Oleh: hurahura | 17 Februari 2010

Layang-layang: Permainan, Benda Magis, dan Benda Seni

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Layang-layang sudah lama dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak di seluruh Indonesia. Mainan ini mudah dibuat. Bahan dasarnya adalah kertas, potongan bambu kecil, dan lem. Untuk memainkannya, layang-layang diterbangkan ke angkasa dengan segulung benang gelasan yang bisa ditarik-ulur. Di angkasa layang-layang diadu. Siapa yang terlebih dulu memutuskan benang lawan, dialah pemenangnya.

Layang-layang mampu terbang berkat gaya-gaya aerodinamika dari gerakan relatifnya terhadap angin. Angin relatif itu ditimbulkan oleh aliran udara alamiah atau tarikan layang-layang lewat benang penghubung. Karena populernya, bentuk layang-layang menjadi salah satu bagian dari bangun datar ilmu matematika.

Layang-layang sering dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Yang umum dikenal memiliki panjang diagonal 20 cm – 40 cm. Namun dalam perkembangannya, bentuk layang-layang tidak selalu segiempat. Sesuai kreativitas seseorang, layang-layang juga dibuat berbentuk lingkaran, segienam, bahkan hewan dan sebagainya dilengkapi gambar dan warna yang semarak. Biasanya, layang-layang seperti itu merupakan daya tarik pariwisata atau benda cendera mata.

Sejak tahun 1970-an, bentuk layang-layang selalu dimodifikasi para seniman. Ukurannya pun tidak lagi kecil tetapi sangat besar, yakni dalam bilangan meter. Bahkan tidak jarang dibuat dalam bentuk tiga dimensi sehingga harus dimainkan oleh beberapa orang sekaligus menggunakan tali tambang sebagai pengganti benang.

Namun layang-layang demikian tidak diadu, dalam arti sampai memutuskan tali lawan. Layang-layang seperti itu biasanya dimainkan oleh orang-orang dewasa dan dilombakan dalam suatu festival. Di Indonesia lomba dan festival layang-layang bertaraf internasional sudah merupakan agenda tetap di Pangandaran dan Bali. Yang dinilai adalah bentuk, komposisi warna, keelokan gerak, bunyi gaungan, dan lama mengudara.


Magis

Uniknya, di berbagai daerah layang-layang dikenal sebagai benda magis religius. Di Bali, misalnya, masyarakat masih mengenal layang-layang untuk melindungi singgasana para dewa. Dewa Layang-layang di Bali adalah Rare Angon. Dewa itu selalu diberi sesaji dan disembah sebelum layang-layang diterbangkan. Layang-layang yang telah disucikan itu merupakan benda sakral dan disyaratkan tidak boleh menyentuh tanah. Bila hal itu tidak diindahkan, konon akan terjadi kemalangan.

Lain lagi di Sumatra Barat. Masyarakat masih percaya pada layang-layang bertuah yang bisa memikat anak gadis. Namanya layang-layang hias dangung-dangung.

Entah sejak kapan layang-layang dikenal di Indonesia. Belum ada sumber sejarah yang menyebutnya secara pasti. Beberapa rangkaian relief cerita pada candi sekilas hanya menampilkan layang-layang berupa bagian dari tumbuhan yang diterbangkan dengan seutas tali.

Tampaknya layang-layang merupakan peninggalan budaya yang bersifat universal. Benda ini juga dikenal oleh berbagai negara Asia.

Diduga kuat, layang-layang pertama kali diciptakan di China sebelum abad Masehi. Jadi usianya sudah lebih dari 2.000 tahun. Di sana layang-layang disebut “rajawali kertas”.

Kecuali sebagai permainan, pada abad pertengahan China pernah membuat layang-layang untuk tujuan militer, antara lain untuk mengintai musuh dan mengukur jarak keberadaan musuh. Di Korea, ritual menerbangkan layang-layang yang ditulisi nama dan tanggal lahir seorang bayi selalu dilaksanakan setiap tahun. Tradisi itu dimaksudkan agar si anak selamat sampai hari tua.


Jepang

Meskipun sudah tergolong negara maju, ternyata masyarakat dan pemerintah Jepang paling getol memopulerkan layang-layang. Di sana layang-layang bukan sekadar permainan, tetapi menjadi karya seni bermutu tinggi.

Sejak lama banyak sekolah di Jepang mengajarkan kerajinan layang-layang kepada para murid sebagai bagian dari ekstrakurikuler mereka. Karena itu era layang-layang mengalami kebangkitan. Tidak heran setiap tahun layang-layang dibuat dalam desain yang baru dan orisinal meskipun dengan dasar-dasar motif tradisional.

Langkah inovatif lainnya adalah melestarikan seniman pembuat layang-layang tradisional, yakni dengan memberikan subsidi dan tunjangan kepada mereka. Sampai kini terlihat dampak positifnya bahwa permainan dan kerajinan membuat layang-layang tak pernah (akan) mati.

Di Jepang layang-layang mulai dikenal pada zaman Heian (794-1185). Pada masa itu layang-layang sering digunakan sebagai alat komunikasi pembawa pesan rahasia di istana. Karena harus melewati parit-parit besar, maka layang-layang dinilai mampu menjalankan misi itu. Masa keemasan pembuatan layang-layang terjadi pada zaman Edo (1630-1868). Namun waktu itu karena harga kertas sangat mahal, hanya kalangan bangsawan yang mampu menerbangkan layang-layang.

Berkembangnya seni cetak cukilan kayu dan penggunaan warna dalam seni cetak tradisional Jepang, membawa perubahan baru pada layang-layang. Teknik-teknik seni itu mulai diterapkan pada layang-layang sehingga warna-warna yang dihasilkan sangat indah.

Setiap 5 Mei permainan layang-layang di Jepang menjadi acara tahunan yang semarak sebagai festival anak laki-laki. Pada hari itu para orang tua beramai-ramai menuliskan nama bayi mereka pada layang-layang yang dihiasi gambar prajurit legendaris atau pahlawan dalam cerita anak-anak. Hal itu dimaksudkan agar anaknya tumbuh sehat dan kuat. Motif lain yang disukai adalah kura-kura dan burung bangau (lambang panjang umur) dan ikan gurame (lambang keuletan). Semakin tinggi layang-layang terbang, konon nasib seseorang semakin baik.

Menurut penilaian para pakar pariwisata, festival 5 Mei merupakan pesta layang-layang terbesar di dunia. Lebih dari seribu layang-layang berpartisipasi selama tiga hari penyelenggaraan. Sekitar lima juta pengunjung tercatat menyaksikan festival tersebut, termasuk wisatawan mancanegara.

Meskipun kini tanah lapang di Jepang semakin sempit, bahkan anak-anak keranjingan berbagai jenis games modern, ternyata permainan tradisional layang-layang masih tetap hidup.

Di Indonesia, kecuali seniman-seniman Bali, jarang sekali yang mau menekuni seni membuat layang-layang. Padahal, Indonesia memiliki aneka ragam budaya yang memesona, jauh lebih banyak daripada budaya di Jepang. Ya, kita memang selalu mengabaikan warisan budaya masa lalu. Mungkin kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak melestarikan layang-layang.


Alat Bantu Ilmu Pengetahuan

Selain di Asia, layang-layang juga sudah merambah Eropa. Di sana model layang-layang selalu dikembangkan. Karena bahan kertas dan plastik dianggap kurang kuat, mereka membuat layang-layang dari bahan fibreglass. Bahan ini memang cukup ringan dan kuat. Bentuknya pun dipermodern, seperti bentuk geometris lengkap dengan gambar-gambar memikat. Selain itu mereka membuat layang-layang dari kain layar dan bahan-bahan sintetis sebagaimana yang dikembangkan oleh perusahaan kimia raksasa Du Pont.

Di Jerman layang-layang mendapat tempat tersendiri dalam bidang olahraga. Penggemar layang-layang di sana sudah menjadi komunitas yang aktif dan peduli. Secara periodik mereka merancang dan menemukan bentuk layang-layang yang unik dan semarak. Di Jerman layang-layang disebut “drache” (naga), yakni hewan mitologi yang amat populer di China.

Tanpa disadari, banyak ilmuwan Eropa terangsang daya pikirnya oleh layang-layang. Benjamin Franklin, misalnya, berhasil meneliti unsur listrik karena jasa layang-layang. Pada 1752 dia menaikkan layang-layang di saat hari hujan badai. Pada layang-layang tersebut digantungkan sebuah kunci. Ternyata ketika petir menyambar, terlihat loncatan api listrik dari kunci tersebut. Itulah dasar alat penangkal petir yang sekarang banyak digunakan orang.

Pada abad ke-19, Sir George Cayley menguji coba prinsip terbang dengan layang-layang bersayap. George Pocook dengan publikasinya “Seni mengarungi udara dengan bantuan layang-layang” membuat gempar dunia ilmu pengetahuan. Alexander Graham Bell, penemu telepon, pada awalnya bereksperimen dengan layang-layangnya untuk mengetahui gelombang suara lewat udara. Francis Melvin Rogallo, mendapatkan gagasan temuan pesawat terbang layangnya dari layang-layang.

Di Belanda layang-layang buatan Gerard van der Loo banyak membantu kegiatan SAR laut. Ketika helikopter tidak bisa bertahan lama di udara dan perahu penyelamat tidak bisa mendekati kapal karam, maka layang-layang besar yang diterbangkan di atas geladak kapal berfungsi sebagai alat bantu awak kapal untuk meluncur ke kapal penolong.

Perusahaan minyak Inggris, British Petroleum, pernah membuat eksperimen luar biasa dengan layang-layang. Kapal tanker perusahaannya waktu menempuh perjalanan jauh, ditarik dengan layang-layang. Setelah dikalkulasi ternyata perusahaan itu berhasil menghemat energi sekitar sepuluh persen dari jumlah energi yang biasa dihabiskannya.

Layang-layang juga menjadi ilham bagi terciptanya balon udara dan pesawat terbang yang paling sederhana. Begitulah, sebenarnya kalau kita kreatif, benda-benda yang dianggap sepele mampu menjadi alat bantu ilmu pengetahuan, bukan sekadar permainan anak-anak.

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.710 pengikut lainnya.