Oleh: hurahura | 23 Maret 2010

Berwisata Sambil Menjelajah

(Tulisan Nostalgia)

Salah satu titik perhatian dalam studi arkeologi adalah pengamatan peninggalan-peninggalan masa lampau. Peninggalan-peninggalan itu tersebar luas hampir di seluruh Indonesia dan terbagi dalam berbagai masa. Lokasi penyebarannya pun berbeda-beda, ada yang di atas bukit, pegunungan, tempat terpencil, dsb.

Di daerah kabupaten Sukabumi atau tepatnya di Pangguyangan, Tugugede, Ciarca, dan Salak Datar terdapat beberapa peninggalan purbakala dari masa prasejarah dan berupa tradisi megalitik (batu-batu besar). Lokasinya di sekitar bukit, tetapi masih dijumpai rumah pendduk.

Tradisi Megalitik

Di Indonesia tradisi megalitik dibagi dalam dua kelompok, yaitu megalitik tua dan megalitik muda. Tetapi dalam perkembangannya kedua pengelompokan tersebut saling tumpang tindih dan membentuk variasi-variasi lokal.

Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama di Sumatera dan Jawa. Tradisi pembangunan megalitik itu didasarkan atas kepercayaan masyarakat akan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati. Mereka percaya, bahwa orang yang telah mati mempunyai kekuatan yang dapat membawa kesejahteraan dan kesuburan bagi tanaman. Biasanya yang dianggap mempunyai kekuatan adalah pemimpin kelompok atau kepala suku. Atas jasa-jasanya didirikan bangunan-bangunan batu besar sebagai perwujudan atau lambang dari kepala suku tersebut.

Bentuk bangunan tradisi megalitik terus berkembang, hingga membentuk pola yang kompleks sifatnya. Bahkan beberapa bentuk bangunannya masih terlihat ketika agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia. Contoh yang jelas adalah Candi Borobudur dan Candi Sukuh.

Sebagai Objek Wisata

Peninggalan-peninggalan purbakala ini apabila dikembangkan lebih lanjut tidak mustahil akan menjadi objek wisata yang potensial, mengingat wisata jenis ini jarang diadakan.

Adapun peninggalan-peninggalan purbakala yang terdapat di Pangguyangan adalah berupa punden berundak yang berdenah segiempat. Tempat ini oleh penduduk setempat dinamakan “Gentar Bumi” dan sampai kini masih dikeramatkan. Di kompleks Tugugede akan dijumpai lumpang batu, batu dakon, altar batu, jambangan batu, menhir, dsb.

Di Ciarca akan dijumpai arca batu tipe Polinesia, menhir, dan jambangan batu. Di Salak Datar akan dijumpai batu dakon, menhir, dan batu-batu besar serta batu tegak yang diduga merupakan sisa-sisa bangunan. Dan di antara Ciarca – Salak Datar terdapat sebuah daerah yang terkenal dengan nama Cipanas, karena terdapat cairan belerang panas yang mengalir ke sungai yang berada di sisi sumber-sumber cairan belerang tersebut.

Untuk mencapai ke daerah-daerah ini memang tidak mudah dan tidak cukup hanya memakan waktu satu hari. Jalan yang dilalui hanyalah jalan setapak, berkelok-kelok, cukup terjal, turun naik. Fisik yang kuat amat sekali dituntut, mengingat jarak dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain cukup berjauhan. Tetapi keadaan yang melelahkan ini dapat sedikit diimbangi oleh pemandangan alam yang mengasyikkan di sisi jalan yang dilalui ditambah keramahan serta keakraban penduduk desa.

Mengenai penginapan dan makanan, Anda tidak usah khawatir. Selain Anda bisa membawa bekal dan tenda sendiri, para penduduk pun bersedia menampung Anda.

Yunus Arbi dan Djulianto Susantio – KAMA UI

(Sinar Harapan, 9 Januari 1983)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.690 pengikut lainnya.