Oleh: hurahura | 18 Mei 2012

Penjarahan Harta Karun di Pulau Selayar

Harta karun laut masih banyak terpendam di perairan Nusantara. Jumat siang, 18 Mei 2012, seorang pembaca blog mengirim info penting. “Saya seorang warga Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, sangat prihatin dengan keadaan peninggalan sejarah yang berada di daerah saya. Sekadar info, saat ini ada seorang warga negara asing (Jerman) yang memperoleh izin dari pemerintah setempat untuk mengendalikan satu wilayah tertentu,” katanya.

Menurut dia, saat ini si orang asing itu mengoperasikan sebuah resor yang khusus diperuntukkan tamu-tamunya, yang tentu saja berasal dari luar negeri pula. Kawasan tersebut bahkan dipagari sampai di laut. Ironisnya, nelayan setempat tidak diberi izin untuk sekadar menangkap ikan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 16 Mei 2012

Jual Ikan dengan Sistem Lelang

Warta Kota, Selasa, 15 Mei 2012 – Benar kata pepatah, “Lain koki, lain masakan”. Lain J.P. Coen, lain J. Spect. Pada 1631 Gubernur Jenderal J. Spect mengeluarkan aturan baru, yakni penjualan ikan harus dilakukan dengan sistem lelang. Ini diartikan semua ikan yang ditangkap di laut, sungai, atau di tempat-tempat lain di Batavia, harus dibawa ke pasar ikan. Selain itu para nelayan dilarang berlabuh di tempat lain sewaktu tiba dari laut. Mereka yang ketahuan melanggar akan dikenakan denda tiga real.

Sama seperti zaman Coen, Spect juga memberikan peranan kepada orang-orang China, yang umumnya berprofesi sebagai juru lelang. Kepada para juru lelang itulah para nelayan harus menyerahkan hasil tangkapan mereka. Belum lagi keharusan menyewa bangku di pasar ikan sebesar dua real untuk setiap bangku. Para nelayan akan menerima pembayaran setelah pelelangan. Ironisnya, masih ada lagi pemotongan dua stuiver (2 x 5 sen) untuk setiap real hasil penjualan. Sistem lelang semacam ini merupakan kebiasaan di Amsterdam. Pada 1864 sistem lelang dihapus karena dianggap merugikan rakyat kecil.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 16 Mei 2012

Pajak dan Cukai di Batavia

Warta Kota, Rabu, 9 Mei 2012 – Sejak abad ke-15 Jayakarta telah menjadi pelabuhan penting. Umumnya kegiatan perdagangan dilakukan dengan daerah pesisir Utara Jawa. Rupa-rupanya aktivitas Jayakarta terlihat oleh pelaut-pelaut Belanda yang datang ke Nusantara pada abad ke-16. Maka ketika Jayakarta direbut oleh Belanda, Batavia sebagai pengganti nama Jayakarta, secara resmi menjadi pusat kegiatan VOC. Selain sebagai pusat kekuasaan politik, Batavia juga menjadi pusat ekonomi dan militer. Di Batavia kemudian dibangun pusat perdagangan rempah-rempah dan tempat penimbunan barang dagangan dari Asia sebelum dikirim ke Eropa atau sebaliknya.

Seperti halnya kota pelabuhan, dulu penghasilan Jayakarta diperoleh dari pajak dan cukai. J.P. Coen sebagai penguasa Batavia, ingin menutupi kebutuhan yang besar dan beban VOC dengan cara memungut pajak dan cukai (Kota dan Masyarakat Jakarta, Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial (Abad XVI-XVIII), 2007).

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 12 Mei 2012

Penganugerahan “Museum Awards” 2012

Untuk pertama kalinya Komunitas Jelajah akan menyelenggarakan Museum Awards 2012. Museum Awards merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada museum-museum di Jakarta dan tokoh permuseuman. Kegiatan lain berupa pemilihan Duta Museum, talk show di sejumlah radio, dan pelatihan konservasi warisan budaya.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan memperhatikan beberapa hal: (1) Apresiasi terhadap museum dan pekerjaan di bidang sejarah dan permuseuman masih rendah, (2) Minat masyarakat untuk menggali dan mempelajari sejarah masih rendah, (3) Kinerja dan fasilitas di museum belum dikelola secara maksimal, (4) Apresiasi terhadap pekerja di bidang sejarah dan permuseuman masih rendah, dan (5) Kepedulian terhadap kegiatan preservasi dan konservasi warisan budaya masih rendah di kalangan masyarakat umum.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 12 Mei 2012

Daftar Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya

1. Komunitas Historia Indonesia (KHI) – Jakarta

KHI didirikan oleh beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ)—dulu IKIP Jakarta—dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) pada 22 Maret 2003. Nama semula adalah Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia). Komunitas tersebut kini lebih dikenal sebagai Komunitas Historia Indonesia (KHI). Ketua KHI adalah Asep Kambali.

Inspirasi dibentuknya KHI bermula dari buah pemikiran, inisiatif, dan prakarsa Asep Kambali (sang pendiri, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNJ) yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Sejarah UNJ yang menggelar Lomba Lintas Sejarah bagi siswa SMA se-Jabodetabek.

Dalam kegiatan itu para siswa melakukan napak tilas dan amazing race ke beberapa museum dan situs sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia selama satu hari penuh. Kegiatan yang didukung oleh semua museum tujuan dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI ini ternyata mendapat respon positif dari berbagai pihak dan sangat dinikmati oleh para peserta lomba.

Baca Lanjutannya…

Grafik: Borobudur dan Rasi Luku (Orion)

KOMPAS, Kamis, 10 Mei 2012 – Jika ditarik garis dari Candi Borobudur ke Candi Pawon dan Candi Mendut, ketiga candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, itu berada dalam satu garis lurus. Ketiganya berada dalam garis miring ke arah timur laut. Belum ada penjelasan pasti atas kesegarisan tiga candi Buddha ini karena ketiadaan dokumentasi tertulis tentang hal itu.

Dosen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, DS Nugrahani, Rabu (9/5), mengatakan, pembangunan setiap candi tidak dilakukan sembarangan. Ada tujuan dan konsep dasar yang melandasinya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 2 Mei 2012

Ribuan Batu Candi untuk Pagar Rumah

KOMPAS, Sabtu, 28 April 2012 – Ribuan batu candi disusun menjadi pagar pekarangan rumah milik Warto (70) di Dusun Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Meskipun terlihat rapi mirip dinding candi, batu-batu itu ditata secara acak, memanjang ke arah barat sekitar 50 meter dan melebar ke utara sekitar 40 meter dengan tinggi 1 meter-1,5 meter.

Menurut keterangan warga setempat saat ditemui Kompas, Kamis (26/4), batu-batu itu dikumpulkan pemilik rumah dari areal persawahan. ”Jadi tidak serentak mendapatkan ribuan batu, tetapi sedikit demi sedikit dikumpulkan baru dibuat pagar,” kata Tardi, salah satu ketua RT di Dusun Kebondalem Kidul.

Baca Lanjutannya…

KOMPAS, Rabu, 25 April 2012 – Jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi mengarungi lautan dan menemukan kota-kota eksotis Kilwa, Lamu, dan Zanzibar, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika dan kemudian menjajahnya, pelaut-pelaut Nusantara sesungguhnya sudah berjaya sampai Afrika. Jejak mereka tidak hanya ditemukan dalam bahasa, budaya, dan semangat kebaharian yang masih hidup sampai sekarang, tetapi juga terpatri dalam darah masyarakat Madagaskar.

Dalam bukunya, The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times—diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Mizan dengan judul ”Penjelajah Bahari” tahun 2008—Robert Dick-Read coba memecahkan misteri keberadaan pelaut-pelaut pertama dunia yang gagah berani ini. Ia percaya, jejak kaki mereka di sepanjang pantai dan gerak dayung mereka di riak samudra dalam perjalanan ke garis batas cakrawala masih bisa ditelusuri.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 26 April 2012

Keroncong dari Para Budak (3 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 26 April 2012 – Sejarah kampung Tugu berawal pada 1661. Saat itu pasukan Portugis yang dikalahkan Belanda di Malaka meminta pada penguasa Belanda untuk memiliki daerah sendiri di sekitar Batavia. Permintaan tersebut dikabulkan Belanda dengan syarat mereka harus mengganti nama mereka dengan nama Belanda. Mereka juga dipaksa untuk memeluk agama Protestan, sebelumnya mereka menganut agama Katholik. Setelah mematuhi semua permintaan Belanda, mereka memperoleh sebuah daerah di sebelah timur Batavia, di sekitar Cilincing (Jakarta Utara) sekarang.

Semula daerah itu berupa rawa dan hutan. Karena status mereka yang sudah dibebaskan dari budak, maka penguasa Belanda menyebut mereka dengan nama kaum Mardijkers (kaum yang dimerdekakan). Sebanyak 23 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa kaum Mardijkers ini kemudian tinggal dan menetap di daerah hutan tersebut. Dalam perkembangannya, mereka menikah dengan warga setempat. Kaum campuran itu dijuluki kaum Mestizo (berdarah campuran).

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 25 April 2012

Jejak Sejarah Portugis di Jakarta (2)

Warta Kota, Rabu, 25 April 2012 – Jejak sejarah Portugis di Jakarta tampak dari Gereja Sion di Jakarta Kota dan Gereja Tugu di Jakarta Utara. Bahkan sampai kini Kampung Tugu menjadi tempat tinggal orang-orang keturunan Portugis. Mereka umumnya pandai memainkan musik keroncong.

Beberapa peninggalan Portugis yang ditemukan di Indonesia kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Antara lain berupa lonceng Portugis yang dipersembahkan oleh Raja Muda India kepada Sultan Mataram (1633) serta botol dan piring porselen dengan emblem kerajaan Portugis.

Baca Lanjutannya…


Oleh: Djulianto Susantio*

Sinar Harapan, Selasa, 24 April 2012 – Akhirnya artefak cagar budaya—yang populer disebut harta karun laut—dari Indonesia itu dijual di Singapura awal April 2012. Sebenarnya benda-benda tersebut pernah dilelang di Indonesia tahun 2010 dan menarik minat banyak negara.

Namun, adanya keharusan bahwa setiap peserta lelang menyetor uang jaminan sebesar 20 persen dari perkiraan penjualan minimal, yakni sebesar US$ 16 juta, membuat para peserta lelang menarik diri.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 24 April 2012

Peninggalan Portugis di Batavia (1)

Warta Kota, Selasa, 24 April 2012 – Sejak zaman lampau, Nusantara dipandang merupakan wilayah yang kaya. Karena itu berbagai bangsa asing datang ke sini untuk jangka waktu lama. Hubungan yang pertama kali dilakukan antarnegara adalah hubungan dagang. Lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi hubungan sosial (misalnya perkawinan) dan hubungan politik (misalnya invasi atau penjajahan).

Negara kita banyak didatangi bangsa asing, terutama dari Eropa, karena rempah-rempah kita dinilai berkualitas tinggi. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh negeri beriklim dingin, sehingga berbagai bangsa Eropa itu berupaya mencari sendiri ke sini. Selain Belanda yang selama 350 tahun menjajah negara kita, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 24 April 2012

Prasasti Palsu dari Sukabumi

Konon kabarnya di Nusantara terdapat banyak piramida. Piramida itu sengaja ditimbun karena di dalamnya berisi perhiasan emas. Piramida yang sering dibicarakan orang terdapat di Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip, keduanya terletak di Jawa Barat. Pertama kali isu piramida dilontarkan oleh sebuah komunitas yang katanya pencinta sejarah Nusantara. Mereka menggunakan metode dupa dan menyan. Bahkan melakukan penggalian (liar) sebagaimana layaknya arkeolog. Isu piramida semakin santer ketika Staf Khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana membentuk Tim Bencana Katastropik Purba.

Komunitas tersebut juga mengklaim telah berhasil memetakan dan mendokumentasikan puluhan jenis aksara purba asli Nusantara. Aksara-aksara ini dapat digunakan untuk membaca prasasti dan naskah kuno. Sejak isu inilah di berbagai lokasi di Jawa Barat sering ‘ditemukan’ prasasti yang dihubungkan dengan kejayaan kerajaan Sunda kuno.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 April 2012

Fosil Homo Erectus Ditemukan di Semedo

KOMPAS, Jumat, 20 April 2012 – Fosil manusia purba Homo Erectus baru-baru ini ditemukan di Situs Semedo, yang terletak di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Setelah lebih dari setengah tahun meneliti, tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menyimpulkan, fosil tersebut berusia sekitar 700.000 tahun pada Kala Pleistosen Tengah.

Fosil yang ditemukan itu berupa kepingan-kepingan bagian tengkorak kepala, seperti tulang tengkorak bagian belakang serta sepasang tulang tengkorak di belakang dahi dan tulang pertautannya. Selain itu, ditemukan juga tulang berbentuk cekungan tempat melekatnya otak belakang. Fosil itu ditemukan Dakri (54), petugas keamanan di Situs Semedo di sebuah anak Sungai Kawi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 19 April 2012

Perampokan Bersenjata di Batavia (2 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 19 April 2012 – Di Batavia banyak penduduk bumiputra direkrut untuk menjaga keamanan. Mereka mengorganisasi dan mengawasi satuan jaga secara swadaya. Sebaliknya polisi-polisi yang berasal dari warga Eropa diberi pelatihan dan gaji. Polisi yang dibentuk atas prakarsa swasta sering disebut opas. Dalam istilah masyarakat, opas adalah polisi-angin, artinya mereka hidup dari angin.

Kementerian Koloni di Den Haag dan pemerintah kolonial di Batavia tidak mengingkari bahwa situasi keamanan di wilayah koloni bermasalah. Sejak 1860-an pemerintah bermaksud mereformasi dan mereorganisasi kepolisian. Intinya adalah bagaimana menangani masalah keamanan dan memperbaiki kinerja institusi kepolisian. Baru pada 1897 muncul kesimpulan untuk mengembangkan kebijakan reorganisasi dalam rangka mengantisipasi keluhan masyarakat tentang buruknya sistem keamanan di Batavia dan juga Hindia Belanda. Kemungkinan, rumitnya persoalan keamanan karena dihapusnya hukuman rotan pada 1866.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.