Oleh: hurahura | 21 Februari 2010

Arca Kuno Asli dan Arca Kuno Palsu

Oleh DJULIANTO SUSANTIO

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.


Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta

About these ads

Responses

  1. Pedoman “how to” ttg asli-palsunya arca kuno amat menarik dan berguna sekali bagi masyarakat awam Indonesia.
    Apakah sekiranya mungkin tulisan di atas untuk ditambah lagi?
    Maksudnya agar lebih terinci dan disertai contoh-2 nyata, spy dpt dipakai secara mudah; misalnya perbedaan ciri-2 (spt kadar abu, patina) batu andesit kuno dgn yg baru, perbedaan teknik tatah kuno dgn yg baru, atau pada arca logam, perbedaan campuran logam, teknik cetak, ciri oksidasi, berat jenis, antara kuno dgn baru.
    Semoga bung Djulianto, berkenan membagi ilmunya, utk tujuan mulia…..

    • Mudah2an teman2 di instansi arkeologi seperti museum, balai arkeologi, dinas kebudayaan, dan balai pelestarian bisa menuliskannya. Saya sendiri hanya arkeolog penulis, jadi kurang pengetahuan lapangan.

  2. Mau tanya, selama ini arca terbuat dari emas, perak dan perunggu. Jika ditemukan arca terbuat dari besi, apakah itu orsinil atau plasu?

    • Biasanya harus dilihat fisiknya

  3. Ciri2 fisik masih bisa dikelabuhi oleh teknologi sekarang, saya jg peneliti tanpa guru, hnya berpegang pd penglaman, sementara ini saya mendapat beberapa arca dr batu giok & batu andesit ringan masing2 sebesar kepalan tangan pria dewasa yg didpat dr penambang pasir liar mojokerto, asli ato palsunya dites dengan olah rasa dlm batin tuk menembus masa lalu arca… krn mnrt sya pembuatan arca tidak dilakukan seniman biasa, masing2 mempunyai daya yg kuat…

  4. Ya memang, pengalaman adalah guru terbaik. Banyak teknik untuk menjadikan barang baru jadi seolah-olah kuno. Ini demi faktor ekonomi.

  5. Wahh menarik sekali topiknya, saya mempunyai sebuah arca yang dikatakan oleh nenek saya adalah arca asli, tetapi ayah saya tidak percaya dan menjadikan patung itu hiasan yang di pajang di taman.

    Setelah keduanya telah tiada, saya sempat berfikiran lagi tentang arca tersebut. nenek saya pernah cerita bahwa ayahnya yang keturunan belanda membelinya dari seseorang di tahun 1890an.

    Apakah ada sebuah institusi dimana saya bisa mendapatkan pendapat tentang keaslian arca ini

    mohon bantuannya pak

    terima kasih

    • Silakan hubungi instansi arkeologi terdekat, seperti Balai Arkeologi atau Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Demikian info dari saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.