Dalam bentuknya yang paling sederhana, paling tidak, dunia fashion dan mode sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Diperkirakan masyarakat Indonesia mulai membuat pakaian pada Masa Bercocok Tanam, ribuan tahun yang lalu. Karena masih primitif, tentu saja bahan-bahan pakaian berasal dari lingkungan alam terdekat. Kulit kayu dan kulit hewan, tidak dimungkiri, paling banyak digunakan untuk keperluan ini.

Bukti arkeologis berupa ragam motif anyam pada tembikar memberi petunjuk bahwa nenek moyang kita sudah memiliki kepandaian menganyam. Pengetahuan anyam-menganyam inilah yang kelak menjadi dasar pengetahuan menenun atau membuat kain. Bahan-bahan anyaman terdiri atas serat tumbuhan atau tanaman, seperti serat rami dan serat pohon pisang. Agar menarik, serat-serat ini diberi pewarnaan atau pencelupan, yang juga berasal dari tumbuhan atau mineral alam. Proses penenunan dan pewarnaan tersebut masih dilakukan secara konvensional.

Bahan pewarna yang cukup dikenal ketika itu adalah manambul, sebagaimana disebut dalam Prasasti Alasantan (abad ke-10). Manambul adalah zat pewarna alami yang menghasilkan warna gelap atau hitam (Buku Pengantar Pameran Tekstil dan Busana Indonesia yang Dipengaruhi Budaya Cina, 2005).

Pakaian modern dibuat dari beragam bahan dengan berbagai mode dan aksesorinya. Fungsinya adalah sebagai pelengkap perhiasan tubuh. Artinya, dengan berpakaian maka tubuh terlindungi dari pengaruh alam, seperti panas dan dingin. Pakaian juga membentuk kepribadian dan menunjukkan status sosial seseorang. Apalagi ada yang disebut haute couture, pakaian yang harganya hingga jutaan rupiah dan umumnya dikenakan para selebriti.

Pada zaman sekarang, corak, ragam hias, dan mode pakaian mudah diamati karena teknologi untuk melakukan dokumentasi sudah berkembang baik. Nah, bagaimana kalau kita ingin tahu hal-ihwal pakaian yang dikenakan Raja Majapahit atau masyarakat di Kerajaan Singhasari, umpamanya?

Hingga saat ini kita sulit untuk menginventarisasi atau mengetahui hal tersebut secara pasti. Petunjuk yang ada hanya mengungkapkan peranan pakaian secara samar-samar. Petunjuk-petunjuk itu berasal dari sumber tertulis, yakni prasasti, berita Tiongkok, dan karya sastra (naskah kuno). Sebagai pendukung adalah sumber tak tertulis, seperti relief candi dan arca.


Prasasti

Dari ratusan prasasti yang berkenaan dengan sima atau pembebasan pajak, tekstil hampir selalu disebut sebagai salah satu hadiah kepada pejabat kerajaan yang telah memberi anugerah sima kepada suatu wilayah. Meskipun tidak dirinci tekstil apa yang dimaksud, namun informasi tersebut cukup memberi kesan bahwa masyarakat sudah mengenakan pakaian dari bahan tekstil, bukan lagi dari bahan alami. Yang menarik, sejumlah informasi prasasti menyebutkan larangan memakai jenis kain tertentu dan penggunaan ragam pencelupan tertentu. Kemungkinan, pada saat itu terjadi “diskriminasi” berpakaian. Artinya, tekstil yang digunakan warga biasa akan berbeda dengan para pejabat, bangsawan, atau keluarga istana.

Di antara prasasti-prasasti itu, ada yang lebih “khusus” menginformasikan tekstil, yakni kata wdihan (pakaian pria) dan kain atau ken (pakaian wanita). Prasasti-prasasti itu berasal dari abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Selain itu dijumpai kata kalambi (pakaian atas) dan singhel (pakaian khusus untuk golongan pendeta, terbuat dari kulit kayu). Kitab Tantu Panggelaran menginformasikan, singhel dibuat dari daun lalang, daluwang, atau babakaning kayu.

Menurut penelitian arkeolog Edhie Wurjantoro (1986), ada berbagai jenis wdihan yang dijumpai dalam sumber prasasti. Ternyata tiap jenis wdihan dipakai oleh golongan tertentu, termasuk raja. Wdihan untuk raja antara lain adalah ganjar haji, ganjar patra sisi, dan bwat pinilai. Wdihan untuk pejabat tinggi antara lain tapis cadar, bwat kling putih, dan alapnya salari kuning. Sedangkan wdihan untuk pejabat rendahan antara lain siwakidang, hamarawu, dan takurang.

Berdasarkan namanya hanya beberapa wdihan yang bisa diketahui corak dan warnanya. Namun bagaimana bentuk pola keseluruhannya, tetap belum jelas. Wdihan putih kemungkinan berupa pakaian dengan dasar putih, wdihan ambay ambay adalah kain dengan motif bunga-bungaan, dan wdihan ganjar patra sisi adalah kain dengan motif sulur-suluran di bagian tepinya. Beberapa motif lain juga disebutkan dalam prasasti, hanya penjabarannya belum diketahui secara detil.

Seperti halnya wdihan, kain atau ken juga ada beberapa jenis dan pemakainya berbeda-beda menurut jenisnya. Dari sekian banyak jenis kain atau ken, untuk sementara ini baru diketahui sedikit tentang golongan pemakainya. Kain jaro konon dipakai oleh isteri pejabat tinggi; kain pinilai, kalyaga, dan rangga dipakai oleh istri pejabat menengah; serta kain pangkat, atmaraksa, dan halang pakan dipakai oleh istri pejabat rendahan.

Sumber prasasti boleh dibilang unik karena seluruh informasi tentang wdihan dan kain/ken ini berasal dari masa kerajaan Mataram (Hindu). Ketika kerajaan masih berpusat di Jawa Tengah, jenis wdihan juga relatif banyak dijumpai. Sebaliknya, ketika pusat kerajaan berpindah ke Jawa Timur, hanya sedikit wdihan yang disebutkan sumber prasasti.

Kemungkinan hal ini karena tingkat perekonomian masyarakat sudah menurun akibat letusan Gunung Merapi. Namun bukan berarti masyarakat di kerajaan lain dari masa sebelum dan sesudahnya tidak mengenal pakaian. Boleh jadi karena dipandang kurang penting atau hanya cenderung menyinggung masalah politik, maka pakaian jarang disebut-sebut dalam prasasti.


Berita Tiongkok dan Relief

Jenis sandang apa yang dikenakan masyarakat kuno, sampai sekarang masih sulit diidentifikasi. Dengan demikian kita tidak tahu bahan-bahan apa saja yang ada waktu itu. Hanya dari berita Tiongkok masa dinasti Song (960-1279) disebutkan bahwa penduduk Jawa memelihara ulat sutra dan menenun kain sutra halus. Dikatakan juga, banyak penduduk memakai baju dari katun. Sebagian mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya dari dada sampai ke bawah lutut. Baju-baju itu dipakai dengan cara dibelitkan di sekeliling tubuh.

Informasi ini pun belum mendalam. Kita masih belum tahu bagaimana cara menjahitnya dan mode apa yang trend saat itu. Adanya penyebutan pawdihan (tukang jahit) pada prasasti, tentu menunjukkan bahwa mode pakaian sudah dikenal masyarakat kuno.

Dari sejumlah kitab sastra, diketahui adanya istilah kain, dodot, wastra, dsb yang mengacu kepada pakaian terbuat dari katun atau sutra. Sedangkan dari relief Candi Borobudur, kita memperoleh gambaran bahwa baik rakyat maupun bangsawan—pria dan wanita—umumnya hanya memakai kain dan membiarkan bagian dadanya terbuka. Kenyataan ini tidak banyak bedanya dengan berita Tiongkok yang menyatakan bahwa rakyat biasa, baik pria maupun wanita, umumnya membiarkan bagian atas badannya terbuka (Groeneveldt, 1960).

Relief juga menggambarkan adanya bangsawan yang mengenakan pakaian tipis yang terbuat dari sutra atau katun. Selain disebutkan berita Tiongkok, adanya sutra atau katun antara lain diperoleh dari Prasasti Ayam Teas (910 M).

Pada relief Candi Borobudur sebenarnya banyak dijumpai penggambaran busana dengan aneka ragam motif. Begitu pula dari beberapa arca kuno. Meskipun belum teridentifikasi jelas, hal ini tentunya menunjukkan bahwa tradisi tekstil dan pakaian di Nusantara sudah maju. (Djulianto Susantio)

Oleh: hurahura | 30 Agustus 2014

Penghuni Goa Harimau Leluhur Orang Sumatera…

Ekskavasi Goa HarimauKOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Arkeolog mengekskavasi Homo sapiens di situs Goa Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akhir Mei 2014. Pada ekskavasi ketujuh ini, Pusat Arkeologi Nasional turut menggandeng para peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk mendeteksi DNA Homo sapiens di situs ini dan membandingkannya dengan sampel DNA masyarakat sekitar untuk menelusuri hubungan genetik.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 29 Agustus 2014

Balai Konservasi Borobudur Jadi Pusat Konservasi

SeminarSuasana bincang dan seminar 200 tahun penemuan Candi Borobudur (Foto: Djulianto Susantio)

Balai Konservasi Borobudur direncanakan berkembang menjadi pusat konservasi nasional. Tak sekadar mempelajari konservasi cagar budaya berwujud batu, pusat konservasi itu nantinya juga menjadi pusat pembelajaran tentang konservasi beragam cagar budaya, mulai dari tulang, fosil, batu bata, kain, kertas, hingga keramik.

Baca Lanjutannya…

Kekayaan Bawah LautKOMPAS/RADITYA HELABUMI

Sejumlah benda peninggalan masa lalu yang berada di dasar laut dan informasi mengenai kekayaan bawah laut ditampilkan dalam pameran Rahasia Warisan Budaya Bawah Air di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (26/8). Pameran yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut berlangsung hingga 31 Agustus.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 24 Agustus 2014

Humor pada Relief Candi

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1985), humor adalah sesuatu yang menggelikan hati. Dari sudut pandang ilmu psikologi, tawa adalah salah satu cara manusia berkomunikasi. Humor dan tawa jelas berhubungan erat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 Agustus 2014

Konservasi Rendah, Artefak Rusak

Rendahnya kesadaran dan minimnya pengetahuan tentang konservasi menyebabkan banyak artefak tidak dirawat secara benar dan akhirnya rusak. Selain masyarakat umum, juru pelihara situs di sejumlah daerah juga masih ada yang belum memahami upaya dan teknik konservasi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Agustus 2014

Jejak Penutur Austronesia Ditemukan Lagi di Rembang

Kerangka manusia prasejarah kembali ditemukan di Desa Binangun, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Penemuan itu menguatkan dugaan bahwa pantai utara Jawa merupakan salah satu tujuan migrasi penutur Austronesia pada periode 500 sebelum Masehi atau sekitar 2.500 tahun lalu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Agustus 2014

Terlalu Atur Bendawi

Sejumlah pihak menilai Rancangan Undang-Undang tentang Kebudayaan lebih banyak mengatur aspek-aspek kebudayaan secara bendawi atau tangible. Sementara itu aspek-aspek kebudayaan nonbendawi atau intangible justru kurang tersentuh.

Baca Lanjutannya…

Sebanyak 2.033 batu pijakan tangga di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akan dilapisi kayu. Upaya pelapisan kayu dilakukan untuk meminimalisasi dampak kerusakan dan keausan batuan akibat pijakan kaki pengunjung.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 14 Agustus 2014

Kerajaan Medang Bisa Inspirasi Peradaban Kini

Sejarah dan peradaban Kerajaan Medang yang berdiri antara abad ke-8 dan ke-10 meninggalkan monumen kemegahan masa silam yang bisa dinikmati hingga kini. Lebih dari itu, kerajaan ini juga meninggalkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang masih bisa direvitalisasi pada zaman sekarang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 10 Agustus 2014

Studi Austronesia Masih Terabaikan

Kajian tentang rumpun bahasa Austronesia mulai dibahas lebih dari dua abad lalu. Namun, hingga sekarang, studi tentang penutur Austronesia di Indonesia masih terabaikan. Padahal, 80 persen penutur Austronesia tinggal di kepulauan di Indonesia.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 6 Agustus 2014

Dua Arus Besar Migrasi Leluhur ke Nusantara

Para peneliti semakin memantapkan dugaan adanya dua arus migrasi besar ke Nusantara yang menjadi cikal bakal leluhur langsung bangsa Indonesia. Pertama, penutur Austro-asiatik yang tiba pada 4.300-4.100 tahun lalu dan, kedua, penutur Austronesia yang datang pada kisaran 4.000 tahun lalu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 4 Agustus 2014

Jejak ”Homo Erectus” Ditelusuri Lagi

Bulan depan, Balai Arkeologi Yogyakarta melanjutkan ekskavasi situs Patiayam di Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. Ekskavasi kali ini bertujuan menelusuri stratigrafi, kronologi, dan budaya paleolitik manusia Homo erectus di situs tersebut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 3 Agustus 2014

Doktor Arkeologi Pertama 2014: R.H. Wiwoho

ErikR.H. Wiwoho (Foto: Kresno Yulianto)

Richardus Handojo Wiwoho atau R.H. Wiwoho meraih gelar doktor arkeologi dengan nilai cum laude. Ia mempertahankan disertasi “Model Strategi Pemasaran Potensi Kawasan: Studi Kasus Muarajambi” di Kampus Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok, pada 24 Juli 2014. Erik, demikian panggilannya, merupakan lulusan Jurusan Arkeologi UI 1982 dan menjadi doktor arkeologi pertama di tahun 2014 ini. Setelah lulus sebagai sarjana arkeologi, ia bergerak di bidang wiraswasta dan penulis buku.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 26 Juli 2014

Jejak Penutur Austronesia Ditemukan

Tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan jejak manusia prasejarah penutur Austronesia di Situs Tanjungan I dan II di pesisir pantai utara, Desa Tanjungan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Di sana tim menemukan dua kerangka manusia dan aneka macam perkakas.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.697 pengikut lainnya.