pecinan 1740 an, Adipati Lasem Suroadimenggolo yg diangkat oleh Pemerintah Kolonil Belanda membuat kebijkan untuk merobohakan semua candi yang ada di Lasem. batu-batuan candi sebagian dibuang dilautan dan ada juga yang kemudian dijadikan batu-batu pengeras jalan untuk proyek pembuatan jalan sepanjang Anyer-Panarukan.

    mengenai kebenaran catatan ini, dan situs-situs bekas reruntuhan candi saya rasa para arkheolog yang lebih dapat menjawab mengenai kebenaran catatan ini. apakah memang pernah diteliti di tempat-tempat bekas candi tersebut atau belum. tetapi saya mempunyai harapan yg besar terhadap apa yg telah dikerjakan para peneliti dan arkheolog indonesia dalam mengungkapkan masalampau peradaban bangsa yg masih memiliki sisi-sisi gelap.
    sukses selalu bapak agus aris munandar dan bapak-bapak sekalian:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.657 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: